
Menuju perjalanan pulang, rasanya Riri ingin sekali pergi kerumah ibunya memberi kabar gembira ini.
"Mas udah nggak apa-apa? apa masih pusing." Tanya Riri.
"Nggak sayang, Mas nggak apa-apa kok, tadi habis muntah udah nggak mual lagi." Balas Ervan.
"Mas langsung balik kerja atau istirahat dulu." Tanya Riri lagi.
"Langsung ke kantor sayang, Mas harus semangat lagi bikin galian sumur buat tabungan anak kita." Jawab Ervan memegang perut Riri.
" Hahahaha, Makasih ya Mas, Mas Riri boleh ke rumah ibu nggak, Riri tiba-tiba kangen masakan ibu, nanti Riri pulang sebelum Abel dirumah." Ucap Riri.
"Ya udah, Mas antar kamu ke rumah ibu, nanti pulangnya Mas suruh Udin yang jemput." Balas Ervan.
"Sekalian Riri mau kabarin ibu Mas, pasti dia senang banget." Ucap Riri melihat lagi foto USGnya.
Ervan mengantar Riri kerumah ibunya yang ditempuh 40 menit dari rumah sakit. Sesampai dirumah Ibunya, Riri mencium punggung tangan Ervan berpamit turun.
"Hati-hati sayang, jaga anak kita ya. Mas langsung ke kantor ini udah telat." Balas Ervan meraih kepala Riri mencium keningnya.
"Mas juga, sampai kantor langsung makan lagi." Ujar Riri, dia turun dari mobil.
Menunggu suaminya dan berlalu meninggalkan rumah sederhana ibunya.
"Assalamu'alaikum." Riri masuk ke rumah ibunya yang nampak sepi.
Salah satu penghuni rumah ibunya, Angga memang sudah kembali ke kota S. Dia bergegas ke dapur dan nampak ibunya sedang memasak disana.
"Bu!" Sapa Riri meraih punggung tangan ibunya.
"Kenapa nggak bilang mau kesini, kapan datang, suamimu mana?." Tanya Bu Sinta yang terkejut melihat Riri yang ada didapur.
"Mas Ervan langsung kerja Bu, Riri baru pulang dari rumah sakit langsung kesini." Jawab Riri.
"Kamu sakit?" Tanya Bu Sinta lagi.
"Nggak Riri periksa, Alhamdulillah Riri hamil Bu." Riri menunjuk cetakan hasil USG.
"Beneran Ri, Alhamdulillah, ibu senang banget mau punya cucu." Ujar Bu Sinta memeluk Riri merasa sangat bahagia.
"Bu, maka nya Riri kesini, Riri kangen masakan ibu, ibu masak apa?" Tanya Riri langsung melihat panci diatas kompor.
Bu Shinta menjelaskan masakan yang dibuatnya. Riri langsung dengan sigap mengambil piring dan mengisinya dengan masakan ibunya. Riri dengan lahap mengahabiskan makanan didepannya. Bu Sinta heran melihat Riri yang tidak merasa mual sama sekali seperti orang hamil pada umumnya.
"Kamu nggak muntah-muntah Ri." Tanya ibunya.
"Nggak Bu, dikit aja mual tapi Mas Ervan yang muntah-muntah Bu."
"Jadi suamimu yang mabok ya. hahahaha."
"Ya Bu, apa itu wajar." Tanya Riri.
"Wajar aja Nak, bisa aja begitu." Jawab Bu Niah.
Tanpa terasa Riri sudah menghabiskan waktu dengan Ibunya berbagi Informasi seputar kehamilan berjam-jam hingga siang. Terlihat mobil putih milik mertuanya sudah ada didepan rumah ibu Sinta untuk menjemput Riri.
"Bu, Riri pamit dulu udah dijemput sama Udin."
__ADS_1
"Ingat pesan ibu sering-sering perdengarkan ayat-ayat Al-Qur'an, biar dari dalam kandungan sudah terbiasa dengan ayat-ayat suci." Peringatan Bu Sinta. Riri menganggukkan kepala.
Riri pun pergi meninggalkan rumah ibunya bersama Udin sopir pribadi mertuanya.
****
Malam hari keluarga Ervan usai menikmati makan malam, mereka melaksanakan sholat isya berjamaah di rumah.
"Ya Allah, jagalah anakku selama ia berada dalam perut istriku, sehatkan ia dan istriku, sesungguhnya Engkau Maha Menyehatkan, tak ada lagi kesehatan kecuali kesehatan dari Mu. Ya Allah bentuk ia yang ada dalam perut istriku dalam rupa yang baik, tetapkan dalam hatinya kelak keimanan pada Mu pada Rasul Mu. Amin" Doa Ervan dalam hati untuk anaknya.
"Ya Allah berikan padaku kekuatan, kesabaran untuk menjalani hari-hari bari bersama janin yang Engkau amanah dalam rahimku, Ya Allah jadikan kelak anak ku anak Sholeh dan Sholehah yang bisa menjadi tabungan orang tuanya diakhirat nanti." Doa Riri pelan di bibirnya.
Melanjutkan lagi doa nya pelan dari bibirnya. "Rabbii hablii minash shaalihin." (Q.s As shaffaat:100)
"Robbii habli miladunka dzuriyyatan thoyyibah. Innaka sammi'uddu'aa." (Q.S Ali Imran: 38)
"Rabbana hablanan min azwaajinaa wa dzurriiyaatinaa qurrota'ayun, waj'alnaa Lil mutaqiina imaamaa. Amin." Tutup doa Riri pelan di bibirnya. (Q.s Al Furqan: 74)
Kini semuanya akan bersantai diruang TV memberi tahu Abel kabar gembira kehamilan Riri.
"Sayang sebentar lagi kamu mau punya Adek." Ujar Ervan pada anaknya sambil memegang perut Riri.
"Serius, bener ma! Alhamdulillah." Kata Abel memeluk Riri merasa sangat senang.
"Ma, kapan Ade nya keluar nggak sabar Ma," Seru Abel lagi.
"Sabar sayang InsyaAllah delapan bulan lagi." Jawab Riri yang menepuk bahu Abel dipelukannya.
"Lama ya Ma, Abel mau Adek cewek." Kata Abel lagi.
"Sayang, cewek sama cowok sama aja, yang penting Mama sama adek bayi sehat." Ujar Ervan.
******
Riri menepikan tangan Kokoh suaminya yang memeluknya erat saat terlelap, dia bangun mengambil gelas berisi air diatas nakas. Riri merasa sangat menginginkan sesuatu yang tidak bisa di tunda.
Apa ini ya yang namanya ngidam rasanya bener ngiler banget ngebayangin yang aku mau. Riri
"Mas, Mas! Mas." Riri membangunkan suaminya.
Dengan keadaan setengah sadar Ervan terbangun. "Ya sayang, udah subuh ya."
"Belum, masih jam tiga." Balas Riri.
"Oh. Mau bangunin sholat lail ya."
"Ya, sama adek bayinya pengen duren." Balas Riri manja didepan suaminya.
"Sholat dulu, besok Mas belikan durian ya." Kata Ervan.
" Tapi adek bayinya mau sekarang Mas, kalau besok udah nggak mau lagi." Ucap Riri lagi
"Tapi sayang dimana ada yang jual durian dini hari begini." Jawab Ervan mulai kesal dengan keinginan aneh istrinya.
"Mas, ini adek bayi nya yang mau, bukan Riri." Riri merajuk langsung naik ke atas ranjang matanya berkaca-kaca, butiran-butiran air matanya mengalir di pipi mulusnya.
"Sayang, kamu jangan nangis dong, mas jadi pusing liat kamu begini, ya..ya... ya mas cari sampai dapat duriannya sekarang!" Ucap Ervan terpaksa menuruti keinginan istrinya yang nggak mungkin membiarkannya menangis sampai pagi.
__ADS_1
"Bener Mas! Riri cinta banget sama Mas." Riri tersenyum memeluk sambil mencium pipi suaminya.
Ervan bergegas turun menuju halamam rumah mengambil mobil.
Dimana cari durian Pagi buta begini, Ya ampun, untung kamu lagi hamil sayang, kalau nggak udah aku bikin mendesah sampai pagi sebagai gantinya. Ervan yang kesal entah akan kemana kakinya melangkah mencari durian di pagi buta begini.
Ervan mengambil ponsel mengirim ke semua grup Wa nya dimana membeli durian pagi buta begini.
Ervan : Pada bangun nggak ini, dimana beli durian malam buta begini, istriku lagi ngidam😭
Dari balik jendela Riri melihat mobil suaminya yang sudah keluar meninggalkan halaman rumah.
Mas baik banget sih jadi tambah cinta, Enak juga hamil, bisa sambil ngerjain suami.xixixixi. Riri
Sambil menunggu suaminya kembali Riri menyempatkan sholat tahajud dan diakhiri dengan sholat witir.
*******
Ditempat berbeda Ervan menyusuri jalanan mendatangi tempat buah buka 24 jam yang direkomendasi temannya.
Beberapa tempat dia datangi tutup dan satu nya lagi tidak ada menjual durian. Ervan mulai putus asa, sampai akhirnya salah satu temannya bilang ada disalah satu tempat dekat pelabuhan peti kemas yang berjarak sedikit jauh. Tanpa pikir panjang Ervan melajukan mobilnya kesana dan melihat beberapa kali chat masuk dari istrinya. Sesampai di tujuan memang benar ada banyak durian diatas mobil pick up yang baru datang dari kapal. Ervan langsung sigap mengambil durian mengikuti arahan pedagang.
Hampir satu jam lebih menunggu Riri langsung berlari ke lantai bawah mendengar suara mobil suaminya. Riri membuka pintu dan dilihat suaminya sudah membawa apa yang dia inginkan. Riri yang sangat senang dengan cepat menyuruh suaminya membuka duriannya di ruang TV.
"Mas, maaf ya, udah bikin repot Mas, adek bayi sama Riri." Kata Riri
"Sayang, Mas kan udah janji akan selalu buat kamu bahagia,"
"I love you very much much more, Mas." Balas Riri.
Ervan mengelus perut Riri, "De, jangan ngambek lagi, udah papa bawain durian."
"Ya Pa, makasih Papa" Jawab Riri bernada suara anak-anak. Ervan tertawa kecil mendengarnya.
Riri mengambil durian yang sudah dibuka, dia menggigit ujung durian kemudian menaruhnya lagi di mangkok.
"Ayo Mas kita tidur, Simpan dikulkas, kita makan besok lagi." Jawab Riri yang membuat Ervan kesal.
"Sayang, Mas cari nya muter muter dini hari begini, kamu cuma makan secuil." Tanya Ervan kesal.
"Adek bayi nya pengen makan secuil aja Mas, orang hamil nggak boleh banyak makan durian apalagi masih awal-awal."
Ya ampun, gini banget hadapin orang Hamil lagi ngidam Mudahan ini yang terakhir ngidamnya, aku muter-muter dini hari begini dia cuma makan secuil. Sabar sabar sabar itu anakmu. Ervan
Riri merapikan isi durian dikulkas, dia mangajak suaminya ke kamar. Ervan masih geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
Pada kehamilan anak pertamanya Abel, Ervan tidak berada bersama istrinya ini merupakan pengalaman baru menghadapi orang ngidam.
.
.
.
.
. Next.......
__ADS_1
**Terimakasih sudah sabar menunggu up Author.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote author ya 😍😍😍🙏**