Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - ISTRI UNTUK ANAKKU


__ADS_3

Awal


Hari minggu yang cerah di selimuti awan biru berkombinasi putih menghiasi langit di kota minyak. Hawa sejuk dan suasana yang mendukung tak di sia-siakan seseorang untuk menghabiskan akhir pekan di luar rumah.


Rutinitas yang padat, kegiatan kantor yang menguras energi dan pikiran. Tubuh seseorang perlu seminggu sekali untuk di refresh sebelum kembali ke rutinitas padat.


Seperti hari - hari sebelumnya, pasangan Ervan dan Riri selalu mengadakan acara berkumpul bersama dengan sahabat baik mereka Adrian dan Tiara. Seperti sekarang pasangan dua sahabat ini memilih menikmati alam untuk acara kumpul bersama. Mereka berpiknik di salah satu wisata alam pantai dikota ini.


Pantai biru nan indah dengan pasir putih, ada juga pemandangan kapal nelayan yang pulang mencari ikan. Oksigen yang keluar dari pohon pinus di tepi pantai, membuat siapa saja yang berada di bawahnya menghirup udara bersih yang memenangkan. Cukup sejuk untuk orang yang berteduh di bawahnya.


Riri dan Tiara duduk di bawah pohon dengan beralaskan karpet yang ia bawa dari rumah. Riri sibuk menyiapkan bekal makanan yang sudah di bawa dari rumah. Ya, Riri tahu sahabatnya wanita karir seperti kak Tiara pasti tidak biasa melakukan hal-hal ini. Jadi Riri lah yang jauh lebih cekatan menyiapkan segala keperluan untuk makanan yang di santap bersama. Meskipun keduanya sudah membawa asisten rumah tangga masing-masing tapi Riri lebih suka, dia sendiri yang menata makanan di atas meja.


"Apinya udah siap?" ucap Adrian memastikan Bara api dari tempat memanggang sudah muncul.


"Oke!" Ervan datang membawa ikan ukuran besar untuk di bakar.


Sebenarnya merepotkan, tapi inilah serunya berpiknik. Rutinitas kerja yang padat berganti dengan tawa lepas dengan sahabat melakukan hal - hak kecil seperti memanggang ikan.


"Cepat Bro kita bakar, sebelum anak-anak datang pada kelaparan," seru Ervan.


"Sabar Opah serahkan sama ahlinya," balas Adrian. Opah adalah sebutan baru. Adrian untuk sahabatnya, pasalnya menginjak usia ke empat puluh hanya Ervan, sahabatnya yang sudah punya cucu.


"Gosong ganti rugi!" canda Ervan.


"Nggak akan opah, cukup hidupku aja yang pahit. Ikan ini jangan," cetuk Adrian.


Lagi asyik-asyiknya jadi tukang ikan bakar dadakan. Suara bocah perempuan menangis dari pantai mendekat ke arahnya.


"Papi ...," rengek bocah tujuh tahun pada dua pria ini.


"Kenapa lin?" tanya Adrian mengalihkan aktifitasnya pada Ervan.


"Raffa Pi, dia ambil kerang aku!" aduh Aline.


"Ya ampun anak cantik, masalah kerang doang! cari aja lagi," balas Adrian.


"Papi itu kerangnya kulitnya warna biru cantik," rengek Aline lagi.


"Tenang anak cantik, biar Om yang panggil Raffa," Ervan berteriak memanggil Raffa.


Dengan seketika Raffa dan Raydan berlari ke daratan memenuhi panggilan Papanya.


"Raffa kasihkan kerang Aline!" tegur Ervan.


"Nggak ah Pa, aku yang tangkap duluan," Raffa keras kepala menyembunyikan kerang, di punggungnya.


"Raffa tapi aku lihat duluan," Aline menghampiri Raffa berusaha mengambil dari tangannya.

__ADS_1


"Nggak bisa he! nggak bisa," Raffa menghindari Aline sambil menjulurkan lidah. Sambil melepar kerang ke arah Raydan mengoda Aline.


"Raffa!" teriak Aline masih mengejar Raffa.


Ervan dan Adrian hanya geleng-geleng kepala melihat anak-anaknya. Raffa dan Aline memang berteman karena kedua orang tuanya bersahabat. Raffa dan Aline satu sekolah tapi beda kelas. Raffa kelas tiga SD sedangkan Aline setingkat di bawahnya.


Aline yang usai kejar-kejaran dengan Raffa, kembali mengukir papi dan Omnya yang sudah bersantai usai membakar ikan.


"Om ambilin," rengek Aline kembali menarik tangan Ervan.


"Raffa! sini!" Raffa pun mendekati papanya.


"Kasihkan sama Aline, kamu sebagai anak laki-laki, harus mengalah sama anak perempuan."


"Tukang ngaduh!" ejek Raffa pada Aline.


"Biarin!" Aline menjulurkan lidah.


"Nih ambil," Raffa pun mengalah memberikan pada Aline kerangnya.


Aline loncat kegirangan mendapatkan kerang.


"Mau mandi laut lagi, males main sama kamu tukang ngaduh," Raffa berlari lagi menuju bibir pantai.


"Aku mau sama Mami," Aline berjalan menuju bawah pohon tempat maminya lagi posisi santai menikmati laut.


Sedangkan Adrian dan Ervan hanya geleng-geleng melihat anak-anak mereka. Keduanya kini merebahkan sejenak tubuh mereka di kursi lipat yang sudah di buka untuk bersantai.


"Cemas kenapa? Aline baik-baik aja!" jawab Ervan.


"Bukan masalah itu, cemas masalah Aline anak perempuan! Pergaulan nanti di jamannya pasti akan makin parah! Aku takut aja kecolongan. Aku juga takut nanti suami Aline baik atau nggak,"


"Jauh banget mikirnya bro, nikmati aja sekarang!" seru Ervan.


"Waktu itu cepat berlalu Bro, nanti tahu-tahu Aline tuh udah gede aja!"


"Bener Bro, Abel dulu juga begitu, aku merasa baru kemarin mandikan Abel. Eh, dia sekarang udah gendong bayi," balas Ervan.


"Pasti nanti aku juga merasa begitu, makanya berharap dia bisa punya suami yang baik, alim minimal kayak aku lah!" ucap Adrian.


"Pede banget bro!"


"Serius opah! Betewe, misal aku di panggil duluan nih sebelum Aline nikah. Titip dia ya!"


"Ya ampun Bro, udah kayak mau mati aja! amal ibadah udah cukup!"


"Belum sih!" kekeh Adrian.

__ADS_1


"Makanya nggak usah ngomong aneh-aneh! Aku udah anggap Aline kayak anak sendiri," ucap Ervan.


"Kita besanan aja gimana? Kan seru tuh anak-anak kita yang menyatu. Nggak kayak orang tuanya yang pasangannya ketukar." Adrian tertawa mengingat pernah suka mengincar Riri dan istrinya mantan pacar sahabatnya.


Ervan pun ikut tertawa kecil.


"Bisa juga bro, tapi anak-anak kita apa setuju," Ervan menunjuk ke arah Aline dan Raffa di bibir pantai yang bertengkar lagi entah karena apa.


"Pasti mau, anakku penurut. Plis Van, kalau Aline udah jodoh sama anakmu. Aku bisa tenang sekarang," seru Adrian.


"Ya Ndri, aku sih terserah anaknya aja. Tapi aku juga senang kalau Raffa bisa sama Aline, ikatan kita jadi nggak akan bisa putus."


"Janji ya, ke depannya kita bakal jodohin anak kita," ucap Adrian semangat.


"Oke ...," balas Ervan.


"Apa perlu nih kita ukir disini sebagai saksi," jawab Adrian menunjuk pohon Pinus.


"Memang kita anak SMA yang baru jadian," balas Ervan.


"Takut pikun bro, sekarang udah opah-opah," sindir Adrian.


"Opah-opah tapi masih oke bro, tanya Riri kuat siang malam," jawab Ervan bangga menunjukkan otot lengannya.


"Pamer!" bantah Adrian.


"Kita bahas lagi nanti masalah perjodohan anak kita," seru Ervan.


"Ya, iya. Ayo kita makan dulu, tuh istri-istri kita udah lada nunggu." Adrian menunjuk ke arah Tiara yang melambaikan tangan padanya.


"Ya udah ayo." Ervan tak mau kalah melambaikan tangan ke arah Riri.


Kedua pria berumur itu berlomba lari menuju tempat istri-istri mereka.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


Assalamu'alaikum reader Ei mulau kisah anak Mas Ervan dan Riri, ISTRI UNTUK ANAKKU awal bulan...


gimana bab awalnya penasaran nggak kelanjutan kisah bocah-bocah kita 😁😁😁


__ADS_2