
Didalam kamarnya Riri sibuk memperbaiki penggalan skripsi yang usai dikoreksi Adrian sore tadi. Dia nampak serius didepan laptop dengan tumpukan buku-buku disampingnya.
Ervan keluar dari kamar mandi terkejut melihat yang dipakai istrinya. "Sayang, kenapa pakai kaosnya Mas, kamu kehabisan baju tidur, Mas belikan sekarang?!" Kata Ervan yang aneh melihat Riri memakai kaosnya.
"Nggak Mas, Riri tiba-tiba pengen pakai baju Mas, kayaknya bawaan bayi pengen pakai kaos Papanya." Jawab Riri.
Alhamdulillah, meskipun makin hari makin aneh permintaan Riri kali ini nggak memberatkan kalau cuma pakai kaos aja hihihi. Ervan merasa menang dalam hati.
Ervan naik ke atas ranjang menyusul Riri yang sibuk dengan laptopnya.
"Ini yang harus direvisi, banyak banget sayang padahal udah bagus." Tanya Ervan membolak-balik kertas.
"Kan dosen punya pandangan sendiri Mas, mana yang dirasa belum baik di perbaiki." Balas Riri.
"Kayaknya Adrian sengaja bikin banyak salah gini, supaya kamu revisi terus dan sering ketemu sama dia." Ujar Ervan mulai lagi sifat posesif.
"Astagfirullahal'adzim, Mas.. , kenapa selalu Su'udzon sih sama Pak Adrian?" Balas Riri.
"Ya lah Sayang, namanya juga suami cinta istri. Paling kesel kalau deket-deket sama laki-laki lain."
Riri mencium pipi suaminya. "Makasih ya Mas."
Riri turun dari ranjang hendak melangkah.
"Mau kemana?" Tanya Ervan.
"Mau ke bawah ambil buah,"
"Tetap disini, biar Mas aja yang ambil, sekalian buat kan kamu susu." Ervan melewati Riri yang berdiri mematung.
Enak juga ya hamil, bisa terus dimanjain suami, xixixi.. Riri.
Beberapa Menit kemudian Ervan sudah datang membawa potongan buah apel, melon dan segelas susu rasa coklat. Riri dengan lahap memakan potongan buah yang dibawa suaminya.
"Oh ya Mas, Pak Adrian sama Bu Tiara akrab juga ya, kenapa Mas minta dia jaga Bu Tiara." Tanya Riri.
"Ya biasa aja sih, kayak teman pada umumnya. Memang kenapa?" Balas Ervan.
"Mas, kalau Pak Adrian sama Bu Tiara jadian seru kali ya." Canda Riri.
"Itu nggak mungkin Sayang, Adrian itu bukan tipenya Tiara. Tiara nggak suka laki-laki selengekan kayak Adrian. Dia itu suka laki-laki yang serius dan aktif bekerja." Ujar Ervan.
"Mas tahu banget tentang Bu Tiara, Pak Adrian itu lucu bukan selengekan." Balas Riri cemberut.
"Mas sering ketemu dia, ya tahu lah, lagi pula Tiara yang jutek juga bukan tipenya Adrian, Adrian itu suka abege-abege seusia mahasiswa, berhijab, soleha dan ceria kayak kamu." Ervan mengatakan dengan kesal.
"Belum tentu Mas, namanya hati nggak punya mata bisa aja mendarat ke siapa aja yang membuat tergetar, contoh Riri cinta banget sama Mas yang bukan tipe Riri."
"Kita ngomongin tentang kita aja, males ngomongin mereka."
Riri memukul pelan suaminya. "Mas kan seru, Bu Tiara yang judes akan selalu dihibur dengan Pak Adrian yang lucu, pak Adrian yang lucu akan selalu kena omel Bu Tiara, mereka saling melengkapi." Kata Riri menghayalkan omongan.
Ervan menyodorkan gelas pada Riri tanpa menghiraukan perkataannya. "Habiskan susunya."
Riri dengan sigap mengambil dari gelas suaminya dan meminum habis tanpa sisa.
"Sekarang gantian yang minum susu." Ervan mendorong tubuh istrinya hingga terebah.
Ervan melakukan aktivitas nakalnya pelan-pelan, tapi dia tersadar usia kehamilan Riri yang masih muda akan beresiko jika melakukan hubungan suami-istri. Dia bangkit menghentikan aktivitasnya.
"Nggak lanjut Mas." Tanya Riri.
"Kita tidur aja, kehamilan kamu masih muda, Mas takut kenapa-kenapa." Jawab Ervan.
"Jeje aman." Kata Riri. "Biar dia puasa dulu sampai dokter bilang kandungan kamu aman." Balas Ervan.
__ADS_1
Usai membereskan perlengkapan 'tempur' skripsinya. Riri pun menyusul suaminya tidur, membenamkan wajah dan tubuhnya dalam dekapan suaminya.
******
Diwaktu yang sama dan tempat berbeda di rumah sakit komplek PT. PM. Di ruangan VVIP Adrian mondar-mandir sendiri menunggu orang yang diatas ranjang pasien bangun. Dia juga sesekali melihat pintu berharap asisten Tiara segera datang.
Merasa jenuh, dia meraih kopi yang tersedia dan duduk di kursi single disamping ranjang. Dia memandangi wajah yang ada didepannya.
Cantik juga Bu Bos ini, kayak putri malu gini kalau lagi tidur anggun dan kalem. Coba dia buka mata, semua orang dibuatnya merinding. Adrian yang merasa kagum hanya tersipu malu.
Dia meminum kopinya tapi tiba-tiba dia tersedak hingga terbatuk-batuk meraih segelas air putih.
"Pasti ada yang ngomongin aku." gerutu Adrian pelan.
Disusul Tiara yang terbangun mendengar suara gaduh, kali ini dia bangun sambil tersedak sesuatu yang membuatnya terbatuk.
Adrian dengan sigap memberi segelas air untuk Tiara dan meminumkannya mengingat tangan kanan Tiara yang masih terbalut perban.
"Pasti ada yang omongin kita berdua, soalnya kita tersedaknya kayak janjian." Canda Adrian.
Tiara yang baru menyadari ternyata suara orang yang didekatnya bukanlah yang diharapkannya dia menoleh kan pandangannya.
"Adrian, kenapa kamu disini?! Ervan mana?!" Tukas Tiara dengan wajah kakunya.
"Ervan? Ya lagi di rumahnya lah, sama anak istrinya. Kenapa cari yang nggak ada, carilah yang sudah ada di depanmu." Celetuk Adrian lagi seperti biasa.
"Oh, ya Adrian.. Sorry." Balas Tiara
"Berati aku boleh dong disini ada buat kamu." Celetuk Adrian lagi.
"Apaan sih Adrian." Kata Tiara ketus yang tahu kalau Adrian orang yang suka ceplas ceplos.
Jangan bilang aku Adrian Bagaskoro, kalau nggak bisa bikin kamu tersenyum malu. Hehehehe.. Adrian.
"Gimana keadaan kamu sekarang." Tanya Adrian.
"Lain kali hati-hati kalau bawa mobil, untung tulang tangan kamu yang retak, bukan hati kamu. Nanti bisa susah hati lain mau masuk." Lagi-lagi usaha Adrian untuk membuat Tiara tertawa.
"Adrian, aku bukan mahasiswa kamu yang bisa tersenyum karena rayuan gombal kamu yang aneh." Balas Tiara dengan kaku masih belum bergeming.
"Siapa yang ngerayu, ini serius kok. Oh ya Tiara, aku denger perusahaan kamu lagi ngembangkan bahan bakar ramah lingkungan ya." Tanya Adrian.
Tiara antusias menanggapi pertanyaan masalah bisnis. "Ya, tapi masih dalam observasi, emang kenapa?"
"Syukurlah, cukup polusi udara aja yang bikin sesak, tapi sikap dingin kamu jangan dong." Balas Adrian lagi.
Dengan malu Tiara menarik ujung bibirnya tak bisa menahan senyum.
"Adrian nggak lucu tahu nggak?!" Senyuman mengembang dibibir Tiara.
"Syukur kalau nggak lucu, kalau lucu bawaannya ingin bahagiakan kamu selamanya." Balas Adrian usaha. membuat Tiara tersenyum lagi.
"Terima kasih Adrian karena temanin aku disini." Ujar Tiara seolah merasa sangat terhibur.
"Tapi kamu harus janji sama aku, setelah kamu sembuh kamu ajak aku bakar-bakar." Kata Adrian.
"Bakar-bakar, maksudnya kita bikin barbeque." Tanya Tiara bingung.
"Ya, kayaknya enak, tapi aku lebih suka bakar-bakar masa lalu kamu dengan Ervan dan mulai yang baru lagi sama aku." Celetuk Adrian lagi.
Tiara pun tersenyum merasa lucu lagi, entah kenapa Tiara merasa lama-lama jadi sedikit terhibur dengan Adrian di sampingnya.
"Kenapa aku difoto?" Kata Tiara yang sadar suara kamera ponsel mengambil gambarnya.
"Kata anak buah kamu, senyum Bu Tiara itu mahal, makanya aku simpan, kali aja butuh duit tinggal bawa ke pegadaian." Celetuk Adrian lagi.
__ADS_1
Tiara tertawa lagi. "Garing Adrian." katanya meengikari fakta.
"Tiara aku ingin bicara sesuatu," Ujar Adrian.
"Apa?" Tanya Tiara.
"Melupakan sesuatu itu memang sulit tapi akan jadi mudah jika kita berusaha, jangan lagi libatkan Ervan, terlebih lagi Riri sekarang hamil dia butuh perhatian lebih untuk suaminya."
"Jadi Riri hamil?!" Tiara sangat terkejut. Adrian mengiyakan.
"Kamu benar Adrian, harusnya aku tidak lagi melibatkan dia. Tapi aku masih merasa hanya Ervan orang yang dekat dengan Aku."
"Mulai sekarang, Aku akan jadi sahabat dekat kamu dan selalu ada buat kamu." Balas Adrian.
Sebelum menjawab handle pintu terbuka dan muncul wanita dan pria datang bersamaan.
"Terima kasih Pak, sudah menunggu Bu Tiara disini." Kata wanita yang merupakan asisten Tiara.
Adrian pun bangkit dari duduknya dan berpamitan pulang mengingat malam yang semakin larut.
"Oke Tiara, aku pulang dulu ya, semoga kamu cepat sembuh."
"Adrian, besok kamu ada waktu buat jenguk aku lagi?" Tanya Tiara seakan merasa ingin bertemu Adrian lagi.
Adrian melihat ponselnya dan menunjukkan pada Tiara. " Jadwal kuliah ku tiba-tiba kosong, kamu minta aku datang lagi." Celetuk Adrian lagi.
Tiara tersenyum lagi membuat 2 asistennya heran dan saling tatap melihat perubahan Bosnya.
Adrian melangkah pergi meninggalkan kamar inap Tiara menyusuri lorong rumah sakit menuju gedung parkir.
Didalam mobil Adrian mengeluarkan ponselnya, melihat lagi foto Tiara yang dia ambil.
Kenapa aku jadi seneng ya . Hari ini aku bikin kamu tersenyum Bu bos, besok aku bikin kamu jadi seperti apa ya? Adrian tersenyum sendiri.
Ditempat yang berbeda, Tiara tersenyum sendiri merasa senang dengan kedatangan Adrian. Tiara menatap asistenya yang ikut tersenyum melihat dirinya.
"Heh!!!! Siapa suruh kalian tersenyum-senyum lihat saya, Kerja yang benar!!." Kata Tiara ketus membuat kedua asistennya takut dan langsung menciut. Keduanya kembali fokus terdiam.
.
.
.
.
.
.
. NEXT....
**Terima kasih Zen udah sabar nunggu up yang telat.
yang beluk sempat liat visual hayalan author bisa balik ke
BAB 1 - Riri
BAB 33 - Ervan
BAB 34 - Ervan dan Tiara
BAB 49 - Abel
BAB 65 - Adrian (mudahan udah terbit)
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote vote author ya biar semangat up nya**.