Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Berbicara dari hati


__ADS_3

Raffa


Pagi ini saya benar-benar tidak tenang dengan keadaan Alesa. Sejak semalam dia sama sekali tidak membalas pesan atau mengangkat telepon.


Hubungan kita memang masih belum jelas statusnya, saya belum pernah mengungkapkan perasaan saya pada Alesa. Tapi dengan sikap yang saya tunjukkan selama ini pada Alesa, mungkin dia sudah bisa menyimpulkan sendiri.


Kita berdua merasa nyaman satu sama lain hingga saya berpikir Alesa lah jodoh yang diberikan Allah untuk saya. Sekarang faktanya, saya tidak bisa bersama dengan Alesa karena saya sudah memutuskan memilih Aline yang akan menjadi istri saya. Meskipun banyak ketidakcocokan diantara kita, tapi saya tidak bisa meninggalkan Aline. Saya tidak bisa menolak keinginan mama dan Papa.


Saya sudah ingin menjelaskan pelan-pelan dengan Alesa agar dia mengerti posisi saya sekarang. Tapi sebelum saya memberitahu saya akan menikah dengan Aline, Alesa sudah tahu sendiri, saya dan Aline mempunyai hubungan.


"Permisi Pak," kedatangan Sandra membangunkan pikiran kalut saya.


"Ya San,"


"Alesa sudah datang pak, apa langsung saya suruh datang ke ruangan bapak," ucap Sandra.


"Ya, suruh dia menemui saya," balas saya. Sandra melenggang meninggalkan ruangan.


Saya memandangi layar komputer di meja meskipun perasaan saya tidak tenang dan sama sekali tidak berkonsentrasi untuk bekerja.


Layar di meja berbunyi dan menampakan wajah Alesa.


"Masuk Sa."


Tak lama pintu ruangan saya terbuka dan muncullah wajah wanita yang saya cemaskan. Saya langsung bangun dari sandaran kursi.


"Bapak memanggil saya," ucap Alesa.


"Sa, kita sedang berdua. Jangan seformal itu. Duduk di sofa."


Alisa menurut duduk di sofa ruangan saya, saya pun berdiri mendekat ke arah Alesa. Saya duduk tak jauh dari dia.


"Sa, kenapa kamu nggak balas telpon saya."


"Saya ketiduran Mas," ucap Alesa.


"Sa, kamu marah sama saya?"


Alesa tidak menjawab hanya menunduk. Saya bisa melihat Alesa lebih murung sekarang. Saya tahu dia pasti merasa kecewa. Tapi saya tidak bisa membiarkan Alesa terus mengharapkan saya yang akan menjadi suami dari Aline.

__ADS_1


"Sa, kamu boleh kok marah sama saya." Saya mengulangi pertanyaan karena tak kunjung mendapat jawaban dari Alesa


"Mas, apa selama ini hanya saya yang salah mengartikan perhatian Mas Raffa. Kenapa kita harus sedekat ini Mas, kalau Mas juga dekat dengan orang lain. Apa Mas tidak punya perasaan sama sekali dengan saya," sambungnya sedikit terdengar emosi di bandingkan Alesa yang biasa berbicara lemah lembut.


"Sa, sebenarnya tidak ada yang salah dengan perasaan kamu, saya memang punya perasaan dengan kamu, hanya saja keadaanlah yang membuat saya tak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, yaitu kamu."


"Kenapa seperti itu Mas, apa perasaan Mas pada saya hilang begitu saja setelah sekali bertemu Aline."


"Sa, ini yang mau saya jelaskan sama kamu. Saya dan Aline sudah lama saling mengenal, waktu di kafe saya hanya menyuruh dia pura-pura tidak saling mengenal. Saya belum siap orang di kantor ini tahu kalau Aline calon istri saya."


Alesa langsung melihat kaget ke arah saya. Matanya yang bening berkaca-kaca seolah tak terima dengan penjelasan saya.


"Kenapa Mas setega itu Mas! Mas memberi harapan dan mas memilih bersama orang lain." Airmata Alesa mulai jatuh di pipinya. Kenapa saya jadi merasa orang yang jahat pada Alesa.


"Sa, saya dan Aline menikah karena perjodohan. Saya tidak bisa menolak perjodohan ini dengan alasan apapun. Saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya."


Alesa malah semakin terisak, saya semakin merasa jadi pria paling jahat sekarang. Begitu dalam kah perasaan Alesa pada saya hingga dia sesedih itu.


"Sa, setelah tahu perjodohan saya dengan Aline, jujur saya langsung takut akan kehilangan kamu. Kamu wanita yang berhasil menarik perhatian saya, wanita seperti kamu yang saya harapkan untuk menjadi istri saya. Tapi saya tidak bisa berbuat apapun, karena saya memang tak bisa menolak pernikahan saya dengan Aline."


"Jika memang Mas tidak punya perasaan apapun, kenapa Mas menerima Aline. Bukan kah itu juga akan menyakiti perasaan Aline." seru Alesa.


"Sa, saya minta maaf jika karena ini saya seperti mempermainkan perasaan kamu. Tapi seperti yang kamu tahu, saya juga tidak ingin semua ini terjadi. Semua atas kehendak-Nya. Kadang sesuatu yang kita inginkan dia bukanlah untuk kita. Justru sebaliknya apa yang tidak pernah kita bayangkan akan hidup bersama kita."


"Mas, tidak bisakah Mas memperjuangkan keinginan Mas untuk kita bersama. Apakah Mas akan begitu saja menerima Aline."


Pertanyaan Alesa langsung menampar saya.


"Sa, saya memang sempat menginginkan kamu. Tapi tak adil rasanya kamu harus menjadi yang kedua dalam hidup saya. Kamu berhak bahagia dengan laki-laki yang lebih baik dari saya."


Alesa menggelengkan kepala. Kenapa urusannya jadi rumit seperti ini. Saya memang sempat memikirkan untuk memiliki keduanya, Alesa yang saya inginkan dan Aline jodoh pilihan Mama sama Papa. Tapi itu tidak akan adil untuk Alesa maupun Aline, saya takut tidak bisa adil untuk keduanya. Apalagi denda dari wanita jadi-jadian itu pasti saya dan keluarga saya langsung jadi gembel.


Saya hanya ingin meminta baik-baik pada Alesa agar melupakan semua kedekatan yang kita lalui. Saya akan menikah, saya mau berusaha mau membina rumah tangga yang baik dengan si Alien itu. Toh nanti kedepannya gimana, biarlah takdir yang menentukan.


"Sa, jika memang kita jodoh, kita pasti akan dipertemukan dan si satukan dengan cara Allah. Tapi kalau memang kita bukan jodoh, sekuat apapun kita berusaha, kita pasti nggak akan bersatu."


"Sebentar lagi saya juga akan menikah dengan Aline, saya juga tidak tahu kedepannya rumah tangga saya akan utuh atau tidak! Saya hanya mengikuti jalan takdir yang di gariskan pada saya."


"Sa, tolong kamu mengerti jangan sakiti diri kamu sendiri dengan mengharap sesuatu yang mungkin belum bisa kita berdua dapatkan."

__ADS_1


Alesa masih saja terisak, kalau seperti ini saya jadi merasa manusia tampan paling bersalah di muka bumi. Bagaimana bisa saya membuat seorang wanita menangis?


"Saya nggak tahu bisa melupakan perasaan saya sama Mas atau nggak!" Alesa berdiri.


Omega! Alesa masih saja keras kepala.


"Mas, boleh saya kembali oke ruangan."


"Sa, please kamu jangan nangis lagi. Baru saya ijinkan kamu kembali ke ruangan."


Alesa meraih tisu di meja, ia menyeka air di


sudut matanya.


"Saya mau kembali ke ruangan Mas," ucap Alesa lagi.


Saya mengangguk mengiyakan, Alesa dengan terburu-buru keluar dari ruangan saya.


Apakah sesulit itu untuk Alesa. Kenapa saya tidak?Jika memang saya punya perasaan yang sama dengan Alesa. Apakah sekarang perasaan saya berubah pada Alesa? Apakah saya mulai bisa menerima kehadiran si Alien di hati ini? Tentu tidak pria tampan! Pertempuran Avatar dengan si Alien akan di mulai setelah kita sah, lihat apakah dia akan bertahan menghadapi ranjau pernikahan bersama saya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Map episode kemarin Ei salah sebut nama, harusnya Alesa bukan Alisa.

__ADS_1


__ADS_2