
Raffa
Samar-samar mulai terdengar suara adzan subuh. Dengan mata yang masih berat karena hanya tidur beberapa jam, saya mencoba untuk bangun.
Tubuh ini rasanya pegal sekali semalam tanpa sengaja tertidur di sofa. Bagaimana saya bisa tidur dengan nyenyak, kalau yang ada di pikiran saya hanya ada Aline.
Sungguh miris nasi saya pagi ini, tidak ada sesuatu untuk penyemangat untuk menjalankan hari. Tidak ada lagi yang bisa di ajak bercanda ketika membuka mata. Tidak ada gelitikan atau ocehan seorang Aline yang membuat saya semangat untuk memulai rutinitas. Ya ampun, hidup saya semengenaskan itu sehari tanpa istri.
Selesai sholat subuh, rasanya masih malas untuk bersiap ke kantor. Biasanya Aline yang selalu menyiapkan keperluan ke kantor sambil mengoda suaminya dengan gaya konyolnya.
Rasanya saya ingin tertawa tapi menjerit dalam hati.
Suasana hati saya sedang sangat buruk, bisa kah hari ini saya pergi ke kantor? Saya paksakan kaki ini melangkah ke dapur untuk sekadar membahasi tenggorokan yang kering ini. Sejak semalam saya kurang ***** makan.
Sekilas bayangan Aline sedang memotong sayuran terbesit di depan mata. Biasanya saya langsung dekap dari belakang menyium pipinya yang tembem, menghirup aroma lavender dari bahunya. Senyum meyungging di bibir ini.
Kenapa semuanya terjadi begitu cepat. Hari-hari indah yang saya lalui bersama Aline sekejab berubah menjadi seperti ini.
Kapan Aline akan pulang? Saya baru menyadari perasaan kita sampai sedalam ini.
Sampai kapan dia akan membiarkan suaminya seperti ini. Mendadak dada ini sakit lagi, saya sudah berusaha meyakinkan Aline. Semua keputusan memang ada di tangannya. Menyesal pun tidak ada gunanya dan terlambat. Lebih baik saya membuktikan pada Aline kalau saya benar-benar mencintai dia, sangat teramat cinta.
Pikirkan saya mulai sedikit lebih tenang. saya menyeduh secangkit kopi untuk membuat tubuh saya lebih segar.
Suara bel pintu mengagetkan lamunan saya, siapa yang bertamu pagi-pagi begini.
Apa itu Aline?
Apa tetangga sebelah yang suka setel musik campursari seperti curhatan Aline.
Saya langsung bergerak cepat ke pintu utama.
Plaaaak ....
Itulah yang saya dapat di pipi setelah pintu utama terbuka.
"Ma, ada apa ini Ma?" Tentu saya kaget, Saya merasa ada sesuatu yang membuat Mama sangat murka, Mama tidak seperti biasanya.
Plaaaak
Mama menjawab dengan satu tamparan lagi yang saya terima lagi dengan lapang dada. Wajah Mama masih terlihat sangat menyeramkan tanpa bersuara.
"Ma, kenapa Ma?" tanyaku heran.
"Mama tadinya nggak percaya dengan ucapan adik kamu. Sekarang Mama mau tahu sendiri dari kamu. Apa benar kamu meninggalkan Aline di malam pertama pernikahan kalian untuk menemui karyawan kamu bernama Alesa!"
Deg. Jantungnya rasanya ingin lepas mendengar ucapan Mama. Saya melirik tajam ke arah Raydan yang baru datang menyusul Mama.
"Maaf Kak, Kakak tahu kan, dari kecil kita berdua nggak bisa sembunyikan apapun dari Mama," balas Ray menundukkan sepertinya merasa bersalah.
"Ma, Raffa bisa jelaskan semuanya Ma!"
__ADS_1
"Ajaran siapa itu! Mama sama sekali nggak nyangka ada anak Mama yang berbuat seperti itu!" Saya tidak pernah melihat Mama semarah ini.
"Ma, kita masuk dulu Ma," saya mengandeng Mama agar masuk ke dalam rumah. Saya tidak mau ada tetangga yang mendengar keributan ini.
"Ma, Raffa terpaksa melakukan itu karena waktu itu Alesa dalam masalah Ma, dia kecelakaan karena putus asa lihat Raffa yang menikah dengan Aline."
"Apapun alasannya meninggalkan istri di malam pertama pernikahan kalian adalah kesalahan besar! Suami itu qowwam di dalam rumah tangga! Tugas seorang suami mengajarkan dan menuntut istrinya supaya bisa sama-sama masuk ke dalam surga. Jika di hari pertama pernikahan saja kamu tega menyakiti hati istri kamu! Bagaimana dengan hari-hari pernikahan kalian!"
"Ma, tenang Ma! Ini enggak seperti yang Mama pikir. Raffa bertanggung jawab atas istri dan rumah tangga Raffa. Raffa menyayangi Aline. Kebahagian kita hanya sedang di uji Ma."
"Seorang istri di ambil alih ldari orang tuanya yang sudah menjaga dan merawat dari kecil. Jika ada seseorang suaminya yang menyakiti hati sedikit saja! Apa itu pantas!" Mama semakin tersulut amarah sambil menunjuk-nunjuk wajah ini.
"Ma, kita dengarkan dulu penjelasan Kak Raffa." Ray ikut menenangkan Mama.
"Ma, tenang Ma, Raffa tahu Raffa salah! Raffa juga di selimuti rasa bersalah, Raffa terpaksa meninggalkan Aline malam itu!"
"Apa Aline pergi dari rumah karena tahu apa yang kamu lakukan!" tanya Mama.
Saya mengangguk, tidak ada yang harus di tutupi saat ini. Mama tertunduk lemas di sofa.
"Maaf Ma, Raffa sudah membuat Mama kecewa karena satu kesalahan Raffa. Raffa juga manusia yang pernah khilaf melakukan kesalahan." Saya bersimpuh di kaki Mama yang sekarang sedang duduk sambil memijat keningnya.
"Mama tidak bisa bayangakan, kalau sampai Papa kamu dan orang tua Aline tahu tentang ini." Mama mulai melemah. "Mereka pasti kecewa, mereka akan mempertanyakan lagi, bagaimana bisa anak kita menjaga putri mereka." Mama menunduk mulai menangis.
Saya mengenggam tangan Mama. "Raffa akan bawa Aline pulang Ma, Raffa mencintai Aline. Raffa membutuhkan Aline. Raffa akan menjaga dan mengayomi Aline seperti janji Raffa. Raffa yakin Aline juga merasakan hal yang sama meskipun hatinya saat ini masih terluka."
"Lakukan Raf! Dapatkan maaf dari Aline dan bawa istrimu pulang! Mungkin awalnya Aline memang bukan istri yang kamu inginkan, tapi Mama yakin Aline akan menjadi istri yang paling baik untuk kamu."
...***************...
Saya memutuskan pergi ke kantor, meskipun pikiran saya masih kacau balau. Saya Raih ponsel ingin berbagi cerita dengan Aline, meskipun dia tidak merespon.
Raffa
Sayang tadi mama ke rumah dan marah banget sama suamimu. Dia marah karena buat menantu kesayangannya pergi dari rumah.
Tak di sangka ada balasan secepat kilat dari Aline, Raffa seperti mendapat angin segar setelah rasa gelisahnya.
Bidadariku
Oh ya! Mama bilang apa aja
Raffa
Nggak mau kasih tahu
Bidadariku
Kok Gitu!
Raffa
__ADS_1
Mas kasih tahunya di rumah aja, kamu mau Mas jemput hari ini.
Raffa meyunggingkan senyum, ia mulai menemukan titik terang.
Bidadariku
Baru juga beberapa hari
Raffa
Kenapa perasaan Mas sudah sebulan ya
Bidadariku
Sejak kapan suka ngombal? Aku sudah ijinkan sama suamu nggak akan pulang beberapa hari. Jadi aku enggak berdosa kan
Raffa
Sekarang suamimu minta kamu pulang.
Bidadariku
Aku perlu pikir dulu masak-masak, aku takut hati aku sakit lagi
Raffa
Kata Mama menyakiti istri itu sama saja menyakiti hati seorang ibu, dosanya besar. Kamu tenang aja Sayang, Suamimu ini enggak akan lagi buat kamu sedih. Ini juga janji aku me Mama.
Bidadariku
Yakin? aku pikirkan dulu semuanya masak-masak.
Raffa
Sangat yakin. I Miss U my wife. Please comeback, I need U
Beberapa menit tidak ada balasan lagi Aline. Saya cuma berharap Aline mengambil langkah yang tepat.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....