Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP10-S2// Debaran


__ADS_3

Abel dan Nolan sudah tiba didepan halaman rumah bertepatan dengan kumandang azan


Magrib. Abel ingin mengajak Nolan untuk singgah sejenak dirumahnya.


“Ayo mampir ke rumah dulu, Raydan pasti seneng ketemu kamu lagi.” Ajak Abel.


“Aku sholat di masjid aja nggak terlalau jauh, sepertinya mau iqomah.” Balas Nolan sambil melepas seat belt.


“Di rumah aja yuk,sekalian makan malam.” Bujuk Abel.


“Lain waktu aja, sekalian lihat Ray,” balas Nolan singkat.


“Ya udah kalau gitu, sekali lagi makasih ya,” Seru Abel. Nolan mengangguk.


Keduanya kini keluar dari mobil bersamaan. Nolan langsung keluar dari halaman rumah, dia menoleh ke arah Abel.


"Istirahat ya, biar sehat." Kata Nolan singkat dan kaku.


"Ya, terima kasih." Balas Abel tersenyum manis.


Nolan memegang dadanya melihat senyum si ceroboh. Entah kenapa jantungnya mendadak berdebar-debar. Ia pun memilih cepat pergi meninggalkan rumah Abel, sedangkan Abel menunggu Nolan hingga tak terlihat lagi kemudian masuk kedalam rumah.


Rumah Nampak sepi, sepertinya penghuni rumah ini sedang sholat berjamaah di mushola kecil dalam rumahnya. Abel menunggu saja semua orang selesai sholat di ruang TV, karena kebetulan dia berhalagan sholat. Dia memegangi kepalanya yang agak


terasa nyeri tapi jauh lebih baik.


“Darimana sayang kamu lama banget nyampainya,” suara Ervan muncul, disusul penghuni rumah dan tamu kesayangan Abel.


“Tadi mampir ke panti, bawakan cemilan buat anak-anak.” Jawab Abel.


Abel galau, cerita apa tidak kalau dirinya usai ketipuk bola voly segede buah kelapa. Tapi lebih baik dia diam dan menikmati rasa peningnya sendiri daripada merusak suasana kunjungan pertama Bang Davin ke rumahnya.


“Papa kira kemana, ayo kita makan.” Ujar Ervan.


Semuanya kini berada di meja makan menikmati makanan yang disajikan Bi Mina. Davin mencuri- curi melihat wajah Abel, begitu pula dengan Abel yang tanpa sengaja pandangan mata mereka saling bertemu. Dengan seketika Abel menunduk merona malu mengalihkan pandangannya.


“Vin, gimana suka.” Seru Ervan menegur Davin.


“Enak Mas, yang paling seneng ngumpulnya satu keluarga gini, di rumah aku jarang bisa


makan berkumpul gini.” Balas Davin.


“Namanya juga keluarga pengusaha, pasti papa kamu sibuk terus.” Ujar Ervan lagi.


"Ya Mas, aku jadi iri lihat keluarga Mas Ervan." Kata Davin sambil tersenyum kearah Abel.


Ya Allah, kenapa aku selalu deg degan begini kalau dekat sama Bang Davin, Kenapa juga sakit kepalaku langsung hilang seketika sekarang bukannya dari tadi. Batin Abel.

__ADS_1


“Ehem, makan dulu.” Dehem Riri memperhatikan anak gadisnya dan Davin malu-malu saling memandang. Dengan seketika Abel dan Davin memalingkan pandangannya dan fokus lagi pada piring masing-masing.


Setelah beres dengan acara makan malam ini, Ervan mengajak Davin mengobrol lagi di ruang TV bersama dua anak laki-lakinya. Sedangkan Abel membantu Mama tercinta dan Bi Mina membersihkan sisa makan malam.


“Abel, sini sebentar,” Panggil Ervan. Dengan langkah seribu Abel mendekati Papanya.


“Ya Pa,” jawab Abel.


“Kamu temani Davin dulu, Papa mau ke atas sebentar,” tungkas Ervan.


Papa becanda nih, Papa nggak tahu apa debaran jantungku sekarang seperti mau orchestra. Begitu yang ada di isi kepala Abel.


Ervan langsung bangkit dan menaiki tangga, sekarang Abel duduk mengantikan Papanya


dengan beda jarak 1,5 meter.


Abel benar-benar merasakan jantungnya akan bertukar tempat dengan ginjal. Debaran jantungnya seperti susah diperlambat sesuai semestinya, wangi parfum Davin yang mengoda lubang hidungnya hingga mengembang di rongga diafragmanya dari jarak sejauh ini, menambah rasa canggungnya semakin menjadi-jadi. Lidahnya yang cerewet kini mendadak sulit mengeluarkan suara.


“Kakak PRnya udah.” Seru Raydan membangunkan lamunan Abel menyerahkan buku padanya.  Abel memeriksa hasil pekerjaan Raydan.


“Ya bagus, udah Ray sekarang boleh main ke atas.” Seru Abel. Raydan senang langsung berlari ke lantai atas.


“Raffa juga Kak, udah.” Raffa juga ikut menyerahkan buku pada Abel.


Abel memeriksa sebentar. “Raffa juga boleh ke atas.” Abel menyerahkan buku, disusul


Raffa menaiki tangga menyusul Raydan.


“Ya Bang, mereka pasti manja kalau Abel dirumah.” jawab Abel tak berani menatap Davin.


“Yang ngajarin cantik, Bang Davin juga mau di ajarin,” canda Davin.


"Bang Davin bisa aja..." Balas Abel tersenyum manis.


Davin memegang dadanya melihat senyum di wajah Abel, kenapa jadi berdebar-debar tidak karuan begini, apakah begini rasanya benar-benar mencintai. Untuk pertama kalinya dia sangat sulit sekali mengeluarkan kata indah palsu pada wanita seperti yang biasa ia lakukan pada anak wanita rekan bisnisnya. Dia binggung selanjutkan harus bertanya apa.


"Abel, kamu berapa lama nanti disini," tanya Davin membuka topik memecah keheningan.


"Akan lama Bang, Abel magang di kota ini." Balas Abel.


Davin tersenyum senang semakin banyak kesempatan bertemu dengan Abel. Sumpah untuk pertama kalinya aku sebahagia ini dekat sama cewek, nggak sabar pengen cepat bawa dia aja ke pelaminan kalau bisa. Batin Davin.


"Mudahan betah ya ditempat magang nanti, hati-hati disana, lokasi kerja mereka area pertambangan pasti lebih didominasi laki-laki dibandingkan perempuan." Balas Davin.


"Ya Bang," Balas Abel mendadak tak bisa berkata panjang dan lebar.


Selang beberapa detik Ervan dan Riri terlihat menuruni tangga. Merasa tak enak karena sudah terlalu lama dirumah Abel, Davin berpamitan pulang meskipun sebenarnya dia rela harus semalam suntuk ngobrol bersama Abel.

__ADS_1


Ervan, Riri dan Abel mengantarkan Davin hingga kedepan pintu utama. Tak lama berselang taksi online yang ia pesan sudah muncul dibalik pagar.


"Ya udah balik dulu Mas, Kak, Abel." Kata Davin menekan manis pada kata Abel.


"Ya Vin, hati-hati." Balas Ervan mewakili semuanya.


"Assalamu'alaikum," Seru Davin sambil melirik melempar senyum ke arah Abel.


"Wa'alaikumusalam." Jawab bertiga serempak.


Davin mulai berjalan keluar dan menaiki mobil. Mobil pun mulai berjalan menjauh hingga tak terlihat. Abel tiba-tiba memeluk Riri kegirangan sampai dia lupa mau mengeluh kepalanya sakit.


"Kakak kenapa," goda Riri.


Tanpa menjawab Abel langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"Kayaknya anak kita sudah gede Mas, dia sudah malu-malu gitu sama laki-laki." Seru Riri.


"Gimana Davin menurut kamu sayang," Kata Ervan.


"Baik, ganteng, sopan, mapan tapi tetep aja Mas, kita lihat juga ke sholehan sama akhlaknya." Seru Riri.


"Ya sayang, tapi kayaknya Abel juga suka gitu sama Davin."


"Abel masih kuliah Mas," ujar Riri.


"Kenapa memang masih kuliah Sayang, Mas dulu juga masih kuliah beberapa bulan langsung di paksa nikah." Cerita Ervan.


"Ya udah masuk yuk Mas," Seru Riri. Kini keduanya masuk ke dalam rumah.


Sementara didalam kamar, Abel menutupi wajahnya dengan bantal sambil tersenyum sendiri. Apa ini rasanya mencintai seseorang, dia terus terbayang wajah Davin dalam ingatannya sampai lupa sisi mana kepala yang sakit terkena bola voly.


.


.


.


.


.


Next......


Zen : Thor 🤧 rumit nih, siapa nanti yang ngalah.


Thor : Kaburrrrrrrr🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️

__ADS_1


Terima kasih udah sabar nunggu up dari Author.


Beri Thor semangat tekan LIKE, KOMMENT, yang punya poin bisa bagi VOTE. lop U❤️🙏🙏😢😢


__ADS_2