
Davin menoleh ke belakang mencari sumber suara. Semua organ tubuhnya terasa kaku ketika matanya bertemu dengan seseorang yang sangat dirindukannya juga.
"Abel, kau disini." seru Davin pelan, menatap lekat-lekat wanita yang ada dihadapannya. Ia seolah mendapatkan kesejukan bisa melihat wajah Abel lagi dari dekat.
Abel mendadak diam, bibirnya seolah kaku. Sebenarnya mulut Abel ingin bicara panjang lebar, memaki dan menuntut kejelasan semua yang terjadi begitu cepat.
TING!
Pintu lift terbuka, tapi keduanya masih tanpa suara. Belum ada yang keluar dari lift.
"Pak, ayo silakan keluar." Suara Amar yang membangunkan lamunan keduanya.
"Ya," kata Davin memilih melangkah keluar dari lift.
"Bang Davin tunggu."
Abel berjalan dengan langkah cepat keluar dari lift, dia berhasil menghentikan langkah Davin. Davin menoleh ke arah Abel yang masih belum bicara.
"Ada apa? jika kau mau bertanya lagi tentang hubungan kita, Abang tidak mau membahas lagi. Hubungan kita sudah berakhir, Abang tak menginginkannya lagi." Seru Davin penuh kebohongan dengan harapan Abel berhenti mengharapkannya.
Abel langsung mendapat pukulan telak mendengar tutur kata dari Davin. Kini tidak ada yang perlu dia tanyakan. Davin benar-benar berubah dan tak menginginkannya lagi. Kenyataan yang lebih menyakitkan dari sebelumnya kalau Davin menerima perjodohan dengan Kayla.
"Kenapa Bang Davin jahat sama Abel, kenapa!" Kata Abel dengan bibirnya yang bergetar.
"Abel tolong, ini perkantoran. Jangan bahas masalah pribadi di sini." Davin memelankan suaranya dengan nada menekan.
"Maaf, Abang harus menghadiri rapat penting dan tidak ada waktu untuk membahas hal ini lagi." Seru Davin berbalik melangkah meninggalkan Abel.
Kenapa aku harus bertemu denganmu disini Abelia. Kau hanya membuat hatiku semakin lemah melihat kesedihan di wajahmu. Maaf Abel Maafkan Abang, sekarang kau pasti membenciku lebih dari sebelumnya. Davin.
"Pak, Anda baik-baik saja." Seru Amar melihat Davin yang murung setelah kejadian di lift.
"Tentu, kita harus profesional." Seru Davin masuk ke ruang rapat meskipun pikirannya sedang kalut.
Abel masih diam mematung menatap punggung Davin yang berlahan-lahan menjauh, lagi-lagi air matanya yang mengenang tumpah. Dia tidak tahu harus kemana sekarang menyembunyikan rasa sedihnya.
"Abelong...." Suara Rena melihat Abel didepan lift berlinang air mata.
Dia langsung memeluk Abel. "Kamu kenapa, ya ampun, ayo kita ke ruangan itu."
__ADS_1
Rena langsung membopong Abel ke ruangan serupa dengan pantry. Rena memberikan segelas air untuk Abel. Abel meminum seteguk air membasahi tenggorokannya.
"Kenapa?" Rena dengan panik merangkul Abel kembali, membiarkan sabahatnya bersandar di pundaknya.
"Tadi aku ketemu lagi sama Bang Davin, sekarang bukan Kayla lagi alasan Bang Davin tapi Bang Davin memang nggak menginginkan aku. Jahat banget ren, kenapa dia jahat banget sama aku."
Rena mengusap air mata Abel dan mengelus pundaknya, entah kenapa sahabatnya sekarang jadi gampang rapuh.
"Abelong, kamu harus yakin pasti ada laki-laki yang lebih baik dari Davin dan akan mencintai kamu dengan tulus. Aku juga gedeg sama yang namanya Davin, dia nggak pantas buat sahabatku yang cantik, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, cerewet, kaya pula." Rena berusaha menghibur Abel tapi sepertinya tidak terlalu berhasil.
Drrrrttttt. Ponsel Abel berbunyi menandakan telpon masuk.
Miranda : Abel kamu dimana? rapat udah mau mulai.
Abel : Pantry Tante lantai 5. Telepon terputus
Tak lama kemudian, seorang perempuan dengan wajah galak mendatangi Rena dan Abel.
"Rena! kamu ngapain santai disini bukannya kerja. Siapa wanita ini!" hardiknya ketus membuat Abel dan Rena berhenti peluk memeluk.
"Dia...dia...." Kata Rena terbata ketakutan, sedangkan Abel masih kalut dengan keadaan memilih acuh dengan wanita itu.
"Berani sekali kau!" Teriak wanita yang tak lain adalah Miranda pada wanita atasan Rena menjabat sebagai sekretaris manager.
Melihat Miranda wanita itu langsung menunduk. Miranda menunjuk kearah Abel.
"Dia, pemegang empat puluh persen saham kepemilikan WPH, di pemilik anak perusahaan WPH Wilson palm yang punya puluhan ribu hektar perkebunan kelapa sawit," tutur Miranda yang membuat sang sekertaris diam.
"Dan kau! siapa kau, berani sekali kau, kau ingin keluar dari perusahaan seperti yang kau lakukan pada keponakanku." Sambung Miranda.
Sang sekertaris hanya diam dengan getaran dibibirnya. Dia menunduk hanya menggelengkan kepala. Miranda memberi kode agar wanita itu keluar. Dengan langkah cepat dia keluar ruangan. Rena bernafas lega seolah merasa dia merdeka, dia sangat yakun setelah ini sang sekretaris judesnya itu tidak akan berani lagi mengdzoliminya.
"Abel, kamu kenapa disini, kita harus rapat sekalian memperkenalkan kamu sebagai pemilik sebenarnya Wilson Palm yang akan memperpanjang kontrak dengan mitra bisnis kita Adiguna group." Ujar Miranda.
Belum sempat menjawab Abel mulai menitihkan air matanya lagi mengingat siapa yang datang mewakili Adiguna group. Dia pasti takkan sanggup untuk itu, keadaannya sekarang saja tidak memungkinkan untuk menemui banyak orang dalam rapat.
"Abel kenapa kamu lembek seperti Ervan, kamu harus garang seperti Mamamu." Ujar Miranda melihat Abel yang terus berderai air mata.
"Tante, sepertinya Abel nggak bisa ikut rapat, Tante wakili saja Abel seperti biasanya." Seru Abel.
__ADS_1
"Ya ampun, kau ini, ya sudah ayo kita ke ruangan dewan direktur jangan disini." Balas Miranda pasrah yang melihat Abel tidak memungkinkan ikut rapat. Keduanya kini berjalan menuju ruangan yang dimaksud Miranda.
Di ruang rapat, puluhan orang menunggu Miranda kembali dalam ruangan. Tak lama berselang Miranda tiba di ruang rapat sendiri tanpa owner perusahaan seperti yang dia janjikan.
"Mana Owner kita yang akan menjalin kontak kerja sama pembukaan lahan." Tanya Ervin pada Miranda.
"Sepertinya dia berhalangan hadir, nanti pihak terkontrak yang menemuinya secara pribadi." Jawab Miranda.
Semua memaklumi keadaan, Meskipun sebagian mitra perusahaan kecewa tidak bisa melihat siapa pemilik WP seperti yang dijanjikan. Rapat pun berjalan seperti biasa tanpa kehadiran pemilik perusahaan. Setelah pembahasan panjang mengenai rencana pengadaan alat dan seterusnya tentang pembukaan lahan. Terpilih kembali Adiguna group untuk kontrak empat tahun ke depan berkerja sama dengan Wilson Palm.
Miranda kembali menemui Abel di ruangan dewan direktur. Kondisinya kini jauh lebih baik tapi tetap dia nampak murung. Miranda duduk dikursi didepan Abel.
"Abel, rapat sudah selesai. Adiguna lagi yang terpilih." Seru Miranda pada Abel.
"Ya Tante, terima kasih Tante udah mewakili Abel."
"Abel setelah ini, mau tidak mau, siapapun itu perwakilan terkontrak kamu harus menemuinya. Bersikap tegas dan professional, kau yang punya semua ini tunjukkan pada mereka terutama Dirut Adiguna yang sudah meninggalkanmu." Seru Miranda lagi.
"Maafkan Abel Tante untuk hari ini."
"Sudah tidak apa-apa, entah besok atau lusa kau harus menemui perwakilan Adiguna group untuk persetujuan kontrak sesuai hasil rapat." Jelas Miranda. Abel hanya menunduk mengiyakan ucapan Miranda.
Keduanya kini akan menikmati makan siang sebelum pulang ke rumah dan Miranda kembali ke hotel.
.
.
.
.
.
NEXT.......
Terima kasih udah sabar dan setia nunggu Up dari author.🙏🙏🙏
Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. Loph U ❤️
__ADS_1