
Ervan malah semakin emosi dan berdiri menunjuk Davin, "Davin, simpan kata manismu itu, hebat sekali kau bermuka dua. Anakku tidak akan kuserahkan pada Lelaki serakah sepertimu!"
Davin ikut berdiri berhadapan dengan Ervan. "Mas, mungkin akan sulit membuat Mas percaya lagi padaku, tapi yang aku katakan benar Mas. Aku sangat mencintai Putrimu dan meminta izin untuk menjadikannya Istriku."
"Tolong pergilah dan simpan khayalanmu itu, Abel tidak akan ku ijinkan bersama dengan laki-laki sepertimu." Gertak Ervan lagi kesal.
"Maaf Pa." Abel tiba-tiba muncul bersama Riri di ruang tamu memotong pembicaraan.
Ervan menoleh ke sumber suara dan sedikit lebih tenang melihat putri dan istrinya. Davin tersenyum sekilas memandang ke arah Abel merasa ada semangat tersendiri yang melihat kekasihnya tiba-tiba muncul membela dirinya.
Abel menghampiri Papanya, "Abel tahu alasan Bang Davin melakukan kesalahan waktu itu. Sekarang Abel memutuskan memberi kesempatan lagi pada Bang Davin memulai lagi semuanya."
"Sayang, kamu harus pikir baik-baik jika kamu menerima orang ini lagi." Kata Ervan menunjuk Davin.
"Insha Allah ini pilihan Abel, Abel juga memikirkan ini sebelumnya," jawab Abel.
Mendengar perkataan Abel, hati Davin menjadi sejuk. Ia berharap Ervan membuka pintu hatinya untuk merestui Abel dan dirinya.
"Mas, tidak ada manusia yang tak lepas dari kesalahan Mas, sebagai orang muslim sudah menjadi kewajiban kita untuk saling memaafkan sesama muslim. Allah saja membuka pintu maaf yang lebar untuk hambanya yang mau bertaubat. Kenapa kita sebagai manusia harus mengikuti emosi kita tidak bisa menerima kesalahan orang lain. Aku tahu, Mas paham itu." Angga ikut angkat bicara di antara ketegangan yang terjadi.
Ervan masih diam tidak bisa berbicara apapun, melihat putrinya membuatnya luluh. Apalagi keinginan putrinya sama dengan keinginan Davin.
"Ayo, kita duduk dulu." Riri menyela agar semuanya yang tegang bisa kembali berbicara dengan kepala dingin.
Semua orang kembali duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan yang mulai tenang tak terpancing emosi masing-masing.
Sekarang Ervan benar-benar dilema, disisi lain rasa sakit hatinya pada Davin sangat sulit untuk hilang. Ervan merasa gagal ketika beberapa waktu lalu, melihat Abel begitu terpukul atas perlakuan Davin. Tapi di sisi lain Putrinya sendiri memberi kesempatan untuk Davin bisa kembali lagi dan meneruskan ke jenjang yang serius. Akan lebih merasa bersalah lagi jika ia menghalangi dan melepaskan lagi kebahagian putrinya.
"Mas, seseorang yang saling mencintai ingin bersama dalam ikatan yang halal. Apakah tidak berdosa jika kita menghalangi niat tulus mereka menyempurnakan setengah agamanya." Angga kekeh membela Abel dan Davin.
Ervan masih diam, yang di ucapkan Angga memang benar, tapi egonya masih belum menerima Davin kembali untuk masuk dalam kehidupan keluarganya.
"Mas jika memang ada sesuatu yang harus aku lakukan untuk bisa bersama Abel kembali, aku siap Mas. Akan aku lakukan semampuku untuk memenuhinya," tungkas Davin. Namun Ervan tidak mengubris ucapan Davin.
Suasana hening terjadi di ruang tamu. Semua yang ada di dalamnya menunggu keputusan tuan rumah yang masih saja diam tanpa ada yang mengerti arti kebisuannya.
Abel semakin gugup, entah apa yang terjadi tiba-tiba rasa takut kehilangan mendadak muncul. Apakah cintanya tak akan terbalaskan untuk kedua kalinya? dia hanya merenung memikirkan nasib percintaannya yang sulit.
Beberapa menit tidak ada yang bicara sebelum tuan rumah bicara, hanya ada suara cangkir menyentuh meja yang diletakkan Angga.
Riri mengengam tangan kanan suaminya, berharap suaminya membuka suara untuk masalah ini. Ervan menoleh ke arah Riri, Riri mengangguk yang berarti menyuruh suaminya untuk memberikan jawaban sebagai solusi situasi ini.
"Davin, aku akan menunggu orang tuamu datang melamar Abel." Kata Ervan yang membuat semua mata terkejut.
Abel membuang nafasnya lega, begitu pula dengan Davin. Ia hampir ingin pingsan mendengar perkataan Ervan. Tidak kata kebahagiaan yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Betapa beruntungnya ia sekarang mendapatkan calon mertua dan keluarga yang begitu baik dan pemaaf serta taat beragama.
__ADS_1
"Iya, Mas...." Kata Davin masih terbata dan begitu terharu hingga matanya mulai berkaca-kaca.
Abel langsung mendekat ke arah Papanya dan memeluknya erat. Ervan mencium kening Abel lalu ia bangkit dari sofa.
"Aku masuk dulu, kalian mengobrollah di sini." Kata Ervan mendadak pergi. Semuanya mengiyakan kecuali Riri yang ikut menyusul mengekor suaminya dari belakang.
Davin tersenyum bahagia melihat Abel, begitu pula dengan Abel. Davin refleks mendekati Abel bersimpuh dihadapannya, rasanya ia ingin sekali memeluk Abel. Tapi itu tidak mungkin, ia berinisiatif memegang saja tangannya seperti biasanya pasti tidak masalah.
"Eeitss!" Sorak Angga seperti kesetanan yang melihat tindakan Davin yang hampir meraih tangan Abel. Sontak Davin langsung menyimpan lagi tangannya lagi takut.
"Davin denger, mulai sekarang kamu nggak boleh sentuh Abel sebelum sah jadi suami istri," titah Angga.
"Paman...." Rengek Abel manja ikut merasa keberatan dengan perkataan pamannya.
"Itu berlaku untuk kamu juga!" Angga menjewer telinga Abel yang terlapis kerudung. "Auuh!" pekik Abel sambil mengosok telinganya.
"Tapi Pak Angga, bolehkah sedikit saja!" pinta Davin memelas.
"Kalau mau nawar sana pergi ke Pasar," balas Angga ketus. Davin langsung diam menunduk malu. Sedang Abel menahan tawanya.
"Ini salah satu syarat jadi suami yang baik, mau nggak jadi suami Abel." Ketus Angga.
"Sangat mau Pak Angga." Davin mengangguk pelan mengiyakan.
Kini ketiga hanya mengobrol santai menikmati cemilan dan teh hangat di meja.
Sementara di ruangan yang berbeda, Riri masuk ke kamar menyusul suaminya. Didapatinya suaminya yang duduk merenung di sofa usai dari lantai bawah.
"Mas," tegur Riri yang kini duduk di samping suaminya.
"Sayang, anak-anak sudah tidur?" tanya Ervan dengan jari tangannya yang menyeka ujung matanya.
"Raffa sama Raydan sudah di kamarnya, kalau Abel masih di bawah sama Angga dan Davin," balas Riri. Ervan mengangguk.
Riri memperhatikan wajah suaminya terlihat gundah.
"Mas, masih kepikiran Abel." Riri mengosok punggung suaminya.
Kini Ervan tidak bisa lagi membendung air mata harunya, ia membiarkan begitu saja keluar dihadapan istirnya. Riri langsung meraih kepala suaminya dan menyandarkan di pundaknya. Tangannya kini mengelus pipi suaminya yang mulai kasar dengan rambut halus yang Tumbuh, dia berusaha memberi semangat suaminya.
"Sayang, bagi Mas Abel itu seperti berlian yang kita simpan bertahun-tahun, kita jaga, kita rawat, kita nggak biarkan dia tergores dan sekarang kamu tahu bagaimana perasaan Mas jika Berlian itu kita serahkan tanggung jawab merawatnya pada orang lain, Mas tidak bisa melihat wajah bahagia Abel kembali murung. Kamu lihat sendiri kan bagaimana senangnya dia bisa bersama lelaki pilihan lagi." Ervan mengeluarkan keluhnya dipundak istrinya.
"Mas, setiap orang tua pasti harus melepas anaknya untuk dimiliki orang lain, begitu pula dengan Riri dulu." Riri mencoba memahami dan menghibur suaminya.
"Setelah apa yang dilakukan pada anak kita, apa Davin lelaki yang tepat untuk menjaga Abelia kita. Apakah Davin jawaban dari doa-doa Mas selama ini?"
__ADS_1
"Insha Allah Mas, mereka saling mencintai, kita doakan saja mudahan Davin bisa menjaga Abel dengan baik seperti kita. Mas harus Khusnudzon."
"Mas masih nggak percaya Abel yang dulu merenggek minta dibelikan sepeda sebentar lagi dia akan pergi dari rumah kita bersama suaminya."
"Begitu yang dirasakan semua orangtua ketika anaknya dewasa Mas," ujar Riri.
"Ya, sayang...."
"Kita doakan saja Mas. Mudahan Davin lelaki pilihan Abel, kelak bisa menjadi imam yang baik untuk dia. Bisa menjaga keluarganya dan pasti bisa sama-sama mengajaknya berjuang menuju surga Allah."
"Amin Sayang, Ayo kita tidur...." Ervan mengangkat kelapanya dari pundak istrinya.
Kini Keduanya bangkit menuju tempat tidur untuk beristirahat.
.
.
.
.
.
Next.....
________________________________
Iklan nggak baca juga nggak dihukum kok
Zen : Thor kemaren - kemaren elu pusing kan temen-temen gua ada yg dukung Nolan ada yang dukung Davin.
Thor : ehhhmm🤔
Zen : nggak usah sok mikir Thor 🙄
Thor : Jujur iya 😁, ketahuan deh gua🙈
Zen : Iya elu ngaku 🤧
Thor : Udah resiko Zen bikin konflik masalah tiga hati, ntar elu julid kalau Gua kasih konflik pelakor, pembinor, predator 😳
Zen : kenapa ada temen elu dibawa2 Thor 🙈
Terimakasih udah sabar nunggu up dari author 🙏
__ADS_1
Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol, ketik KOMENT dua kata juga boleh, yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. Loph U ❤️