Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP33-S2// Berpura Baik


__ADS_3

"Laki-laki seperti Davin juga tidak pantas untuk Kayla, Mas akan bilang sama Mas Ervin bagaimana calon menantunya memperlakukan Abel." Kata Ervan semakin emosi melepaskan pelukan Abel dan menuruni tangga.


Riri mengejar suaminya. "Mas sudah Mas, kita tidak usah mencampuri urusan keluarga mereka, mungkin sebelum bertemu Abel, mereka sudah merencanakan perjodohan ini karena bisnis, sekarang lebih baik kita memberi semangat pada Abel." Kata Riri mengira-ngira, bersumber dari cerita suaminya pernikahan dalam keluarga Wijaya karena bisnis kecuali pernikahannya dengan Ervan yang dilandaskan cinta.


Abel menyusul ke bawah. "Pa, Abel juga ikhlas jika memang Kayla menerima Bang Davin," sahut Abel dari tangga kembali berlari naik ke lantai atas.


Ervan pun diam tak sanggup melihat keadaan Abel sekarang, jika tidak dihalangi olehnya ingin rasanya dirinya menghajar Davin.


Ervan memikirkan kalau yang diucapkan Riri benar. "Davin lah orang yang paling tamak, dia meninggalkan Abel yang mencintainya dengan tulus hanya demi pernikahan bisnis, Mas nggak akan pernah maafkan Davin."


Riri hanya tetap berusaha menenangkan suaminya yang emosi hingga tenang kembali dan menuntun untuk sarapan mengingat anak-anak mereka sudah menunggunya.


Suasana dirumah Ervan mulai tenang, meskipun masih diselimuti kesedihan melihat keadaan Abel yang lebih memilih mengurung diri di dalam kamar. Seluruh anggota keluarga pun kini melakukan aktifitas masing-masing.


*****


Sementara di kantor PPN, Nolan tak mendapati Abel dikursinya yang terletak di dekat Sony. Nolan mulai curiga ada sesuatu dengan Abel dan Davin.


Menurut pelayan di rumahnya, Davin pulang sangat larut semalam dan pergi sangat pagi tadi hingga dirinya tidak bertemu kakaknya sejak kemarin. Ia belum sempat menanyakan bagaimana hubungan dengan Abel, setelah pertengkaran dengan Davin yang mengambil keputusan menerima perjodohan dengan Kayla.


Nolan mencoba mengirim pesan pada Abel, sekedar menanyakan keadaan sekarang, tapi Abel belum membalas pesannya. Waktu sudah menunjukkan lewat jam masuk kantor. Tapi dia belum mendapati tanda-tanda kemunculan Abel. Nolan yang penasaran bertanya pada Sony sang kakak pembina. UI


"Kak Abel nggak masuk," seru Nolan.


"Nggak, tadi dia kirim email katanya izin lagi sakit," Jawab Sony.


"Sakit apa Kak," kata Nolan panik.


"Nolan, mana aku tahu, sakit hati kali, kalau mau tahu datangi aja kerumahnya." Canda Sony.


Nolan kembali diam, apa Bang Davin sedang bersama Abel semalam karena Abel sakit, terus ia pergi pagi-pagi karena ingin bersama Abel lagi. Nolan menyimpulkan dengan pikirannya sendiri.


"Nolan, ini ada file yang harus dikerjakan Abel tapi sebagian file nggak bisa dikirim lewat email. kamu tahu rumahnya." Kata Sony


"Tahu Kak," Jawab Nolan semangat.


"Dimana, nanti pulang kerja biar aku antar kerumahnya kebetulan searah, dia nggak bisa di hubungi," terang Sony.


"Kalau aku aja yang antar gimana kak?" ujar Nolan, yang sebenarnya ingin melihat keadaan Abel sekalian.


"Boleh, boleh." Sony setuju, Nolan yang mengantarkan berkas untuk Abel. Setidaknya itu membuat tugasnya berkurang.


*****


Sementara tak jauh dari kantor PPN, Davin berdiri sejak pagi di rooftop gedung kantornya merasa kacau. Berdiri di atas ketinggian membuatnya sedikit tenang dan sepi. Ia sengaja pergi dari rumah pagi-pagi menghindari sarapan dan bertemu keluarganya karena pikiran masih berantakan sekarang. Bukan hanya Abel, Davin juga tidak bisa terpejam semalaman. Matanya terjaga terus memikirkan Abel dalam pikirannya.



Bagaimana dia? Apakah dia masih sedih? Apakah dia bisa menerima kenyataan yang juga sulit untuknya kini? Bagiamana keadaannya sekarang, apakah sehat?. Sebenci apa sekarang dia padanya. Begitu yang ada dipikiran Davin hanya rasa cemas.


Kadang ia juga berpikir apakah yang dilakukannya sudah benar. Kenapa hatinya masih terasa sakit dan belum sepenuhnya menerima kenyataan. Bagaimana hari-hari yang akan ia lalui ke depan. Davin memejamkan mata menegak kan kepalanya melihat langit pagi. Ia berdoa untuk selalu diberikan hati yang lapang. Kini seolah hanya Pemilik Langit sandaranya berkeluh kesah.

__ADS_1


"Maaf Pak." Suara Amar tiba-tiba muncul, asisten pribadinya itu membangunkan Davin dalam lamunan.


"Ya Amar, ada apa?" tanya Davin.


"Bapak harus mengoreksi lagi kontrak kerjasama dengan anak perusahaan WPS, Wilson Palm yang sedang berkembang, rencananya mereka akan membuka lahan baru dan pasti akan membutuhkan banyak unit-unit kita." Ucap Amar.


"Kapan rapatnya,"


"Kemungkinan besok Pak, menunggu persetujuan dari Ownernya melanjutkan atau memutus kontrak." seru Amar.


"Pergilah dulu, sebentar lagi aku akan turun," titah Davin. Aspri menunduk dan berbalik pergi meninggalkan atasanya.


Davin berdiam diri sejenak di atas gedung, sebelum akhirnya harus kembali ke rutinitasnya.


*****


Hari terang yang panjang berganti langit gelap yang di hiasi cahaya-cahaya kecil di langit. Usai kumandang adzan magrib dan menjalankan kewajibannya. Nolan bertolak ke rumah Abel, karena bosan menunggu kakaknya yang tak kunjung pulang ke rumah.


menempuh perjalanan beberapa menit sampailah ia ke rumah Abel di Citral*nd. Melepaskan helmnya dan segera menuju ke pintu utama. Beberapa kali mengucapakan salam sambil mengetuk pintu.


Pintu terbuka. "Ya, cari siapa," tanya wanita paruh baya yang muncul dibalik pintu.


"Abel ada, saya temannya magang," balas Nolan.


"Abelnya lagi di Masjid kayaknya dengarkan kajian, mungkin sebentar lagi pulang."


"Ya udah bu, saya tunggu aja diluar." Seru Nolan, disusul anggukan dari Bi Mina.



Dari kejauhan nampak Abel dengan adik-adiknya dan juga pasangan suami-istri yang bergandeng tangan. Apa itu orang tua Abel atau Kakaknya, batin Nolan melihat kebersamaan keluarga Abel.


"Bang Nolan." Raydan berlari terburu menghampiri Nolan melihatnya duduk didepan rumahnya, seolah masih mengingat pemilik drone.


"Hai jagoan," balas Nolan bangkit dari duduk sambil mengacak rambutnya.


"Ray, nggak boleh Papa beli drone."


"Nanti main sama Bang Nolan aja ya." Balas Nolan mengajak Raydan Tos.


Abel yang melihat Nolan juga ikut mempercepat langkah menyusul Raydan dan Raffa.


"Nolan, kamu mau ketemu aku," tanya lirih Abel.


"Ya, iyalah masa aku mau ketemu Bapak kamu." Jawab Nolan dengan nada ketus, ia merasa lega melihat Abel yang terlihat baik-baik saja.


Belum sempat Abel menjawab kedua orang taunya sudah mendekat. "Ehem...." Seru Ervan berpura berdehem melihat siapa lagi laki-laki yang menemui Abel.


"Assalamu'alaikum Ka, maksud saya Om." Seru Nolan binggung melihat Ervan dan Riri yang seperti Kakak Abel.


"Pa, ini Bang Nolan yang punya drone." Seru Raydan memperagakan pesawat dengan tangannya.

__ADS_1


Ervan hanya mengangguk menanggapi Raydan, karena suasana hatinya sedang buruk pada laki-laki yang mendekati Abel.


"Ada perlu Apa sama Abel," kata Ervan.


Dengan cepat Nolan mengeluarkan Map dan flashdisk. "Mau kasih ke Abel, titipan dari kantor magang Om."


"Masuk aja dulu," seru Riri. Nolan hanya mengangguk.


Kini Ervan, istri dan anak-anaknya masuk ke rumah terlebih dulu. Meninggalkan Abel dan Nolan yang masih didepan rumah.


"Itu file dari Kak Sony, kamu sudah sembuh." Seru Nolan.


"Alhamdulillah, makasih ya kamu repot-repot antar kerumahku." Seru Abel lemah.


Nolan sedikit curiga Abel tidak seceria biasanya dan hemat berbicara. "Sama-sama, Abel kamu baik-baik aja."


"Baik No, masuk dulu yuk." Balas Abel memaksa senyum menyembunyikan kesedihannya. Apa Nolan belum tahu kalau kakaknya meninggalkannya? dalam pikiran Abel.


"Nggak perlu, tugas Aku udah selesai," balas Nolan merasa lega melihat keadaan Abel seperti tidak terjadi sesuatu dan kini menaiki kendaraannya.


Abel menunggu Nolan hingga pergi dari hadapannya, Nolan membunyikan klakson. Abel melambaikan tangan melihat motor yang dikendarai Nolan mulai berjalan dan akhirnya menjauh


Langkah Abel terhenti hendak masuk rumah ketika melihat mobil dengan logo WPH berhenti didepan rumahnya tempat pijakannya kini.


Wanita berumur yang masih terlihat cantik turun dari mobil.


"Hai keponakanku yang cantik." Ucap Miranda.


"Tante nggak bilang mau kesini" Balas Abel.


"Besok kan kita rapat, maka nya Tante dari bandara langsung kesini." Ujar Miranda.


Terlalu berat pikiran memikirkan kesedihannya, Abel sampai lupa kalau besok dirinya juga harus menghadiri rapat di WPH tentang rencana pembukaan lahan baru. Keduanya kini melangkah memasuki rumah.


.


.


.


.


Next....


Sori agak lama author tambahin katanya biar kenyang 😁😁😁😁


sumber gambar @Taosattaphong @Ponnawash


Terima kasih sabar dan setia nunggu up dari author.🙏🙏🙏


Beri semangat Thormu pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. loph U ❤️

__ADS_1


__ADS_2