
Raffa
Tanpa pikir panjang lagi saya langsung menuju ke lokasi keberadaan mobil Aline. Saya tidak peduli lagi dengan penampilan yang sudah acak-acakan ini. Saya hanya berharap segera bisa bertemu Aline meminta penjelasan dan juga akan segera membawanya pulang.
Tapi sebelum itu, saya ingin singgah menemui Alesa. Saya hanya ingin tahu duduk masalah sebenarnya. Ini terlalu mendadak dan cepat, Aline jadi berubah.
Entah berapa kecepatan yang kendaraan yang saya kemudikan, hingga hanya dalam hitungan menit saya sudah tiba di depan rumah kos tempat Alesa tinggal.
Saya segera turun, mengetuk pintu tempat kosnya dengan terburu. Meskipun saya sering mengantar jemput Alesa. Ini pertama kalinya saya turun dan mengatuk pintu kosnya secara langsung. Saya terpaksa nekad masuk menerobos kos putri ini karena Alesa tak menjawab telepon dari saya.
Pintu kos, akhirnya terbuka. Alesa nampak terkejut dengan kehadiran saya.
"Mas Raffa," serunya buru-buru keluar dari balik pintu.
"Mas apa sudah ijin dengan security, sebaiknya mas keluar dulu Mas, laki-laki dilarang masuk ke dalam tempat ini!"
"Saya perlu bicara dengan kamu Sa!"
"Woi! Gimana kamu bisa masuk! Ini Kos putri! Keluar!" Belum sempat Esa bicara, security bertubuh tegap memergoki saya.
Dia menenteng lengan saya akan menyeret keluar.
"Pak, tunggu Pak. Kita akan pergi kok." Alesa membantu melepaskan tangan saya yang di tarik security itu.
Security itu pun memberikan jalan pada kami menuju pagar pintu keluar.
"Mas, ayo kita bicara saja di luar," seru Alesa memberikan kode pada saya untuk keluar dari area kos.
Saya terpaksa mengikuti Alesa daripada harus menciptakan keributan di tempat ini.
"Sudah di sini saja Sa!" Saya berhenti di depan pagar.
"Mas lebih baik kita bicara di dalam mobil Mas Raffa, tidak enak di lihat penghuni lain."
"Kita bicara disini saja Sa! Tidak akan lama."
__ADS_1
Esa nampak tidak setuju, saya hanya tidak ingin berlama-lama disini. Saya ingin segera menemui Aline.
"Mas, tolong kita bicara di mobil saja, Esa hanya tak ingin ada yang berprasangka buruk."
Demi keamanan publik, saya membuka kunci mobil dan menuruti keinginan Alesa. Kita berdua masuk ke dalam mobil.
"Sa! Kenapa kamu nggak angkat telpon dari saya!"
"Maaf Mas, Esa benar-benar nggak tahu. Ada telpon dari Mas Raffa."
"Sudah lupakan hal itu! Sebenarnya saya mau tanya sama kamu. Apa yang kamu bicarakan dengan Aline tadi siang!"
"Tadi siang, Esa hanya menyapa Aline sebagai istri atasan Mas."
"Hanya itu!" Saya hanya menegaskan perkataan Alesa dengan menatap tajam.
"Esa juga minta maaf sama Aline tentang Mas Raffa yang datang menemui Esa di rumah sakit di malam setelah pernikahan kalian."
Saya meraup wajah ini, saya sudah menduga pasti Esa mengatakan hal itu. Pasti Aline sekarang sangat marah.
"Esa hanya tidak ingin terbebani dengan rasa bersalah Mas, dengan berkata jujur pada Aline akan sedikit mengurangi rasa bersalah Esa."
"Tapi kejujuran kamu, hanya akan membuat kesalahpahaman semakin dalam antara saya dan Aline! Apa itu yang kamu mau sa! Kamu nggak pikirkan bagaimana perasaan Aline. Saya sudah bilang ke kamu, lupakan semua yang terjadi di Antara kita. Kita jalani hidup kita masing-masing." Untuk pertama kali saya harus berbicara kasar dengan Alesa.
"Mas! Mas nyuruh Esa untuk ngerti perasaaan Aline! Mas sekarang nggak peduli lagi dengan perasaan Esa."
Untuk pertama kalinya juga saya melihat Esa bebicara keras di depan saya, dia terlihat begitu emosi.
"Sa! Saya ngerti Sa, tapi sekarang situasi lain, keadaan saya juga lain."
"Mas bicara begitu, karena sekarang Mas mulai bahagia dengan Aline, padahal Mas pernah bilang sama Esa, entah Mas bisa cinta dengan Aline atau tidak!"
"Tapi sekarang saya hanya mencintai satu wanita Sa! Saya mencintai istri saya, Caroline!"
Alesa menatap saya tajam. Saya mengatakan itu bukan karena marah pada Alesa. Saya memang mencintai Aline. Sangat mencintai Aline. Saya tidak tahu kapan rasa itu muncul,
__ADS_1
yang jelas hati saya hanya menginginkan Aline.
"Ya Mas, Esa tahu. Esa tidak sengaja melihat kemesraan Mas dengan Aline di kantor. Mas terlihat bahagia dengan Aline." Esa kembali megusap-usap matanya lagi. Apa dia menangis?
Ternyata yang di maksud Aline yang membuka pintu itu adalah Esa. Ya, Alesa juga salah satu karyawan yang bisa masuk dengan kode ke ruangan saya.
"Sa, terima kasih karena kamu pernah hadir dalam hidup saya. Terima kasih kamu sudah membuat saya pernah merasakan perasaan yang berbeda kepada seorang. Terimakasih sudah pernah membuat saya bermimpi bisa memiliki kamu dalam hidup Saya. Tapi sekarang tidak Sa! Keadaan kita berbeda, saya tidak akan meninggalkan Aline demi wanita manapun, saya mencintai Aline. Saya ingin hidup sampai kapanpun dan selama mungkin dengan Aline. Saya tidak akan lagi menyakitkan hati istri saya. Jadi saya minta sekali lagi! Berhenti berpikir kita akan kembali seperti dulu! Kita jalani hidup kita masing-masing. Anggap saja yang pernah terjadi di antara kita hanya bagian dari takdir yang harus kita jalani."
Saya tidak mendengar Alesa berbicara lagi, saya hanya mendengar isakan tangis dari Alesa. Entah kenapa hal itu tidak ada pengaruhnya lagi.
Maaf Sa, kali ini kata yang keluar dari mulutku terdengar kejam. Ini semua demi kebaikan kamu. Kamu harus bisa melupakan perasaan kamu pada saya. Saya suami orang lain, saya yakin kamu mengerti itu.
"Saya harus menemui Aline, saya harus memperbaiki semuanya, kamu bisa turun dari mobil saya Sa."
"Maaf Mas," Alesa membuka pintu mobil.
"Sa," saya berhasil menghentikan langkah Esa. Kini ia menoleh masih dengan derain air mata itu.
"Sa! Sekali lagi, Semua di antara kita sudah berakhir. Maaf juga untuk semuanya. Saya harap kamu lebih menerima kenyataan dan mengerti."
"Ya Mas, Esa akan berusaha." Esa keluar dari mobil saya.
Kenapa sekarang rasa bersalah saya pada Alesa, tidak seperti pertama kali mengucapkan padanya saya akan menikah dengan Aline. Apakah sekarang hati saya untuk Aline sepenuhnya. Kenapa harus seperti ini, hubungan kita yang sudah membaik harus rusak lagi karena kesalahan saya. Saya harus membawa kamu pulang Lin, Apa yang akan terjadi padaku jika kamu tidak di sampingku. Saya berharap tidak akan ada lagi masalah apapun yang berhubungan dengan Alesa.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
__ADS_1
Aline dimana kira-kira?