Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Ingin Kamu


__ADS_3

Aline


Aku lagi posisi santai di atas sofabed sambil oleskan madu di permukaan bibir. Ya, aku bukan lagi perawatan untuk memerahkan bibir, tapi bibir sekseh princess emang lagi jontor akibat ulah suami. Gimana nggak jontor pemirsa, bibir princess nggak cuma di putar, di jilatin terus di celupi, tapi dimainin terus digigitin juga.


Raffa udah kayak serigala lapar yang nerkam biri-biri semanis princess. Mau teriak minta tolong, eh lupa itu suami sendiri. Mau kabur eh keterusan bikin nagih....


Princess jadi ngebayangin gimana nanti ehem-ehem sama Mas suami kalau Raffanya udah garang gitu, tuh jadi malu sendiri. Lagipula princess belum siap mau kasih jatah Mas suami. Mudahan Raffa tahan dan nggak nuntut terus.


Tuh kan! Membayangkan aja sukses buat princess merinding.


Aku nggak masalah mau di apain aja, tapi yang buat aku sedih dan selalu nggak tahan buat mewek. Aku selalu teringat karena apa Raffa lakukan semuanya, cinta atau nafsu? Tentu princess sangat tahu apa jawabannya.


Tapi ... tapi ... Raffa kelihatan mencolok sekali kalau lagi cemburu tadi waktu sama Farel, tapi pas princess todong dengan pancingan supaya ngaku, suamiku tercinta malah ngeles, masih sok jaim gitu. Tapi biasanya sih cemburu tanda cinta? Bener nggak permisa?


"Masih sakit?" tanya Raffa yang buat aku terpelojak kaget. Dia tiba-tiba duduk di depan aku.


"Nggak Kok, cuma ngurangin bengaknya aja, Paling sebentar bengkaknya reda."


"Maaf ya Lin, aku agak kasar mainnya, bibir kamu jadi aneh gini," Raffa mendekat mengusap lembut bibir ini.


Please Raf, kamu kalau bersikap manis begini efek sampingnya bisa buat princess sesak nafas, jantung berdebar, tulang rapuh dan otak oleng.


"Udah terlanjur sih mau diapain lagi," jawabku mencoba memalingkan pandangan aneh dari Raffa. Takut nggak kuat iman.


"Saya ulang lagi yang lebih lembut dan lama, siapa tahu bengkaknya reda!"


"Reda darimana Mas, yang ada malah tambah bengkak kamu mainnya gigit Mas." Ini sebutan baru untuk Raffa atas perintahnya mulai pagi tadi di mobil. Raffa larang princess memanggil suami dengan nama panggilan. Kalau salah sebut lagi, princess akan dapat hukuman kecup basah sesuai perjanjian. Otoriter banget ya, nyebelin kan punya suami kayak Raffa. Princess iyakan aja daripada ribut lagi, padahal princess pengen panggil ayang mbeb aja biar gemesin.


Raffa mendekat dan saya tahu apa yang akan dia 'lakukan selanjutnya. Lima jari langsung nutup mulut Raffa yang udah siap nyosor bibir sekseh ini.


"Mas, kita tidur deh! besok kerja pagi kan!" Aku berdiri menuju ranjang, princess cari alibi supaya malam ini bisa lolos lagi.


Tangan princess di tarik dan langsung jatuh ke dada yang empuk Mas suami. Aduh posisinya kok aneh gini ya, debaran jantung aku ketahuan Mas suami.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu hukum suamimu seperti ini lin," bisik Raffa dengan nada penekanan mengancam.


"Sampai aku siap Raf, maksud aku Mas Raffa," princess pakai salah sebut lagi untung langsung ngeles dengan nada manis, saking gugupnya kalau udah malam-malam berdua dalam kamar.


"Berapa lama lagi Lin," tanyanya lagi sambil mengeratkan pelukan erat di pinggang princess.


Sumpah Raf! Kalau kamu terus bikin aku lemah gini, bisa dalam waktu dekat, meskipun takut princess kan juga pengen tahu rasanya di unboxing, Eh ....


"Nanti juga akan tiba waktunya Raf," jawab princess berusaha sok tak butuh. Siapa suruh malam pertama keluyuran di saat lagi mode siap lahir batin manjain suami.


"Lin," rengeknya seperti bayi.


Sejak pertemuan kita tadi pagi dengan Farel, seharian Raffa jadi labil nggak jelas, kadang suka marah, kadang suka manja.


Seperti tadi siang, Raffa nggak berhenti kasih ultimatum princess untuk jauhi Farel. Belum lagi makan siangnya rewel banget kayak bocah, minta disuapin gara-gara ayam goreng buatan princess gosong sebelah.


Untung ya, istri Raffa ini lemah lembut, cantik, punya banyak stok kesabaran pula, jadi marahnya nggak bisa awet.


"Udah Mas, kita tidur! Besok kamu udah masuk kerja loh." princess berpura judes nutupi muka merah kayak tomat ini.


Aku udah ambil posisi di atas kasur sambil tarik selimut nutupi dada yang masih berdebar. Apa malam ini aku bisa luluh. Aku lirik Raffa yang masih adem ayem aja di sofa nggak nyusul aku.


Baiklah! Daripada mancing perkara sama suami, princess milih bobo syantik aja duluan, paling bangun-bangun udah dipeluk Mas suami.


...****************...


Raffa


Masih dalam posisi baring-baring di sofa. Hari ini saya belum bisa move on dari kejadian tadi pagi. Semakin hari saya semakin tak kuat jauh dari Aline. Setiap malam begini saya berharap segera pagi supaya nggak ada acara tidur berdua yang hanya menyiksa saya saja. Mau terus tidur di sofa kedinginan nggak ada yang hangatin.


Mau nekat tidur bareng terus takut nggak bisa tahan, kan malu-maluin kalau kena pasal perk*sa istri sendiri.


Saya masih enggak menyerah untuk mendapatkan Aline untuk menjadi istri saya sepenuhnya. Entah rasa apa ini? Saya bukan lagi menginginkan Aline karena dorongan hasrat lelaki normal yang ingin di penuhi keinginan batinnya. Tapi karena keinginan yang lain, saya ingin bisa memiliki Aline seutuhnya, hanya miliki Aline untuk saya, menginginkan dia yang menjadi ibu untuk anak-anak saya.

__ADS_1


Apa saya sudah bisa menerima Aline sekilat ini? Rasanya setiap hari saya ingin bersama Aline. Ingin egois memonopoli hidup Aline hanya untuk saya, tak rela ada lelaki manapun dekat dengan Aline, tak peduli itu alasan teman, Sahabat atau apapun itu.


Dengan menjadikan Aline milik saya seutuhnya akan membuat rasa ketergantungan akan seseorang. Dia tak akan melupakan setiap kejadian intim yang akan kita lewatin bersama. Dia hanya akan jadi selimut untuk saya, begitu pula sebaliknya. Saya tidak ingin lagi memberi jarak hubungan ini. Saya ingin menjalani rumah tangga dengan semestinya. Saya tidak akan memberikan ruang siapapun menggoyangkan hubungan kita.


Si*l membayangkan saja saya sudah tegang sendiri. Lin, saya sangat ingin kamu!


Saya berdiri melihat Aline yang sudah memejamkan mata dari balik selimut. Entah dia sudah tidur atau hanya pura-pura tertidur.


Malam ini saya tidur saja di sofa, saya nggak menjamin bisa tahan kalau tidak menjalankan amanat Papi jadi pendaki pemula malam ini.


"Mas, bangun Mas!" suara Aline mengagetkan saya. Saking pusingnya, saya sampai tertidur di sofa. Saya lihat jam dinding menunjukkan pukul 1 dini hari.


"Nanti badan kamu sakit semua kalau tidur si sofa, besok kamu mulai masuk kerja," seru Aline.


Saya menyoba mengumpulkan kesadaran saya, Alien berkacak pinggang di hadapan saya. "Kalau kamu udah siap di unboxing, saya mau tidur di ranjang," goda saya.


Bukkkk. Bantal mendarat di wajah saya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2