
Ervan dan Abel sudah tiba di bengkel yang disebut oleh Davin. Abel turun dari mobil disusul Ervan. Keduanya masuk kedalam workshop bengkel melihat disebelah kanan ruangan, mobil hitamnya yang sudah terparkir di area yang bertuliskan finish, nampak siap untuk dibawa pulang pemiliknya. Abel dan Ervan disambut karyawan bengkel untuk mendekat ke arah mobil dan mengecek kondisinya.
Mata Abel mencari-cari wujud Davin yang bilang akan menunggunya di bengkel ini, tapi semenjak mata memandang ia tidak kunjung terlihat. Pucuk dicita ulam tiba, seorang yang diharapkan pun muncul turun dari tangga lantai dua dengan kaos warna maroon dan jeans warna biru terlihat lebih ganteng dari waktu pertama bertemu, begitulah menurut Abel. Davin melangkah mendekati Abel, senyum pun nampak kembali mengembang dari bibirnya.
"Pa, itu mas-mas yang bantuin Abel." Kata Abel sambil menarik baju Ervan yang sedang memeriksa isi kap mobil.
Ervan menoleh pada seseorang yang dimaksud Abel, Ervan seolah melihat rupa yang dikenalnya tubuh menjadi pria dewasa.
"Davin! kamu ternyata yang bantu Abel, udah gede kamu hampir nggak ngenalin." Sapa Ervan pada Davin sambil menepuk punggungnya.
"Mas Ervan, Mas Papanya Abel...." Kata Davin heran.
"Ya bener, Abel anak pertama aku," Kata Ervan menarik Abel yang berada dibalik punggung Papanya.
Abel yang tadi melonggo melihat Papanya yang sudah mengenal Davin merasa antara senang dan tidak. Senang mungkin bisa percaya kalau memang ingin pergi berdua. Tidak senang, bisa jadi Papanya lebih protektif dari sebelumnya.
"Papa kenal Mas Davin...." Tanya Abel.
"Sayang, siapa yang nggak kenal Davin, dia anaknya pak Hendra Adiguna, yang punya Adiguna grup rekannya Opah." Jawab Ervan.
Aku udah nyaka bang Davin pasti bukan anak orang sembarangan. Abel
"Pantes Mas, anaknya cantik, bapaknya aja udah umur masih ganteng, kayak kakak adik...." Puji Davin. Abel tersenyum malu-malu.
"Bisa aja kamu Vin, Makasih ya udah bantu Abel waktu mobilnya berasap," Ujar Ervan.
"Sama-sama Mas, cewek cantik-cantik mobilnya garang."
"Anaknya sendiri yang mau...." Balas Ervan.
"Duduk disitu dulu, kita ngobrol..." Davin menunjuk kursi-kursi melingkar yang memang khusus untuk para pelanggan yang menunggu kendaraannya diperbaiki.
Abel mengandeng lengan Papanya agar sedikit meredakan debaran jantungnya yang seperti dangdutan.
Kenapa aku jadi deg deg kan begini. Abel
Kini ketiganya duduk melingkar di satu meja dengan empat kursi. Abel duduk disebelah Ervan sedangkan Davin terhalang satu kursi disebelah Abel.
"Gimana Vin, sekarang apa kegiatan, jangan-jangan udah jadi Presdir Adiguna grup nih." Kata Ervan membuka pembicaraan.
"Nggak Mas, aku bantu-bantu aja." Jawab Davin merendah.
"Ah, merendah nih bapak Presdir, kalau adek kamu gimana?" tanya Ervan lagi.
"Dia masih kuliah mas, ini bengkel modifikasi dia Mas, tapi orangnya lagi keluar." Jawab Davin.
"Ya nggak bisa ketemu, oh ya Vin, aku mau kesitu dulu ambil notanya sekalian cek lagi...." Ujar Ervan menunjuk conter administrasi. Ervan pun bangkit meninggalkan kedua orang malu-malu ini menuju conter.
__ADS_1
Abel jadi salah tingkah ketika duduk berdua, rasanya ingin lari dari situasi seperti sekarang, tapi ini saat yang dia tunggu.
Davin terus menatap Abel, sedangkan Abel memilih menunduk, lelah menunduk karena yang dia lihat hanya deretan semut pacaran dilantai, Abel mengangkat kepalanya tidak peduli nanti matanya akan bertemu dengan tatapan mata Davin.
"Abel, Sabtu sibuk nggak...." Tanya Davin.
"Nggak juga sih bang, maksud Abel Mas...."
"Nggak apa-apa panggil Abang aja, adek aku panggil gitu...." Ujar Davin.
"Ya Bang...." Balas Abel tersenyum.
"Sabtu nanti makan diluar yuk, di ijinin nggak sama Papa kamu keluar sama Abang." Tanya Davin lagi.
"Bang Davin ngomong aja langsung," kata Abel menunjuk Ervan dengan ekor matanya.
"Oke, kalau kamu mau nggak...." Tanya Davin. Abel mengangguk mengiyakan.
"Makasih cantik...." Balas Davin tersenyum senang. Abel hanya membisu senang dalam hati tak bisa membalas apa-apa entah kenapa mulutnya seperti di kunci dengan lem Fox.
Kenapa aku jadi kaku gini dekat dengan bang Davin**. guman Abel dalam hati.
Ervan kembali mendatangi mereka usai dari counter.
"Ayo Sayang kita pulang," Ajak Ervan pada Abel. Abel bangkit dari duduknya mengandeng lengan Papanya.
"Sama-sama Mas, aku boleh sekarang main ke rumahnya Mas. Aku mau tahu anak-anaknya Mas Ervan." Balas Davin.
Ervan mengeryitkan dahi, tadinya ia hanya basa-basi tapi Davin nanggapi dengan antusias.
"Ya, boleh," seru Ervan.
"Aku boleh nebeng sama Abel nggak Mas, sekalian temenin dia test Drive mobilnya." Seru Davin lagi.
"Nggak perlu Davin, kamu sama aku aja test drivenya, Abel biar bawa mobil putih. Mau ngobrol banyak juga sama kamu." Timpal balik Ervan.
Davin kehabisan kata lagi, usahanya gagal lagi ingin bedua Abel mengobrol agar saling mengenal lebih dekat. Begitu pula denagn Abel yang langsung tersenyum masam mendengar jawaban Papanya.
Setidaknya bisa tahu rumahnya dan dekat dengan keluarganya dulu saja, begitu yang ada di isi kepala Davin.
"Ya udah Mas Ayo," Seru Davin.
Kini ketiganya masuk kedalam mobil masing-masing, Ervan bersama Davin dalam satu mobil yang usai diperbaiki. Abel menaiki mobil putih range r*ver kendaraannya yang dia pakai sebelumnya.
Kini semuanya melesat meninggalkan bengkel. Disela perjalanan Abel menghentikan mobilnya disalah satu mini market. Dia ingin mampir sebentar dan membeli beberapa makanan ringan seperti biasa untuk anak-anak kurang beruntung dipanti asuhan, karena sudah enam bulan terakhir tidak berkunjung kesana karena berkuliah diluar kota.
Setelah mengisi mobil bagian belakang penuh dengan susu kemasan, buah dan makanan ringan. Abel melesatkan kembali mobilnya ke Panti yang tak jauh dari kompleks perumahannya.
__ADS_1
Mengendarai mobilnya sekitar 20 menit, Abel sudah tiba dihalaman panti. Dia turun dari mobil berjalan ke dalam ruangan menemui pengurus panti.
"Assalamu'alaikum...." Seru Abel pada pengurus panti.
"Mbak Abel, lama nggak kesini," Kata salah satu pengurus panti yang memang mengenal Abel.
"Ya Bu Tari, Saya kuliah ini baru libur, Bu Tari saya mampir mau titip cemilan buat anak-anak." Kata Abel menunjuk mobilnya.
"Ya Mbak, sebentar saya suruh anak-anak angkat." Bu Tari meninggalkan Abel, Abel pun berjalan keluar menunggu anak-anak mengambil bungkusan dari mobilnya.
Abel menyapu matanya ke taman-taman Panti, matanya pun langsung tertuju pada orang yang ada di dalam gazebo taman nampak memberikan bimbingan pelajaran pada beberapa anak. Abel menggelengkan kepalanya, mungkin aku sudah berhalusinasi saking seringnya dia menjadi superhero akhir-akhir ini. Mana mungkin si songong bisa tertawa setulus dan semanis itu pada anak-anak. Tapi dia semakin penasaran karena wujud tersebut sangat nyata begitu akrab dengan puluhan anak-anak.
"Bu Tari itu Siapa...." Tanya Abel kepo yang melihat kemunculan Bu Tari.
Bu tari melihat telunjuk Abel, "Oh itu, anak-anak panggil Mas itu Bang Nolan." Seru Bu Tari.
Tuh kan bener itu memang nama si songong, Batin Abel.
"Bang Nolan donatur tetap di panti kita Mbak, dia juga sering kesini kasih anak-anak bimbel, ngajak jalan-jalan dan banyak lagi, anak-anak udah nganggap Bang Nolan kayak Kakaknya." Jelas Bu Tari.
Abel melonggo tak berhenti membuka mulutnya mendengar penjelasan Bu tari, apa semulia itu hati si songong nampak berbanding terbalik dengan kenyataan, kenapa dia selalu berwajah seram dan berbicara kasar pada semua orang yang membuatnya kesal.
Abel berjalan mendekat ke lapangan tempat anak -anak bermain agar bisa melihat sosok si songong yang tertawa ceria dengan jelas, memastikan kalau matanya memang normal dan tidak rabun, tapi....
BUKKKKK. Dari arah samping Bola Voli atau apakah itu menimpa kepalanya, Abel seperti melihat banyak bintang berkeliling dan gelap. S*al rasanya hampir seperti ditimpa lima buah kelapa.
Bruukkkkkk. Akhirnya, dia pun ambruk.
"Mbak Abel....." Teriak Bu Tari.
.
.
.
.
.
Next......
Nanti dilanjut ya, jempol Thor istirahat dulu.
Terima kasih udah sabar nunggu up dari Author.
Beri semangat Thor ya LIKE KOMENT, jangan lupa bagi Poin untuk VOTE, 🙏🙏🙏 Lop U dah❤️
__ADS_1