
Abel dan Davin menunaikan sholat Magrib terlebih dahulu di salah satu masjid dekat resto sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Kini kedua sudah berada didalam mobil siap melanjutkan perjalanan pulang usai melaksanakan kewajiban mereka. Abel masih menyimpan ribuan pertanyaan pada Davin tentang Nolan hingga dia binggung harus mulai dari mana akan bertanya. Nolan sangat jauh berbeda dengan Davin. Nolan bahkan tidak terlihat seperti anak pemilik perusahaan besar seperti adiguna group.
“Bang Davin,” Kata Abel yang memecah keheningan didalam mobil.
“Apa Sayang,” Sahut Davin.
“Kenapa Nolan tidak seperti Bang Davin, mengurus perusahaan keluarga yang besar, kenapa Nolan malah ingin usaha sendiri membuka bengkel mobil modifikasi.” Tanya Abel memberanikan diri untuk mengobati rasa penasarannya.
Apa Nolan seperti Papanya yang melepaskan diri dari nama besar keluarga dan memilih cara hidupnya sendiri? Pikir Abel.
“Karena dia diberi kebebasan memilih jalan hidupnya sendiri oleh Papa Mama.” Ucap Davin.
“Kenapa hanya nolan yang diberi kebebasan, Bang Davin nggak.” Tanya Abel lagi.
“Nolan pernah mengalami gangguan psiskis di masa lalu, sehingga dia tidak bisa dibebankan tanggung jawab besar.” Cerita Davin.
Abel semakin penasaran mendengar cerita dari Davin tentang si songong. “Kalau Abel boleh tahu,dia ada trauma apa Bang, Abel penasaran,” tanya abel lagi.
“Sebenarnya abang tiga bersaudara, tapi adik perempuan Abang Alika, dipanggil lebih dulu sama Allah sepuluh tahun lalu,” Cerita Davin.
“Ada hubungannya sama Nolan ya Bang?” tanya Abel lagi.
“Ya, waktu itu Nolan sedang bersepeda dengan Alika, mungkin waktu itu Nolan tak menyadari Alika sudah berada di tengah jalan, Nolan yang masih umur 12 tahun melihat dengan mata kepala sendiri adiknya yang berumur 7 tahun di tabrak mobil hingga tewas ditempat, sejak kecelakan itu Nolan terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Nolan sempat depresi berat di usia yang masih muda, dia selalu berpikir kecelakaan itu karena salahnya, kecelakaan itu banyak berpengaruh pada kehidupannya. Nolan kecil yang ceria berubah jadi Nolan yang kaku sampai sekarang dia jadi keras sama siapapun, dia waspada, kecuali sama anak-anak. Keadaaanya berangsur pulih dan membaik ketika dia berada bersama anak-anak seusia Alika, sampai sekarang dia sangat menyayangi anak-anak, dia merasa punya tanggung jawab sendiri kepada anak-anak untuk Alika. Hampir seluruh kegiatannya membela nasib anak-anak, dia tulus memberikan kasih sayangnya pada anak-anak yang kurang beruntung, bahkan sebagian penghasilan bengkelnya di donasi ke beberapa panti asuhan.” Cerita singkat davin pada Abel.
Kasihan juga si songong, eh bukan Nolan aku jadi iba. Batin Abel.
“Kata dokter Nolan tidak boleh dibebankan terlalu berat, biarkan dia menjalani hidupya seperti itu sesuai kehendaknya agar traumanya cepat pulih. Butuh waktu bertahun-tahun untuk melewati semuanya. Jadilah sampai sekarang dia seperti itu, tapi abang senang kebebasan Nolan bersikap positif, dia aktif dalam kegiatan sosial, rajin beribadah, dia mahasiswa apresiatif paling aktif itu sebabnya di kuliah lama belum juga lulus.” Sambung Davin lagi.
“Ternyata itu sesuatu dibalik sikap keras Nolan, Abel tahu Nolan memang orang baik, hanya cara bicaranya saja yang kurang enak didengar.” Ujar Abel jadi merasa iba.
“Ya sayang, kamu maklumi ya sikap adek Abang, mungkin bersikap dingin pada seseorang bisa menutupi rasa traumanya.” Ucap Davin lagi.
Tanpa terasa menceritakan tentang nolan, mobil mereka sudah memasuki gerbang di citral*nd dan beberapa menit tiba di depan pagar rumah Abel.
“Makasih ya Bang Davin, nggak turun dulu,” seru Abel melepas seat bell.
“Sepertinya Abang langsung balik, mungkin kalau kesini lagi Abang akan bilang sama Papa kamu keseriusan Abang miliki kamu,” ucap Davin. Abel yang mendengar perkataan Davin menunduk malu.
“Sabar ya sayang, Abang nunggu orang tua Abang pulang dari luar negeri baru datang ngelamar kamu.” Kata Davin menghadap kearah Abel, tangannya juga tak tahan kalau tidak memegang punggung tangan kanan Abel.
__ADS_1
Abel tersenyum mengangguk malu, kini kedua mata mereka saling bertemu mengagumi keelokan rupa satu sama lain. Dengan senyum merekah di wajah kedua orang yang saling jatuh cinta ini.
“I Love you...." Seru Davin mencium lagi punggung tangan Abel.
Tok tok tok. Suara ketukan keras dari jendela mobil di samping Abel. Abel langsung spontan melepaskan tangan begitu pula dengan Davin. Kedua menoleh ke sumber suara. Abel langsung menurunkan kaca mobil.
"Lama sekali didalam mobil nggak turun-turun, kalian ngapain!" gertak Ervan yang tiba-tiba muncul di balik kaca jendela.
"Nggak ngapa-ngapain Pa ngobrol aja, ini juga mau turun." Bela Abel panik. Dia langsung membuka pintu dan turun dari mobil, begitu pula dengan Davin keluar dari mobil.
"Kalau kalian mau ngobrol turun ke teras jangan berdua dalam mobil banyak setannya," gertak Ervan lagi.
"Ya Mas, maaf, kalau gitu balik duluan Mas, Assalamualaikum." Kata Davin mencium punggung tangan Ervan.
"Wa'alaikumsalam...." Balas Ervan.
Davin masuk ke dalam mobilnya, kini mobilnya mulai berlalu meninggalkan rumahnya.
"Tadi kamu ngapain eh, kenapa nggak turun-turun dari mobil, Papa lihat dari atas." Kata Ervan menjewer telinga Abel di balik kerudungnya.
"Ahhh.....Ampun Pa sakit, sumpah Abel ngobrol aja," jelas Abel. Ervan melepaskan tangannya.
"Ya udah jangan di ulangi lagi, kamu sama Davin itu belum halal, harus bisa jaga sikap dan jarak." Ujar Ervan lagi.
*****
Ditempat yang berbeda, di dalam kamarnya Nolan memandangi foto wanita berhijab dilayar laptopnya. memindah-mindah slide ke slide yang lain. Tadinya dia ingin menekan tombol delete, tapi entah kenapa ia tidak rela, terpaksa ia mengurungkan niatnya.
Semoga aku cepat melupakanmu Abelia, kau orang yang tepat untuk kakakku. Nolan
Terdengar suara hadle pintu, Nolan melihat kakaknya yang ada dibalik pintu langsung menutup cepat laptopnya.
"Nolan, kamu masih punya hutang sama Abang." Seru Davin ikut duduk di sofa kamar Nolan.
"Hutang apalagi Bang." Seru Nolan.
"Foto cewek itu, Abang masih penasaran." Ujar Davin.
"Udah aku hapus semua Bang dan jangan bahas itu lagi, karena udah nggak penting lagi buat aku...." seru Nolan.
__ADS_1
"Loh kenapa? ada masalah ceritakan sama Abangmu." Ujar Davin Panik.
"Nggak Bang, semua baik saja." Seru Nolan santai, menenangkan Davin. Masalahnya kali ini ia tak bisa berbagi keluhan pada kakaknya.
"Oke kalau gitu, oh ya gimana Abel, kamu senang punya calon Kakak Ipar kayak dia." Ujar Davin dengan wajah bahagia.
"Abel, baik, lucu, dia sangat serasi dengan Bang Davin." Kata Nolan dengan perasaan yang campur aduk, antara senang dan sakit.
Davin menepuk punggung Nolan.
"Tapi Bang Davin harus janji sama aku Bang." Ujar Nolan lagi.
"Janji Apa?" Tanya Davin heran.
"Bang Davin jangan pernah nyakitin Abel, sekalipun. Jika nanti kalian berjodoh, bang Davin harus jadikan dia wanita yang paling bahagia." Pinta Nolan.
Davin masih terheran melihat adeknya yang mendadak manis dan sangat peduli pada Abel. Padahal mereka belum lama saling mengenal. Tapi Davin merasa senang perubahan sikapnya adiknya akhir-akhir ini.
"Tentu saja itu pasti ku lakukan, adik baik." Balas Davin beranjak melangkah pergi meninggalkan kamar adiknya.
******
Di kamar yang berbeda, Abel yang berbaring di tempat tidur sambil tersenyum melihat pesan yang dikirim Davin. Disisi lain entah kenapa dia merasa, semakin sering Davin mengungkapkan cintanya, dia semakin takut kehilangan. Apakah memang seperti ini rasanya mencintai seseorang, pasti ada rasa was-was untuk kehilangan?.
Abel berharap semuanya akan baik-baik saja mengalir seperti air sampai nanti takdir Allah yang menyatukan dia dan Davin dalam ikatan suci selamanya.
Abel mematikan lampu bersiap tidur karena esok dia harus ke kantor PPN untuk pengenalan lokasi kerja dan pembagian tim untuk tugas magangnya. Dia menarik selimut menutupi tubuhnya, berdoa agar memimpikan Davin malam ini.
.
.
.
.
. NEXT
maaaf sekali reader telat UP.....
__ADS_1
terimakasih udah sabar nunggu Up dari author....
Beri semangat author mu pencet LIKE ketik KOMMENT yang punya poin bagi VOTE seikhlas kalian . Loph ❤️ U 🙏 🙏🙏