Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP44-S2// Lomba


__ADS_3

Matahari pagi mulai masuk menerobos celah-celah jendela kamar Abel. Matanya yang masih mengantuk sulit untuk terbuka. Dia sengaja ingin mengistirahatkan badannya lagi usai sholat subuh dihari minggu ini. Tapi bunyi alarm dari ponsel yang sangat menganggunya membuat matanya mau tidak mau harus terbangun. Abel meraih ponselnya di atas nakas melihat peringatan dalam ponselnya, ia hampir lupa kalau pagi ini ada janji dengan Nolan di CFD.


Abel meraih handuk dan bangkit dari kasur ke kamar mandi. Beberapa saat setelah ritual mandinya selesai, dia bersiap untuk pergi. Dengan pikiran yang positif, Abel meraih kameranya di dalam lemari. Dia keluar kamar menuruni tangga menuju lantai bawah.


Rumah nampak sepi tanpa keributan kedua adiknya, karena jadwal Minggu pagi ini waktunya keluarga Papa Ervan berkunjung ke rumah orangtua Mama Riri. Kemungkinan juga mereka disana akan membahas rencana lamaran dan pernikahan paman Angga. Mungkin Abel kan menyusul setelah kegiatan potret memotret dengan Nolan selesai.


"Bi Mina Abel mau jalan." Abel mendekati Bi Mina yang ada di dapur.


"Nggak sarapan dulu," sahut Bu Mina.


"Bawa ini aja, sarapan di mobil." Abel mengambil dua bungkus roti isi sosis di meja makan dan melangkah keluar rumah menuju halaman.


Abel menyalakan mesin mobilnya, dan perlahan-lahan keluar meninggalkan rumahnya.


****


Ditempat yang berbeda, rumah megah kediaman Adiguna. Nolan dengan semangat keluar dari kamar, sekilas ia melihat pintu kamar Davin. Sudah berhari-hari lamanya mereka tidak bertemu ataupun bertegur sapa apalagi saling bicara. Sejak mereka bertengkar, Nolan bahkan belum pernah bertemu Davin yang selalu pulang larut bahkan dirinya dan Davin tidak pernah ikut sarapan bersama. Sedikit ada kerinduan di hati Nolan saat ini, merindukan saling berbagi cerita atau menunjukkan kegiatan masing-masing dengan kakaknya.


Apa yang harus ia lakukan? susah sepatutnya ia meminta maaf. Ia ingin sekali semua kembali seperti semula selepas semua yang terjadi. Tapi lagi-lagi ia juga tidak bisa menerima apa yang dilakukan Abangnya pada Abel tetaplah salah. Kenapa dengan tiba-tiba ia langsung memilih bertunangan dengan Kayla tanpa sebab.


Ceklek


Davin keluar dari kamarnya dengan pakaian santai, ia melihat Nolan yang terus memandanginya.


"Kenapa, kau melihat abangmu seperti itu, kau ingin bertengkar lagi," tanya Davin pada Nolan.


"Maaf untuk apa yang terjadi ...." Nolan melenggang melewati kakaknya karena semua masih canggung sekarang


Davin hanya diam, sebenarnya ia juga merindukan saat-saat kebersamaan dengan adiknya sebelum bertengkar. Tapi ia menyadari memang seperti itulah adiknya ketika marah. Kini ia juga ikut menyusul ke bawah untuk sarapan.


"No, tunggu dulu." Pak Hendrawan menghentikan langkah Nolan, Nolan dengan cepat ke meja makan mendekati ayahnya.


"Ada apa Pa?" tanya Nolan.


"Tunggu lah Davin dulu," ujar Pak Hendrawan.


Davin menuruni tangga, sekarang ia menggeser kursi dan bergabung sarapan dengan keluarganya setelah beberapa hari-hari memilih sarapan di kantor.


"Bagus, semua sudah berkumpul ada hal penting yang ingin Papa bicarakan." Seru Pak Hendrawan.

__ADS_1


"Davin, Ervin sepakat pertunanganmu akan dilakukan Minggu depan." Ujar pak Hendrawan.


"Bukan kah itu terlalu cepat Pa," balas Nolan.


"Bagus Pa, semakin cepat semakin baik," balas Davin. Hal ini membuat Pak Hendrawan dan Bu Mitha tersenyum bahagia.


Nolan memandang kesal ke arah Davin mendengar jawabannya. Apa yang sebenarnya terjadi Bang Davin seolah ingin cepat-cepat bersama Kayla. Apa benar dia sekarang sudah benar-benar terpikat pesona Kayla dan melupakan Abel yang dicintainya. Begitu yang ada di isi kepala Nolan.


"Pa, Ma, aku pergi dulu, sarapan dijalan, aku terlambat." seru Nolan bangkit dari kursi.


Tanpa ada yang mencegah, Kini ia pergi meninggalkan acara berkumpul dengan keluarganya. Keluar menuju halaman rumah, perlahan motornya menjauhi rumahnya.


*****


Abel sudah tiba di lokasi CFD, dia segera ke tengah mencari-cari komunitas fotograpfi yang mengadakan kompetisi. Abel sudah berkerumun di tengah puluhan orang yang membawa kamera di tangannya. Abel melakukan registrasi dan mendapatkan kartu peserta kompetisi.


Matanya mencari-cari kesana kemari tidak juga menemukan Nolan, kemana dia, dia yang mengajak, di juga yang terlambat? lomba akan segera mulai. Abel sudah mengambil posisi nyaman di depan obyek foto yang pertama dari lima obyek. Tak lama seseorang mengagetkannya dari belakang. Nolan sekarang sudah di belakangnya mengambil posisi. Abel tersenyum akhirnya bertemu orang yang dikenal di antara puluhan perserta lomba.


"No, akhirnya datang juga ...." Abel menepuk bahu Nolan.


"Ayo buktikan siapa yang paling jago," ujar Nolan.


Memegang kamera membuat perasaan Abel senang hari ini. Semuanya masalah dan beban pikirannya seperti terluapkan begitu saja. Tidak menang dalam lomba pun tidak masalah, yang terpenting segala kegundahan dan emosinya terluapkan dengan jepretan cahaya lensa.


"Minum!" suara Nolan mengangetkan Abel yang sedang asik melihat hasil bidikannya.


"Makasih No." Abel meraih botol air minum dari tangan Nolan dan meneguknya.


Nolan kini ikut duduk di rerumputan di samping Abel.


"Seru?" tanya Nolan singkat.


"Seru, pertama kali ikut lomba biasanya untuk Hobi aja," balas Abel senang. "No, lihat jepretan kamu." Abel melihat ke arah Nolan menuntut.


Nolan dengan santai menyerahkan kamera miliknya pada Abel. Sebagian isinya yang merupakan foto-foto Abel sudah ia pindahkan. Abel memeriksa foto-foto di kamera Nolan. Hasih jepretan yang bagus menurut Abel, mungkin Nolan bisa menang. Tangannya mengeser slide bergantian melihat foto-fotonya yang lain selain obyek lomba. Tangannya terhenti melihat gambar di layar. Kenapa harus gambar ini yang dia lihat setelah berhasil melupakan beberapa jam. Gambar Davin benar-benar membuat wajah semangat bahagianya memudar.


Abel menyerahkan kamera pada Nolan. Nolan memandang aneh ke arah Abel. Nolan melihat layar dibalik lensa itu. Dan mulai menyadari apa yang dirasakan Abel.


"Abel, maafkan Bang Davin ya, sudah membuatmu kecewa," ujar Nolan yang sebenarnya sangat berat mengungkapkan ini.

__ADS_1


Entah No, sampai kapan aku bisa melupakan bang Davin bahkan setelah apa yang dia lakukan padaku. Kenapa sampai sekarang rasa cintaku masih sama. Abel.


"Nolan yang sudah terjadi biarlah terjadi. Oh ya, maaf aku harus pergi sekarang. Ada acara keluarga." Abel berdiri dari rerumputan tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Nolan.


Nolan pun ikut bangkit. "Ya, aku temanin sampai ke tempat parkir." Abel sedikit heran. Baiklah, ia menggangguk mengiyakan.


Keduanya kini berjalan beriringan tapi sedikit memberi jarak. Abel sudah sampai di tempat mobilnya parkir.


"Makasih No, untuk hari ini semoga kau menang." Abel membuka kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah Nolan.


"Menang bukan tujuan utama," balas Nolan seolah keceplosan. Abel mengeryitkan dahinya penuh tanya.


"Hati-hati dijalan," ujar Nolan panik dengan tatapan Abel, ia pun melambaikan tangan sebelum Abel bertanya lebih lanjut.


Mobil Abel pun perlahan menjauhinya. Nolan bernafas lega, tujuan utama adalah untuk menghibur Abel dengan hobi mereka yang kebetulan sama.


Abel sepertinya masih mencintai sangat bang Davin, kenapa aku lebih sakit melihat Abel seperti sekarang daripada melihat Abel bersama bang Davin. Nolan.


Nolan menuju tempat parkir akan meninggalkan area ini juga. Ia akan ke bengkelnya untuk menyimpan hasil fotonya. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi bengkel semenjak keluar dari rumah sakit dan kesibukannya dengan kegiatan magang.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT........


Terima kasih udah sabar dan setia nunggu up dari author 🙏🙏🙏


Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. Selalu loph U ❤️

__ADS_1


__ADS_2