
Ervan mengendong Riri ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya. Dokter memeriksa keadaan Riri yang masih belum sadarkan diri. Abel terus menangis karena rasa traumanya di masa lalu karena kehilangan ibunya. Ervan mecoba menenangkan anaknya.
"Tenang sayang mama cuma pingsan, sebentar lagi pasti akan sadar." Kata Ervan mengeratkan pelukan pada anaknya.
"Pa, bangun kan Mama Pa, dari tadi dia belum sadar." Seru Abel lagi masih terisak.
"Tenang sayang, sudah ada dokter yang memeriksa."
Beberapa menit mendapat pertolongan medis dari dokter, Riri masih juga belum sadarkan diri.
"Dia cuma kaget Kak, terus pengaruh ke pikiran memgimplus ke otak jadi langsung pingsan tadi udah aku suntik beberapa obat." Kata dokter itu pada Ervan.
"Nathan, Kenapa dia belum sadar juga." Tanya Ervan mendekati Riri mengelus kepala istrinya.
"Tenang Kak, sebentar lagi juga sadar, setelah sadar langsung kasih makan terus minumkan obatnya." Jawab dokter yang bernama Nathan berdiri, sudah menyelesaikan tugasnya.
"Oh ya Kak satu lagi, aku mau kasih surat rujukan ke dokter Kandungan." Ujar Nathan lagi menjauhi ranjang.
"Istriku hamil??" Jawab Ervan kaget dan senang.
"Belum pasti juga Kak, tanda-tandanya ada, makanya aku rujuk ke sana supaya bisa di cek lewat usg sama dokter kandungan." Seru Nathan lagi.
"Terima kasih Nathan." Jawab Ervan lagi.
"Kak, setelah ini buka bajunya oleskan minyak kayu putih didada, hidung, leher." Kata dokter muda itu lagi.
Dokter itupun pergi meninggalkan kamar Ervan, diantar oleh Bi Mina ke pintu depan.
Flashback On
Ervan menepati Janjinya pada tiara untuk bertemu dengannya dikedai kopi di salah satu mall. Tak lama menunggu, wanita yang ditunggunya datang dan langsung duduk dihadapannya.
"Terima kasih sudah mau datang, aku janji kita tidak akan bertemu berdua lagi kecuali membicarakan pekerjaan." Kata Tiara pada Ervan.
"Tiara cepat, sebenarnya hal apa yang ingin kau bicarakan." Kata Ervan.
"Van, entah apa yang terjadi padaku setelah kau tak bersamaku dan menikah dengan dengan riri. Aku seperti kehilangan arah." Tiara meneteskan air matanya, untuk pertama Kalinya selama ini Ervan melihat Tiara menangis tersedu didepan matanya. Dia merasa sedikit iba kepada Tiara yang berubah menjadi wanita yang lemah.
Ervan memberikan tisu pada Tiara."Tiara, kenapa kau begitu, kau seperti ini karena belum menemukan orang yang tepat."
"Aku tidak sekuat itu, aku tetaplah wanita yang bisa saja rapuh. Van setelah kenaikan jabatan menjadi kepala bagian, aku akan mengajukan mutasi ke luar kota ini." Kata Tiara.
"Kau serius! Tiara kenapa kau harus pindah."
Tanya Ervan kaget.
"Aku rasa itu keputusan yang tepat, aku harus meninggalkan kota ini, perlahan melupakan masa laluku." Kata Tiara yang kembali tegap.
"Tiara, aku yakin, kau bukan wanita lemah yang terbawa kenangan masa lalu, Kau Tiara yang ditakuti semua pegawai PM walau hanya mendengar nama saja, termasuk aku." Ervan berusaha menghibur.
Tiara mulai menyunggingkan bibir merasa lucu. "Benar kah, aku akan membuat ketakutan karyawan lagi di kota yang lain." Tiara mulai tersenyum.
"Sebenarnya aku kurang setuju dengan keputusanmu, tapi kalau memang itu membuatmu lebih baik, up to you." Kata Ervan.
"Oh ya, Aku juga ingin mengembalikan kunci rumahmu, mobil dan juga kunci kamar maaf aku baru ada waktu mengembalikannya." Ujar Tiara mengeluarkan kunci yang dimaksud menaruhnya diatas meja.
Ponsel Ervan berdering dilihatnya dilayar nama istrinya.
__ADS_1
"Sebentar." Kata Ervan pada Tiara dan mengangkat telpon.
"Wa'alaikumusalam..
".........."
"Sebentar lagi pulang, ini ada urusan yang harus diselesaikan."
"..........."
"Sama teman"
"..….........."
"Semua laki - laki, Halo sayang halo sayang." Ervan heran tiba-tiba telepon terputus tanpa mengucapkan salam.
"Kenapa kau berbohong pada istrimu." Tanya Tiara.
"Dia sangat konsentrasi dengan skripsinya hari-hari ini, aku tidak mau dia berpikir macam-macam."
"Apa dia pencemburu seperti aku."
"Tidak, dia sangat percaya padaku, aku hanya tidak ingin dia berpikir buruk." Balas Ervan.
Tak lama ponselnya berdering lagi. Ervan mengangkat telpon yang masuk. "APA!! Riri pingsan, tunggu sebentar lagi, aku pulang." Kata Ervan Cemas.
"Maaf Tiara, aku harus pergi, istriku pingsan."
Ervan nampak panik dan langsung bangkit dari duduknya.
"Ya pergilah, semoga istrimu baik-baik saja." Kata Tiara, Ervan bergegas pergi meninggalkan Tiara.
Ervan membuka jilbab dan kancing baju Riri agar nafasnya terasa longgar. Di bantu Abel dia mengoleskan minyak kayu putih di leher, kepala dan tubuh Riri.
Beberapa menit Riri membuka matanya pelan. Kepalanya masih terasa berat di melihat didepannya sudah ada Ervan dan Abel.
"Sayang, kamu sudah sadar." Kata Ervan membantu Riri yang ingin bangun dan mencium pelipisnya.
"Riri kenapa Mas?" Tanya Riri melihat Abel dan Ervan cemas.
"Tadi mama pingsan." Jawab Abel.
Riri mencoba mengingat semuanya sebelum pingsan. Dia melihat ke arah suaminya dan ingin meminta penjelasan. Tapi niatnya ia urungkan karena Abel ada di antara Mereka.
"Sayang, kamu suapin mama dulu ya, Papa mau mandi sebentar." Kata Ervan pada Abel menyerahkan sop hangat yang disiapkan Bi Mina.
"Ya Pa." Balas Abel.
Abel menyuapi Riri sambil menunggu Papanya yang sedang mandi. Usai mandi Ervan berganti dengan Abel menyuapi Riri.
"Abel kamu istirahat dan belajar ya, Mama udah nggak apa-apa kok." Kata Riri pada Abel yang memijat kaki Riri.
"Ya Ma, Abel ke kamar dulu ya. Mama jangan pingsan lagi." Kata Abel sembari turun dari ranjang pergi keluar kamar.
"Ayo sayang, buka mulut sedikit lagi." Kata Ervan menyodorkan sendok ke mulut Riri.
"Udah Mas, Riri udah kenyang." Kata Riri dengan ketus.
__ADS_1
Ervan pun meletakkan piring diatas nakas.
"Udah berapa kali Mas bohong sama Riri sekali dua kali atau udah berkali-kali." Kata Riri dengan kesal yang membuat Ervan terkejut.
"Apa maksud kamu sayang." Kata Ervan yang belum memahami perubahan sikap istrinya.
"Mas tadi sore nggak pergi sama teman Mas kan, tapi Mas pergi menemui Bu Tiara."
Deg. Ervan langsung binggung dan salah tingkah bagaimana Riri bisa tahu. Ervan takut Riri salah paham dengan semuanya.
"Sayang, Mas nggak tahu kamu tahu dari mana, tapi memang benar Mas nemuin Tiara, tapi itu nggak seperti yang kamu pikir." Ervan menatap Riri yang mulai mengeluarkan air mata.
"Mas nemuin Tiara, karena Tiara ingin membicarakan sesuatu dan mas udah janji mau nemuin dia untuk terakhir kalinya." Kata Ervan lagi.
"Entah Riri bisa percaya lagi sama Mas atau nggak."
"Dia minta mutasi ke luar kota dia akan meninggalkan kota ini." Balas Ervan.
"Apa bener Mas?" Kata Riri kaget.
Ervan memberikan ponselnya pada Riri. Ervan meminta Riri membaca pesan yang dikirim sebelum bertemu di kedai kopi. Riri membaca dengan seksama dan yang dikatakan suaminya memang benar, tapi berbohong kepada istri tetaplah salah.
"Tapi Kenapa Mas nggak jujur sama Riri, Riri lebih suka Mas jujur meskipun menyakitkan tapi Riri bisa mengerti." Ucap Riri.
"Sayang, Mas cuma nggak mau konsentrasi kamu nyusun skripsi pecah karena berpikir yang macam-macam kalau tahu Mas bertemu berdua dengan Tiara."
"Tapi namanya kebohongan demi apapun itu tidak dibenarkan Mas, dan satu kebohongan saja akan berlanjut pada kebohongan-kebohongan berikutnya." Balas Riri.
"Ya sayang, Mas janji nggak akan ada yang ditutup-tutupi lagi, maafkan Mas ya sayang." Ervan meraih kepala Riri, mencium keningnya.
"Sekali lagi maaf ya sayang." Kata Ervan.
Riri pun memeluk suaminya, meredakan emosinya, mulai berfikir positif menenangkan dirinya.
"Oh ya sayang, selesai sholat Isya kamu istirahat ya, besok pagi kita ke kontrol lagi ke rumah sakit." Ucap Ervan.
"Riri udah sehat kok Mas, nggak perlu lah ke rumah sakit." Balas Riri.
"Nathan yang suruh kita kontrol lagi ke dokter kandungan," Kata Ervan lagi.
Riri terkejut, karena sibuknya hari-hari Kemarin sampai lupa kapan terakhir kali mendapat tamu bulanannya. Riri mengiyakan perkataan suaminya.
Setelah sholat Isya, Riri sudah merasa berangsur-angsur lebih baik pikiran mulai tenang, dia kembali lagi ke atas ranjang beristirahat bersama suamiaya memulihkan tenaganya.
.
.
.
.
.
. Next.........
(kenapa nggak kamu hukum dulu Ri suamimu 😁😁😁😁, mudahan kamu hamil ya Ri)
__ADS_1
Terima kasih udah sabar nunggu up dari author.
Jangan lupa tinggalkan Like, koment dan Vote nya ya selalu author tunggu ya🙏🙏🙏🙏🙏