Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP42-S2// Berbeda


__ADS_3

Deg. Tubuhnya mendadak kaku, kedua mata yang tak lain adalah punya Davin langsung membelalak melihat siapa seseorang yang ada di hadapannya.


Davin seolah melihat sosok Abel yang lain. Abel memandangnya tajam seperti melihat seseorang yang tak pernah dia kenal dan cinta. Tidak ada raut kesedihan dan senduh di wajah Abel. Semua normal seperti pertemuan bisnis biasanya. Mendadak Davin merindukan sosok Abel yang cerewet, manja, lucu dan pemalu. Sekarang wanita yang di hadapannya adalah wanita yang berbeda, ya dia penguasa sekarang, dia bersikap tegas. Isi kepala Davin.


"Selamat Pagi Ibu Abelia," jawab Davin mengangguk, ia masih gugup merasa malu melihat kenyataan dan memilih ikut bersikap formal.


Abel mulai gementar lagi mendengar suara yang membuat jantung berdegup kencang. Abel tetap berusaha bersikap tenang dengan mengepalkan jari tangannya.


"Wah! Pak Adiguna, apa Anda sudah mengenal owner kami." Miranda berpura-pura b*doh.


"Ya, tentu saja aku sangat mengenalnya, Aku juga sangat terkejut ternyata beliau pemilik Wilson palm." Jawab Davin memandang Abel tanpa kedip melihat hal mengejutkan hari ini.


Tatapan Davin membuat Abel hampir hilang fokus dan akan memaling ke segera arah, tapi ia kembali menormalkan pikirannya.


"Duduklah Pak Adiguna, tunjukkan padaku kesepakatan kontraknya," seru Abel dengan nada bicara formal. Davin dan dua orang yang bersamanya duduk di kursi yang berjejer di depannya.


Davin rasanya ingin menampar dirinya sekarang. Ia tak percaya, apakah dia benar-benar Abel yang dia cintai. Dia pemilik Wilson Palm, Wanita yang ada didepannya benar-benar berubah, dia bosnya sekarang. Abel bisa melakukan apapun, tapi ia tetap mempertahankan Adiguna sebagai mitra kerja penyuplai kelengkapan Land clearing dan seluruh kebutuhan kendaraan, serta alat berat untuk perkebunannya.


Abel benar - benar bersikap profesional sebagai penguasa, dia tidak mencampurkan urusan hati dengan bisnis. Begitu yang ada dalam pikiran Davin.


Davin memberi kode kepada asistennya untuk menyerahkan berkas pada Abel. Abel di dampingi Miranda melihat berkasnya sebelum menanda tangani. Abel dan semua yang ada dalam ruangan melihat presentasi dari perwakilan Adiguna. Abel menyaksikan presentasi dengan serius sedangkan Davin malah sibuk melihat ke layar terus bergantian melirik ke Abel. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Abel dengan kondisi berbeda seperti sekarang. Abel nampak asing untuknya begitu pula Abel yang menganggapnya asing.


Presentasi yang menjelaskan butir-butir kontrak telah selesai, Abel menandatangani beberapa tumpukan lembaran kesepakatan kontrak. Resmilah sekarang Perusahaannya akan berkerja sama dengan Adiguna group empat tahun ke depan.


"Selamat Pak Adiguna, petinggi kami mempercayakan kerjasama lagi dengan Anda." Ucap Miranda.


"Terima kasih Bu Miranda." Davin melihat ke arah Abel. "Terima kasih banyak Bu Abelia, telah mempercayakan pada kami lagi."


"Jagalah kepercayaan kami Pak Adiguna, jangan pernah menyelisihi kepercayaan kami." Kata Abel masih berpura tegar menyindir Davin.


"Tentu, Ibu Abelia. Kami akan pamit," balas Davin. Abel mengangguk mengiyakan.


Pertemuan bisnis ini pun berakhir, Davin bersama pendampingnya meninggalkan ruangan di temani Miranda dan beberapa dewan direktur. Di ruangan yang luas ini hanya tersisa Abel dan Angga. Abel menundukkan wajahnya di pundak Angga. Seolah ingin menumpahkan sejenak air matanya yang sudah dia pendam sejak tadi. Angga membiarkan Abel sejenak meluapkan emosinya.


"Abel, udah cukup." Angga mengusap kepala Abel yang ada di pundaknya


"Udah, jangan nangis lagi," ujar Angga. Abel bangun dari pundak Angga.


"Kamu bisa tadi jadi wanita kuat, kamu hebat, kamu profesional, ayo bangkit lupakan yang sudah-sudah." Angga mengusap air mata Abel.


"Ya, Paman benar. Makasih Paman...." Abel mulai mengatur nafasnya setelah sesegukan.


Kini perasaan cukup tenang dan memilih sejenak berdiam diri dalam ruangan. Dia mendengar arahan dan penjelasan Angga tentang lokasi pembukaan lahan baru untuk perkebunannya.

__ADS_1


******


Di luar ruangan Davin segera bergegas meninggalkan kantor WPH. Ia tak menyangka Abel lah pemilik Wilson Palm yang bekerja sama dengannya. Itulah yang membuat dia selalu jatuh cinta dengan Abel, dia wanita yang apa adanya, manis, sederhana.


"Pak, apa kau juga terkejut seperti yang lain melihat siapa pemilik Wilson Palm yang masih belia," tanya salah satu asisten yang membangunkan lamunan Davin.


"Ya...." Balas Davin singkat.


"Kami dengar dari Miranda Wilson, perusahaannya dibangun dari warisan ibunya yang memiliki empat puluh persen saham kepemilikan di WPH Pak," imbuh assisten yang lain.


Davin sempat kaget, kalau Papanya mendengar ini pasti ia akan terkejut syukur-syukur tidak pingsan.


"Kita kembali ke kantor, jangan bahas ini sebelum ada perintah dariku." seru Davin. Disusul nada mengiyakan dari sang asisten.


Kini Davin masuk ke dalam mobil yang berhenti di depannya. Merebahkan kepala di jok mobil, tangannya melonggarkan ikatan dasinya merasa hari ini hari yang penuh dengan kejutan.


"Pak, apa Anda terkejut, siapa pemilik WP yang bekerja sama dengan kita," tanya Amar yang melirik Bosnya dari kaca spion.


"Ya Amar, Aku sangat terkejut. Jangan sampai Papa tahu hal ini, Aku tidak ingin Papa membuat rencana baru dan bertindak aneh-aneh lagi. Cukup!"


"Bukankah itu bagus Pak. Maaf sebelumnya Pak, Anda menerima perjodohan dengan Kayla karena bisnis, jika anda bersanding Abel. Papa anda akan lebih setuju."


"Amar kau sendiri tahu, aku meninggalkan Abel karena satu alasan, aku tidak akan terpengaruh meskipun Abel punya seluruh perusahaan kelapa sawit di pulau ini."


"Maaf Pak, sampai kapan Anda akan seperti ini. Kapan Anda bisa bahagia karena keinginan anda sendiri." Sela Amar sedikit kesal.


"Amar tugasmu adalah memastikan jangan sampai Papa tahu masalah ini." Davin memberi peringatan.


"Baik Pak, tapi cepat atau lambat pasti pak Hendrawan akan tahu."


"Setidaknya tahan sampai acara pertunanganku dengan Kayla." Hardik Davin lagi.


"Baik Pak,"


"Jika memang nanti adikku berjodoh dengan Abel, aku ingin dia diterima di keluargaku karena wanita yang dicintai dengan tulus. Bukan wanita pemilik perusahaan atau apapun."


"Keluarga Abel memang hidup sederhana Pak. Padahal luas perkebunan mereka begitu besar, dia bisa saja membeli mobil sport mahal dan dijejer seperti ikan asin, tapi Abel memilih mobil tua yang sudah berumur sepuluh tahun hingga mobilnya berasap dan mempertemukan Anda dengannya. Sejak saat itu Anda jatuh cinta pada wanita itu."


Davin tersenyum mendengar ucapan Amar, ia mengingat saat pertama bertemu dengan Abel di tengah kepulan asap. Ia segera menepis air bening yang begitu saja keluar dari matanya. Kenapa takdir tak pernah berpihak padanya? Kenapa dirinya hanya bisa menyakiti perasaan Wanita.


"Amar, kita bahas masalah yang lain." Seru Davin tak ingin larut mengingat saat indah bersama Abel. Amar mematuhi perintah Bosnya dan meneruskan perjalanan menuju Kantor Adiguna group.


*****

__ADS_1


Siang hari, Abel masih tinggal di kantor WPH, dia berada di ruangan yang sama saat pertemuan tadi. Ia sendiri di dalam ruangan sambil menatapi layar komputer melihat gambar-gambar lokasi perkebunannya.


Ceklek . Pintu ruangan terbuka tanpa permisi.


Seorang wanita yang sangat di kenal Abel masuk menemuinya. Abel langsung bangkit dari kursi menyadari kehadiran Kayla.


"Kay...." Sapa Abel.


"Abel sory, aku nggak bisa tahan nunggu ketemu kamu sampai nanti malam, aku langsung kesini waktu Tante Riri bilang kamu di WPH." Kayla langsung menjatuhkan diri di sofa.


Abel mendekati Kayla dan ikut bergabung di sofa. "Ada apa Kay,"


"Aku mau cerita sesuatu sama Kamu," ujar Kayla.


"Kay, gimana kalau kita bicara di luar aja sambil makan siang," seru Abel.


"Oke...." Kayla mengangkat tubuhnya dari sofa. Begitu pula dengan Abel. Kini keduanya keluar dari ruangan.


.


.


.


.


.


.


NEXT......


Zen : Thor kemaren kemana elu nggak muncul udah sesak elu gantung 😀.


Thor : sorry kemaren gua lagi pantengin siapa yang menang lomba terus gibah sama sesama jonthor


Zen : ya elah, emang elu juara.


Thor : 🀣🀣 ya kagak lah, gue di kasih Like Koment terus vote ama temen elu udah seneng banget makasih ya lophe lophe


Zen : Ya udah Up aja yg banyak Thor jangan ghibah di banyakin😏😏


Thor : Ho'oh πŸ™„πŸ™„

__ADS_1


Terima kasih udah sabar nunggu up dari author πŸ™πŸ™πŸ™


Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. Selalu loph U ❀️


__ADS_2