Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Keputusan


__ADS_3

"Aku juga kaget sekali, Ar, masalahnya aku kasihan sama dia, sudah umur segitu, kita juga sudah menuju pensiun. Kalau dia nanti susah, kita sudah tidak bisa banyak menolong kan," Sanjaya sedang menelpon Ardianto kakak tertuanya Retno.


"Ya aku paham", ujar Ardianto.


"Sungguh aku merasa tidak enak Ar, masalahnya aku yang minta dia kesini, sekarang malah ada kejadian seperti ini. Kalau sekiranya dia suka dengan lelaki Etnis Tionghoa, banyak teman akupun yang levelnya sama atau lebih dari dia. Banyak di Universitas lain temanku yang profesor atau pejabat sekalipun. Ada yang duda atau perjaka tua. Tapi ini malah pilih yang seperti itu, aku curiga jadinya sama orang itu," Sanjaya mengungkapkan kekesalannya atas diri Retno.


" Oke Jay, makasih infonya nanti aku bahas disini juga sama yang istriku, kan kami belum melihat seperti apa orangnya," Ardianto berusaha menanggapi dengan bijak.


Tak lama percakapan di telepon juga berakhir.


Tina anaknya Ardianto yang sedari tadi duduk disampingnya sambil nonton tv bertanya kepada ayahnya," Ada apa sih Ayah, tumben Oom Sanjaya telepon seperti lagi ngomongin Tante Neno?".


Ardianto tersenyum lalu sambil menatap anaknya dia berkata,


"Tantemu punya pacar kata oom Jaya".


Sontak Tina terkejut dan menjerit kegirangan, lalu dia berlari ke halaman belakang rumah mencari Bundanya,


"Bun...Bun...sini Bun...Ayo Bun sini!!!!".


Lulu yang sedang merapihkan tanaman kesayangannya tampak bingung saat mendengar anak gadisnya berteriak-teriak memanggilnya,


" Ada apa sih...teriak-teriak segala Tina".


" Sudah sini cepetan", kata Tina sambil menarik tangan Bunda nya ke dalam rumah.


"Apa sih ?" tanyanya lagi.


"Bun tadi oom Jaya telepon Ayah, katanya tante Neno punya pacar loh," kata Tina dengan gembira.


"Oh ya syukur dong, kirain ada apa, sampai kaget," sambil Lulu menghela nafas lega.


Lalu keduanya melihat ayahnya yang tampaknya tidak gembira memberikan kabar itu.


"Kenapa Ayah? kok tampak gimana gitu," tanya Lulu kepada suaminya.


"Tantenya Tina punya pacar sekarang, kemarin dibawanya ke rumah Sanjaya, lalu Sanjaya dan Mayang kaget melihat pacarnya Neno," Kata Ardianto.


"Loh emangnya kenapa?" tanya Lulu dan Tina berbarengan.


Sambil tertawa kecil Ardianto melanjutkan," Kata Jaya sih pacarnya itu koko-koko yang punya kost an yang sekarang Neno tinggal di Bandung. Orang itu tukang sembako dan kost an gitu lah katanya sih".


"Nah lalu kenapa emangnya?" tanya Tina lagi.


"Iya, oom Jaya curiga lelaki itu cuma mau memperalat Tantemu, soalnya katanya kemana-mana pakai mobil tante, takutnya tantemu hanya dimanfaatkan, begitu kata Jaya sih," Ardianto menyampaikan sesuai dengan apa yang dia dengar dari Sanjaya.


Lulu tampak termenung, lalu dia berkata," Coba aku telepon Neno deh".


Pagi itu Retno masih terbaring di kasur nya, dia malas kemana-mana.


Hatinya sangat galau dan sedih bila ingat kejadian semalam di rumah Sanjaya.


Bahkan kali ini dia tidak pergi beribadah, padahal sebelumnya Yohan sudah chat kepadanya mengajak untuk pergi beribadah bersama tapi ditolaknya dengan alasan tidak enak badan.


Dan Yohan juga paham atas hal itu.


Saat sedang termenung tiba-tiba handphone nya berbunyi dan dilihatnya nama Mbak Lulu tertera di sana.


Tak biasanya mbak Lulu meneleponnya, pasti ada berita viral yang sudah sampai ke telinga kakak iparnya.


Dengan enggan dia angkat teleponnya, dan benar saja mbak Lulu selain menanyakan kabar juga mulai melakukan interogasi.


Ketika interogasi berjalan, tiba-tiba pintu kamar diketuk.


Retno ijin menghentikan sejenak pembicaraan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.


Rupanya Nancy memberikan bungkusan makanan untuknya.


"Siapa No yang datang ketuk pintu?" tanya Mbak Lulu ketika Retno sudah mulai kembali ke telepon genggamnya.


"Itu Nancy anaknya mas Yohan, bawakan makanan untuk saya mbak," Jawabku.


"Oh, kamu pesan atau gimana No?"selidik mbak Lulu.


"Tidak mbak, cuma memang mas Yohan itu sering bawakan makanan atau buatkan makanan untuk saya mbak," Jawab Retno.


"Kamu bayar yah," kembali Lulu interogasi.


"Engga mbak, beneran, bahkan mas Yohan sering ajak saya pergi makan juga mas Yohan yang bayar, benar kami sering pergi bersama naik mobil saya tapi kalau bensin habis mas Yohan yang beli full dan tidak mau diganti," Retno berusaha menjelaskan kalau Yohan tidak seperti yang saat ini keluarga bayangkan.


Tersirat kalau keluarganya saat ini punya pemikiran Yohan hanya memanfaatkan dirinya.


"Oh gitu, ya baguslah, eh itu anaknya sudah besar atau masih kecil sih? siapa namanya?" tanya mbak Lulu lagi.


"Nancy namanya biasa dipanggil Nanan, dia sudah kuliah di universitas BR tempat saya mengajar hanya dia di fakultas sastra Inggris," Retno menjawabnya sambil lelah hati.


Tak lama mbak Lulu juga mengakhiri teleponnya.


Kemudian setelah mbak Lulu selesai telepon, aku merenung lama dan kemudian aku berdoa, aku harus membuat keputusan yang berani.


"Ayah, kata Neno yang mencari kost itu Mayang loh bukan dia nyari sendiri kok," kata Lulu kepada suaminya Ardianto.


"O ya, tadi Sanjaya engga bilang sama aku," ujar Ardianto.


"Iya loh, malah anaknya Yohan itu juga kuliah di kampusnya Neno tapi di jurusan sastra," lanjut Lulu.


"Wah masa...!!"Ardianto kaget.


"Ya sudah nanti malam aku coba hubungi lagi Sanjaya, yuk kita makan siang dulu lah, sudah lapar nih," Ardianto mengakhiri pembahasan itu.


Sorenya ketika mereka sekeluarga sedang santai dan juga Ferryansyah anak mereka paling besar sudah pulang.


Mereka berempat santai berbincang di teras belakang sambil menikmati cemilan sore.


Kemudian Ardianto mengirim chat kepada Sanjaya.


A: Jay, tadi siang Lulu telepon Neno. Lalu Neno cerita kalau yang dulu nyariin kost buat dia itu Mayang katanya.


Tak lama Sanjaya menjawab chat nya Ardianto.


S: Nah itu Ar, makanya. Mayang tuh tahu tempat kost enak dan bersih dengan harga ekonomis itu di situ. Tempatnya juga engga jauh dari kampus. Makanya jadi engga enak tuh kami. Bentar aku Video call deh. Aku panggil Mayang dulu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Sanjaya menghubungi lewat Video Call, saat diterima tampak Sanjaya dan istrinya Mayang.


Lalu Ardianto juga beranjak pindah ke samping Lulu.


Kemudian mereka kembali membahas soal adik mereka Retno dan kisah asmara terbaru nya yang sedang viral.


Ferryansyah dan Tina saling beradu pandang dan tampak ikut pusing mendengar para orang tua sedang bergosip soal tantenya mereka.


"Jaya..Itu anaknya si Yohan tuh kuliah di universitas BR juga loh kata Neno," Lulu memberitahu Sanjaya.


"Hah.!!!.Siapa namanya ? anak jurusan apa?" tanya Sanjaya terkejut.


"Anak Inggris katanya sih, kalau engga salah Nancy namanya," Kata Lulu menyampaikan kepada Sanjaya.


Tampak di layar Sanjaya mengangguk-anggukan kepalanya. Tak lama video call mereka pun berakhir.


"Ayah dan bunda menurutku seharusnya paham seperti apa tante Neno. Fer yakin tante tidak sebodoh itu, dia bukan tipe orang yang mudah percaya kepada orang yang baru dikenalnya," Ferryansyah tiba-tiba berkata demikian kepada orangtuanya.


"Bertahun lamanya tante Neno menutup hati, sekarang tante membuka hati berarti ada yang istimewa dimatanya tentang orang itu".


Kedua orangtuanya bertatapan tanda menyetujui apa yang disampaikan anaknya.


"Selamat malam Bu Nuraini," ucap Sanjaya lewat telepon kepada Nuraini ketua jurusan Sastra.


"Selamat malam pak Sanjaya, maaf ada yang bisa saya bantu pak?" cukup terkejut Nuraini mendapat telepon dari atasannya di malam hari tidak biasanya.


"Begini bu, apakah ada mahasiswa di fakultas ibu yang bernama Nancy?"Tanya Sanjaya.


"Oh,iya benar ada pak, Nancy Putri Atmaja kalau tidak salah, hmm, mengapa yah pak?" tanya Nuraini tampak terkejut dengan pertanyaan Sanjaya.


"Kalau boleh besok saya akan menemui ibu untuk melihat berkasnya dan transkripnya" Sanjaya meminta data Nancy kepada Nuraini.


" Baik pak, besok pagi saya bawakan ke ruangan bapak," jawab Nuraini.


Dan merekapun mengakhiri telepon, sementara Nuraini kebingungan dirinya diliputi pertanyaan ada apakah gerangan dengan Nancy.


Senin pagi datang kembali, rutinitas juga kembali harus dijalani.


Papa dengan urusan toko, Nancy urusan kuliah dan Retno juga dengan urusan mengajar.


Semua berjalan biasa tanpa ada yang saling mengganggu atau saling memanfaatkan. Semua kegiatan berjalan indah sebagaimana mestinya.


Pagi itu di halaman universitas BR sosok Sanjaya sedang berjalan juga menuju gedung Fakultas Sastra dan langsung menemui ibu Nuraini.


Sesampainya di sana, Sanjaya sambil duduk mulai membaca data dan melihat transkrip nilai mahasiswi dengan NIM :100096090709 bernama Nancy Putri Atmaja.


"Nancy ini termasuk pintar pak, nilainya selalu tertinggi di kelasnya dan dia juga beberapa kali pernah diminta untuk menjadi asisten Dosen ibu Aida ketika beberapa waktu lalu ibu Aida sakit".


"Nancy menjadi asisten dosen mengajar mahasiswa semester 1 dan 2. Memang mungkin dia tidak terlalu terkenal karena termasuk kutu buku, bukan anak yang terlalu aktif di organisasi kampus. Tetapi dikalangan dosen dia lumayan terkenal karena selain pintar, rajin belajar juga dia masuk dalam catatan 5 orang yang akan mendapat beasiswa ke Surrey London untuk S2," Nuraini menjelaskan tentang Nancy kepada Sanjaya.


Sanjaya hanya mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengar tentang Nancy.


"Saya bisa bertemu anak itu


bu?" tanyanya.


"Bisa pak, kapan anak itu bisa menemui bapak?" Nuraini bertanya balik.


Kemudian Nuraini menelpon Ibu Aida salah satu staf dosen sastra untuk segera meminta Nancy ke ruangannya.


Sekitar 15 menit kemudian pintu ruangan Nuraini ada yang mengetuk dan ketika dibuka tampak seorang gadis dengan rambut sebahu, berpakaian casual celana panjang jenis Jeans dipadu polo shirt dan bersepatu sneakers.


Cukup berbeda dengan kebanyakan mahasiswi sastra yang memakai sepatu heels dan berdandan rapih.


Selain santai berbusana dia juga santai menghadap petinggi seperti Sanjaya namun tetap sopan santun.


Kemudian Sanjaya bertanya kepada Nancy mulai tentang keluarga dan sebagainya.


Dan Nancy menjawab dengan lugas dan apa adanya mengenai keluarga, kuliah dan tentang kehidupannya.


Dalam hatinya bertanya-tanya ada apakah gerangan sampai dia diinterogasi demikian, mungkinkan ada hubungannya dengan papa dan bu Retno.


Setelah hampir setengah jam dia ditanya oleh Sanjaya, lalu diperbolehkan keluar ruangan.


Dan Sanjaya lalu berkata kepada Nuraini," Bu Nur, tolong anak ini di pending dan tidak dimasukan dalam daftar bea siswa Surrey. Ini perintah saya".


Seharian ini Nancy merasa galau sekali, tadi dipanggil oleh Pak Sanjaya dan seperti di interogasi.


Ditanyakan tentang asal usulnya bahkan semua tentang kehidupannya.


Tadi dia mencoba menjawab apa adanya, karena memang tidak ada yang perlu untuk disembunyikan.


Keinginannya untuk kuliah yang benar, ingin bisa sampai S2 atau bahkan lebih dan ingin juga menjadi dosen seperti ibu Retno.


Bahkan suatu kebanggaan tersendiri baginya saat selama ini dipercaya oleh ibu Aida sebagai asistennya manakala beliau sedang sibuk atau berhalangan hadir.


Dia mencoba mencari ibu Retno ke ruangannya tetapi tidak ada karena sedang mengajar di kelas.


Sementara waktu bergerak menuju sore dan diapun pulang ke rumah.


Setiba di rumah dia melihat papanya juga masih sibuk melayani pembeli.


Lalu dia duduk di tangga bagian atas, ingin dia menyampaikan pada papa kejadian tadi. Namun takut menambah beban pikiran papanya dan dia juga khawatir kalau sampai papa mundur dengan ibu Retno.


Akhirnya dia tidak ambil pusing dan membantu papanya di toko sampai tutup.


Selesai mandi lalu Nancy melihat papanya sedang di meja mencatat sesuatu, biasanya daftar belanja atau daftar tagihan dan lain-lain.


Tak lama dari jendela kamarnya terlihat lagi ibu Retno tampak habis mandi dan terlihat sedang membersihkan sesuatu dari kamarnya.


Lalu dia beranjak ke depan dan bertanya kepada papanya,


" Pa.. ada janji sama dik Neno engga?".


Mata papa melirik dari balik kacamatanya lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku ijin ke kamarnya yah," lanjutnya.


"Emang sudah pulang?" tanya papa.


"Sudah dari tadi lah," jawabnya.

__ADS_1


" Ya," kata papanya sambil dalam hatinya cukup kesal karena dari tadi Yohan sudah kangen malah keduluan anaknya.


Lalu Nancypun turun ke bawah ke kamar ibu Retno.


" Bu, lagi apa?"tanyanya.


"Eh..hai..sini masuk, biasalah menyapu sedikit tadi di lantai depan kamar banyak debu sekali jadi aku bersihkan".


Setelah beres dia senyum dan bertanya menggoda," Ada apa nih auranya pengen curhat yah, soal cowok nih sepertinya".


Nancy menggeleng sambil memajukan bibir bawahnya.


Lalu dia Retno mengajaknya duduk di kasurnya sambil membuka cemilan keripik kentang.


"Begini bu.....".


" Eh... stop.. bisa engga panggil saya tante Neno saja!"


"Cie..Cie...sekarang tante nih... lama-lama nanti ganti lagi jadi mama deh," Nancy balas menggodanya.


Lalu ibu Retno mencubit gemes pipinya Nancy.


"Oke..begini tante Nenoku sayang," tak kuat rasanya menahan tawa, geli juga dosen di kampus tiba-tiba jadi pacarnya papa dan sekarang memanggilnya tante.


"Tadi siang aku dipanggil oleh Pak Sanjaya dan ditanya segala macam,"lapor Nancy pada tante Neno.


"Apa!!!" Neno terkejut.


"Dia nanya apa sama kamu Nan?" tanyanya.


Kemudian Nancy menceritakan awalnya dia dipanggil ibu Aida dan kemudian diminta ke ruangan bu Nuraini, saat tiba di ruangannya ternyata ada pak Sanjaya Darmawan dan segera disuruh duduk dihadapannya.


Nancy juga menyampaikan bahwa dia diminta untuk menceritakan tentang kehidupannya dari kecil dan juga ditanyakan tentang pekerjaan papanya dan lain sebagainya.


"Seperti itulah aku sih berkata apa adanya kepada pak Sanjaya".


Retno tampak gusar, hatinya kesal sekali terhadap Sanjaya.


Baginya Sanjaya sangat keterlaluan bila sampai berbuat suatu keputusan yang merugikan Nancy.


"Tante Neno besok akan coba mendatangi ibu Nuraini ingin meminta informasi tentang maksud pak Sanjaya".


" Tante maaf merepotkan," kata Nancy dengan merasa tidak enak hati.


Retno menggelengkan kepala, dan berkata," Tante sayang sama Nanan, pasti akan bantu Nanan apapun yang terjadi".


Lalu aku iseng tanya," Tante sayang papa engga?".


Retno mendelik dan melempar Nancy dengan bantal.


" Tante aku nanya dong... kepo dong,"kata Nancy sambil manja.


"Tanya apa sih, pasti jebakan lagi deh," kata Retno sambil mengerucutkan mulutnya.


Nancypun tertawa melihatnya, mana ada sosok bengis kata orang-orang yang ada sosok manja dan lucu dihadapannya.


" Begini, aku emang belum tahu keluarga tante yah. Tapi melihat pak Sanjaya kan kata papa saudaranya tante. Aku bisa nebaklah beliau pasti orang tajir melintir- melintir".


Retno mengerutkan dahi mendengarnya.


"Setidaknya saudaranya juga pasti engga beda jauh lah. Mana tante kan hebat yah sampai S3, kok bisa seneng sama papa yang cuma lulusan SMA cuma pedagang gitu. Tante engga malukah nantinya?" tanya Nancy padanya.


Retno lalu memutar-mutarkan matanya, lalu dia pegang kepalanya.


" Oh My God... panjang amat sih omonganmu, pusing pala berbi....hahahahha!!!"


Melihatnya aku juga jadi ikutan tertawa.


"Nanan...memangnya kalau suka dengan seseorang harus ada aturan S 3 lah atau es teler lah...hahahah," Retno menjawabnya sambil tertawa.


"Bagi tante papa lebih dari sarjana, dia memang lelaki biasa saja. Hanya dia sudah melakukan yang sangat luar biasa".


"Hah!!! Emang papa ngapain sampai luar biasa segala?" tanya Nancy dengan polosnya.


"Papa Nanan sudah menjaga, merawat dan mendidikmu seorang diri tanpa bantuan siapapun. Itu hal yang sangat berat dan sulit bagi seorang lelaki. Tapi Papamu bisa melakukannya, bagi tante itu luar biasa".


Seketika Nancy berkaca-kaca, dia jadi ingat sewaktu kecil hanya berdua di kota ini. Papanya yang menyuapinya makan, memandikan, membersihkan dirinya setelah habis buang air, lalu mengantar jemput ke sekolah sambil berdagang.


Dan papa juga tidak pernah menunjukkan kalau dia lelah dihadapan Nancy. Selalu dia menjadi sosok tegar bagi dirinya.


Kami yang awal pindah hanya tinggal di toko kecil, makan Dan tidur di toko. Papa cuma punya sepeda untuk kemana-mana. Sampai akhirnya terbeli motor, lalu sedikit demi sedikit bisa membangun rumah di bagian atas dan juga mendirikan tempat kost dibagian belakang rumah mereka.


Nancy menceritakan kepada Retno perjuangan papanya sambil berurai air mata, Retno yang mendengarpun tak luput dari linangan air mata membasahi pipinya.


"Sebenarnya papa ada uang buat beli mobil, tapi kata papa lebih baik disimpan untuk S2 ku nanti. Berharap sih bisa mendapat beasiswa tapi kalau sampai tidakpun papa akan tetap mendukung aku untuk mengambil S 2 berapapun biayanya," Nancy mengakhiri ceritanya.


Retno sangat terenyuh dan dia lalu memeluk Nancy erat sambil dalam hatinya berjanji akan mendukungnya untuk bisa mendapatkan beasiswa.


Tiba-tiba....GUBRAAAKKK !!!!!


"Apa itu!!!" teriak Retno dan kami berdua terkejut.


Lalu ada yang jawab


"KUCING !!!".


Kami berpandangan lalu tertawa tergelak bersama..pasti papa nguping...


"Saya juga tidak mengerti Bu Retno, apa alasan pak Sanjaya minta kalau mahasiwa yang bernama Nancy Putri Atmaja sementara dicoret dari daftar calon penerima beasiswa S2 Surrey University London," Bu Nuraini menjelaskan kepada Retno.


Retno diam mendengarnya, tetapi tanpa diketahui ibu Nuraini, kedua tangannya mengepak geram kepada Sanjaya.


"Tapi saya akan berusaha mencarikan jalan lain untuknya, karena anak itu berpotensi. Selain itu, Nancy juga tidak pernah melakukan pelanggaran apapun jadi saya merasa aneh sekali atas keputusan Pak Sanjaya," lanjut ibu Nuraini.


Lalu Retno tersenyum dan berkata," Baik bu, nanti saya juga bantu cari jalan buat Nancy. Biarlah keputusan Pak Sanjaya tetap dijalankan sesuai amanatnya kepada ibu".


Sambil setengah bingung ibu Nuraini lalu bertanya," Bu Retno, maaf saya bertanya tapi ada apakah geranga sampai ibu turut memperhatikan Nancy juga, apakah dia saudara ibu atau....... ???".


Sambil menggenggam lengan ibu Nuraini dan tersenyum Retno berkata," Doakan saja yang terbaik yah bu".


Dan ibu Nurainipun paham akhirnya kalau rumor yang tengah viral itu benar adanya.

__ADS_1


Ada yang istimewa antara ayahnya Nancy dengan ibu


__ADS_2