Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 41 Camer Glamor


__ADS_3

Disekolah semua mata dewan guru melihat Riri seolah langsung ingin mencari kebenaran informasi tentang dirinya akan menikah. Sesuai informasi mereka mengetahui lamaran Riri karena melihat di sosial media Abel, Riri belum sempat mengancam Abel untuk sabar tidak meng-upload apapun dulu di sosmed tapi dia terlambat karena kemaren terlalu senang. Saat duduk dimejanya Riri langsung dikerumuni teman serekan kerjanya.


"Tuh kan bener Bu Riri mau nikah sama bapak nya Abel." kata Bu Yeyen yang memamg guru paling reporter disekolah.


"InshaAlloh ibu-ibu doakan ya semuanya lancar." Kata Riri terpaksa mengaku.


"Kapan Bu Riri, terus nanti acara mau dimana." kata guru yang lain juga ingin tahu.


"InshaAlloh tiga minggu lagi, di masjid kita mau akad nikah dulu." Jawab Riri.


Kringggg kringgg


Bunyi bel masuk kelas menyelamatkan Riri dari pertanyaan rekan seperjuangannya itu.


semua guru bubar mengambil perlengkapannya masing-masing menuju kelasnya masing-masing begitu pula dengan Riri.


Jam istirahat Riri ingin tinggal dikelas karena takut dicerca pertanyaan lagi, melihat ponselnya yang mendapat banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Ervan. Riri langsung buru-buru menelpon balik. Tak lama berselang terdengar sahutan.


(ya sayang akhirnya telpon juga)


"Ya tadi Riri masih dikelas, ada apa mas"


( Tadi mama telpon katanya mau ajak kamu ukur baju sekalian fiting, bisa nggak ijin sebenar siang ini soalnya mas bisanya siang setelah itu mas balik lagi ketempat kerja)


"Bisa mas, ini cuma satu jam aja ngajar, nanti Riri minta ijin."


(Mas jemput disekolah jam setengah dua belas.)


"Mas, Riri mau naik motor aja nggak usah jemput Riri."


(yang ada nanti mas yang kena marah sama mama, udah nggak usah cerewet nanti mas jemput) telepon terputus.


Setelah mendapat ijin dari guru piket Riri menunggu Ervan sedikit menjauh dari gerbang sekolah karena dia merasa malu kepergok teman-temannya disekolah. Tak lama mobil yang ditunggunya datang. Riri segera masuk kedalam mobil supaya tidak ada yang melihat. Ervan melajukan mobilnya dan masih heran melihat sikap gelagapan calon istrinya.


"Mas gimana ditempat kerja?" tanya Riri membuka pembicaraan. Entah Kenapa sekarang setiap bertemu dia masih merasa gugup.


"Sama seperti biasa, sekarang lebih banyak job sih semenjak pemerintah megambil alih blok dari perusahaan asing ke perusahaan kita." Ujar Ervan.


"Mas. Maksud Riri bukan itu, gimana hubungan mas sama Bu Tiara?" Tanya Riri.


"Baik-baik aja sayang, mas jarang ke kantor RU empat, sekarang lebih sering ke RU tujuh jadi jarang ketemu. kenapa? cemburu ya?" Ervan mengoda Riri.


"Nggak. Siapa yang cemburu Riri cuma tanya aja." balas Riri wajahnya memerah.

__ADS_1


"Sayang. kita kalau ditempat kerja bersikap profesional, lagian Tiara keluar kota dua Minggu."


"Kayaknya mas tahu banyak ya, buktinya keluar kota aja tahu." Riri mulai merasa kesal.


"Kan dipapan pengumuman tulisan gede sayang, tiap hari mas baca malahan, posesif nih ceritanya." Balas Ervan malah semakin lucu melihat Riri yang sangat nampak terlihat cemburu.


Setelah beberapa menit Riri dan Ervan sampai didepan butik Mary***s Bridal butik terkenal dikota B salah satu cabang dari ibukota. Riri menelan ludahnya bahkan dalam bayangan saja dia tidak pernah terbesit beli apapun benda yang paling murah disini, untuk menginjak terasnya saja dia merasa tidak pantas sekarang calon ibu mertuanya mengajaknya memesan baju disini.


Turun dari mobil berbarengan sama-sama masih menggunakan pakaian profesi masing-masing masuk kedalam butik. Tampak wanita paruh baya yang sudah duduk di sofa tak lain adalah Bu Niah ditemani wanita cantik yang waktu bertemu berambut keriting sekarang berubah berambut lurus calon kakak ipar Riri Vina.


"Akhirnya datang juga calon mantu mama, sekarang panggil aja mama." Kata Bu Niah yang langsung mengandeng Riri dan Riri mengangguk, Riri kemudian mencium punggung tangan calon mertuanya itu.


Butik cukup elegan dan berdesain mewah ini. Ada beberapa gaun-gaun mewah yang terpajang dimanekin dekat jendela kaca. Untuk pertama kalinya Riri masuk ke tempat ini. Biasanya Riri hanya melewatinya saja ketika pulang berkerja.


Beberapa menit kemudian seorang membawa minuman dalam gelas seperti jus lemon terlihat irisan lemon dalam gelas itu dan menaruh dimeja depan sofa. Tak lama seorang pria gemulai mendatangi orang yang ada di sofa dan ikut duduk di sofa.


"Ini contohnya dalam gambar nanti yang aslinya akan diambilkan di atas, silakan dilihatnya dulu atau mau sket baru silahkan Bu wijaya." kata pria itu menyerahkan beberapa album besar.


"Calon pengantin cantik." Kata pria gemulai reflek mencubit pipi Riri dengan cepat Riri menghindar.


"Maaf cantik, nggak sengaja reflek."


Riri sangat terkejut begitu pula dengan Ervan yang tidak suka sikap pria itu Meskipun dia gemulai tapi tetap saja laki-laki tapi Riri memberi kode dengan tangannya agar calon suaminya tetep tenang karena memang pria itu tidak sengaja dan refleks begitu saja.


Ya Allah apa ini nggak terlalu berlebihan harus beli baju segala apalagi sampai harus ke ibukota, dibutik mahal lagi biasanya temen aku kalau nikah nyewa aja cukup. Batin Riri


Riri dengan singgap memilih dan memilah dari satu lembar album ke lembar yang lain. Setelah beberapa saat akhirnya Riri menemukan gaun yang pas sesuai dengan keinginan Riri gaun sederhana dengan sedikit sentuhan kristal-kristal kecil.


"Ini bagus mas, Ma." kata Riri menunjuk pada semua orang.


"Coba aja liat." kata Bu Niah.


Tak lama pria gemulai yang bernama cris menyuruh beberapa asistennya membawakan baju yang dimaksud Riri. Riri dipersilakan masuk ke ruang ganti mencoba bajunya.


Beberapa menit Riri sudah bersama dua Asisten cris membawa Riri yang memakai gaun pengantin pilihannya.


"Kamu cantik sayang." Kata Ervan melihat Riri memakai gaun warna putih pilihannya.


"Terlalu sederhana ya ma." kata Vina berpendapat.


"Ya ampun ri, baju pilihan kamu sederhana banget, kalau begini bikin malu mama depan kerabat kita nanti disangkanya mama bangkrut nggak bisa beliin baju bagus untuk calon menantunya. ganti." Kata Bu Niah. senyum Riri yang dibilang cantik oleh calon suaminya hilang berganti senyum paksaan. sedangkan Ervan hanya menurut saja.


" Ya ma." kata Riri berbalik mengikuti asisten cris Menganti baju selanjutnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Riri muncul lagi dengan gaun putih dengan penuh payet manik pilihan Bu Niah didampingi asisten cris.


"Wah ini baru bagus, Gimana Vin Van." Kata Bu Niah. Vina mengacungkan kedua jempolnya.


Ya ampun kenapa aku jadi kayak manik-manik berjalan gini. batin Riri


"Apa nggak terlalu mencolok ma," kata Ervan yang melihat ekspresi Riri tidak nyaman dengan apa yang dipakai.


" Kamu diam aja, kali ini jangan sok nggak terima bantuan mama, pokoknya mama yang atur semua." Kata Bu Niah.


"Mas Ervan bener ma apa gaun ini nggak terlalu berlebihan untuk acara akad nikah dimasjid." Kata Riri sedikit takut untuk membantah.


"Nggak lah kan kita akadnya di masjid islamic center." Kata Bu Niah.


"APA!!" kata Riri dan Ervan nyaris bersamaan kaget.


Riri benar-benar tidak menyangka akad nikahnya akan di adakan di masjid islamic center, masjid terbesarnya sekaligus ikon muslim dikota B. Bagaimana bisa dengan mudahnya Bu Niah bisa mendapat kesempatan semudah itu untuk acara akad nikah dimasjid ini sedangan dia bersama mahasiswi UKM cinta Islam berjuang keras untuk hanya memakai pelataran masjid untuk bakti sosial, begitu sekiranya dipikiran Riri.


"Kamu sendiri pengen dimasjid Ri, ya masjid nya harus yang bagus biar mama mu ini nggak malu sama kerabat kita nanti." Ujar Bu Niah lagi.


Ya Allah tujuanku sebenarnya menikah dimasjid supaya pernikahan kami sakral dan hikmat bukan untuk ajang mejaga reputasi keluarga. Riri.


Riri kembali menata hatinya kalau semua keberlebihannya ini bukan keinginannya tapi orang-orang yang mendukungnyanya. Tujuannya menikah hanya satu menyempurnakan ibadah.


Setelah mencoba beberapa baju, hasilnya baju pilihan Riri tidak dipilih sama sekali, tapi yang akan dia pakai di akad nikah dan gala dinner adalah baju pilihan calon mertuanya yang penuh Blink dan glamor menurut Riri.


Ervan dan Riri pamit pulang karena Ervan harus kembali ketempat kerjanya.


"Mas maaf ya, mama berlebihan nggak sih, kita harus nikah di islamic center terus baju yang aku pakai udah kaya artis syahridon, Riri pengennya yang simpel terus cantik mas." kata Riri memecah keheningan.


"Mas juga nggak tahu sayang, kali ini mama sampai mohon jangan sampai mas nolak pemberian mama seperti biasanya, jadi kita terima aja ya sayang." Kata Ervan yang juga merasa semuanya berlebihan.


Riri merasa senang dan bersyukur karena calon suaminya memiliki sifat yang sederhana seperti dirinya karena berdasarkan cerita calon mertuanya disela sesi ganti baju Ervan memang tidak pernah mengandalkan keluarganya dari sejak dia kuliah menikah sampai sekarang.


Tapi masalah baru sekarang yang harus dihadapi Riri calon ibu mertuanya dan kakak ipar yang kompak yang selalu menginginkan kesempurnaan dan kemewahan dengan dalih untuk menjaga reputasi keluarga yang sangat jauh dari sifat dan ajaran orang tua Riri yang mengajarkan sifat Zuhud (sederhana) dan mensyukuri segala sesuatu. Riri hanya berharap kelak dia bisa menjadi istri, ibu dan menantu yang baik mengingat pernikahannya yang tidak akan lama lagi.


Riri melambaikan tangan melihat mobil calon suaminya melaju mulai meninggalkan dirinya, dia segera masuk ke sekolah yang sudah sepi untuk bersiap ke kampus menghadapi UTS Minggu ini sebelum acara pernikahannya.


Next,.........


**Terima kasih pembaca masih butuh saran dan kritik.


☺️☺️☺️☺️jangan lupa tinggalin jejak like komen apalagi vote vote vote nya bikin semangat author 🙏 🙏🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2