
Semua orang di dalam ruang tamu menikmati kudapan terlebih dahulu untuk meredam ketegangan setelah Davin melamar Abel. Air mata haru kini berubah menjadi tawa yang diselingi candaan dari orang-orang. Setelah ini keluarga kedua pihak akan membahas masalah rencana pernikahan Abel dan Davin.
“Oh ya Van, bagaimana dengan pesta pertunangannya. Kapan kita adakan? Kita akan buat pesta pertunangan yang besar hingga semua orang di kota ini membicarakan pertunangan anak kita sepanjang pekan.” Pak Hedrawan mulai pembicaraaan serius masalah Abel dan Davin.
“Om, Kalau aku ingin anak kita langsung menikah saja, itu lebih bisa menjaga keduanya dari perbuatan dosa,” balas Ervan.
“Aku sangat setuju Mas,” sela Davin dengan semangat. Bu Mitha langsung menyiku perut Davin.
“Sabar Bang Davin, buru-buru sekali,” sela Nolan.
“Sesuaatu yang baik harus disegerakan. Davin, Kalau pertunangan tidak ada, kapan rencana kamu akan menikahi Abel?” tanya Pak Toni ingin mempertegas.
“Kalau saya berharap dua minggu lagi Om, dua minggu Insha Allah cukup bagi memenuhi syarat yang diberikan Abel.” Davin melirik kearah Abel mengingatkan syarat yang diberikan padanya.
Abel langsung membulatkan matanya, dua minggu? Apa tidak terlalu cepat, dua minggu lagi dia akan jadi istri bahkan dirinya saja belum lulus kuliah. Di sisi lain Abel senang Davin bersungguh-sungguh memenuhi syaratnya. Abel tersenyum tipis membalas tatapan Davin.
Semuanya juga ikut memandang aneh ke arah Davin seperti sudah kebelet nikah saja memutuskan waktu nikah sesingkat itu. Keluarga Davin sudah memikirkan pesta mewah dengan matang. Begitu pula dengan Bu Niah yang ingin mengelar pesta mewah Bak ngeri dongeng. Dan semua itu bukan membutuhkan waktu yang singkat.
Pemikiran Ervan malah sebaliknya dengan keluarga Davin dan Keluarganya. Ia berharap jika Davin sudah serius semakin cepat pun semakin baik. Dengan begitu mereka terjaga dari perbuatan dosa dan akan memanen pahala ketika mereka menikah. Meskipun ia sedih nanti putri kecilnya akan perlahan pergi meninggalkannya dengan suaminya.
“Apa tidak terlalu cepat dua minggu, mempersiapkan pernikahan butuh waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.” Bu Niah sekarang ikut angkat bicara.
“Tapi Ma, semakin cepat semakin baik lagipula sudah ada WO kan,” Jawab Ervan.
“Bu Niah benar, kita akan bicarakan lagi nanti dengan Davin. Pesta Mewah ala keluarga Adiguna tidak bisa dilakukan dengan sesingkat itu,” balas Pak Hendrawan.
“Maaf Om, Abel tidak ingin mengelar pesta pernikahan di gedung atau di hotel.” Ervan menyela pembicaraan.
“lantas, mau dimana Van,” seru Pak Hendrawan heran sambil sedikit terkekeh.
Sebagai ayahnya, Ervan sudah mengetahui keinginan pernikahan Abel tidak seperti keinginan orang-orang tua di ruangan ini. Ervan memlilih memberi kesempatan Abel mengutarakan keinginannya bukan ke semua orang.
“Setiap wanita mempunyai pernikahan impian, tak terkecuali Abel. Aku ingin Abel mewujudkan impian pernikahannya, sayang ceritakan pada semua pernikahan seperti apa yang kau inginkan.” Ervan memberi kode pada Abel agar bicara.
Abel mengangguk senang, papanya memberi kesempatan bicara di antara orang-orang tua.
“Abel ingin pernikahan Abel di adakan di alam terbuka dengan keluarga dan teman dekat saja. Abel mau pernikahan Abel di buat sesantai mungkin, kalau Om, Omah Opah tidak keberatan. Abel ingin pernikahan Abel di lakukan di hutan Pinus atau dimana pun yang penting di alam terbuka dengan pohon-pohon besar.” Tutur Abel.
Pak Hendrawan dan Istri langsung syok mendengar penuturan Abel, begitu juga Omahnya Bu Niah.
__ADS_1
“Om, sudah dengar dari Abel. Sesuai keinginan Abel kita akan adakan pernikahan Abel di hutan Pinus,” terang Ervan.
Pak Hendrawan hampir tersedak teh hangat yang ia seruput.
“Ervan, kamu tahu Davin adalah putra dari keluarga Adiguna yang sangat dikenal di kota ini dan putrimu cucu dari keluarga Wijaya yang terpandang. Akan sangat timpang jika pernikahan anak kita dilakukan di hutan seperti anak tarzan saja.” Pak Hendawan protes merasa sangat keberatan.
“Maaf Om, aku tetap akan mengikuti keinginan putriku,” ujar Ervan kekeh.
Setelah perdebatan panjang saling bantah dengan ego masing-masing dan juga dengan berbagai pembelaan dari Ervan. Kedua keluarga menyepakati akad nikah keduanya akan berlangsung dua pekan ke depan di hutan pinus di kota B sesuai keinginan Abel. Meskipun keluarga Davin masih kekeh akan meyelengarakan pesta besar lagi setelahnya sesuai keinginan mereka. Sedangkan Abel dan Davin menerima saja keputusan kedua keluarganya.
Waktu yang semakin larut, membuat kedua keluarga menyudahi acara malamar yang sekaligus acara merembukkan pernikahan ini. Keluarga Davin berpamitan dan di antar oleh tetuah di keluarga Ervan Pak Toni.
Kini tertinggal Davin, Nolan dan Abel yang masih di teras rumah.
“Abel, selamat ya semoga dilancarkan sampai hari pernikahan kalian nanti,” ujar Nolan.
“Makasih No,” balas Abel tersenyum melihat ketegaran Nolan.
Abel begitu salut dengan Nolan. Dari wajah Nolan, ia terlihat bahagia. Tapi pasti itu sedikit klamufase, menutupi kedukaan rasa sakit pasti tidak mudah untuknya. Kenapa kau harus mencintai orang yang sama dengan kakakmu No, itu membuat Abel menyesal karena harus bertemu dengan Nolan dan mambuatnya jatuh cinta hingga menyakitinya seperti sekarang. Dia hanya bisa berdoa agar Sang Pencipta memberinya jodoh yang baik. Karena bagi Abel, Nolan orang berhati malaikat di dalam balutan sikap garangnya.
“Abang pulang,” seru Davin yang terus tersenyum mengembang di bibirnya. Abel mengangguk malu melihat calon suaminya sekarang.
******
WARNING! Mungkin ada part 18+
Di rumah megah keluarga Adiguna. Davin membersihkan diri sebelum ia tidur. Ia meraih ponselnya di atas nakas. Sebenarnya ia ingin sekali menghubungi Abel, tapi hari sudah larut ia tak ingin menganggu waktu istirahatnya. Ia memilih mengirim pesan singkat untuk Abel mengucapkan selamat malam pada calon istriya. Davin memejamkan matanya sambil terus membayangkan wajah Abel dalam tidurnya.
Malam semakin larut, Davin merasa ada sesuatu yang berat menin-dih tubuhnya. Ia juga bisa merasakan belaian dan hembusan nafas seseorang di permukaan wajahnya. Karena merasa ada sesuatu yang mengusik tidurnya, Davin membuka matanya perlahan. Ia terperangah melihat seseorang di atas tubuhnya.
“Halo Sayang, kau terkejut,” seru wanita cantik perawakan tinggi berambut lurus dengan balutan dress putih minim yang duduk di atas tubuh Davin.
“Tasya! Bagaimana bisa kau ada di kamarku!” Davin membentak dan ingin mendorong tubuh wanita yang ada di atas tubuhnya. Tapi urung karena benda digengaman wanita itu di arahkan ke wajahnya.
“Jangan banyak bergerak Sayang atau aku akan menarik pelatuk dan meledakkan hatimu.” Wanita itu menyunggingkan senyum sedang tangannya mengarahkan pistol ke dada Davin.
Davin hanya bisa diam karena itu bisa membahayakan dirinya. Tasya pasti sangat mudah mendapatkan ijin kepemilikan sejata Api karena anak pejabat di kota ini.
“Kau gila Tasya!” umpat Davin dalam kungkungan wanita itu.
__ADS_1
“Aku memang gila karena dirimu Sayang, aku sangat merindukanmu." tangannya terus meraba dada bidang tubuh di bawah kungkungan dengan tangan satunya terus mengarah pistol ke dada Davin.
"Tasya! jauhkan benda ini dariku!" Davin terus membentak memandang ngeri pistol yang menempel di dadanya hingga suaranya mengaung di kamarnya yang kedap suara.
"Jika kau tidak bisa jadi milikku, maka orang lain juga tidak Sayang." Tasya mendekatkan wajahnya ke wajah Davin ingin mencium.
"Tasya kau memang Gila! aku hanya mencintai satu wanita Abelia"
"Berhenti mengumpat Sayang, kita akan bersama di neraka." Tasya mengarahkan pistol ke wajah Davin.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next.....
,______________________________
Zen : 😱 😱😱Thor 😠😠😠
Thor : woy jangan seudzon dulu...
Zen : itu kenapa Thor 😠😠😠
Thor : Nanti gua lanjut, tunggu ya🏃🏿♀️🏃🏿♀️
Terima kasih udah sabar nunggu up dari author 🙏
__ADS_1
Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. selalu loph U ❤️