Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 67 Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah di Masjid, Riri dan Ervan bergandengan tangan berjalan menyusuri jalanan kompleks perumahan untuk kembali ke rumah.


"Mas, tadi nyimak nasehat Ustadz." Tanya Riri memecah kebisuan diperjalanan.


"Yang bagian apa Sayang." Ujar Ervan.


"Tentang ketaaatan istri pada suaminya. Lebih mudah ya Mas jadi istri, dari hadis riwayat ahmad menerangkan jika seorang wanita menjalankan sholat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga farjinya dan mantaati suaminya, maka dikatakan padanya, masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang dikehendaki," Ujar Riri.


"Mas juga senang kalau istri Mas mentaati apa yang Mas kehendaki, asalkan yang bukan perintah maksiat ya." Balas Ervan mencubit pipi Riri.


"InsyaAllah Mas. Oh ya Mas, nanti kita jenguk Bu Tiara lagi ya, kemaren Riri belum sempat ketemu, Bu Tiara nya lagi tidur," Kata Riri.


"Ya Sayang, Mas juga pengen tahu keadaan Tiara." Balas Ervan.


"Satu lagi Sayang, minggu kita kerumah Mama, kita belum kasih kabar kehamilan kamu ke mereka secara langsung." Sambung Ervan.


"Ya Mas, nanti mama seheboh apa ya Mas kira - kira."


"Kita liat aja nanti Sayang." Ervan tersenyum.


Tanpa terasa menikmati berjalan kaki, mereka sampai di depan rumah. Bersiap melakukan aktivitas masing-masing setelah ini.


******


Sore ini Riri sudah siap memakai celana kulot mocca dengan atasan blus mustard dengan kerudung pasmina warna senada. Menatap pantulan tubuhnya di depan kaca sambil memegangi perutnya yang masih rata belum nampak timbul.


Nggak sabar deh pengen cepet besar. Kata Riri mengelus perutnya.


"Sayang, udah siap." Kata Ervan yang tiba-tiba muncul memeluk Riri dari belakang dan ikut mengelus perut istrinya.


"Mas bikin kaget, adeknya Abel cewek apa cowok ya Mas,"


"Cewek atau cowok sama aja Sayang yang penting Ibu sama bayinya sehat." Balas Ervan.


"Ya Suamiku sayang.." Balas Riri. Ervan membalikkan badan Riri. Mencium bibir Riri lembut. Riri menarik wajahnya.


"Mas, nanti aja ciumnya. Nanti Riri baikin make up lagi, kelamaan, ini sudah sore." Ucap Riri.


Ervan mengalah dan keduanya turun ke lantai bawah bersiap ke rumah sakit. Abel juga sudah bersiap dibawah menunggu kedua orang tuanya.


Ketiganya masuk ke dalam mobil, melajukan mobil menuju Rumah Sakit.


"Ma, sebenarnya Abel males njenguk Tante Tiara." Kata Abel memecah keheningan didalam mobil.


"Abel nggak boleh begitu, menjenguk sesama muslim yang sakit itu keutamaannya seperti berjalan-jalan di taman surga. Besar kan pahala kita." Balas Riri.


"Tuh Sayang dengerin Mama," Ujar Ervan.


"Ya, iya Ma." Sahut Abel.


Setelah beberapa menit Ervan berhenti di salah satu toko bunga.


"Sayang, belikan bunga buat Tiara."


"Mas, kenapa orang sakit diberikan bunga harusnya belikan buah-buahan."


"Kalau bunga, aromanya buat rilex dan semangat sembuh, kalau buah pasti sudah banyak."


Setelah beradu argumentasi, Riri mengalah menuruti suaminya yang berdalih seperti cara membesuk orang di Perancis. Ervan dan Riri turun membeli Bucket bunga tulip ungu untuk Tiara.


********


Ditempat berbeda Adrian menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar inap Tiara, menepati janjinya.


Dia membuka handle pintu, di dapatinya Tiara yang mendapat perawatan dari perawat.


"Hei, masuk, makasih udah jenguk aku lagi." Kata Tiara melihat Adrian.


"Ini buat kamu." Adrian membawa beberapa kotak coklat.

__ADS_1


"Adrian.. Aku bukan anak kecil yang suka makan coklat, tapi makasih." Balas Tiara.


"Kalau aku bawa bunga, nanti kamu jatuh cinta." Celetuk Adrian.


Tiara tertawa mengelengkan kepala, memaklumi kejahilan Adrian.


"Pacarnya ya Mas," Kata perawat usai memeriksa tensi Tiara.


"Bukan Sus, seperti calon imamnya." Celetuk Adrian.


"Adrian cukup, nggak usah ngarang." Kata Tiara, entah kenapa tidak bisa marah dengan Adrian, tiba-tiba dia menyukai humor.


Perawat itu memberikan hasil radiologi terbaru Tiara kemudian meninggalkan kamar Tiara usai melakukan tugasnya.


"Tiara, harusnya aku tadi di tensi juga." Ujar Adrian.


"Kenapa? Kamu lagi unfit."


"Biar kamu tahu aja, secepat apa detak jantung aku sekarang dekat sama kamu." Celetuk Adrian lagi.


"Adrian cukup," Balas Tiara mengelengkan kepala menahan tawa.


"Tapi kamu senyum yang paling manis dulu,"


Tiara mengerutkan wajahnya.


"Mau nggak? kalau nggak mau aku pulang nih."


"Ya ya.," Tiara menarik senyumnya memasang wajah manis di depan Adrian.


Adrian senang merasa, Tiara memanglah keras tapi dibalik itu dia tetaplah wanita dengan banyak sisi kelembutan yang akan luluh dengan sikap manis, aku akan buka satu per satu. Apa yang terjadi denganku kenapa aku jadi merasakan sesuatu dengan Bu bos galak ini.


"Tolong ambilkan hasil radiologi ku yang terbaru," Tiara menunjuk amplop dibatas nakas.


Adrian mengambil amplop yang di tunjuk Tiara. Tiara membuka amplop dan melihat hasil rontgen terbaru, lengannya yang retak.


"Tiara, pikiran dulu kesehatan kamu. Kenapa harus memikirkan pekerjaan kalo keadaan kamu masih begini." Balas Adrian. Tiara mengangguk dan tersenyum kembali dengan ringan.


Tak lama berselang handle pintu terbuka keluarga Ervan masuk ke dalam ruang VVIP Tiara. ketiganya terkejut melihat ada orang lain di dalam kamar yang tak lain adalah Adrian. Ervan lebih terkejut lagi senyuman terus mengembang dari bibir Tiara.


"Bapak disini juga," Tegur Riri bahagia membayangkan khayalannya jadi kenyataan.


Adrian hanya mengangguk, ia nampak malu dengan kedatangan keluarga Ervan.


"Oom, lama nggak ketemu." Ujar Abel senang melihat Adrian.


Adrian bangkit dari duduknya. "Tambah gede aja nih anak," Kata Adrian memengangi kedua pipi Abel gemas. Melihat Abel yang sekarang tumbuh jadi remaja. Adrian mengajak Abel duduk di sofa bersamanya.


Riri memberikan bucket bunga tulip pada Tiara. "Semoga cepat sembuh Bu Tiara."


"Thank you Riri aku suka bunga tulip, maaf kemarin aku tertidur." Balas Tiara terlihat senang mencium bunganya.


"Bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanya Ervan pada Tiara.


"Alhamdulillah lebih baik," Balas Tiara.


"Alhamdulillah.." Sahut Riri dan Ervan bersamaan.


"Van, comme j'aime quelqu'un, il vous met en colère." Tiara menunjuk Adrian yang bercanda dengan Abel di sofa menggunakan isyarat matanya. (Van, seperti aku menyukai seseorang, dia membuatku tidak bisa marah).


Dia sengaja menggunakan bahasa Perancis merasa malu agar hanya Ervan yang tahu maksudnya.


"Really!!! Dia." Jawab Ervan terkejut, tapi merasa senang dengan perubahan mendadak Tiara. Tiara menganguk lagi mengiyakan.


Riri hanya saling bergantian memandang wajah suaminya dan Tiara yang nampak asik tanpa melibatkan dirinya.


Tanpa disadari Adzan Maghrib berkumandang terdengar dari luar ruangan. Ervan mengajak penghuni ruangan menuju masjid yang berada di samping Rumah Sakit. Riri dan Abel tidak ikut bersama Ervan dan Adrian karena keinginan Riri menemani Tiara yang sendiri dikamar.


Riri menjalankan sholat magrib di dalam kamar inap Tiara yang sudah tersedia pelengkapan sholat sedangkan Abel berhalangan sholat mendapat tamu bulanan. Tiara mengamati Riri yang menjalankan sholat karena selama ini dia merasa lalai menjalani kewajibannya sebagai muslim, dia selalu saja sibuk dengan masalah pekerjaan.

__ADS_1


"Maaf Bu Tiara, apa Bu Tiara berhalangan atau mau saya siapkan perlengkapan sholatnya." Tanya Riri membangunkan lamunan Tiara.


"Tidak Riri saya tidak berhalangan, tapi bagaimana saya bisa sholat, saya saja tidak bisa bangun dari sini." Kata Tiara menunjukkan banyaknya alat medis yang terpasang di tubuhnya.


"Bu Tiara, selama kita masih diberi nafas oleh Allah, kita tetap harus menjalankan kewajiban kita. Kalaupun Bu Tiara tidak bisa sholat sambil berdiri, Bu Tiara bisa sholat sambil duduk di atas ranjang." Balas Riri. Tiara tidak bisa membantah perkataan Riri.


"Kalau tidak memungkinkan untuk berwudhu, Bu Tiara bisa bertayamum." sambung Riri lagi.


Riri membimbing Tiara yang antusias dan belum terlalu memahami cara bertayamum. Riri membaca Basmalah, menepukkan kedua telapak tangan ke tembok, meniup kedua telapak tangan, mengusapkannya ke wajah, kemudian mengusap punggung telapak tangan kanan dengan telapak tangan kiri sampai pengelangan dan sebaliknya.


Tiara mengikuti arahan Riri, sekarang dia sudah mengenakan mukena dan menjalani sholat diatas tempat tidur. Riri senang melihat Tiara yang lebih lembut dengan wajahnya yang tertutup mukena.


"Riri tolong carikan nomer asisten saya di ponsel saya." Kata Tiara usai berdoa.


Riri yang menyadari Tiara yang tidak bisa mengambil sesuatu, menuruti perintahnya mengambil ponsel milik Tiara.


"Pin nya Bu," kata Riri.


"Tanggal lahir Ervan," Balas Tiara refleks. Riri sempat diam mematung mendengar ucapan Tiara.


"Maaf Riri, aku belum sempat mengganti PIN nya, karena itu yang selalu aku hafal." Kata Tiara merasa tidak enak.


"Tidak masalah Bu, kenapa harus minta maaf, mungkin pin itu yang ibu rasa paling aman." Balas Riri santai.


"Kamu nggak marah."


"Kenapa harus marah, saya sangat percaya sama suami saya."


Tiara kagum dengan jawaban Riri, dia mengingat kembali saat dirinya bersama Ervan yang selalu saja berprasangka buruk, dan tidak ada hari tanpa pertengakaran.


Adrian dan Ervan masuk ke dalam ruangan usai dari masjid. keduanya heran melihat Tiara yang masih memakai mukena dan akrab dengan Riri.


"Assalamu'alaikum.,", Goda Adrian pada Tiara.


"Wa'alaikumusalam.." Balas semuanya.


"Coba begini terus, nggak dilepas pasti tambah cantik." Celetuk Adrian.


"Ya, bener.." sambung Ervan juga.


Tiara hanya tersenyum tanpa menjawab, melepas mukena yang melekat di tubuhnya.


Cukup lama saling berbincang, Ervan dan keluarganya meminta izin pamit pulang. Sedangkan Adrian memilih masih tetap stay di kamar.


Adrian meraih hasil radiologi Tiara. "Paling males baca radiologi,"


"Kenapa memang.?" Tanya Tiara.


"Abstrak susah dibaca kayak perasaan kamu."


Tiara tak malu lagi sekarang untuk tertawa bersama Adrian.


.


.


.


.


.


NEXT......


Zen sabar ya orang jatuh cinta ada prosesnya 😍😍😍😍


Terima kasih udah sabar nunggu up dari author. sorri kmren nggak up lagi unfit.


Jangan lupa tinggalin jejak ya, LIKE , KOMENT VOTE yang mengubah langkahku hehehe πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2