Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP58-S2// Melamar


__ADS_3

Jantung siapa saja pasti akan berdebar ketika akan melamar seseorang yang dicintai untuk menjadi teman hidupnya. Begitu pula dengan Davin, ia masih mematung di depan cermin melihat lagi penampilannya malam ini sebelum berangkat ke rumah kekasihnya.


Senyum terus mengembang dari bibirnya sambil memandangi kotak kecil berwarna biru. Ia tidak menyangka, yang tadi sangat sulit dan tak mungkin untuk kembali, menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Cincin yang sempat tersimpan rapat dalam lemari sebagai kenangan cintanya yang hilang, setelah ini akan dipakai pemilik yang sebenarnya.


Ceklek. Suara handle pintu terbuka.


Nolan masuk ke dalam kamar mendapati kakaknya, “Bang, kita semua nunggu Bang Davin di bawah.”


“Ya No, Abang akan turun,” balas Davin masih memperhatikan pantulan penampilannya di cermin.


“Sudah ganteng Bang,” sindir Nolan. Davin hanya tersenyum sambil mengangkat alisnya pada Nolan.


Davin langsung mendekap tubuh besar adiknya. "No, suatu hari nanti aku juga akan menjadi saksi kau melamar wanita yang kau cintai."


"Bang Davin, aku masih dua puluh dua tahun, masih banyak yang harus aku pikirkan. Aku belum terpikir untuk menikah." Balas Nolan tak ingin merusak hari bahagia Kakaknya.


"Ayo kita turun," sambung Nolan lagi. Keduanya melepaskan pelukan.


Nolan pun keluar dari kamar, diikuti Davin yang mengekor di belakangnya. Papa dan Mamanya yang menunggu di bawah sudah berpakaian rapi. Tapi raut wajah Pak Hendrawan nampak tak sesenang yang lain.


Pak Hendrawan terpaksa menyetujui keinginan Davin karena tak ingin putranya di coret jadi calon penerus perusahan Adiguna yang dengan susah payah ia kembangkan hingga sebesar sekarang. Lagi pula Pak Hendrawan masih memandang Abel sebagai cucu keluarga Toni Wijaya, setidaknya tidak terlalu memalukan meskipun orangtua Abel bukan pengusaha. Begitu sekiranya yang ada dalam pikiran Pak hendrawan.


Dalam satu mobil, malam ini keluarga Adiguna segera bergegas menuju rumah keluarga Ervan untuk menunaikan hajatnya.


*****


Di waktu yang sama di rumah Ervan, Abel yang berada di dalam kamarnya terus mondar-mandir menunggu tamunya. Sesekali ia merapikan dandanan dan kerudungnya didepan cermin. Perasaanya mendadak panas dingin dan gugup bercampur menjadi satu. Hal yang di mimpikan semua wanita yaitu dilamar oleh laki-laki pilihannya akan terjadi sebentar lagi.


Ceklek.


Riri nampak dari balik pintu, dia langsung menghampiri Abel yang ada di tepi ranjang.


“Kakak cantik banget,” puji Riri merangkul pundak Abel. Abel hanya membalas senyuman dan sekarang menyadarkan kepalanya dipundak sang Ibu.


“Kakak gugup ya,” tanya Riri. “Dulu Mama dulu juga gitu waktu dilamar Papa, Mama takut Papa ditolak sama Eyang,” sambung Riri. Abel mendongak penasaran dengan kelanjutan ceritanya sambil menunggu keluarga Davin datang.

__ADS_1


“Tapi Mama percaya, papa jodoh terbaik untuk Mama, Papa jawaban dari doa-doa Mama, alhamdulillah keluarga Mama menerima Papa dengan tangan terbuka meskipun status papa yang seorang duda begitu pula sebaliknya keluarga wijaya menerima mama meskipun status social keluarga mama sangat jauh berbeda,” Riri mendadak mengeluarkan airmata mengingat acara lamarannya dulu.


Abel menghapus airmata bahagia ibunya, “Mama, so sweet,” Balas Abel.


“Kakak, pernikahan dalam islam bukanlah sekedar untuk memenuhi naluri hasrat semata, tapi mempunyai nilai-nilai agama yang suci yang harus merupakan ibadah dan pengabdian seorang hamba terhadap zat Maha Pencipta. Papa sama Mama berharap Davin memang laki-laki yang tepat untuk bersama menemani hidup kakak,” nasehat Riri.


“Amin Ma, makasih Ma,” Abel memeluk sang ibu dan kini ia juga tak bisa membendung haru airmatanya.


“Maaf Mbak, tamunya sudah datang,” sela Bi Mina dari pintu kamar.


Keduanya kini saling melepas pelukan dan menghapus airmata. Abel merapikan lagi kerudungnya dan bergandengan tangan keluar bersama Riri. Abel yang pernah menjadi saksi lamaran orang tuanya dulu, menjadi sangat gugup setelah mengalami sendiri. Davin datang bersama orang tuanya untuk melamar dirinya.


Keluarga Davin sudah duduk dan disambut oleh Ervan. Pak Hendrawan yang tadinya ingin mencibir rumah Ervan yang kurang mewah menurutnya, mwmbatalkan niatnya karena ada Pak Toni wijaya rekan bisnisnya. Ervan sengaja mengajak kedua orang tuannya untuk ikut menyambut Keluarga Davin.


Abel duduk berdekatan duduk di tengah diantara Ervan dan Riri. Davin yang duduk dihadapan keluarga Abel terus memperhatikan Abel yang selalu terlihat cantik dimatanya.


“Jadi Ervan, Pak Toni, maksud kedatangan kami kesini, seperti yang sudah direncanakan. Kita ingin melamar putri bapak, Abelia untuk diperistri putra kami Davin,” Buka Pak Hendrawan mengutarakan maksudnya.


“Pak Hendra, kita terima maksud bapak kesini, jodoh kita memang tidak tahu, tadinya kita pikir akan bersama Kayla, ternyata bersama cucu yang cantik satu lagi,” balas Pak Toni yang di tuakan.


“Davin, sekarang keluarga Abel sudah menerima kamu, kamu tanya Abel apa dia mau jadi istri kamu.” Seru Pak hendrawan. Davin mengangguk.


Davin pun mengeluarkan kotak perhiasan berwarna biru dari sakunya celananya, Ia meminta ijin pada Ervan untuk berbicara dengan Abel.


Detak jantung Abel berdegup kencang ketika Davin bersimpuh di hadapannya. Abel merasa lebih kencang di banding saat-saat biasa. Kedua mata mereka saling bertemu sekarang mengagumi rupa masing-masing.


“Mungkin beberapa waktu lalu telah kita lewati banyak hal sulit yang kita dilalui bersama. Tidak mudah memang. Tapi, abang selalu heran. Segala kesulitan bagiku seperti tak apa asal itu tentang Kamu.” Ucap Davin. Abel hanya mengangguk mengiyakan dan anggota keluarga fokus melihat pasangan labil dihadapannya.


“Abang tahu, kita belum lama saling mengenal. Namun hatiku selalu berkata Abang harus memilihmu. Menjadikanmu pelengkap agama-ku. Menjadikan kamu makmum sholeha untukku. Kamu sadarkan Abang bahwa segala bentuk dunia yang dicari tak ada artinya jika tidak ada Kamu di samping Abang.” Kata Davin yang mulai membuat mata Abel berkaca-kaca.


“Didepan orang tua kamu dan dihadapan keluarga kita, Abelia Amvan Wijaya bersediakah kamu menjadi istri dan Ibu dari anak-anak kita nanti. Jadilah istriku, jadilah matahari di dalam rumahku selamanya!” sambung Davin Lagi sambil menyodorkan cincin berlian dalam kotak biru.


Abel tak kuasa menahan airmata yang sudah mengenang di kelopak matanya. Abel begitu terharu setelah apa yang terjadi, ia tak percaya sebentar lagi akan dipersatukan dengan cinta pertamanya.


"Please, don't cry, answer me." Davin menjadi ikut sedih melihat butiran- butiran bening di pipi kekasihnya.

__ADS_1


"Ya Bang Davin, Abel bersedia," balas Abel sambil sibuk menepis air matanya.


Davin menutup matanya merasa sangat bahagia, ia laki-laki, ia tak ingin menumpahkan air matanya bahagia di depan banyak orang.


Semua yang ada dalam ruang tamu menjadi haru begitu pula Pak Hendrawan yang sedikit terharu melihat ketulusan anaknya pada seorang wanita. Ervan yang berbadan tegap dan atletis saja tidak bisa lagi membendung butiran bening yang keluar dari ujung matanya meskipun ia sudah susah payah menahannya. Melihat kenyataan jika Allah berkehendak, sebentar lagi putri kecilnya akan dimiliki oleh calon suaminya.


Ervan mengambil kotak biru yang dipegang Davin, ia menyematkan cincin pemberian Davin di salah satu jari sebelah kanan Putrinya. Abel kembali menangis dipelukakan Papanya. Begitu pula Riri yang ikut memeluk Putrinya. Tak lama, Raffa dan Raydan lari dari pangkuan omahnya ikut memeluk kakaknya, jadilah keluarga mereka saling berpelukan tanpa sungkan di hadapan calon besan.


"Sudah, ayo duduk lagi, kembali ke tempat semula," tegur Pak Toni pada keluarga Ervan. Dengan seketika keluarga Ervan bubar barisan ke tempat duduk masing-masing lagi.


Sementara di teras rumah Abel, seseorang berusaha menepis ujung matanya agar berhenti mengeluarkan cairan bening yang ia tahan sejak tadi. ia sengaja ijin keluar sebentar untuk mencari udara segar. Ia juga bahagia melihat senyum kedua orang yang disayangi. Tapi sekuat dan sekeras apapun itu, ia tetaplah manusia yang mempunyai sisi hati yang rapuh.


Setelah merasa tenang Nolan kembali masuk kedalam rumah tak ingin melewatkan setiap momen bahagia Kakaknya.


.


.


.


.


.


.


NEXT.........


_________________________________________


Thor : Hai Zen, sampai chapter ini kalo kalian masih punya pertanyaan dan uneg-uneg, tuliskan dan ungkapan kan semuanya di kolom komentar ya.


terimakasih udah sabar nunggu up dari author 🙏


beri semangat author biar rajin Up pencet LIKE tombol jempol, ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. selalu loph U ❤️

__ADS_1


__ADS_2