
*Ervan kembali lagi ke halaman masuk kedalam mobil bergegas menyalakan mesin. Dia melajukan kendaraannya panik, merasa bersalah dan cemas berkecamuk menjadi satu. Setelah menelpon Udin dan mengetahui keberadaan Riri. Dengan perasaan tidak tenang, Ervan bergegas melajukan kendaraannya menuju rumah Rika disuasana malam yang masih ramai ini.
Apa kamu marah karena kesalahpahaman tadi siang sayang, Ya Allah lindungi istri dan bayinya dimana pun mereka sekarang. kamu buat kuatir Ri
Ervan sangat panik mengingat istrinya yang sedang hamil tua*.
Hanya butuh Beberapa menit mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Ervan sudah sampai didepan rumah Rika. Bergegas turun mengetuk pintu. Nampak wanita paruh baya muncul dari balik pintu.
"Assalamu'alaikum, Bu Rikanya ada.." Tanya Ervan.
"Wa'alaikumusalam, Rikanya lagi ke kampus, ada perlu apa ya...." Balas wanita paruh baya itu adalah ibunya Rika.
"Apa tadi istri saya disini, maksud saya Riri..."
"Ya, tadi siang Riri disini terus sorenya pergi sama Rika..."
"Ya... Makasih ya Bu..." Balas Ervan.
Kamu dimana sayang, apa kamu dikampus ikut bersama Rika, atau kamu dirumah Ibumu. Ervan semakin prustasi melangkah menaiki mobilnya lagi.
Dia mencari no kontak ibu mertuanya, ia terus berusaha menelpon beberapa kali tapi tidak mendapatkan jawaban. Ervan membanting ponselnya ke dashboard mobil.
"Astagfirullahal'adzim, kamu dimana sayang..." Ervan meraup wajahnya masih sangat panik.
Setelah merasa cukup tenang, Ervan memutuskan memberanikan diri mencari Riri dirumah mertuanya yang tak jauh jaraknya dari rumah Rika.
Tak butuh waktu lama Ervan sudah tiba di depan rumah mertuanya, Ia bergegas turun dari mobil mengetuk pintu yang nampak terkunci.
"Assalamu'alaikum Bu, Pak...." Ervan terus mengetuk pintu tapi belum ada jawaban.
Segerombolan ibu-ibu lewat mendapati Ervan yang berdiri di depan Pintu.
"Mas, Cari Bu Sinta sama Pak Saiful..." Tanya salah satu ibu-ibu.
"Ya apa mereka nggak ada dirumah..."
"Mungkin masih di Masjid lagi pengajian...." Balas ibu-ibu.
"Ya...Makasih ibu-ibu.." Kata Ervan.
"Suaminya Riri ya, ganteng ya..." balas Ibu-ibu.
Ervan hanya tersenyum pada segerombolan ibu-ibu itu dan binggung harus mencari kemana lagi atau menunggu mertuanya kembali. Dia kembali ke mobil ingin membeli sesuatu membasahi tenggorokannya yang kering sambil menunggu mertuanya kembali.
Sementara didalam kamar, Riri terbangun dari tidurnya seolah mendengar suara suaminya yang mengetuk pintu. Entah kenapa dia merasa sangat senang meskipun masih ada rasa marah setidaknya suaminya masih peduli padanya.
Dia bergegas keluar kamar, membuka pintu utama.
"Mas Ervan...." Ucap Riri. senyuman hilang ketika didapati tidak ada seorangpun didepan pintu. Dia kembali terluka air matanya tak kuasa dia bendung.
Ternyata aku cuma mimpi, Mas Ervan sekarang pasti sibuk dengan wanita itu dia nggak akan peduli sama aku. Riri semakin berpikir buruk.
Dengan perasaan yang tidak karuan lagi, Riri kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Sementara Ervan berada di sebuah toko meneguk satu botol air mineral dingin membasahi tenggorokannya yang kering, dia semakin kalut, dan tidak menyangka Riri bisa pergi hanya karena kesalahpahaman terhadapnya dan Miranda tadi siang. Dia nampak ragu kalau istrinya di tempat mertuanya. Tapi kemana lagi dia, kalau bukan tempat mertuanya lagipula instingnya sangat kuat memang disitulah istrinya berada.
Ponselnya berdering dengan semangat Ervan mengangkat telponnya, tapi kesenangannya hilang ternyata bukan Riri orang yang diharapakan melainkan Miranda.
"Kenapa Miranda sekarang aku sedang kacau..."
Miranda : Bisa kah kau pulang dulu sebentar, ada hal yang harus aku bicarakan denganmu.
"Maaf Miranda aku tidak bisa, aku tidak akan pulang sebelum membawa istriku bersamaku."
Miranda : Van tolong, aku sudah dirumah sekarang.
"Maaf Miranda aku tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan Riri terus berlarut salah paham padaku..."
Miranda : Baiklah kalau begitu.
"Satu hal lagi Miranda, jika kita bicarakan masalah ini, aku akan mengajak Riri karena dia ibu Abel dan juga istriku...". telepon terputus Ervan menghembuskan nafasnya kasar.
Ervan menyakinkan diri kembali ke rumah mertuanya dan akan menunggunya jika mereka tidak ada.
***
Ervan melihat pintu rumah mertuanya yang terbuka nampak motor juga sudah ada di depan rumah.
"Assalamu'alaikum Bu Pak..." Kata Ervan semangat.
"Wa'alaikumusalam Nak Ervan, baru pulang kerja..." Jawab Bu Sinta, disusul Ervan mencium punggung tangan mertuanya, Bu Sinta antusias langsung menyuruhnya masuk.
"Riri nggak denger, dia dirumah loh..."
Mendengar kata Riri Ervan langsung senang dan bernafas lega. "Alhamdulillah, Riri disini Bu..."
"Ya Nak disini, nak Ervan mau jemput Riri kan, datangi aja dia, seperti nya lagi tidur..." Kata Bu Sinta bersikap santai karena tidak tahu kebenarannya.
Ervan dengan langkah cepat menuju kamar Riri, nampak istirnya berbaring meringkuk dengan perut buncit, menutupi wajahnya dengan bantal. Ervan bernafas dengan lega sekarang melihat istrinya baik-baik saja di rumah mertuanya.
"Sayang..." Ervan berdiri di tepi ranjang. "Sayang!" Ervan mengeraskan suaranya.
Riri langsung bangkit, melihat ada bayangan Ervan dia langsung melempar batal ke arah suaminya hingga megenai wajah yang membuatnya tersungkur mundur, dia terus melempari sosok yang didepannya dengan batal yang ada di atas ranjangnya. Ervan sangat terkejut dan memilih diam tanpa kata melihat istrinya yang berubah jadi tidak karuan melempari dirinya dengan semua benda. Hingga bantal terakhir Riri bangun dari tempat tidur mendekat memukuli suaminya dengan batal.
"Tadi aku dengar suara kamu, sekarang bayangan kamu, untung kamu cuma halusinasiku Mas, kalau asli aku nggak akan berani mukulin kamu yang menyebalkan ini." Riri terus memukuli suaminya semakin keras.
Riri kira aku hayalan dia, pantes aja dia berani sekali sama suaminya. Kata Ervan memilih diam mendengarkan keluh kesah istrinya.
"Aku tahu Mas kamu nggak akan peduli sama aku, kamu nggak akan cari istrimu ini, kamu pasti lagi sibuk berduaan sama si jelmaan ular rambut pirang yang kamu tampung dirumah kita," Kata Riri kasar sambil terus memukuli suaminya sambil berderai air mata.
Lakukan saja sesuka hatimu sayang, jika itu membuatmu lega, Mas akan diam menerima semuanya. Ervan yang malah ikut sedih melihat deraian air mata istrinya.
Riri mulai melemah dan merasa lelah, dia terduduk di tepi ranjang. Ervan mendekat ke arah istrinya meraih cepat tengkuk leher istrinya dan mencium bibir bawah istrinya dengan kasar, mencium semakin dalam hingga bibir mereka saling bertautan.
Riri merasakan ciuman dari suaminya yang semakin nyata, terasa, dan sangat hangat.
TIDAKKKK. teriak Riri dalam hati yang menyadarkan kalau suaminya memanglah nyata.
__ADS_1
"Maafkan Riri Mas, Riri khilaf, nggak sadar kebawa emosi." kata Riri menundukkan wajahnya.
"Masih nganggap Mas bayangan, atau perlu pembuktian lagi, kebetulan Mas sedang bergairah melihat sikapmu tadi..." Kata Ervan berpura-pura membuka kancing bajunya. Riri langsung berdiri berpaling ke arah yang lain tak menghadap suaminya.
Riri yang harusnya marah besar pada suaminya malah merasa tersudut.
"Ayo sayang kita pulang, Jangan buat Mas kuatir lagi..." Ervan terus mendekat memeluk istrinya dari belakang.
"Kenapa sekarang Mas cari Riri, Kenapa bukan tadi siang aja waktu Mas berduaan sama wanita itu..." Balas Riri.
"Sayang, kamu salah paham, Mas udah bilang kita akan bicarakan dirumah..." Ervan membalikkan badan Riri.
"Mas tega biarkan Riri pergi dan sama sekali nggak nahan Riri, karena Mas memang pengen beduaan sama wanita itu."
"Astagfirullahaladzim sayang bagaimana kamu bisa punya pikiran seperti itu, Waktu Mas mau ngejar kamu, Mas Ervin sama pengacaranya datang, kamu tahu kan Mas Ervin sangat sibuk untuk ketemu dia itu hal langkah, kalau kamu nggak percaya Mas antar sekarang ke kafe kita minta rekaman CCTV nya.."
"Apa sepenting itu urusan Mas dengan wanita itu sampai beberapa menit saja Mas nggak bisa ngejar Riri..."
"Sayang, Mas nggak berpikir kamu akan semarah ini dan berpikir buruk tentang Miranda..."
Riri kembali menangis. "Sayang salah satu kunci berumah tangga adalah kepercayaan dan kesetiaan, Mas nggak akan pernah terpengaruh wanita manapun, hanya kamu wanita yang Mas akan cintai selamanya...."
Riri masih terdiam berusaha mencerna apa sikapnya terlalu berlebihan.
"Sayang sekarang Mas harus gimana supaya bisa meyakinkan kamu kalau semua yang kamu pikirkan itu salah." Kata Ervan mulai frustasi menjelaskan pada Riri.
"Mas suruh Miranda pergi dari rumah kita..." Kata Riri memberanikan diri.
"Sayang, apa harus seperti itu..." Balas Ervan
"Mas keberatan, Riri sudah menduga..." Balas Riri.
"Sayang kenapa kau tidak mengerti juga, tapi baiklah jika memamg itu yang membuatmu tidak bersedih lagi." Jawab Ervan ragu dengan keputusannya, tapi dia mencoba memberi jawaban yang membuat kegusaran hati Riri hilang agar tidak mempengaruhi kehamilannya.
.
.
.
.
.
.
Next....
Sampai sini dulu ya Zen....
terimakasih udah sabar nunggu up dari author 😁😁😁
jangan lupa like komen vote ya 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1