
Abel langsung bangkit dari pelukan suaminya. Dia merasa jijik, ia ingin merobek saja baju suaminya. Rasanya mulutnya sudah tak sanggup lagi menahan amarah. Abel meletakkan tangan di dadanya untuk menahan jantungnya yang berdengup lebih kencang karena menahan amarahnya.
“Sayang, kamu ini kenapa sih?” tanya Davin panik melihat Abel yang bertingkah aneh tanpa ia tahu apa sebabnya.
“Nanti kita bicarakan kalau sudah sampai rumah,” balas Abel masih bisa menahan diri meskipun emosinya sudah mengunung.
Abel memilih diam, sedang Davin semakin frustasi melihat sikap Abel yang ia anggap terlalu kekanakan. Davin berusaha mengikuti keinginan Abel agar tidak ada keributan di antara mereka. Beberapa menit tak saling bicara, mereka sudah tiba di rumah Ervan menjelang senja. Mobil Ervan belum terparkir di halaman rumah itu artinya Papanya belum pulang dari kerja. Abel langsung turun dari mobil tanpa mengajak suaminya. Dengan langkah cepat Davin menyusul Abel dan menarik tangannya. Dengan cepat Davin meraih tubuh Abel, melingkarkan tangan di pinggangnya tak peduli meskipun Abel marah padanya.
“Sayang, Abang nggak tahu kamu kenapa? Tapi Abang mohon kita jangan memperlihatkan kerenggangan kita di depan keluargamu itu akan meyakiti mereka. Kita simpan berdua, kita selesaikan berdua sebagai pasangan suami-istri.”
Abel mulai melunak, dia berusaha bersikap normal. Tapi dia ingin meronta dari pelukkan suaminya merasa jijik hidungnya tercium wangi parfum menyebalkan itu. Davin pun melepaskan pelukannya, kini tangan merekalah yang saling bergandengan.
Ceklek … pintu terbuka dari dalam.
“Pegantin baru ….” Mama Riri sangat bahagia melihat kedatagan Abel dan Davin.
Abel mencium tangan Mama Riri begitu pula dengan Davin. Ketiganya masuk ke dalam rumah.
“Kenapa nggak bilang kalau mau kesini,” ujar mama Riri.
“Pengen kasih kejutan Ma,” jawab Abel.
“Kita langsung ke kamar aja Ma, Aku dan Abel ingin membersihkan diri dulu,” ujar Davin. Ia yang sudah tidak sabar lagi ingin tahu kenapa istrinya menjadi aneh.
Riri pun mengiyakan. Abel hanya diam dan mengikuti langkah suaminya menuju kamarnya. Sesampai di kamar, Abel melepaskan tangannya yang digengam oleh Davin.
“Sekarang Bang Davin cium baju Abang! Wanita mana yang Abang peluk sampai parfumnya membekas di baju Abang!” gertak Abel mengeluarkan emosinya dan tak bisa membendung air matanya. Davin langsung reflek mencium kemejanya dan benar wangi parfum itu megalahkan parfumnya.
“Apa setelah meeting Bang Davin bersenang-senang dengan wanita lain!” sambung Abel dengan emosi.
“Astagfirullahaladzim Sayang, bagaimana kamu bisa berpikiran Abang main gila dengan wanita lain!” jawab Davin juga penuh emosi pada tuduhan Abel.
“Bang Davin masih mengelak! Lalu itu parfum siapa!” Kata Abel keras.
“Sayang! Ini parfum kamu!” jawab Davin.
Sejenak Abel diam, sejak kapan dirinya memakai parfum itu. Dalam pikiran Abel, Davin hanya mencari - cari alasan untuk menutupi kesalahannya.
Davin mengambil sesuatu dari tasnya, ia menunjukkan kotak kardus kecil berwarna merah dengan pita seperti kado kemudian melemparnya ke kasur.
“Abang tadi belikan parfum untuk buah tangan partner bisnis Abang, Abang sengaja pergi sendiri untuk membeli. Sekaligus ingin memberikan kamu hadiah. Abang ingin kamu memakai parfum yang semerbak malam ini hanya untuk Abang, suami kamu!”
Abel mulai tenang dengan penuturan Davin, tapi hati kecilnya masih belum menerima penjelasan Davin.
“Kenapa Bang Davin tidak memberitahu Abel!”
“Sayang! justru Abang yang ingin tanya, kenapa tadi siang kamu nggak angkat telepon dari Abang, lihat berapa pesan yang Abang kirim!”
__ADS_1
Abel terdiam, yang di katakan Davin benar. Dia memang terus memikirkan perkataan Jessi sepanjang hari dan tak menghiraukan pesan atau panggilan di ponselnya.
“Sayang, kamu masih nggak percaya sama suamimu,” ucap Davin lagi. Abel memalingkan wajahnya tidak menjawab.
“Baik, sepertinya Abang perlu menyuruh Amar mengcopy rekaman CCTV toko parfum. Kalau perlu rekaman waktu Abang meeting juga, supaya kamu tahu seharian apa saja yang dilakukan suamimu. Bermain gila dengan wanita lain atau mencari nafkah untuk keluarganya!” terang Davin dengan nada keras. Ia mengambil ponselnya di dalam tas menyentuh layarnya akan menghubungi seseorang.
Abel memegang tangan Davin yang akan menelpon seseorang. Abel mengelengkan kepala dengan air mata yang masih mengalir, dia jadi merasa bersalah. Davin menghela nafas lega dan meraih tangan istrinya untuk memeluknya. Davin merasa lega kesalahpahaman istrinya seleai, ia kini bisa memeluk tubuh istrinya yang sangat di rindukannya hari ini. Abel membalas memeluk erat suaminya merasa bersalah. Pikiran negatifnya membuyarkan akal sehatnya yang selalu membuatnya berprasangka buruk.
Kini udah lebih tenang sekarang karena masalah parfum. Tapi pikirannya masih terbebani perkataaan Jessi meskipun itu hanya cerita masa lalu.
Davin mengendurkan pelukannya. “Sayang Abang nggak marah kamu mencurigai Abang. Abang mengerti mungkin karena masa lalu Abang dengan banyak wanita membuat kamu jadi berpikir negative tentang Abang.”
“Maaf,” kata yang bisa keluar dari mulut Abel.
Kini Davin menangkap kedua pipi istrinya, sembari menghapus bulir bening yang menetes dari airmatanya.
“Sayang, kamu adalah wanita pertama yang begitu Abang cintai. Kamu wanita yang membuat Abang mengerti berartinya mencintai dan dicintai seseorang. Abang pernah kehilangmu sekali dan Abang nggak akan mau kehilangan kamu lagi sampai kapanpun. Hanya ada kamu dalam hati Abang sampai kapanpun. Abang hanya akan terus mencintai kamu sampai mautlah yang akan mengakhirinya.” Tutur Davin.
Airmata Abel semakin merembes saja mendengar ucapan tulus suaminya. “Abel juga sangat mencintai Bang Davin.”
Davin mencium kening Abel lama. Kemudian ia mendekapnya lagi dalam pelukannya.
“Sayang, kepercayaan dan kejujuran hal yang penting dalam kehidupan berumah tangga kita. Abang akan selalu jaga itu. Jadi tolong percayalah pada suamimu ini, suamimu yang berusaha untuk bisa menjadi suami yang baik. suamimu juga berusaha menjaga keluarga kita selalu sakinah seperti harapan semua orang." Ungkapan Davin.
Abel mendongak dari pelukan suaminya. “Abel juga akan jaga kepercayaan Bang Davin, maaf, Abel terlalu terbawa perasaan dan selalu berpikir negative.”
“Bang Davin kenal Jessi?” tanya Abel kembali dengan muka datar.
“Kenal, sangat kenal malah. Dia wakil dirut PT PPN tempat kamu magang kan,” balas Davin.
“Dia datangin Abel.”
“Oh ya, Abang tebak. Pasti Jessi bilang ke kamu kalau bermain dengan Abang, Abang lebih suka dia yang di atas,” ujar Davin.
“Kok Bang Davin tahu, jadi Bang Davin dan Jessi pernah main bersama ….” Abel tidak melanjutkannya karena jijik. Dia kembali mendidih dan memasang wajah marah.
“Ya, Abang dan Jessi memang suka main golf bersama, kita sekarang jadi teman. Abang lebih suka kalau dia di posisi atas Abang. di atas bukit.” jawab Davin.
“Main golf?” tanya Abel.
“Ya Sayang, rencananya Minggu ini Abang akan ajak kamu untuk main golf bersama."
"Jadi golf? bukan posisi kalian ...." Abel masih bertanya. Tangannya mempraktekkan dua tangannya yang menyatu.
"Ya Ampun sayang, pantes saja kamu uring-uringan dari tadi. Ternyata Istriku berpikir mesum ya sama suaminya," ujar Davin sambil mencubit hidung Abel.
"Abel speechless, Jessi bilang begitu, Abel nggak bisa berpikir positif."
__ADS_1
"Sayang, Abang melakukan hal itu pertama kali hanya dengan kamu, saat malam pertama kita. Memang banyak wanita yang rela membuka kakinya untuk Abang. Tapi Abang hanya ingin melakukannya dengan cinta dengan istri Abang kelak. Itu terwujud, dengan kamu sayang, kamu akan selalu jadi surga dunia untuk Abang, hanya kamu tempat Abang untuk pulang."
Abel langsung memeluk suaminya, ia merasa lega sekarang. Pikiran kalutnya mulai berubah jadi senyum ceria. Dia berjanji dalam hati tidak akan lagi mengambil pusing dan memperdulikan ucapan orang lain atau siapapun tentang suaminya, terutama ex suaminya yang katanya tak terhitung itu.
Davin mengangkat dagu Abel, menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Abel pun menikmati setiap kecupan yang lembut yang mendarat di bibirnya.
"Sayang jadi pengen ...." Ujar Davin usai melepaskan ciumannya. Belum sempat mendengar jawaban Abel.
Tok ... tok ... tok.
Suara ketukan pintu membuat keduanya menunda kegiatan selanjutnya. Abel bergegas membuka pintu.
"Papa udah pulang," seru Abel.
"Kamu nggak denger Adzan. Magrib - Magrib masih dalam kamar, suruh suami kamu sholat berjamaah di Masjid," titah Ervan.
"Ya Pa ....," jawab Abel. Dia tidak menyadari kalau sudah waktu Magrib.
.
.
.
.
.
.
Next......
____________________________________________
Thor : Thor nggak nyaka sebentar lagi tulisan sederhana (nggak bilang ampas deh Author kena omel nanti sama Zen yang loph othor) ini akan beneran tamat. Biarlah tulisan yang Ei Titip di sini sepuluh tahun kedepan menjadi saksi author nyasar yang ingin belajar nulis dengan baik. Meskipun kalian tahu banyak typo berhamburan, alur kosong jelas ada😅, tak lupa alur yang belibet, bebelit, kelilit dan bikin kalian pusing dan emosi. Untuk sejauh ini hanya itu sih ciri dan keahlian yang Ei miliki🤭🤭. Melewati fase metamorfosis, dari kepompong jadi ulet bulu🐛 😆. Makasih semua sungguh aku terhura dengan viewer yang nggak aku sangka-sangka dari awal.
Zen : tumben Thor Serius🤔🤔🤔
Thor : Ya gpp sesekali - kali🏃🏿♀️🏃🏿♀️
Zen : tanggung amat metamorfosisnya jadi ulat bulu 🐛
Thor : Karena Thor sadar belum belum bisa jadi indah dan sempurna seperti kupu-kupu🦋🦋🦋
Zen : hari ini elu lagi lagi Normal ya Thor
Thor : Lagi cantik gua, udah ah mau cus👜
__ADS_1
Beri semangat author pencet tombol jempol ketik KOMENT apa saja yang sesuka kalian punya POIN bisa VOTE seikhlas kalian. love U ❤️ selalu