
Raffa
Saya benar-benar tidak nafsu makan. Bisa-bisanya Aline mengabaikan calon suaminya. Siulan! Kenapa saya jadi eror begini. Sejak kapan lidah saya tidak keseleo menyebut Aline calon istri.
Memang saya yang minta kita berpura-pura tidak saling mengenal. Tapi kenapa rasanya menyebalkan begini, di abaikan orang yang katanya calon istri.
Terlebih lagi sekarang, mau - maunya Aline menerima tawaran Farel untuk mengantarnya pulang! Dia tidak hormati sekali calon suaminya!
Tunggu Raffa, kamu juga salah! Bagaimana bisa saya membiarkan calon istri saya di antar dan pergi berdua dengan laki- laki lain.
"Si-al!" tangan Raffa mengebrak meja lagi.
"Mas, Mas kenapa?" tanya Alesa yang mungkin kaget karena saya mejanya bergetar. Saya tidak sadar masih ada Alesa di samping saya.
"Nggak apa-apa Sa, saya mau balik ke kantor dulu, kamu makan saja dulu," saya bangun dari kursi.
"Mas, makanan kamu masih utuh! Mas makan saja dulu," cegah Alesa yang ikut berdiri.
"Kamu bungkuskan saja Sa, taruh di ruangan saya. Nanti saya akan makan," saya menunjuk makanan yang sama sekali tak nafsu lagi untuk saya makan.
"Baik Mas," jawab Alesa. Entah kenapa kali ini senyum manis Alesa tak bisa membuat hati saya yang getir ini menjadi tenang.
Saya terlebih dulu kembali ruangan kantor. Kenapa makan siang saya kali ini bersama Alesa terasa hambar, saya jadi ingin makan siang berdua dengan Aline seperti kemarin.
Tidak - tidak - tidak, kamu lagi eror Raffa, sekarang sebenarnya kamu kesal dengan Aline. Bisa- bisanya Aline, pergi dengan Farel.
Saya harus pikirkan hukuman yang tepat untuk Alien.
Duk !!!
"Auhh sial! Sakit!" Kenapa saya menendang meja ya jelas lah sakit.
Saya meraih ponsel untuk melakukan video call dengan Aline. Udah berkali-kali video call tetap saja Alien tidak menjawab.
Saya jadi tambah frustasi, sekarang calon istri saya Caroline Shania Bagaskoro dimana? Dengan Siapa? Dan sedang berbuat apa?
Kenapa dengan saya? Kenapa saya harus repot-repot memikirkan si Alien, bukan kah kita menikah hanya karena perjodohan. Terlebih lagi saya juga sudah membuat beberapa pasal dalam perjanjian pranikah.
Apa saya mulai ada rasa dengan Aline? Tentu tidak Pria tampan, Aline bukan tipe kamu.
Kenapa telepon saya tidak di angkat? Apa saya telfon Farel saja? Tentu jangan!
Lebih baik saya pergi saja ke rumahnya dan mencari tahu sendiri.
...****************...
Saya hari ini absen mengantar pulang Alisa. Saya bahkan lebih cepat pulang kantor. Saya tidak peduli masih memakai pakaian kerja. Saya harus menemui Aline di rumahnya. udah hampir empat jam dia tidak membalas pesan saya. Padahal biasanya, ketika kita chat, hanya hitungan menit dia sudah membalas pesan.
Saya segera turun ke rumah Aline ketika mobil sudah parkir di halaman.
__ADS_1
Saya mengetuk pintu, langsung Tante Tiara sendiri yang membuka pintu.
"Hai Raf, cari Aline?" tanya Tante Tiara.
"Ya Tante," saya mengangguk dan tersenyum ramah.
"Masuk Raf, Aline nggak keluar kamar dari tadi siang," Tante Tiara membuka pintu. "Kalian seperti sudah akrab satu sama lain Raf, Tante jadi seneng kalian cepat menyesuaikan diri."
"Mudahan Tante," saya masih tersenyum. Rasanya saya gatal ingin menerobos masuk kamar Aline. Saya ingin menyeret keluar dan segera mengintrogasi apa saja yang dilakukan dengan Farel selama perjalanan.
"Tunggu Raf, biar Tini yang bangunkan Aline, dia jago!" Tante Tiara menunjuk wanita paruh bayah itu.
Di dalam kamar Aline (Author POV)
"Ini anak gadis, tidur dari siang nggak bangun-bangun," oceh mbak Tini mengambil ancang-ancang membangunkan mangsanya.
"Bangun! Aline! bangun woi! Aline itu di bawah ada calon suami!" Mbak Tini merawat Aline sejak kecik jadi sudah terbiasa membangunkan Aline.
"Apa sih mbak Tini, masih ngantuk!" guman Aline mulai mengerjapkan mata.
"Ditunggu calon suami!" teriak mbak Tini lagi.
Alien mengucek matanya, "Oh calon suami," katanya lemas. Tunggu!
"WHAT!" Teriak Aline langsung membuka mata dan bangun dari posisi tidur.
"Calon suami di bawah! Raffa di bawah! Mbak Tini becanda nih!" Aline mencoba memastikan kebenaran ucapan Mbak Tini.
Aline langsung turun dari tempat tidur keluar kamar, ia melihat dari balkon rumahnya. Ya benar sekali! Calon suaminya memang ada di bawah bersama Mami tercinta. Dengan langkah cepat Aline masuk kembali ke dalam kamar.
"Mbak Tini, bilang sama mereka, princess mau mandi, dandan terus turun temui calon suami."
"Iya, iya sana cepat mandi!"
"Laksanakan," Aline menyambar handuk, entah mimpi apa Raffa datang ke rumah atas inisiatif sendiri. Meskipun masih kesal, namanya tamu harus di temui, apalagi calon suami. Eh ....
...----------------...
Saya masih duduk dengan sabar menunggu Aline yang katanya sedang mandi dan sebentar lagi akan turun. Tapi ini sudah hampir satu jam lebih dia belum juga turun. Kaki saya saja sudah mulai berkarat.
Saya juga sudah berganti mengobrol dengan Om Adrian.
"Raf, Pria alim seperti kamu ini tidak pernah melihat dua bukit kan, apalagi mendakinya? Makanya saya tidak ragu-ragu menyerahkan satu-satunya anak perawan saya sama kamu."
Bukit? Dua bukit? Bukti apa yang di maksud Calon papi mertua ini? Saya hanya pernah melihat bukit waktu TK.
"Ya Om, Saya nggak pernah lihat apapun kecuali bukit Teletubbies waktu saya Tk,"
Om Adrian tertawa kencang. "Sudah dipastikan kamu sama Aline juga sama-sama masih murni."
__ADS_1
Saya hanya tersenyum, saya pikir susu beruang madu saja yang murni. Ternyata saya juga dan Aline juga!
Om Adrian terus memberikan tips seputar keperkasaan. Mulai ukuran standar tuas transmisi dan standarisasi operasi yang di anjurkan. Sangat tidak berfaedah saudara-saudara!
Dia memberi saya intruksi setelah menikah nanti saya harus bisa buat Aline hamil kurun waktu paling lambat empat bulan. Karena sudah di pastikan calon istri saya itu sehat luar dalam.
Please Om, pikiran saya ini masih polos. Tapi saya cukup dewasa mengerti masalah hal itu tidak perlu di racuni. Kita saja belum nikah, masa sudah membahas masalah sensitif begini.
"Maaf lama ya," akhirnya orang yang tidak tunggu - tunggu datang. Aline menyelematkan saya dari obrolan mengilukan ini.
"Nggak kok Sayang, Raffa lagi asyik ngobrol sama Papi," jawab Om Adrian dengan santainya.
Saya kenapa terkesima dengan penampilan Aline, sore ini rambutnya terurai, memakai blues panjang warna hitam dan sepatu Kate. Saya jadi bisa melihat tungkainya yang jenjang karena dia tak memakai celana.
Astaghfirullahaladzim, Saya menunduk. Nanti setelah menikah, Aline tidak boleh lagi tampil seperti ini. Dia hanya boleh cantik hanya di depan saya. Suaminya! Lah ... Kenapa saya jasi antusias begini jadi suaminya.
"Raf, heh! Raf, kita mau kemana sih!" Aline mendekat duduk di hadapan saya.
Saya langsung terbangun dari lamunan mengagumi ciptaan Allah yang ada di hadapan saya. Saya harus cari alasan untuk Aline, kenapa saya mau memuin dia, Saya tidak mau Aline geer terus terbang di atas awan karena saya datang kerumahnya dan mengajaknya keluar rumah.
"Ya Lin, mama ngajak kamu makan malam di rumah kita," seru saya. Akhirnya menemukan alasan yang tepat.
"Lah, kok mendadak? Tadi Tante Riri nggak bilang apa-apa sama aku," jawab Aline curiga.
"Ya! Tapi bilangnya baru aja sama Saya!" jawab saya.
"Ayo! Kita pergi sekarang!" Aline bangkit dari kursi dan semangat mendengar akan bertemu Mama.
Saya berpamitan pada calon papi mertua yang sudah memberi saya kultum singkat tentang ilmu biologi.
"Jaga baik-baik Raf," ucap Om Adrian sambil menaikkan alisnya.
"Pergi dulu Om," saya bergegas masuk ke dalam mobil Lamborginigitu saya.
Saatnya memberi hukuman untuk Aline yang sudah meninggalkan calon suaminya dengan laki-laki lain.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ......