Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Ternyata


__ADS_3

Hampir 1 bulan sudah Retno dekat dengan Yohan.


Pria itu orang yang baik, lumayan ganteng di usianya dan juga sangat simpatik.


Itu yang membuat Retno jatuh hati. Memang pria itu bukanlah dari kalangan pengajar seperti dirinya dan bahkan memiliki dunia kerja yang berbeda.


Namun pria itu penuh perhatian kepadanya. Menurut cerita dari orang sekitar yang dia dengar bahwa pria itu sangat baik kepada siapapun.


Walau apabila belum kenal dekat sikapnya sok dingin dan terkesan angkuh.


Tapi menurut pendapat beberapa orang, pria itu mulai berubah saat mulai dekat dengan Retno.


Saat ini Retno bahagia, namun rasa ragu juga masih ada. Dia masih belum tahu apakah benar dia sudah mencintai pria itu, atau apakah pria itu juga punya rasa yang sama kepadanya.


Hanya bisa berdoa dan berharap di usia yang sudah tidak muda ini, ingin rasanya memiliki pasangan hidup yang bisa menjaga, memahami, mencintai dan menerima kekurangannya.


Sementara hal yang sama juga dirasakan oleh Yohan. Setelah 17 tahun dia sendiri, menutup diri dari wanita, kini dia merasa ada benih asmara tumbuh dihatinya.


Entah mengapa wanita yang menyewa tempat kostnya ternyata salah satu dosen yang mengajar di kampus anaknya.


Dan entah mengapa wanita itu bisa dekat dengan anaknya, dan entah mengapa pula dia bisa begitu senang bila dekat wanita itu.


Tapi Yohan merasa dia juga harus rasional, wanita itu berbeda. Dia berpendidikan tinggi sementara Yohan dari muda hanya paham berdagang.


Apakah mungkin seorang wanita dengan pendidikan tinggi dan mempunyai pekerjaan dengan posisi yang baik bisa mau mencintainya.


Sama dengan wanita itu, sesungguhnya dia juga ingin berumah tangga lagi. Ingin ada yang menemani malam-malamnya. Ingin ada yang bisa membasuh kegelisahan hatinya dengan kebahagiaan.


Hari sabtu siang tiba-tiba mbak Mayang istrinya Sanjaya sepupunya Retno menghubungi Retno.


Mengajak Retno makan malam di rumahnya. Dan tentu disambut hangat olehnya ajakan tersebut.


Selain sepupu, Sanjaya juga adalah ketua Yayasan di Universitas BR. Dan dia yang mengajak Retno bergabung di Universitas yang dikelolanya.


Sesungguhnya Sanjaya bukan sepupu langsung, tetapi dia adalah sepupunya kakak iparnya.


Kakak lelakinya Retno yaitu mas Ardianto mempunyai istri bernama Lulu dan dia adalah sepupu langsung dengan Sanjaya.


Namun karena kedekatan keluarga mereka, maka Sanjaya dan Mayang menganggap Retno seperti adik kandung sendiri.


Malam sudah hampir tiba, Retno tadi siang meminta Yohan menemaninya ke rumah Sanjaya.


Awalnya dia malu katanya, tapi Retno terus membujuk akhirnya Yohanpun mengalah.


Nancy tidak bisa ikut karena ada beberapa temannya akan datang ke rumah mereka.


Setelah sama-sama bersiap, maka merekapun pergi menuju rumah Sanjaya menggunakan mobilnya Retno.


Setibanya di rumah Sanjaya, ternyata Mayang terkejut saat melihat Yohan ikut datang.


Setahu Mayang kalau Yohan adalah hanya pemilik rumah kost yang Retno tempati.


Seraya menunjukkan rasa kurang senang, dia tetap menerima Retno dan Yohan.


Begitu juga Sanjaya ketika melihat Yohan timbul rasa curiga kepadanya. Sanjaya mencurigai kalau Yohan sedang berusaha memanfaatkan Retno.


Sambil berbincang di meja makan saat makan malam tampak Sanjaya dan Mayang menunjukkan sikap sinis terhadap Yohan.


"Kamu naik mobilmu sendiri kemari? Lain kali kalau mau kemari lagi aku akan suruh sopir jemput kamu yah No," kata Mayang dengan sedikit pedas.


"Ah tidak perlu mbak, sekarang sayakan ditemani mas Yohan," Retno berusaha mencairkan suasana.


"Yah tapi kamu orang baru di kota ini, tahu begini sih dulu kamu tinggal disini saja yah. Takutnya ada yang berusaha memanfaatkan dirimu," lanjut Mayang.


Memang dulu Mayang yang mencarikan tempat kost untuk Retno karena ternyata Retno tidak mau tinggal di rumahnya dengan alasan ingin merasakan jadi anak kost.


Dan dimatanya Yohan cuma orang biasa, jauh di banding dengan Retno.


Deg Yohan merasa ada yang tidak beres. Ada penolakan dari keluarga Retno dan ini yang dia takutkan.


"Neno itu sarjana S 3 loh Yohan, keluarga kami semuanya berpendidikan tinggi loh," Sanjaya juga berkata demikian.


Kembali Yohan merasa tertampar tapi dia tetap berusaha tenang.

__ADS_1


Saat makan malampun kembali Mayang dan Sanjaya menceritakan tentang anak mereka Ferry Sanjaya yang sedang studi di Malaysia.


Juga bercerita kalau anak keduanya Adela akan segera lulus SMA tahun depan. Dan menyebutkan nama sekolah ternama tempat anaknya belajar.


Dan rencananya Adela akan kuliah di Korea Selatan tahun depan.


Yohan dan Retno hanya diam mendengarkan, namun makanan yang disajikan sulit ditelannya.


Setelah makan, mbak Mayang menarik Retno ke kamarnya.


Sementara Yohan ditinggal di ruang tamu sendirian.


"No, jujur sama mbak, Kamu itu benar pacaran sama Yohan?" tanyanya langsung tanpa basa basi.


"Ya baru dekatlah mbak, belum pacaran juga sih," jawab Retno.


"Bagus, nih dengar yah. Mbak tidak setuju, yah dengar kan, mbak TIDAK SETUJU!".


Retno kaget mendengarnya, bukankah mbak Mayang juga kenal dengan Yohan pikirnya.


Saat galau dan bingung, Sanjaya masuk dan berkata,


"Retno, kamu itu sarjana S3, dosen senior, dan sekarang menjabat dekan fakultas matematika di Universitas BR, coba kamu pikir, masa kamu pacaran atau bahkan menikah dengan koko-koko China tukang toko dan kost-kost an".


"Kalau suka orang Tionghoa, aku banyak teman dosen, profesor, pengusaha bahkan pejabat yang etnis tionghoa".


Retno tambah terkesiap mendengar kalimat dari mulut Sanjaya, yang begitu tajamnya.


Tak terasa air matanya mulai mengalir, dia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Mayang dan Sanjaya.


"Mas.. Mbak...jujur aku juga belum bisa menentukan seperti apa hubunganku dengan mas Yohan, tapi sejauh ini aku dan mas Yohan merasakan kenyamanan," Retno mencoba memberi penjelasan kepada mereka.


"Aduh No, jelas aja nyaman lah, kemana-mana naik mobilmu, atau jangan-jangan kamu mulai dimintai uang buat modal atau itu ini," kembali Sanjaya melontarkan kalimat pedih.


"Maaf Mas dan Mbak, aku ini bukanlah gadis belia lagi, aku dikatakan sudah tua sekarang, aku cukup paham mana yang baik dan tidak untuk diriku. Jadi maaf alangkah tidak bijak bila mas dan mbak menilai Yohan seperti itu".


"Tolong mas dan mbak, hargai aku dan juga Yohan. Kami juga berhak menentukan yang terbaik untuk kami".


" Mas.. orang lagi kasmaran susah dinasehati, ya wes, terserahmu No, cuma yang pasti mas mu dan mbak TIDAK SETUJU dengan kalian".


Retno menggengam erat tangan Yohan, menunjukkan bahwa apapun yang terjadi dia tetap pada keputusannya.


Ternyata Sanjaya dan Mayang berubah, mereka sekarang sudah sukses diposisi yang tinggi tapi mereka lupa, sehingga dengan mudah merendahkan orang lain.


Yohan dan Retno melaju pulang dan sepanjang jalan tampak Retno diam tapi air matanya mengalir perlahan.


Sedih hatinya, dia merasa malu dan merasa sangat kecewa karena pihak keluarganya ternyata menolak hubungannya dengan Yohan.


Mereka tiba di rumah, dan kebetulan masih ada Lena dan Bram yang juga akan pamit pulang dari rumah Yohan.


Mereka melihat ada pemandangan bagaimana Papa dan ibu Retno turun bersama dari mobil.


Lena mencubit tangan Nancy, dia kesal karena sahabatnya tidak pernah cerita dan dia minta hari senin Nancy wajib memberikan klarifikasi.


Sementara Bram yang pasti dikenal oleh Bu Retno, malah menghampiri dan menyapanya dosennya.


Papa terlihat mengantarkan ibu Retno sampai depan kamarnya dan terlihat berbincang sebentar, lalu membalik ke arah kami saat bu Retno menutup pintu.


Tentu pemandangan yang luar biasa baik bagi Nancy dan juga kedua temannya.


Papa tersenyum kepada kami saat hendak naik ke dalam rumah, lalu Lena dan Bram juga pamit sambil sebelumnya kembali Lena mencubit Nancy sambil kembali mengancam soal klarifikasi senin nanti.


Dan Nancy hanya mengiyakan saja agar lepas dari cubitan mautnya.


Nancy naik ke atas setelah mengunci pintu, dan melihat papanya duduk di sofa dengan tatapan kosong dan terlihat belum ganti pakaian.


Lalu aku duduk di sebelahnya sambil bertanya," Ada apa sih pa?".


Lalu papa menanyakan apakah dia tahu pak Sanjaya, dan tentu saja Nancy tahu karena beliau adalah ketua Yayasan Universitasnya.


Lantas papa memberitahu bahwa ternyata pak Sanjaya adalah saudara sepupunya ibu Retno, dan itu cukup membuat Nancy terkejut saat diberitahu papanya.


Tapi entah mengapa papa tampak sedih, lalu papa memandang Nancy menarik memeluknya sambil seraya berkata," Nanan sayang anak papa, tetap semangat yah belajar, kejar cita-citamu nak, papa akan dukung kamu terus, jangan sampai kamu dihina orang yah nak. Papa pasti sedih kalau kamu sampai dihina orang, jadilah kebanggaan mamamu dan papa yah nak".

__ADS_1


Lama papa memeluknya, dan diapun jadi ikut menangis.


Walau tak paham apa yang sesungguhnya terjadi tapi dari cara bicara papa tersirat ada penolakan dari keluarga ibu Retno.


Sambil bercucuran air mata, dia mencium pipi papanya dan berkata,


" Nanan janji akan terus berusaha mengejar impian untuk membanggakan papa dan almarhum mama".


Keesokan pagi seperti biasa adalah hari beribadah, Papa tampak memanaskan motor.


Nancy tidak berani banyak bertanya, yang pasti pagi itu kembali seperti kami belum kenal bu Retno, kami naik motor ke tempat ibadah.


Dan pagi itu, memang kamar ibu Retno masih tertutup rapat.


Pulang ibadah kami jajan mie ayam, dan pulangnya papa membeli 1 bungkus pasti buat ibu Retno.


Dan benar sampai di rumah Nancy disuruhnya mengantarkan bungkusan makanan itu.


Nancy mengetuk pintu kamar Ibu Retno, tak lama pintu terbuka dan terlihat kedua matanya sembab, seperti habis menangis semalaman.


Nancypun tidak berani bertanya, hanya menyerahkan bungkusan mie dan segera pamit. Lalu pintu kamarpun ditutup kembali.


Sekitar jam 4 sore saat Nancy sedang santai membaca instagram sambil mendengarkan musik, tiba-tiba Papa naik dan mengajaknya fitness.


Nancy sih mau saja, sudah lama papa dan dirinya tidak fitness sudah sekitar satu bulanan sejak mengenal ibu Retno.


Waduh Ibu Retno lagi...ibu Retno lagi selalu tersebut namanya, memang benar ada istilah "wanita mampu mengubah dunia" terbukti.


* By the way emang ada yah istilah begitu (author)


Lalu Nancy dan papa pun tancap gas ke tempat klub fitness yang memang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


Kami disini sudah lama menjadi anggota, bukan untuk membentuk badan menjadi kekar atau bagaimana tapi untuk kesehatan saja.


Nancy melihat papanya tampak semangat dengan mempergunakan berbagai alat fitness disana, dari yang berlari di tempat, atau yang mengangkat beban dan menarik beban.


Melihat itu Nancy malah khawatir, lalu memperingatkan jangan sampai terlalu capek takut nanti malah sakit.


Sekitar sejam kami olah tubuh, lalu istirahat sebentar dan pulang.


Karena tempat fitnessnya bukan Gym sport yang mahal tapi hanya tempat biasa saja sehingga tidak ada fasilitas mandi.


Jadi mandinya yah di rumah saja, dan memang anggota klub fitnessnya pun hanya masyarakat sekitar kami yang sudah saling kenal.


Tak lama kamipun pulang, dan ketika kami baru saja sampai di atas rumah, tiba-tiba pintu belakang diketuk sambil dibuka dan ternyata ibu Retno.


Lalu Nancypun mempersilahkan ke atas.


Sampai di atas,ibu Retno langsung menghampiri papa dan tanpa basa-basi langsung berkata," Mas Yohan aku mau tanya dan tolong jawab hanya, ya atau tidak".


Papa mendengarkan, lalu mencerna sebentar kemudian mengangguk.


Lalu ibu Retno melanjutkan pertanyaan,


" Mas dengar yah, kalau misal aku berani maju terus apakah mas juga akan berani maju?".


Papa terdiam tampak mencerna maksud pertanyaan bu Retno, Nancy yang melihat juga hanya diam tak berani bicara apapun.


"Jawab mas, berani atau tidak untuk maju terus walau banyak rintangan?".


Papa memandangnya dalam-dalam, lalu papa menarik kedua tangan ibu Retno dalam genggamannya dan berkata, " Aku berani".


Ibu Retno juga memandangnya dan bertanya lagi," Sungguh?".


Papa menatapnya tajam dan dengan yakin berkata, " Sungguh aku berani".


Dan mereka pun saling menggenggam dan menatap, lalu papa memeluknya.


Dan Nancy yang melihatnya langsung tertawa, "Hahahah...Papa belum mandi bu abis fitness bau...hahahah!".


Dan ibu Retno juga mulai menyadari, lalu berkata," iya mas kamu bau".


Tapi ibu Retno tidak mengendurkan pelukannya.

__ADS_1


"Hahahaha," Nancy terus tertawa terbahak-bahak.


Astaga sungguh seperti nonton drakor alias drama korea, mereka tuh sudah tua tapi ternyata jatuh cinta membuat segalanya menjadi seperti remaja lagi...kebangetan...!!!!!


__ADS_2