
Keesokan harinya, Abel dan Davin berencana akan berpamit dari rumah Ervan. Davin tidak ingin malam ini menghabiskan malam di rumah mertuanya. Davin mencari alasan agar ia bisa segera pulang ke rumahnya terhindar dari mertua dan adik-adiknya yang usil.
Tulang punggung Davin seperti mau patah tidur di sofa semalaman. Ia juga belum bisa menuntaskan hasratnya karena adiknya masih juga belum pindah dari kamarnya usai sholat subuh. Abel melakukan tugasnya seperti biasa, keduanya sarapan bersama sebelum memulai aktifitas masing-masing. Menu nasi goreng buatan Mama Riri yang jadi andalan pagi ini.
Ervan yang kebetulan masuk kerja siang ikut mengantar anak dan menantunya di teras rumah.
“Kakak sering-sering nginep di sini ya,” ujar Mama Riri.
“Ya, Ma,” jawab Abel.
“Jangan kapok nginep disini Vin,” ujar Papa Ervan.
Davin memaksa senyum bahagia. “Pasti Pa, happy kok,” balasnya. Kali ini ia merasa perlu berbohong demi kebaikan.
“Kakak Ray, mau adik ya…,” oceh Raydan.
“Ya, adik Kakak yang pinter. Mama juga masih bisa loh buat Adek,” ujar Abel menyindir Riri.
“Ih Kakak, cukup tiga Mama nunggu adek Kakak aja, mama udah siap dipanggil nenek,” ucap Riri yang membuat semua orang tertawa.
Lambaian tangan mengantar keduanya setelah masuk mobil jemputanya. Abel akan menjalani aktifitas seperti biasa. Menyelesaikan sisa waktu magang. Sedangkan Davin pergi ke kantor Adiguna group.
“Beneran seneng nginep tempat Papa.” Abel mengoda sambil bergelayut di lengan suaminya.
“Pokoknya nanti malam Abang mau double Sayang,” balas Davin. Abel spontan mencubit lengan suaminya.
Yang ditanya apa dijawab apa, suamiku ini memang mesum, baru juga libur sehari.
“Ih… malu ah,” seru Abel menunjuk Amar yang berada di kursi kemudi.
“Dia nggak dengar Sayang, catet ya nanti malam!” balas Davin.
Mobil kini sudah tiba di depan kantor magang Abel. Abel melambaikan tangan kepada suaminya yang masih membuka jendela mobil. Perlahan mobil memjauh dan Abel siap menjalani aktifitas hari ini dan menebalkan lagi pendengarannya, siapa tahu ada yang sibuk dengan kehidupan masa lalu suaminya.
********
Malam tiba, keluarga Adiguna sudah berkumpul untuk makan malam. Makan malam pun dimulai meskipun satu anggota keluarganya belum pulang. Davin pulang telat karena ada rapat yang tidak bisa di tinggalkan. Sebenarnya Abel ingin menunggu suaminya pulang dan makan bersama. Tapi suaminya yang menyuruh makan terlebih dahulu jangan sampai telat makan. Ini sangat kebetulan karena Abel paling tidak bisa menahan lapar, kecuali ketika sedang berpuasa. Kadang Abel berpikir apakah dia cacingan, porsi makannya banyak tapi tetap saja dia tak bisa gemuk.
Terlihat aneh memang, makan malam bersama keluarga mertuanya tanpa suaminya. Abel harus bisa membiasakan diri sekarang.
“Abel, kapan Davin pulang?” tanya Bu Mitha membuka pembicaraan.
“Sekitar dua atau tiga jam lagi Ma,” balas Abel.
“Abel, sebenarnya Papa ingin bicara sesuatu sama kamu,” ujar Pak hendrawan.
“Tentang apa Pa, Abel siap di ajak bicara kapanpun,” balas Abel.
“Tentang perusahaan kamu yang sekarang dikelola Miranda, nak,” jawab Pak Hendrawan.
“Pa, bisa nggak sih nggak usah Bahas bisnis disini. Kita makan saja dulu dan tunggu suaminya pulang,” sela Nolan sebelum Abel berbicara.
__ADS_1
“Ya Pa, Nolan bener,” tukas Bu Mitha.
Semuanya pun kembali tenang menikmati sajian di piring masing-masing.
Setelah acara makan malam selesai Abel kembali ke kamar menunggu kepulangan suaminya. Dia merias diri lagi seperti kemarin lengkap dengan gaun tidur merahnya. Mengikuti perintah suaminya yang tak berhenti mengirim pesan.
Seperti terdengar suara mobil yang berhenti, Abel langsung berlari mengamati dari balkon suaminya yang baru keluar dari mobil. Ia terpaksa tidak menyambut suaminya pulang karena penampilannya yang aneh. Abel langsung stay di depan pintu kamarnya.
Handle pintu terbuka, Abel menyambut suaminya seperti biasa. Bedanya ini di dalam kamar.
“Assalamualaikum,” ucap Davin.
“Waalaikumsalam,” balas Abel sambil meraih punggung tangan suaminya. “Bang Davin mandi atau makan dulu,” sambung Abel lagi.
“Abang mau makan sesuatu yang indah dulu,” ucap Davin memegangi dagu Abel.
Davin langsung membuka jasnya membuangnya sembarangan melihat tampilan mengoda istrinya seperti keinginannya. Ia menyadarkan tubuh istrinya di tembok menatapnya lekat.
“Kamu selalu sangat cantik di mata Abang sayang,” ucap Davin. Abel hanya tersemyum malu dan memegangi pipi suaminya.
Davin langsung saja mencium bibir istrinya dengan panas melepaskan keinginannya yang tertunda semalam. Tangan Abel dengan reflex membuka kancing kemeja suaminya satu persatu hingga mulai terlihat dada bidang suaminya dengan bibirnya yang masih menempel.
Davin mengendong tubuh istrinya menuju ranjang setelah puas dengan permainan bibir yang panas. Davin membaring tubuh istrinya yang seolah tidak sabar mengikuti permainan selanjutnya. Malam ini milik mereka berdua, keduanya melakukan penyatuan cinta halal dengan penuh kehangatan dan dekapan cinta. Saling meneguk kenikmatan dengan sempurna melepaskan hasrat yang sempat tertunda.
“Abel capek Bang,” seru Abel masih mengatur nafasnya yang tersenggal usai pergulatannya.
“Abang juga, Abang mau mandi terus kita lanjut season kedua,” balas Davin yang menatapi istriya.
“Jangan, Mie instan nggak baik untuk kesahatan, suruh pelayan masakan yang lain.”
“Abel pengen Bang, sekali ini saja.” Abel bangkit dari tidurnya menyatukan tangan memelas.
“Ya udah sekali ini saja ya,” balas Davin.
“Abel masak sendiri saja Bang, kasian pelayan. Lagipula Abel pingin mie ala Abel. Bang Davin mau?” tanya Abel.
“Ya udah. Untuk kali ini saja terserah kamu Sayang,” balas Davin pasrah.
Abel memakai piyama tidur dan hijab langsung pakai. Lantai bawah telihat sepi. Hanya ada dua pelayanan yang membersihkan rumah di waktu malam begini. Abel bergegas menuju dapur. Menanyakan mana mie instan kepada pelayan.
Abel masuk dapur keluarga Adiguna yang begitu luas dan besar. Abel mulai mengumpulkan bahan dari kulkas. Kepala pelayan sempat melarang Abel untuk memasak, tapi Abel bersikukuh tetap ingim memasak sendiri.
Di sisi yang lain Nolan membawa bungkusan dan menuju dapur, betapa terkejut ia melihat ada yang lain di dapur malam ini.
"Abel! Bang Davin mengizinkanmu ke dapur." seru Nolan.
"Hai No, kebetulan sekali. Kamu belum tidur, kamu mau apa ke dapur." Abel baru menyadari keberadaan Nolan.
Nolan memperlihatkan bungkusan mie instan pedas pada Abel.
"Ya ampun No. Kita selalu punya selera yang sama. Sini, biar aku yang masak sekalian, kebetulan aku juga ingin sekali makan mie ini." Abel langsung menyambar bungkusan mie instan dari tangan Nolan.
__ADS_1
"Abel tidak perlu, Bang Davin pasti nunggu kamu, biar aku masak sendiri."
"No, berapa lama sih hanya masak Mie aja. tunggulah sebentar," jawab Abel mulai memotong beberapa sayuran dan isian mie-nya.
Kali ini Nolan mengalah karena Abel yang memaksa. Ia berusaha tak memperhatikan Abel, tapi matanya tak bisa berpaling sama sekali. Sungguh suasana penuh godaan setan. Untung masih ada beberapa pelayanan yang membersihkan rumah. Nolan masih saja berdebar berdua dengan Kakak iparnya begini.
"No, kamu sadar nggak sih, kita punya hobi yang sama dan makanan kesukaan yang sama." celetuk Abel.
"Tapi kita tak bisa bersama." Nolan membalas dengan keadaan tidak sadar.
Abel langsung mendongakkan wajah ke arah Nolan. "Kau tadi bilang apa No."
"Tidak, aku hanya bilang, kita memang punya hobi yang sama!" balas Nolan gugup tersadar dari lamunannya.
Abel kembali memotong sosis untuk mienya, tapi dia mengingatkan kembali ucapan Nolan. Ia sangat sadar pendengarannya masih normal. Tapi sudahlah mungkin hanya dia yang salah dengar.
"Auhhhhh...," pekik Abel melihat darah segar keluar dari jari telunjuknya.
"Abel!" Nolan sangat panik dan meraih tangan Abel. Ia mengusap dengan tisu tapi darahnya masih juga belum keluar.
"Cepat! Ambil P3k!" perintah Nolan pada pelayan yang lewat.
"Kau ini masih saja ceroboh, darahnya tidak berhenti pasti teriris sangat dalam!" Nolan masih panik terus mengusap tangan Abel dengan tisu.
"No, jariku hanya teriris tidak apa-apa." Kata Abel berpura baik menahan sakit.
"Darahnya tidak mau berhenti." Kali ini Nolan mengi-sap jari telunjuk Abel karena darah tak kunjung berhenti. ia membuang darahnya setelah disesap, ia melakukannya berkali-kali.
Abel hanya pasrah melihat apa yang dilakukan Nolan, karena tangannya sakit.
"NO! apa yang kau lakukan pada kakakmu!" Rahang Davin mengeras melihat sesuatu di depan matanya. Adiknya terlihat begitu memaksa mencium tangan istrinya sedangkan Abel terlihat meringis ketakutan melihat apa yang dilakukan adiknya.
Nolan dan Abel menoleh ke sumber suara keras yang menyebutkan nama keduanya.
.
.
.
.
.
.
.
Next.....
Thor : Sori baru Up, othor lagi tumbang 😷🤒🤧
__ADS_1
Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati kalian yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. Loph U ❤️ selalu