
Matahari mulai sedikit menunjukkan terangnya memasuki celah-celah jendela rumah samar-samar, karena masih memiliki waktu cuti usai sholat subuh Riri menata barangnya yang tersisa dikoper. Menata rapi bersanding dengan barang-barang milik suaminya. Selesai menata benda pribadinya, dia membantu Bi Mina didapur untuk memasak. Sedangkan anaknya Abel bersiap untuk pergi ke sekolah.
Ervan sudah nampak dibalik pintu utama dan melihat Riri yang berada didapur langsung menuju ke dapur yang memang dekat dengan ruang tengah. Riri tersenyum melihat kedatangan suaminya yang baru pulang dari masjid.
"Mas kok lama pulangnya, tadi ada kajian ustadz?" tanya Riri pada suaminya yang sekarang mendekatinya.
"Tadi ngobrol sama pak Ahmad sayang, besok sayang baru ada kajian, besok ikut ya sholat subuh di masjid." Balas Ervan yang tidak tahan kalau tidak memeluk istrinya dari belakang.
Riri mengangguk. "Mas jangan begini nanti ada Bi Mina sama Abel." Riri yang meronta karena pelukan suaminya membuat dirinya susah akan memotong sesuatu.
"Bu Mina mana, kok kamu yang masak sayang." kata Ervan mencium bahu istrinya.
"Bi Mina lagi dikamar mandi, ini juga sudah mau selesai, mas lepas dulu Riri susah gerak." Riri masih meronta dengan tindakan suaminya.
Ervan tidak bergeming masih mempererat pelukannya. "Pengen makan yang lain sayang, tuntaskan yang kemaren malam." Balas Ervan tangannya mulai meraba tubuh istrinya.
"Mas mulai kan, nggak liat Riri pegang apa." Riri menunjuk pisaunya yang memotong timun. Ervan terkejut mengelus dadanya.
"Ehem ehem pengantin baru, masih pagi mas." Sahut Bi Mina mengoda yang tiba-tiba muncul.
Dengan cepat Ervan melepaskan tangannya dari tubuh mungil istrinya. Begitu pula Riri yang menutupi wajahnya dengan kerudung merasa malu ketahuan bermesraan didepan Bi Mina.
Riri menyajikan makanan yang dimeja makan dan menunggu Abel turun ke lantai bawah untuk sarapan, pak Amin sudah menunggu dihalaman rumah untuk mengantar Abel kesekolah.
Mereka berempat menikmati sarapan pagi ayam teriyaki buatan Riri dengan sayur Sop dan beberapa makanan yang lain buatan bi mina.
"Masakan mama enak" Kata Abel sambil memasukan sendok ke mulut nya.
"Makasih cantik." balas Riri.
Setelah menghabiskan sarapan, Abel bangkit dan mendekati Riri.
Mencium pucuk tangan ibu sambungnya."Uang saku ma." Ujar Abel.
"Sebentar cantik, mama ambil ke atas dulu." Riri bangkit tapi Ervan mencegahnya, menyuruh Riri untuk duduk kembali.
"Nih sayang." Ervan menyerahkan empat lembar uang seratus ribu yang diambil dari dompetnya.
__ADS_1
Riri melongo melihat uang saku anak sekolah seusia Abel mencapai empat ratus ribu tadinya dia ingin mengambil pecahan dua puluh ribu. Itu bahkan seperempat dari gajinya mengajar disekolah. Abel pamit dan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah.
"Mas uang saku Abel setiap hari empat ratus ribu?." Tanya Riri pada Ervan masih menikam sarapannya.
"Kadang lebih sayang, kadang kurang paling sedikit ya tiga ratus ribu." Balas Ervan lagi.
Ya Allah Jiwa miskinku meronta, maka nya abel selalu traktir teman-temannya disekolah, tapi kenapa mas Ervan tidak menanam pada Abel sikap mandiri seperti dirinya, ini Tidak bisa terus berkelanjutan. Abel nggak boleh jadi anak yang boros dan mengandalkan orang tua, aku harus rubah pola pikirnya jadi anak yang mandiri dan berakhlakul Karimah yang jauh dari sikap sombong dan boros. Riri
"Sayang kenapa." Ucap Ervan melihat istrinya yang diam mematung.
"Nggak apa-apa mas." Sahut Riri.
Mas Ervan nggak boleh tahu nanti dia malah mikir macem-macem sama aku, mungkin begini cara mas Ervan Menunjukkan kasih sayangnya pada Abel dengan memanjakan Abel, tapi aku akan rubah itu pelan-pelan mas. Riri
Riri membantu bi Mina membereskan piring yang ada dimeja makan. Tangan suaminya menghalanginya kembali ke dapur.
"Ayo ke atas." Ervan menarik tangan istrinya mengiringnya keatas menuju ke kamar. Riri mengerti maksud suaminya dan mengikuti langkahnya menaiki tangga.
********
Riri yang bangun terlebih dahulu membiarkan suaminya yang masih tertidur pulas dibalik selimut setelah menuntaskan aktivitasnya diatas ranjang. Riri berjalan mengendap-endap agar tidak membangunkan suaminya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Mas udah bangun." jawab Riri menoleh ke arah suaminya.
"Kenapa nggak bangunin mas sayang, kan bisa mandi bareng." jawab Ervan lagi.
"Mas udah deh, mulai kan pikiran mesumnya." Riri mendatangi suaminya dan memukul kakinya dengan guling.
"Oh ya mas, sekarang kan Riri istrinya mas, mas masih ijinkan Riri nggak tetep ngajar disekolah, memang sih gaji Riri nggak banyak tapi Riri senang ketika ngajar dan ketemu anak-anak." kata Riri yang sudah duduk bersimpuh samping suaminya.
"Sayang, sebenarnya mas tuh pengen istri mas nggak usah kerja cukup mas aja yang cari nafkah, kamu dirumah aja urus rumah sama anak-anak dan nyambut mas kalau pulang kerja." Jawab Ervan sambil membelai rambut Riri yang belum terlalu kering.
"Tapi..." tangan suaminya meraih tengkuk lehernya, bibir suaminya langsung mengecup bibirnya sebelum Riri membantah.
Ervan memberi jarak. "Sayang lagian kamu juga masih kuliah kan sebentar lagi skripsi, mas mau kamu fokus ke kuliah kamu dulu biar kamu nggak banyak beban sayang, setelah itu nanti kita pikirkan lagi kedepannya." Balas Ervan lagi.
"Ya mas Riri mau jadi istri solehah harus taat dan mendengarkan perkataan suami," Kata Riri menampakan wajah manis memuji dirinya.
__ADS_1
"Besok mas ijinin Riri kesekolah untuk pamitan dan cari pengganti riri." lanjut Riri pasrah mendengar ucapan suaminya
Ervan menganguk. "Makasih ya sayang, istriku ini manis dan penurut banget." lagi-lagi menghujani beberapa kecupan singkat ke bibir istrinya karena selalu gemas Melihat istrinya.
Riri meronta sebelum suaminya melakukan hal yang lebih lagi, dia meminta ijin turun menuju dapur menyiapkan makan siang.
"Maaf Bi, Riri nggak bantu masak." Kata Riri pada Bi Mina.
"Bibi ngerti mbak, udah siap mbak, tinggal disusun aja." ujar Bi Mina.
Riri menyusun makanan diatas meja makan. Sebenarnya Riri sudah merasa sangat lapar Perut sudah mulai keroncong karena aktivitas nya tadi, apalagi melihat makanan yang nampak lezat tapi dia harus sabar sejenak menunggu suaminya turun dari kamar.
Tak lama berselang usai merapikan meja makan, suara bel pintu utama berbunyi, Riri bergegas bangkit dari kursi menuju pintu utama untuk membuka pintu, betapa terkejutnya Riri tamunya siang ini yang langsung membuyarkan senyumnya. Orang yang sangat dikenalnya dan tak ingin ditemuinya untuk saat ini.
"Ervan ada?" Kata seorang wanita dengan gaya kakunya menaikan kacamatanya dari balik pintu yang membuyarkan sejenak tatapan hampa Riri.
"A..da, silahkan masuklah dulu." Riri berkata terbata dan mencoba menarik senyumnya.
keduanya berada diruang tamu, Riri berbalik dan akan memanggil suaminya.
"Tunggu Riri." Kata wanita berambut sebahu memakai blouse berwarna tosca dan celana cream.
"Ini buat kalian, maaf aku nggak bisa datang ke hari bahagia kalian, aku baru datang dari ibukota." Tiara menyerahkan goodie bag kepada Riri.
"Terimakasih Bu Tiara, seharusnya anda tidak perlu repot." Balas Riri menerima goodie bag dari Tiara.
"Tidak masalah, bilang pada Ervan ada masalah pekerjaan yang ingin aku bicarakan. Aku tahu hari ini dia belum berkerja maka nya aku mampir kesini." sambungnya lagi.
Riri menganguk tersenyum berbalik melangkah memanggil suaminya.
Tiara tersenyum melihat Riri pergi, mengingat semua kejadian dulu dirumah yang dia duduki sekarang. Dia sadar semuanya berubah dengan sangat cepat bahkan untuk bertemu Ervan dia harus menunggu.
Tenang Riri tenang mereka hanya mantan dan Bu Tiara melakukan tugasnya sebagai atasan suamimu mereka profesional. Apalagi Bu Tiara sudah membantu suamimu menyelesaikan masalah besar. Riri
Riri menenangkan dirinya terus menaiki tangga, perutnya yang tadinya terasa lapar langsung mendadak kenyang sebelum memakan sesuatu.
Next......
__ADS_1
Terimah kasih pembaca jangan lupa tinggalkan jejak like koment VOTE VOTE VOTE bikin semangat author. tambah lagi kasih bintang lima ya buat author.(maaf author banyak maunya)🙏🙏🙏🙏🙏