
Riri masuk kedalam rumah dengan penuh tanda tanya dipikiranya usai mengantar suaminya yang akan bekerja. Nampak Miranda yang juga sudah rapi dengan kemeja pendek warna kuning serta celana jeans hitam lengkap dengan tas merk ternama.
Mau kemana nih manusia pagi-pagi, Miranda memang cantik tapi tenang Ri, Mas Ervan nggak akan terpengaruh. Umpat Riri Kesal.
"Ri, aku pergi dulu, aku harus temui pengacara aku untuk nanti siang..." Kata Miranda membangun lamunan Riri.
"Ya Kak, hati-hati..." Jawab Riri singkat. Langsung ingin buru-buru ke atas mendadak dia malas berlama-lama mengobrol dengan Miranda.
"Oh ya Ri," Sapa Miranda lagi membuat langakah Riri terhenti ketika menaiki tangga dan berbalik menoleh ke arah Miranda. "Apa kau tahu, kenapa aku ke Kota ini..." Sambung Miranda lagi.
"Mas Ervan hanya bilang kalau Kakak ada urusan untuk perusahaan dan dia juga bilang aku akan tahu sendiri nanti..." Jawab Riri.
"Jadi Kau tidak tahu tentang dua puluh persen itu...."
Riri tidak mengerti dan hanya menggelengkan kepalanya.
Jadi wanita ini tidak tahu, aku bisa saja merayu dan membujuk Ervan dengan memasang wajah melas. Tapi bagaimana dengan Istrinya, apa wanita ini akan setuju, kenapa Ervan harus melibatkan dia. Miranda
"Sebenarnya ada masalah apa Kak bisa kah kau cerita padaku..." Tanya Riri yang mendadak penasaran.
"Ini masalah warisan kakakku, maaf aku tidak bisa cerita sekarang karena aku buru-buru taksi ku sepertinya sudah datang, nanti kau juga akan tahu..." Kata Miranda mendengar bunyi klakson mobil dari luar.
Riri pun mengiyakan dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya masih dengan rasa penasaran dan nanti akan mempertanyakan pada suaminya lagi tentang masalah ini tapi yang terpenting lagi, dia tidak sabar menanyakan pada suaminya, kapan Miranda akan pergi dari rumah.
*****
Riri menatap jam dinding di kamarnya untuk ke sekian kalinya sambil memoles wajahnya dengan sedikit riasan tipis, waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA. Sebentar lagi suaminya akan pulang menjemputnya. Seharian tadi Riri merasa jenuh dan penuh penasaran. Riri masih berdiam didepan kaca sambil berdiri, dia melihat bayangan dirinya yang mulai membesar dengan perut semakin membuncit, itu lah alasan yang membuat dirinya akhir-akhir ini malas melakukan apapun.
Tapi yang lebih sering dipikirannya sekarang, kapan didalam rumahnya hanya ada dirinya wanita cantik dihadapan suaminya meskipun dari segi fisik dia sangat kalah jauh dengan Miranda mengingat dirinya yang bertambah sintal karena kehamilannya.
Suara mesin mobil dari bawah terdengar dari kamarnya, Riri langsung keluar kamar menuruni tangga. Berpapasan dengan suaminya yang membuka pintu utama.
"Assalamu'alaikum sayang...." Sapa Ervan melihat istrinya.
"Wa'alaikumusalam Mas..." jawab Riri mencium punggung tangan suaminya.
"Udah siap.." Ujar Ervan. Riri menganguk tersenyum senang.
Ervan membungkuk. "Anak Papa sehat ya jagoan..." Katanya yang sekarang senang menciumi perut buncit Riri.
"Mas udah ah, ayo pergi..." Seru Riri.
"Ya Nyonya ayo..." Balas Ervan merangkul pundak Riri mengajak melangkah.
Ervan dan Riri kini berada didalam mobil bergegas menuju ke PT. Wijaya Palm Hills perusahaan milik keluarga Wijaya.
Diperjalanan Riri tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Mas, sebenarnya kenapa sih, Riri ikut ke kantor Mas Ervin." Tanya Riri.
"Mau tahu banget ya sayang, cium dulu..." Goda Ervan.
__ADS_1
"Mas ah..." Guman Riri menggoyangkan tangan kiri suaminya.
Suaminya tidak bergeming, terpaksa Riri mencium pipi kiri suaminya yang berada di kursi kemudi.
"Ya-ya, jadi perusahaan Papa yang dikelola sama Mas Ervin sebenarnya bukan milik Papa seutuhnya, enam puluh persen kepemilikan itu punya Papa sedangkan empat puluh persen punya orang tua Amanda..."
"Jadi Wijaya Palm Hills bukan milik Papa seutuhnya..." Tanya Riri semakin penasaran.
"Setelah ayah Amanda meninggal, kepemilikan diserahkan ke anaknya Amanda, perusahaan mengalami kemajuan pesat seperti sekarang setelah kolabarasi Mas Ervin dan Amanda mengambil alih perusahaan Papa, wilayah perusahaan semakin luas mereka bisa membuka banyak lahan di pulau ini...." cerita Ervan.
Riri dengan serius mendengarkan cerita suaminya. "Terus sekarang gimana..."
"Setelah Amanda meninggal karena kecelakaan, sesuai dengan perjanjian waris pengacara keluarga Amanda, dua puluh persen kepemilikan diserahkan kepada Miranda sebagai keluarga dan dua pulau Persen kepemilikan diserahkan pada Abel sebagai ahli waris Ananda. Miranda sudah mencabut dua puluh persen ke pemilikan dari Wijaya Palm hills untuk membuka perusahaan baru dan pembukaan lahan di Kota T, sedangkan kepimilikan Abel masih bergabung dengan perusahaan dan di kelola Mas Ervin, seluruh aset, royalti akan diserahkan ketika dia berumur delapan belas tahun..."
"Jadi Abel pemilik dua puluh persen perusahaan Papa..." Tanya Riri heran
"Kalau sekarang sepertinya lebih sayang..."
"Dan sekarang perusahaan Miranda bangkrut seluruh finansial perusahaan dia gunakan untuk membayar pesangon karyawan yang sudah di PHK.." lanjut Ervan
Ketika akan menyelesaikan ceritanya mobil Ervan sudah memasuki kawasan PT. Wijaya Palm Hills. Hingga Ervan menunda untuk bercerita.
Usia mamarkirkan mobilnya Ervan mengandeng Riri menuju lobby perusahaan. Memasuki lobby perkantoran yang disambut sekuriti yang memeriksa pengunjung yang datang dengan pendeteksi metal detektor. Riri mengingat lagi kejadian lima tahun silam saat terakhir kali menginjakkan kaki di kantor tempat Bapaknya bekerja dulu. Bapaknya selalu mengajak Riri ke acara buka puasa bersama karyawan dan anak yatim yang di adakan keluarga pemilik perusahaan Wijaya. Riri tersenyum sendiri karena selalu semangat bila medatangi acara tersebut mengingat keluarga Wijaya selalu memberi kepada siapapun anak yang hadir amplop berisi dua ratus ribu. Sekarang posisi Riri berbeda, dia bukan hanya anak SMA seperti dulu yang mengharapkan amplop dari pemilik perusahaan tapi dia sebagai menantu yang mendapat banyak kasih sayang dari mertuanya. Hal yang tidak pernah Riri sangka.
"Kenapa ketawa sendiri..." Kata Ervan melihat bayangan Riri yang tertawa sendiri ketika berada didalam lift.
"Riri Inget lima tahun lalu, waktu acara buka bersama pasti Riri minta ikut bapak, nunggu amplop dari papa Mas..." Jawab Riri.
pintu lift terbuka, keduanya melangkah keluar.
"Kamu pernah ikut acara bukber diperusahaan sayang, kok Mas nggak pernah lihat..."
"Mas kan nggak mungkin perhatikan anak SMA kayak Riri, Mas mungkin perhatikan karyawan Papa yang cantik-cantik...
"Kamu kok bener sih sayang..."
Riri langsung refleks mencubit perut suaminya dengan wajah cemberut.
"Sakit sayang, Mas cuma becanda, bisa biru-biru sayang badan Mas..." Keluh Ervan sambil melangkah.
Riri dan Ervan kini sudah berada didepan ruangan presiden direktur yang luas dan elagan bergaya minimalis.
"Adik-adik ku..." Sapa Ervin pada Ervan dan Riri yang masuk keruangannya.
Ervan menjabat tangan Ervin begitu pula halnya dengan Riri. Ervin mempersilakan keduanya duduk di sofa hitam dalam ruangan.
"Ri, terakhir lihat kamu nggak sebesar ini, subur kamu ya dipupuk Ervan tiap hari." seru Ervin pada Riri.
"Mas Ervin bisa aja, Riri hamil Mas makanya badannya membesar kemana-mana..." Balas Riri.
"Mas bercanda Ri, jaga ya keponakan Mas baik-baik..." Seru Ervin lagi.
__ADS_1
"Mas jadi gimana masalah Miranda..." Sela Ervan melihat Ervin dan Riri yang asik bercanda.
"Astaga hampir lupa, jadi begini Ri, Miranda ingin mengambil alih dua puluh persen hak Abel untuk membangun kembali perusahaannya yang bangkrut karena Miranda merasa punya hak yang sama seperti Mas untuk mengelola Hak Abel..."
"Awalnya Mas binggung, karena selama ini Mas sudah mengembangkan dan menjaga hak abel dengan baik, jadi mas kuatir jika ditangan Miranda semua akan berbeda karena Mas merasa punya tanggung jawab..."
Terang Ervin lagi.
"Tapi kita tidak bisa pungkiri Miranda adik Amanda jadi wajar dia berpikir juga punya hak yang sama untuk itu seperti halnya Mas, sekarang tergantung pada kalian berdua mau atau tidak meminjamkan hak Abel pada Miranda yang membutuhkan bantuan kita..." Sambung Ervin lagi.
Riri jadi binggung kalau dari sisi kemanusiaan memang selayaknya Miranda harus dibantu, tapi disisi lain apa hanya itu maksud dia.
"Soal penyelidikan Mas gimana, apa semua alasan yang Miranda berikan padaku benar..." tanya Ervan.
"Itu yang penting Van, Mas rasa Miranda hanya mencari simpatimu dengan alasannya, karena record perusahaan sangat jauh dari alasan yang dia beritahu kan padamu..." terang Ervin lagi bersiap menyalakan layar proyektor.
"Memang apa alasan Miranda Mas..." tanya Riri pada Ervan.
"Dia bilang sama Mas kalau perusahaannya bangkrut karena korupsi besar-besaran mantan suaminya yang membuat produksi tidak maksimal...." Kata Ervan pada Riri.
"Ini record perusahaan Amanda sesuai penyelidikan....." ujar Ervin.
Ervan dan Riri melihat dengan seksama layar yang ada di depannya. Mendengar penjelasan Ervin lagi.
"Kesimpulannya bisnis Miranda bangkrut karena cara mereka terburu-buru dan sedikit kotor, demi mendapatkan keuntungan, bisnis mereka memang mendapat untung besar didepan tapi ketika ada gejolak ekonomi bisnis mereka akan anjlok...."
"Mas Ervin yang paling tahu bisnis ini, aku benar-benar binggung Mas harus ambil keputusan apa..."
"Kamu tenang Van, Mas sudah punya rencana yang tidak akan merugikan keponakan di masa depan, kita tunggu sampai Miranda datang....." Kata Ervin.
Riri dan Ervan hanya berharap semuanya bisa terselesaikan dengan baik.
.
.
.
.
.
.
. Next.....
maaf ya Zen telat up author ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkan yang membuat tidak bisa fokus menulis.
Terima kasih udah sabar nunggu up dari author...
jangan lupa Like komen VOTe ya... 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1