
Aku duduk menemani papa yang sedang makan kwetiaw goreng kesukaannya. Kelihatan sekali papa kelaparan.
Kami memang jarang memasak, karena cuma berdua saja. Paling hebat masak nasi goreng atau ceplok telor. Kalau ingin makan yang enak biasanya beli di luar, kadang makan di tempat atau dibungkus makan di rumah.
"Pa..Ibu Retno itu orangnya baik loh, aku senang ngobrol sama beliau. Tapi di kampus terkenal galak dan judes. Bahkan disebut ibu Tiri," aku cerita sama papa.
Dan papa cuma jawab "Hmmm"
Seperti biasanya sambil lanjut makan.
"Belum pernah nikah loh dia tuh Pa," ujarku santai.
" Uhuk...uhuk...uhuk.!!!" Papa tersedak tiba-tiba.
"Napa sih Pa? makan tuh jangan cepat-cepat kayak bocah aja".
"Iya nih Sapri kayaknya ada cabe ke makan sama papa...pedes," sambil minum air.
Padahal aku tahu waktu aku bilang Ibu Retno belum nikah papa seperti kaget lalu tersedak..
Hihihi... semoga aja papa naksir.
" Aku mandi dulu yah pa.." kataku sambil bergerak meninggalkan papa yang meneruskan makannya.
"Kebiasaan mandi selalu malam-malam, awas tua nanti rematik kamu Nan".
Aku berbalik dan berkata kepada papa " Mitos oom Yohan... jangan percaya...rematik itu karena pola makan yang salah bukan karena mandi malam".
Papa cuma geleng kepalanya.
-----
Aku lihat Nanan masuk kamar mandi, anak itu tambah besar ada saja sanggahannya kalau dinasehati.
Nasib punya anak gadis pintar seperti dia, selalu saja ada jawabannya.
Sambil makan aku teringat tadi Nanan berkata kalau ibu Retno belum menikah.
Dalam hati aku bertanya masa iya perempuan pintar, lumayan cantik, dan kalau dilihat usianya mungkin sudah menjelang kepala 4.
Masa belum menikah yah. Ah terserah saja bukan urusan aku, lanjut makan lagi.
Berusaha tidak memikirkan tapi di hati kecil terdalam tetap kepikiran.
-----
Hari ini minggu pagi, jam dinding masih menunjukkan jam 6 pagi.
Aku sedang mencuci motorku di halaman belakang rumah kami di depan deretan kamar kost yang kami sediakan.
Setiap minggu jam 8 pagi biasanya aku dan papa pasti pergi beribadah ke gereja.
"Pagi Nan...masih pagi sudah mencuci motor nih," sapa Ibu Retno.
" Eh iya Bu, biasa kalau minggu pagi saya mandiin ini motor karena nanti jam 8 di pakai papa dan saya untuk ibadah".
"Oh, kalian ibadah di gereja mana? kebetulan saya juga harus ke gereja, apakah ada di dekat sini?"tanyanya padaku.
"Oh, kami ke Paroki Katolik Bu, kalau ibu bagaimana?"
"Oh sama dong, apakah dekat sini lokasinya?"
" Ya sudah barengan aja Bu, nanti saya antar ibu dulu lalu nanti saya balik lagi jemput papa. Nanti pulang ibadah kita naik becak saja saya dengan ibu".
"Waduh Nan, jangan merepotkan. Sudah saya naik becak saja kalau misal bisa ditempuh pakai becak sih. Berarti tidak jauh kan dari sini".
"Deket sih Bu, tapi tidak apa-apa kok biar Nanan anter dulu ibu saja seperti tadi. Nanti Nanan bilang sama Papa".
Baru saja bicara, tiba-tiba Papa keluar dari dalam dan langsung nyamber bicara.
__ADS_1
"Iya bu tidak apa-apa, nanti ibu bersama Nanan saja. Saya sih gampang. Oke yah".
Lalu papa berlalu ke pagar kost menuju ke depan. Aku takjub juga, berarti si pria nguping tadi kami bicara. Hihihi... awal yang baik nih.
" Tuh kan Bu, papa juga bilang Ok..ayo Nanan mandi dulu nanti sebentar bersiap".
Akhirnya ibu Retno mengiyakan ajakan kami.
-----
"Duh, ternyata ibu itu seiman dengan kami, ada apa ini ya Tuhan. Aku kenapa jadi berdebar lihat perempuan itu yah. Oh.. Sinta maafkan aku istriku, sekian lama aku tidak pernah memikirkan wanita".
"Tapi bertemu wanita itu seakan mengingatkan aku padamu," batin Yohan pagi itu sambil pura-pura keluar rumah lewat pagar kost padahal tidak tahu mau apa di luar sini.
"Mana dia juga dekat dengan Nanan, dan mereka tampak akrab sekali, tapi ah tidak mungkin lah. wanita itu dosen dan punya jabatan, sementara aku cuma pedagang toko.. Ah lupakan..".
Aku selalu berusaha menepis tidak mau tahu soal wanita yang bernama Retno, tapi dalam seminggu ini nama itu selalu hadir dan muncul dihadapanku.
Tapi sudah jangan dipikirkan toh orang kost hanya tinggal sementara saja paling lama beberapa bulan saja. Jangan berkhayal deh.
-----
Pulang ibadah aku dan ibu Retno naik becak sesuai rencana awal dan papa naik motor.
"Pak Yohan, itu siapa yang bareng Nanan?" tanya pak Roby teman baik papa.
"Oh yang nge kost baru seminggu di tempat kami dan kebetulan dosen juga di kampusnya Nanan," jawabku.
"Oh...Siapa tahu janda bro, cantik juga lah orangnya" Lanjut pak Roby
"Yah lumayan juga sih, kata Nanan sih belum pernah nikah," lanjutku lagi.
" Wah...maju bro Yohan...Siapa tahu jodoh," pak Roby tertawa sambil menepuk bahuku.
Dan aku hanya tersenyum getir...Siapa gue bro dalam hatiku..
"Mang Dohiri nanti mampir dulu yah ke Mie Ayam Raos, aku mau kasih tahu ibu nih Mie ayam yang enak".
"Ashiaaap Neng... tadi pagi papa udah bilang suruh jemput Neng Nanan di gereja jam segini, suruh anter neng Nanan sama ibu ini".
Oh rupanya tadi pagi saat papa ke depan rumah kebetulan ada mang Dohiri dan papa menyuruhnya menjemput kami pagi ini di depan gereja.
Saat kami sudah di becak, tampak papa keluar naik motor dari halaman gereja.
"Papa!!!! mau mie ayam ga?!!!" teriak Nancy dari becak.
Papa cuma menganggukan kepalanya tanda mau juga.
"Nan..kamu tuh kayak anak kecil saja teriak-teriak ke Papa mu dari becak".
" Hahaha..Sudah biasa bu, Nanan tuh ke Papa kadang kayak ke teman aja bu".
Ibu Retno geleng-geleng kepala melihat kelakuanku.
Kami tiba di warung mie ayam Raos, salah satu warung mie favorit aku dan papa juga.
Aku pesan 3, satu lagi buat mang Dohiri.
" Kamu sama Papa punya selera makan yang oke yah. Dari semalam kamu ajak saya makan selalu enak terus nih", kata bu Retno sambil menikmati mie ayamnya.
" Ya tapi gini aja sih Bu, bukan tempat makan mahal. Warung begini atau kadang di pinggir jalan. Kuliner kaki lima lah bu, murah meriah gembira," kataku padanya.
" Iya tapi saya juga suka, sama loh saya juga pecinta kuliner kaki lima," kata bu Retno lagi.
Kami makan dengan asik nya, sampai keringat bercucuran tak terasa, karena memang mie ayamnya enak sekali.
-----
Perjalanan pulang lanjut lagi, kembali naik becak mang Dohiri.
__ADS_1
Tampak puas wajah Ibu Retno, beliau begitu senang selama 2 hari ini jalan bersamaku dan makan yang enak walau murah harganya.
Tak lupa aku juga pesan 1 bungkus untuk papa di rumah.
Jalanan tidak terlalu ramai, lagipula jalan menuju rumahku memang bukan jalan raya utama, lebih mirip jalan komplek tapi bukan juga komplek perumahan.
Jalan jaman dahulu kata orang-orang sih, lebar tapi padat rumah di kiri kanan jalannya.
Sambil becak melaju, aku iseng bertanya lagi.
" Bu, Nan boleh kepo ga?"
"Ya mau kepo apa?"
"Hihihi...Ibu umur berapa sih sekarang...maaf yah bu jangan marah".
"Hahaha...ngapain marah, sebentar lagi saya menjelang 45 tahun," jawabnya.
"Wah beda 2 tahun sama papa ku, bentar lagi juga papa 47 tahun, berarti kalian hampir seumuran yah".
Ibu Retno hanya mengangkat bahunya sambil angkat tangannya tanda tidak tahu.
"Nanya lagi yah bu..Tapi jangan marah yah?" kataku sambil kepalaku ku tempelkan pada bahu ibu Retno.
"Ya, apalagi...silahkan tanya".
"Ibu mah cantik segini sih, mengapa belum nikah...Apa dulu pernah putus yah".
Beliau tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Kisah lama, 2 minggu sebelum hari H, mendapatkan undangan pernikahan dari tunangan saya. Dan dia menikah dengan sahabat saya," jawabnya menjelaskan.
Beliau tetap tersenyum tapi terlihat ada luka tersimpan dalam di wajahnya.
Aku jadi ikut sedih dan tidak berani bertanya lagi.
-----
Kubuka pintu kamar kost ku, segera masuk lalu kututup pintunya.
Perut kenyang karena sudah terisi mie ayam tadi sama Nanan.
Belum kutukar bajuku dengan daster kebesaranku, aku rebahan di kasur.
Cukup aneh buat aku, bertahun-tahun aku tidak pernah ngekost, sekarang di usia menjelang 45 tahun malah jadi anak kost.
Untung saja anak pemilik kost baik sama aku dan kebetulan anak itu kuliah di tempatku mengajar sekarang.
Walau ayahnya cukup menyebalkan tapi bukan masalah karena tampaknya sih orangnya baik walau jutek.
Kata Nanan sih setelah ibunya meninggal dulu, papanya jadi seperti itu dan tidak mau menikah lagi.
Lah apa urusanku, bukan urusanku cuma aku merasa sangat nyaman di kost ini karena mungkin ada Nanan.
Tapi mau tidak mau, aku juga tidak boleh bergantung sama Nanan.
Semoga nanti sore jadi mobil ku diantar oleh sopir dari kota Jakarta.
Lalu aku bangkit untuk tukar pakaian, sambil aku mengingat betapa aku sama Nanan cukup terbuka.
Padahal aku jarang bisa ngobrol sama mahasiswa walau sama jurusan apalagi beda jurusan.
Tapi sama anak ini kok aku bisa enak cerita yah.
Tadi Nanan bertanya mengapa aku belum menikah. Rasa sakit terasa lagi, bayangan Hendrico kembali muncul.
Rahasia terdalam yang sangat menyakitkan untukku.
Mungkin kalau sekedar kekasih selingkuh dan menikah dengan sahabat sih cukup banyak kisah seperti itu.
__ADS_1
Tapi celakanya setelah aku berikan segalanya, setelah aku serahkan yang belum seharusnya aku serahkan, Hendrico meninggalkanku.
Waktu itu yang kuterima hanya undangan pernikahannya dengan Stella sahabat baikku dan secarik surat kecil yang isinya " Maaf Retno...Aku memilih Stella karena dia lebih baik daripadamu"