
Davin mendadak lemas, ucapannya dianggap Abel hanya gurauan, Abel sama sekali tidak berpikir kalau ia akan meninggalkannya.
Davin kembali prustasi tak tega melihat wajah ceria wanita yang dicintainya akan berubah setelah apa yang diucapkannya.
Maaf sayang, maaf aku tidak punya pilihan lain, aku Melakukan semuanya demi adikku.
"Abel, Abang tidak bercanda, Abang serius." Tungkas Davin mencoba tegar.
Abel sejenak diam, mencoba mencerna dalam pikirannya apa yang dikatakan Davin, senyum bahagia mendadak memudar.
"Apa maksud Bang Davin?" tanya Abel lagi panik.
Davin menghembus nafas kasar mencoba tenang. "Abel dengar, terima kasih untuk cinta, kebersamaan dan perhatian yang kamu berikan pada Abang, tapi keadaan yang memaksa kita harus berpisah, Abang nggak bisa melanjutkan hubungan kita. Ini demi kebaikan kita bersama."
"Ta-pi kenapa Bang." Kata Abel yang masih belum bisa memahami semuanya, ini terlalu mendadak untuk di mengerti.
"Abel, Abang memutuskan menerima perjodohan dengan Kayla sepupumu, Abang rasa alasannya sudah jelas, tidak ada yang perlu kita bahas lagi, kita lupakan semua ini." Ujar Davin berusaha tegar menyembunyikan sisi hatinya yang sangat rapuh.
Davin bangkit dari kursi sebelum air matanya yang ia tahan merembes.
Abel hanya menunduk, "Bang Davin melupakan semua janji-janji Bang Davin sama Abel." Kata Abel yang masih beku berusaha mengeluarkan suara yang membuat langkah Davin terhenti.
Davin berbalik mendekat pada Abel yang tertunduk. Ia mendekatkan wajahnya ke kepala Abel agar mata yang berkaca tak terlihat. Ia mencium sekilas puncak kepala Abel yang tertutup kerudung.
"Maaf, carilah laki-laki yang bisa menepati janjinya." Bisik Davin, kemudian ia berbalik melangkah menjauhi Abel.
Davin tidak bisa lagi menahan air mata yang keluar dari ujung matanya ketika melangkah. Untuk pertama kalinya ia merasakan sangat sesak akan berpisah dengan seorang wanita, rasa cintanya pada Abel masih utuh tidak berubah sama sekali hanya takdirnya lah yang memaksanya bertindak setega dan sekejam ini.
Davin menyeka air dari ujung matanya, ia terus melangkah meninggalkan Abel dan keluar dari kafe. Ia berdiam diri sejenak menundukkan kepalanya di setir mobil menumpahkan luapan rasa sesaknya. Ia memukul keras setir mobil mengutuki dirinya sendiri.
"Shit....Apa yang ku lakukan, Aku menyakitinya!" Umpatnya menyalahkan dirinya. ia membayangkan apa yang baru saja di lakukannya pasti sangat menyakiti Abel.
Davin menyeka lagi air matanya yang entah keluar begitu saja. Ia menunggu Abel yang tak juga keluar dari kafe.
sementara di dalam kafe, Abel masih mematung terdiam, seolah tidak percaya apa yang baru saja terjadi, ia memejamkan matanya dan berharap semuanya hanya mimpi. Jika ini adalah kenyataan maka rasanya sangatlah pahit dan menyakitkan.
Abel bisa merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kepalanya, dia menyadari ucapan terkahir Davin dan langkah yang perlahan menjauhinya.
Dadanya tiba-tiba sesak seolah sulit untuk bernafas setiap mengingat kalimat yang diucapkan Davin terus mengiang-giang di kepalanya.
Apa yang bang Davin lakukan? Kenapa dia dengan mudahnya meninggalkannya dan memilih menerima perjodohan dengan Kayla. Bagaimana dengan janjinya, cintanya selama ini yang selalu dia ucapkan, Bang Davin! kenapa Bang Davin begitu tega dengan Abel. Abel masih sangat mencintai Bang Davin. Begitu yang ada di isi kepala Abel.
Air mata Abel pun merembes tanpa bisa terbendung lagi, Rasanya dia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya agar mengurangi rasa sangat sesaknya kini. Abel sesegukan karena rasa sesak dan sakitnya seolah terus menyiksa. Ini terjadi begitu cepat diluar pemikiran.
__ADS_1
Semua mata pengunjung kafe menoleh ke arahnya memandang iba, karena suara segukannya begitu keras. Abel yang menyadari banyak mata yang melihat kearah memilih bangkit dan berlari keluar dari kafe dengan air mata yang tak bisa berhenti.
Abel masuk kedalam mobil dan merebahkan kepala disetir mobil, dia menangis kencang didalam mobil meluapkan emosinya.
Bang Davin kenapa, kenapa kau mengikari janjimu, cintamu, semuanya. kenapa kau tidak memperjuangkan aku yang selalu percaya padamu, selalu mencintaimu, kenapa kau meninggalkanku dan memilih Kayla.
"Kenapa!" Teriak abel dalam mobil. "Bang Davin, Jahat!" Umpat Abel.
Hati Abel benar-benar hancur, raganya sangat lemah hingga dia ragu apakah bisa mengemudi atau tidak. Kata-kata Davin selalu terbayang dalam pikirannya.
Dengan sisa tenaga dan tidak bisa menghentikan air matanya yang bercucuran, Abel menyalakan mesin mobil meninggalkan tempat menyedihkan ini.
Disisi yang lain, Davin yang cemas melihat Abel yang begitu lama dalam mobil merasa panik sempat akan turun mengecek langsung kondisinya. Ia merasa lega akhirnya mobil Abel mulai berjalan, dengan cepat ia menyalakan mesin mobil mengikuti Abel. Davin ingin memastikan Abel sampai dirumahnya dengan selamat setelah apa yang terjadi.
Ditengah perjalanan bertepatan kumandang adzan Magrib, Abel menepikan mobilnya di salah satu masjid, karena kepalanya terasa berat. Dia berhenti sejenak menenangkan diri. mengambil nafas dalam agar pikirannya tenang tapi tetap saja air matanya tak bisa berhenti mengalir.
"Bang Davin jahat! jahat! hiks hiks." Isaknya. Dia keluar dari mobil menjalankan kewajibannya, sambil terus mengusap wajahnya yang basah.
Davin yang melihat kondisi Abel dari kejauhan merasa ikut sakit, ia rasanya ingin memeluk Abel dan menenangkannya. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Davin hanya bisa pasrah dengan keadaan setelah ini tanpa Abel cintanya.
Di dalam Masjid, usai menjalankan kewajiban Abel berdoa dengan air mata yang sedari tadi tak bisa berhenti. Saat ini dia sangat rapuh, ia bahkan tidak berani pulang dan menceritakan apa yang terjadi pada Papa dan Mamanya.
"Assalamu'alaikum ukhti...." Seorang wanita seumuran mama Riri memakai kerudung panjang berwarna Hitam mendekati Abel memegangi pundaknya, merasa iba dengannya.
Abel mengusap air matanya, "Wa'alaikumusalam," Jawab Abel dengan bibir yang masih bergetar.
"Saya tak tega melihat ukhti yang terlihat sedih,"
"Saya nggak apa-apa," Jawab Abel mencoba tersenyum.
"Ukhti patah hati?" tebakan wanita itu, Abel yang tak sanggup berkata hanya bisa mengganguk.
"Ukhti kalau tidak keberatan boleh saya beri sedikit nasehat," Katanya lagi lembut, Abel mengangguk. Wanita itu mengengam tangan Abel.
"Ukhti, tak perlu gelisah karena urusan jodoh, karena jodoh kita sudah ditetapkan dalam kitab Lauhul Mahfudz. Tulang rusuk tidak akan pernah tertukar. Apabila dia jodoh kita, pasti akan mendekat pada kita sesulit apapun jalannya. Tapi bila memang bukan jodoh kita, Allah akan menjauhkan walau kita sudah cinta mati sekalipun." Nasehatnya, entah kenapa Abel merasa sedikit lebih tenang seperti ada sandaran raganya yang rapuh.
"Ukhti, percayalah Allah tidak akan mengambil sesuatu yang baik kecuali diganti oleh yang lebih baik lagi. ukhti cobalah berhusnudzon kepada takdir Allah. Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambaNya." Nasehatnya lagi, Abel mulai tenang.
"Terima kasih ustazah untuk nasehatnya," ucap Abel.
"Sama-sama Ukhti, lebih baik sekarang ukhti pulang dan berkumpul dengan keluarga ukhti karena merekalah tempat terbaik untuk kita bisa berbagi suka ataupun duka." Seru Fatimah lagi.
Abel mengangguk tersenyum, dia melepaskan mukenah nya, berpamitan kepada Fatimah dan keluar masjid dengan perasaan yang sedikit tenang meskipun hatinya masih sangat lah sakit. Davin adalah cinta pertamanya, sampai sekarang pun rasa cinta Abel masih belum berkurang sedikitpun setelah apa yang terjadi, entah sampai kapan.
Dia mengumpulkan tenaganya dan melanjutkan perjalan, memberanikan diri untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Davin yang bernafas lega melihat Abel cukup lama didalam masjid, akhirnya keluar menaiki mobilnya. Mobilnya mulai bergerak, Davin kembali menbuntiti Abel lagi dari belakang memastikan dia sampai didepan rumahnya.
******
Abel sudah didepan rumahnya, dia mencoba tenang tapi air matanya yang merembes sangat sulit untuk ditutupi. Dia pun mengambil nafas panjang dan mulai membuka pintu.
"Assalamu'alaikum....." Salam Abel.
"Wa'alaikumusalam...." Sahut Ervan, Riri dan adik-adiknya yang menikmati makan malam.
"Kakak udah pulang, kok tumben telat." Seru Riri menoleh ke arah Abel.
"Kakak ke kamar dulu, kakak udah makan." Seru Abel serak, dia langsung menaiki tangga.
Riri langsung melihat kearah Abel yang menaiki tangga, seperti ada yang berbeda dengan Abel. Naluri keibuannya mengatakan ada sesuatu yang terjadi dengan Abel. Riri pun melanjutkan makan dan akan mencari tahu setelah makan.
.
.
.
.
.
.
NEXT.....
sumber gambar @ruksanamirror
Zen : sumveh jahara banget lu Thor,πππππ€§ banyak bawang
Thor : Mo'on Maapπππ gw juga mewek
Zen : Sedih liat Abel ya
Thor : Iya, tapi juga sedih lihat like sama vote gw turun πππ
Zen : derita elu Thor π€§π€§π€§
Thor : π¨π¨π¨
Terima kasih udah sabar dan setia nunggu up dari author, karena dukungan kalian level IUP Alhamdulillah naik, diriku terhura βΊοΈ.πππ
__ADS_1
Beri semangat Thor mu ini pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. selalu loph U β€οΈ