Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP32-S2// Sedih


__ADS_3

Riri yang penasaran, buru-buru mengemasi sisa makan malam keluarganya. Dari gerak gerik Abel, Riri curiga ada sesuatu yang terjadi padanya. Tapi dia tidak ingin memberitahukan pada suaminya sebelum mengetahui apa yang sudah terjadi.


“Ma, Ray ada PR, kakak belum turun,” ujar Raydan menghampiri Riri di dapur.


“Ya Ma, Raffa juga.” Rafa ikut menemui mamanya.


“Ray, Raffa Kakak mungkin capek, nanti Mama aja yang bantu,” balas Riri yang terpaksa membatalkan niatnya karena harus membantu Raydan dan Raffa mengerjakan tugas sekolahnya. Padahal dia ingin menemui Abel dengan cepat.


“Oke Ma,” jawab keduanya sambil berlari menuju ruang Tv.


Waktu udah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, anak-anak jagoan sudah selesai mengerjakan tugas masing-masing dan mengantuk. Setelah membereskan masalah anak-anak jagoaanya, Riri bergegas ke kamar Abel.


Nampak pintu tidak terkunci, tapi kamar gelap, hanya ada ringkukan di balik selimut. Abel yang menyadari kedatangan Riri sengaja berpura tertidur. Dia juga mematikan lampu agar mata sayupnya tak terlihat, dia tidak ingin membuat kuatir orang tuanya malam-malam.


Riri mendekati ranjang, nampak dari balik selimut abel sudah terlelap dengan nyenyak. Riri merasa kecolongan malam ini tidak mendapat informasi tentang Abel. Dia pun keluar kamar dan akan kembali besok pagi lebih awal. Abel membuka mata ketika menyadari Riri yang pergi meninggalkan kamanya.


Abel sama sekali tidak mengantuk, dia masih terpukul dengan apa yang terjadi malam ini. Setiap kali memejamkan mata, kenangannya bersama Davin selalu muncul dalam pikirannya. Dia hanya berharap bisa melewati malam yang berat ini hingga fajar. Abel meraih foto mamanya Amanda dan memeluknya erat seolah dia mendapat kekuatan.


“Ma, temanin Abel malam ini, Abel belum siap cerita sama Papa dan Mama Riri.” Keluhnya lirih pada foto sang Ibu.


****


Sementara di kamar yang berbeda di atas ranjang, Riri bergelayut di lengan kokoh suaminya yang masih sibuk dengan laptop. Dia masih cemas dengan keadaan Abel. Dia merasa ada yang berbeda dengan Abel, tapi ia ragu akan berbicara dengan suaminya.


“Mas….” Riri mengoyang tubuh suaminya.


“Ya Sayang,” balas Ervan.


“Riri rasa ada sesuatu dengan Abel, dia kayak beda dari biasanya Mas.” Riri mengaduh pada suaminya.


“Paling-paling lagi marahan sama Davin, dia ambekan nanti Davinnya minta maaf terus mereka baikan lagi. Kamu kayak nggak pernah muda aja sayang,” balas Ervan, Riri hanya mayun merasa laki-laki memang tidak peka pada perasaan wanita.


“Ini Beda Mas….” Sebelum katanya selesai Ervan sudah menutup mulut istrinya dengan tangan.


“Itu cuma perasaan kamu aja sayang, sekarang malam jumat Mas mau ena-ena dulu baru kita bahas lagi masalah Abel.” Ervan menutup laptop sambil tersenyum penuh arti pada Riri.


Riri yang mengerti maksud suaminya memilih mengalah kali ini tidak melanjutkan membahas Abel. Mereka pun mematikan lampu dan berlanjut melakukan olahraga malam.


*****

__ADS_1


Matahari mulai menerangi rumah-rumah diperumahan Citr*land. Riri semakin cemas dengam keadaan Abel yang tidak ikut sholat subuh berjamaah dan memasak untuk Davin seperti hari-hari biasa. Usai menyiapkan keperluan sekolah anak-anak dan keperluan kerja suaminya. Riri bergegas ke kamar Abel merasa sangat penasaran.


Ceklek...


Riri membuka pelan, pintu tidak terkunci nampak Abel yang masih dalam balutan selimut, tidak bersiap untuk magang. Riri mendekat ke arah ranjang dan mendengar suara segukan dari balik selimut.


“Kakak nggak magang,” seru Riri membuka selimut Abel.


Abel yang tidak menyadari Riri yang masuk ke dalam kamarnya merasa panik dan tersontak kaget, dia  binggung bagaimana menutupi kesedihannya karena terlanjur ditegur oleh Mama Riri.


"Ya Allah Kakak." Riri langsung berhambur memeluk Abel ketika melihat wajah Abel yang begitu sembab. Sepertinya Abel menangis semalaman.


Riri sangat panik, Abel malah menangis semakin menjadi di pelukan Riri. " Kakak cerita sama Mama, apa yang terjadi."


Abel masih belum buka suara, ragu akan menceritakan pada Riri. Riri melepas pelukannya, berbalik menatap tajam ke arah Abel yang sembab seolah minta penjelasan apa yang terjadi.


Abel tertunduk berusaha membuka suara tidak ada pilihan lain. "Bang Davin meng -akhiri hubungan dengan Abel."


Riri langsung tersontak, ini sangatlah mendadak padahal kemarin Abel dan Davin terlihat baik-baik saja. Bahkan dari tatapan mata Davin, Riri yakin kalau Davin memang tulus mencintai anaknya itu. Pantaslah Abel sangat rapuh, Abel sangat mendambakan Davin menjadi teman hidupnya.


"Kakak, kenapa Davin tiba-tiba memutuskan hubungan dengan kakak."


Riri terkejut lagi untuk kedua kalinya. Bagiamana bisa Davin menerima perjodohan dengan Kayla, sepupu Abel. Harusnya dia menolak kalau ia memang mencintai Abel dan memperjuangkan cintanya. Kali ini Riri merasa Davin sangat bersalah, pasti Abel sangat tersakiti.


"Kakak, sabar tetap khusnudzon sama takdir Allah," nasehat Riri jadi ikut merasa sakit.


"Abel kenapa?" tanya Ervan yang masuk kamar Abel tanpa disadari keduanya.


Riri ngelagapan menyadari keberadaan suaminya dan bertanya dengan nada tinggi. Apalagi Abel yang semakin meringkuk dipelukakan Riri merasa takut.


"A...a-nu Mas, A-bel." Riri ragu pasti kemarahan suaminya akan memuncak.


"Sayang, bicara yang benar!" hardik Ervan membuat Riri semakin takut.


"Davin memutuskan hubungan dengan Abel Mas," Jawab Riri memberanikan diri.


Muka Ervan berubah menjadi merah padam, amarah memenuhi isi kepalanya. Dia menendang kursi di kamar Abel. Abel dan Riri memilih diam.


"Davin! berani sekali kau menyakiti anak gadisku, aku harus beri dia pelajaran!" hardik Ervan keras melangkah keluar kamar dengan cepat.

__ADS_1


Abel bangkit dari pelukan Riri, dia berlari mengejar Ervan dan berhasil memeluk Papanya hingga Ervan pun berhenti melangkah.


"Jangan Pa, jangan sakiti Bang Davin. Mungkin memang ini sudah jalan hidup yang digariskan takdir untuk Abel." Cegah Abel yang sekarang meringkuk dipelukakan Papanya.


Ervan merasa sakit melihat keadaan Abel, ia membalas memeluk putri cantiknya sembari mengelus rambut coklatnya.


"Maafkan Papa sayang, ini semuanya salah Papa. Papa yang udah ijinkan kamu dekat sama Davin. Papa percaya kalau Davin anak pengusaha yang berbeda. Tapi ternyata dia sama!"


"Ini bukan salah siapa-siapa Pa, mungkin Allah punya rencana lain untuk Abel." Kata Abel lagi.


Ervan mengeratkan pelukannya merasa sakit melihat putrinya dengan wajah sembab. Riri pun ikut memeluk Abel memberi semangat.


"Mas, Davin memutuskan Abel karena menerima perjodohan dengan Kayla," Seru Riri melepaskan pelukan.


"APA!" Ervan tersontak kaget. Riri mencoba menenangkan suaminya mengelus punggungnya.


"Laki-laki seperti Davin juga tidak pantas untuk Kayla, Mas akan bilang sama Mas Ervin bagaimana calon menantunya memperlakukan Abel." Kata Ervan semakin emosi melepaskan pelukan Abel dan menuruni tangga.


.


.


.


.


.


Next....


thor potong jadi dua chapter ya kalau kebanyakan nanti gumoh😁😁😁😁 sabar sambungannya nyusul....


Zen : Hari ini kan Thor😤😤


Thor : Ho'oh


terima kasih udah sabar dan setia nunggu Up dari author 🙏🙏🙏 sorry telat Up


Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bagi VOTE. loph U ❤️

__ADS_1


__ADS_2