Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Dua cukup


__ADS_3

Aline


Nyawaku sepertinya belum sepenuhnya terkumpul. Badan mungil Princess sungguh Rasanya sangat lelah sekarang. Mata saja rasanya lengket seperti di olesi lem kayu, susah sekali untuk buka mata. Princess sama Mas suami akhirnya sudah sampai di Ibiza kemarin malam. Hal pertama yang princess lakukan setelah sampai di hotel adalah ke tumpukan bantal dan tarik selimut, sembunyi di ketek suami.


Bagaimana enggak kram pemirsa, di kapal menuju ke pulau ini, Raffa sudah buat aku nggak bisa berkutik dan berbuat apa-apa selain keluarkan suara horor yang menakuti para jomblo. Mas suami sukses buat aku nggak bisa berkata-kata dan pasrah selama beberapa jam di atas kapal. Bisa bayangan kan. Hal yang cukup menguras tenaga pastinya. Princess cuma bisa pasang bendera putih menyerah mau istirahat dulu ketika sampai di Ibiza.


Tapi untungnya rasa lelah ini terbayar melihat wajah polos suami yang pules banget tidurnya. Gimana nggak happy ya Bun, lihat gambaran wajah anak-anakku di masa depan pasti mirip Raffa karena gen dari bapak biasanya paling dominan.


Aku sama sekali nggak nyangka hubungan aku dan Raffa bisa sampai sejauh ini dengan cepat. Kita yang menikah karena perjodohan, di tambah lagi awal pernikahan penuh kerenggangan, intinya pernikahan kita penuh dengan drama. Memang sudah nasib princess, jomblo aja banyak drama apalagi nikah.


Tapi masalah perlahan mulai pudar, kesetiaan perlahan hadir, bunga cinta semakin subur bermekaran. Berasa Cherry blossom setelah di hantam musim dingin. Aku mau seperti ini terus bersama Raffa. Kita saling menjaga dan saling percaya satu lain.


Aku pegang rahang Raffa yang geli-geli lucu karena mulai di tumbuhi bulu halus.


"Aku cinta kamu Raf." Aku kecup aja lah bibir Raffa yang sedikit mengangga.


"Pagi My beautiful Princess," suara serak Raffa mengagetkanku yang asik ngelamunin hal mesum.


"Mas kamu udah bangun." Malu dong aku ketahuan curi-curi cium Mas Suami.


"Kenapa? Masih mau lagi," godanya gelitikan perutku.


Nih Raffa! Otaknya dari kemarin kesitu terus! Princess curiga dia overdosis jamu yang diberikan Papi, kita udah ekseskusi sampai beberapa babak masih saja mikirin mengarah ke arena lagi!


"Mas, aku mau jalan-jalan. Dari kemarin kita sudah tidur terus seharian."


Itu fakta sahabat yang budiman, kita udah kayak siklus hidup kucing, di pesawat makan, nafas, tidur. Di kapal tidur, Nguyah, ehem-ehem, tidur. Sampai hotel pun setelah pergelaran budaya, sholat subuh kita juga tidur.


"Tapi Mas bawaannya mau dipelukin kamu terus Sayang."


Mulai kan, princess mencium hawa - hawa Raffa memang over dosis ramuan tak berlebel BPOM yang di berikan Papi. Enak sih enak, tapi pinggang ramping princess lumayan encok kalau seharian di suruh bergerak terus. Eh ... Skip!


...****************...


Akhirnya princess berhasil bujuk Raffa untuk keluar kamar. Kita makan siang di resto pinggiran pantai, meskipun dengan pemandangan yang kurang mengenakan di pesisir pantai, melihat banyak perempuan rambut pirang yang pamer aurat berjemur di bawah terik matahari.


Kita berdua belum di jemput mobil rental yang akan bawa kita ke pantai yang lebih privat. Selain terkenal dengan eksotisme pantai dan kota bersejarah, tempat ini juga terkenal dengan dunia gemerlap malam. Supaya aman Princess sengaja ajak Raffa jalan di siang hari untuk menyusuri destinasi disini.

__ADS_1


"Lin, ini halal ya," tanya Raffa ketika sepiring burger di letakkan pelayan.


"Halal, itu ayam kok!" balasku, di Ibiza cukup sulit mencari makanan halal. Tapi Princess udah dapat jaminan dari pihak resto makanan kita halal.


"Buka mulut," Raffa arahin potongan daging ke mulutku. Aku langsung aja sambar karena kebetulan juga lapar.


Coba dari awal nikah begini kan manis, aku terus saja di sodori Raffa daging sampai di lupa harus makan juga.


Aku inisiatif sendiri untuk suapin Raffa juga, udah biasa juga dirumah ladenin Raffa yang kadang kayak bocah kalau dekat istrinya.


"Apapun yang dari tangan kamu selalu enak Lin," balasnya.


"Mulai pintar gombal ya sekarang."


"Serius Sayang," balasnya.


Duh, kalau lagi sayang-sayangan gini rasanya bahagia banget ya, lama-lama saja kita di Ibiza.


Kita pun melanjutkan perjalanan ke salah satu pantai dengan tebing - tebing yang menjulang di pulau ini.


Seperti yang sekarang aku sama Raffa lakukan, kaki telanjang kita menyusuri bibir pantai yang beralaskan batu-batu kecil. Disini unik, ada bibir pantai beralaskan hamparan batu kerikil dan pasir putih. Tangan Raffa tak pernah melepaskan genggamannya. Kalau seperti ini Princess merasa dunia ini kita sewa dulu untuk berdua.


Akhirnya kita berada di ketinggian tebing batu yang kita lalui dengan penuh perjuangan. Tempat yang strategis untuk mojok sama Mas suami. Karena jarang ada pengunjung yang lewat sampai kesini.


Aku merasakan hembusan angin yang menerpa permukaan wajah ini dengan lembut. Raffa naikan kacamata hitamnya, pegang dagu princess dengan matanya menatap mataku penuh kekaguman.


"Love you My Princess," ucapnya lirih yang membuat kakiku hampir terpeleset karena oleng, jantung princess masih aja Jedag jedug kalau dengar kata manis dari mas suami. Enggak lucu kan kalau terjungkang dari atas tebing di depan suami.


"Kok, enggak balas," protes Raffa.


"I love you too Mas," kataku peluk erat Mas suami biar nggak terbawa terpaan angin yang semakin kenceng.


Nggak mau lama-lama olahraga jantung karena angin semakin kenceng di atas sini, aku buru-buru arahkan Raffa cari posisi yang bagus untuk foto feed Instagram. Aku udah niat banget permirsa sewa jasa fotografer untuk kenangan bulan madu ini nggak akan terlupakan.


Acara di pantai hari ini ditutup dengan rebahan di hamparan pasir putih yang lembut sama Mas suami.


"Lin, kamu mau punya anak berapa?" tanya Raffa menyadarkan tangan di dagu menoleh ke arahku.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Raffa bahas masalah bibitnya sama aku, deg-degan mau jawab apa? Kalau aku sih pengennya ikuti program keluarga berencana dari pemerintah aja 'Dua anak lebih baik'. Tapi Raffa ....


"Sayang, kamu kok malah diam?"


"Aku binggung kalau kamu tanya begitu Mas, satu aja masih dalam proses, syukur-syukur nanti usaha kita jauh-jauh ke Ibiza, jadi."


Raffa malah terkekeh, "Ya Sayang usaha dan berdoa. Mas pikir kamu punya pikiran yang sama kayak Mas."


"Jangan bilang kamu mau punya banyak anak ngalahin Gen petir!"


Raffa mengangguk sambil tersenyum genit naikin alisnya.


Tuh Kan, bener dugaan princess, kalau orang keturunan alim seperti Kakanda suami berpedoman paham 'Banyak anak banyak Rezeki!' kalau begitu judulnya enak di Raffa tinggal co-lok, giliran bengek di princess.


"Dua cukup!" teriakku.


"Kuranglah Sayang! Minimal lima!" Raffa berlari ke bibir pantai menjauhi princess. Mas suami sudah ancang-ancang sebelum sandal jepit melayang.


"MAS!" Ikutan lari menuju air nyusul kejar Raffa sampai dapat.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Sori baru bisa up satu bab, biasa! Ei terserang sindrom aneh kalau mau namatin nopel.

__ADS_1


__ADS_2