Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 47 Tamu 2


__ADS_3

Riri masuk kedalam kamarnya dilihat suaminya yang mengeringkan rambut usai mandi dan sudah memakai pakaian lengkap.


"Ada tamu." Kata Riri dengan wajah datar yang membuat suaminya heran melihat ekspresi Riri.


"Siapa sayang?" tanya Ervan.


"Bosnya mas, katanya ada urusan kerjaan." Jawab Riri dengan wajah mayun


"Oh Tiara, wajahnya biasa aja sayang, nggak cantik kalau begitu." kata Ervan menangkap wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Kok mas langsung tahu, nggak bisa ya diselesaikan dikantor, harus ya datang ke rumah." Keluh Riri lagi.


Ervan mengecup bibir istrinya singkat. "Mas baru baca pesan, Tiara juga nggak ke kantor sayang dia baru pulang dari luar kota, maka nya dia mau bicara dirumah." Ujar Ervan.


Setelah berdebat dengan Riri, mereka berdua menuruni tangga menuju ruang tamu. Disepanjang langkah Riri mengandeng tangan suaminya seolah tidak mau melepaskan walau sedetik.


"Hai, kenapa harus repot ke sini, kan bisa ketemu cafe atau dimana." Kata Ervan menyapa Tiara dengan Riri yang masih menempel pada suaminya.


"Aku pikir ada hal yang harus dibicarakan masalah blok kita yang baru, jadi dari bandara aku langsung kesini." balas Tiara.


"Sayang, bisa minta tolong ambilkan laptop mas." Kata Ervan pada Riri, Riri menganguk dan berbalik meninggalkan suaminya dan mantan pacarnya.


Ervan duduk di sofa yang tak jauh dari Tiara.


"Nggak nyangka ya Van, semua berubah secepat ini, bahkan hanya dengan hitungan bulan." Kata Tiara pada Ervan.


"Itulah takdir Allah Tiara terkadang kita tidak akan menduga apa yang akan terjadi kedepannya. Bagaimana kabarmu semuanya baik-baik aja?."


"Aku pikir aku kuat, tapi ternyata aku tidak sekuat itu, aku masih saja belum bisa melupakan semuanya." Balas Tiara.


"Tiara ayolah, kau bukan wanita yang lemah, kau tidak akan seperti ini hanya karena laki-laki seperti aku kan." Balas Ervan lagi.


"Van aku......." Tiara tidak melanjutkan kalimatnya ketika Riri sudah datang membawa laptop.


Dengan singgap Riri duduk disamping suaminya dan Ervan mulai membuka filenya.


"Apa istrimu selalu saja menempel seperti itu." Sindir Tiara pada Riri.


Apa maksud Bu Tiara, aku akan tetap disini mengawasi kalian. Riri


"Ya Tiara, kau tidak keberatan kan Riri ikut mendengarkan pembicaraan kita." Ucap Ervan yang ingin Riri disampingnya.


Maafkan aku Tiara bukan aku pamer kebahagiaan dengan Riri, aku hanya tidak ingin Riri berpikir yang bukan-bukan tentang kita. Ervan


"Tentu saja, biarkan dia bersama kita." Balas Tiara lagi.


Sudah hampir setengah jam Ervan dan Tiara membicarakan masalah pekerjaan sepanjang Riri mendengar, Riri sedikit merasa bersalah pada Tiara karena sempat merasa curiga. Tiara sangat serius mendengarkan semua penjelasan Ervan dengan beberapa gambar dan perhitungan dilaptopnya begitu juga dengan Ervan yang serius mendengarkan masukan dari Tiara. Riri sedikit merasa bosan dengan keadaan di hadapannya dan berharap segera berakhir karena tidak mengerti pembicaraan mereka.


"Ok, sepertinya aku harus pergi." Balas Tiara yang bangkit dari kursi.

__ADS_1


"Bu Tiara, makan sianglah dulu bersama kami." Kata Riri basa basi menunjukkan rasa sopan pada atasan suaminya.


"Tidak perlu, aku akan pulang saja." Balas Tiara.


yes Akhirnya nolak juga. Riri


"Ayolah makan dulu bersama kita," ajak Ervan.


"Baiklah kalau begitu." Jawab Tiara lagi.


Giliran mas Ervan yang ajak langsung mau kesel!. Riri.


Ketiganya pun sudah ada dimeja makan suasana menjadi sedikit canggung. Riri memberikan piring pada suaminya dan menghidangkan beberapa potongan ikan dan sambal kepada suaminya


"Tunggu Riri, Ervan tidak suka masakan pedas." kata Tiara yang menghalangi Riri yang akan menuangkan sambel.


Kenapa aku harus tahu dari Bu Tiara sih.Riri.


"Bener mas." Kata Riri pada suaminya.


Ervan mengangguk. "Ya sayang." Riri membatalkan niatnya memberi suaminya sambal.


"Ervan sangat suka scallop panggang dengan saus lemon, benar kan."


"Kau masih ingat ternyata," Balas Ervan tersenyum terlihat seperti mengingat sesuatu yang menyenangkan.


Sekejap Ervan dan Tiara langsung akrab membahas makanan kesukaan masing-masing dan tempat kenangan dimasa lalu, Riri yang melihat dan mendengar apa yang ada dihadapannya merasa kesal, tiba-tiba dia merasa terabaikan oleh suaminya. Dia tidak lagi berselera makan, makanan yang masuk ke mulutnya terasa hambar.


"Oh ya apa itu? apa kita pernah makan bersama." Balas Tiara antusias.


"Tidak Tiara, aku baru merasakannya akhir-akhir ini." Ujar Ervan.


Ervan mengengam tangan Riri sebelum menyendok makanannya, Riri terkejut dengan tingkah suaminya.


"Masakan istriku adalah makanan yang paling aku sukai sekarang." Ervan mencium tangan Riri.


Kekesalan Riri langsung meredam mendengar ucapan suaminya pada Tiara. Dia menyesal udah berpikir suaminya mengabaikannya dihadapan mantan kekasihnya. Riri tersenyum malu melihat perkataan suaminya merasa senang.


"Wah wah kamu pasti bahagia ya punya istri keibuan seperti Riri." Kata Tiara merasa sedikit kesal tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena mereka sudah menjadi suami istri.


"Pasti Tiara, terimah kasih." Sahut Ervan.


Setelah menyelesaikan makan siangnya Ervan dan Riri mengantar Tiara ke teras.


"Terima kasih kasih makan siangnya." Kata Tiara sebelum masuk mobil.


Sebenarnya terbesit rasa iri dihatiku, melihat mantan kekasihku yang masih ku cintai bersama istrinya tapi aku menyadari kebersamaan keduanya tak lepas dari campur tanganku juga. aku harus selalu meyakinkan hatiku kalau keputusanku benar dan jangan pernah menyesali semuanya. Aku sendiri terlalu takut untuk menikah dan harus kehilangan kesempatan meraih impianku.Tiara


"Sama Bu Tiara, Terima kasih juga hadiahnya." jawab Riri.

__ADS_1


Tiara menyadari banyak perubahan yang terjadi pada Ervan Bahkan sekarang dia tidak lagi melakukan kontak fisik dengan lawan jenis. Tiara memasuki mobil yang terparkir didepan halaman rumahnya dan mulai menyalakan mesin.


Tiara membuka kaca mobil. "Oh ya, Riri jaga pola makan suamimu ya dan jangan lupa ingatkan dia selalu berolahraga seperti aku dulu mengingatkannya, dia aset perusahaan." kata Tiara dengan nada kakunya pada Riri.


"Pasti Bu Tiara." Balas Riri. Ervan dan Riri melambaikan tangan dan mobil Tiara sudah menjauh meninggalkan rumah Meraka.


Riri memeluk suaminya ketika sudah masuk kedalam rumah.


"Eh kenapa sayang tumben peluk mas duluan." Tanya Ervan pada istrinya yang tiba-tiba bersikap manis.


"Maafin Riri ya mas, tadi Riri udah nggak tenang dan mikir macem-macem sama mas dan Bu Tiara." Riri memperat pelukannya.


"Sayang, kan mas udah bilang kita itu profesional, lagian mas kan udah bilang cinta mas cuma kamu aja sayang istriku." balas Ervan lagi.


Keduanya pun melepaskan pelukan ketika Bi Mina memergoki mereka.


Siang berganti sore Riri setelah mendapat ijin dari suaminya untuk kuliah, ia sudah bersiap akan ke kampus usai melaksanakan sholat ashar berjamaah karena hari ini ada mata kuliah penting.


"Jadi kapan rencana ngajukan skripsi." Tanya Ervan pada Riri yang sedang bersiap.


"Rencana hari ini mas minta persetujuan, SKS Riri udah cukup buat ngajukan skripsi."


"Mas antar ya sayang." Kata Ervan melihat Riri yang sudah rapi dengan perlengkapan kuliahnya.


"Bisa mas, tapi nanti mas capek loh bolak balik jemput Riri." Balas Riri.


"Nanti mas tungguin di coffe shop aja, sampai kamu selesai." Balas Ervan lagi.


Riri mengangguk merasa senang dengan perhatian suaminya.


"Nanti Abel sendirian mas." Seru Riri lagi.


"Nggak sayang, nanti Rena nginap sini untuk antisipasi kalau ada penyusup lagi malam-malam dikamar kita." Ujar Ervan.


Riri tersenyum-senyum mengingat kejadian Abel langsung masuk kekamarnya tanpa rasa bersalah.


Keduanya menuruni tangga bergandengan tangan menuju halaman setelah berpamitan pada Abel yang sedang asik memainkan ponsel dalam kamar.


"Mas, jangan naik mobil, Sesekali naik motor aja ya." Kata Riri sebelum suaminya menekan tombol kunci mobil.


"Malas sayang, naik mobil aja ya." Jawab Ervan.


"Mas Riri pengen naik motor berdua sama mas, biar kayak orang-orang pacaran, kita pacarannya habis nikah, biar Riri bisa peluk mas dari belakang kayak temen-teman kuliah Riri." Rengek Riri yang memang ingin merasakan naik motor berdua suaminya.


"Oke istriku yang cantik." Ervan mengalah dan kembali kedalam rumah mengambil kunci motor.


Keduanya sekarang diatas motor menuju kampus Universitas B. Riri mempererat pegangannya melingkarkan tangannya di pinggang suaminya hal yang selalu ingin dia lakukan sejak dulu ketika melihat pasangan disepanjang jalan ketika dia pulang dari kampus. Sekarang dia menikmati jalanan sore di sepanjang jalan kota B yang selalu nampak bersih dan tatanan kota yang rapi bersama pacar halalnya bukan lagi dengan Rika sahabatnya atau terkadang dengan ojek online.


NEXT ya......(dikampus)

__ADS_1


Terima kasih readers Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan VOTE VOTE VOTE author please, biar author semangat up up lagi.๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Note: Maaf ya belum bisa mengabulkan keinginan reader buat up up banyak karena keterbatasan author seorang ibu rumah tangga yang kadang harus kembali ke dunia nyata๐Ÿง• tapi author tetap usahakan up tiap hari yaโ˜บ๏ธโ˜บ๏ธโ˜บ๏ธโ˜บ๏ธ.


__ADS_2