Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 54 Dosen Pembimbing


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan cukup melelahkan keluarga Ervan akhirnya sampai ke kediaman mereka, ketiga penghuni rumah langsung menuju kamar masing-masing membersihkan diri dan beristirahat untuk aktivitas esok.


Setelah membersihkan diri masing-masing, Ervan dan Riri naik dan duduk diatas ranjang. Ervan menyandarkan kepalanya diheadboard sambil mengotak-atik layar ponselnya sedangkan Riri ingin membongkar alat tes kehamilan yang dia beli di apotek. Dia membongkar isi kemasan karena penasaran dengan isinya. Setelah puas melihat dan membolak-balik alat tes kehamilan yang baru pertama dia lihat, dia membaca petunjuk pemakaian yang ada dalam kemasan.


"Sayang serius banget." Tegur Ervan melihat Riri serius pada alat tes itu.


"Kan baru pertama, Riri baca petunjuknya, Riri mau tahu cara pakai yang benar." Jawab Riri.


Ervan mendekat merangkul istrinya. "Sayang kalau kamu beneran hamil, nanti skripsi kamu gimana, mas nggak mau nanti kamu jadi kecapean mikirin dua hal."


"Nggak lah mas, InsyaAllah Riri akan jaga kesehatan dan diri dengan baik." Jawab Riri.


"Kamu nggak malu sayang nanti ke kampus perutnya buncit." kata Ervan mengelus perut Riri, mengoda istrinya.


"Kenapa harus malu malah seneng lah, malu kalau buncit karena banyak lemak." Ujar Riri membuat suaminya tertawa renyah.


"Sayang, ayo tidur yuk." Ucap Ervan usai menaruh ponselnya di atas nakas.


"Ya mas," Riri menaruh benda yang dipegangnya diatas nakas.


Dia berbaring mendekatkan tubuhnya ke pelukan suaminya. Riri tidak sabar lagi Menunggu esok pagi, karena menurut petunjuk pemakaian didalam kemasan, waktu yang terbaik menggunakan alat itu saat buang air kecil pertama dipagi hari.


Mendengar kumandang adzan Subuh Riri membuka matanya dan bergegas menuju kamar mandi membawa alat tes kehamilan.


Dia duduk di toilet mengikuti petunjuk pemakaian. Dia mengamati alat itu dan menggoyangkannya karena tidak percaya dengan hasil uji tes nya. Semakin lama menunggu tidak ada perubahan pada hasil tes, dia pasrah lalu mengambil air wudhu untuk sholat.


"Sayang gimana hasilnya." Ervan yang sudah bangun juga ikut penasaran melihat Riri keluar dari kamar mandi.


"Ini mas," Riri menunjukkan hasil tesnya satu garis merah menandakan hasilnya negatif atau dia tidak hamil.


Mendadak Riri menjadi lesu, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan.


"Nggak apa-apa sayang, kan masih banyak waktu buat mas nitip benih - benih lagi." Ucap Ervan memeluk istrinya dan berusaha menghibur istrinya yang terlihat lesu.


"Kenapa Allah belum percaya kasih amanat buat Riri ya mas?" Riri masih putus asa.


"Ya sabar sayang, mungkin belum waktunya, sekarang fokus ke hal yang lain dulu sambil nunggu amanah dari Allah." Seru Ervan lagi.


"Iya Mas, makasih ya mas." Balas Riri.


Keduanya pun bergegas melaksanakan sholat subuh berjamaah dirumah. Melanjutkan rutinitas pagi seperti hari-hari biasa Riri mengantar suami dan anaknya ke depan rumah yang hendak menjalani aktivitas masing-masing.


"Oh ya mas, nanti sore Riri mau ke kampus ambil surat persetujuan pengajuan skripsi." kata Riri menghentikan langkah suaminya.


"Ya udah nanti naik taksi online aja, pulang dari kantor mas langsung jemput ke kampus jangan numpang orang sembarangan." Ancam Ervan.


Riri mengancungkan kedua jempolnya lanjut mencium puncak tangan suaminya disusul ciuman dikening oleh suaminya.


"Ayo pa, nanti telat." Teriak Abel yang sudah dimobil sejak tadi.


Ervan melangkah memasuki mobil dibalas lambaian tangan Riri, mobil mereka pun sudah berlalu meninggalkan rumah.


*******


Riri sampai didepan gerbang kampus menggunakan taksi online sesuai arahan suaminya. Dia melangkah maju menuju gedung fakultas keguruan yang terlihat didepan pandangannya.


Menemui bagian administrasi fakultas, menanyakan maksud kedatangannya.


"Tunggu ya mbak, saya carikan dulu." kata petugas administrasi mencari file dilayar komputer.


"Mbak ini surat persetujuannya, temui dekan ya mbak minta tanda tangan, terus temui dosen pembimbing serahkan surat pembimbingan." Kata petugas administrasi menyerahkan beberapa lembar kertas pada Riri.

__ADS_1


"Terima kasih ya Bu." Kata Riri pada petugas administrasi.


Riri duduk di kursi sejenak untuk membaca kertas yang dia dapat.


Cuplikan kertas


…...........*Rinjani Ana lita jurusan pendidikan matematika semester tujuh telah memenuhi syarat penyusunan Tugas Akhir,..................


Dengan pembimbingan oleh dosen sebagai berikut.


Adrian Bagaskoro, S.T M.Si


DR. Dwi Ariyanti, S.si M.Pd*


,...............


"Yeah Alhamdulillah." Riri bicara sendiri bersorak dalam hati karena senang mendapat dosen pembimbing yang dia harapkan.


Dia bangkit dari duduknya menuju ruang dekan sesuai arahan petugas administrasi. Setelah menemui dua orang, Riri masih menunggu satu dosen pembimbingnya Pak Adrian yang masih didalam kelas.


Tak lama berselang orang yang ditunggunya masuk digedung fakultas tanpa memperhatikan sekeliling menuju ruangannya. Riri dengan cepat menyusul dibelakangnya.


"Assalamu'alaikum Pak." Riri mengetuk pintu yang terbuka.


"Wa'alaikumsalam, masuk Ri." Jawab seseorang didalam ruangan.


"Pak bisa minta waktu sebentar." Tanya Riri duduk dikursi depan meja pak dosen.


"Jangankan waktu Ri, hati saya aja saya kasih." Balas Adrian.


"Asik, lucu Pak." Balas Riri yang memang selalu bercanda dengan Adrian seperti mahasiswa lain.


"Ada apa ini?" Tanya Adrian.


Adrian membaca lembaran kertas. "Selamat ya Ri, saya pembimbing kamu nih, oke berarti semester depan saya tunggu judulnya ya."


"Siap pak." Balas Riri.


"Oh ya Ri, boleh nanya sesuatu." Riri menganguk. "Bagaimana kamu bisa ketemu sama Ervan?" Tanya Adrian.


Sebelum Riri menjawab Adzan magrib berkumandang terdengar keras karena letak masjid yang dekat dengan gedung fakultas keguruan.


"Adzan Pak, Kita sholat dulu Pak, nanti kapan-kapan saya cerita." Balas Riri.


Kamu memang gadis yang soleha Ri, kenapa aku bisa keduluan sama Ervan. Adrian


"Oke ayo kita ke masjid." Balas Adrian yang bangkit dari duduknya disusul Riri berdiri mengikuti Adrian.


Keduanya keluar dari gedung bersama-sama, tapi didepan pintu ada berdiri laki-laki yang sangat dikenal keduanya.


"Mas, nunggu disini, kenapa nggak bilang kalau sudah sampai." Kata Riri menghampiri suaminya yang masih memakai pakaian kerjanya.


Ervan langsung mengandeng tangan Riri.


"Tadi digerbang mas ketemu Rika, katanya kamu lagi ketemu Adrian digedung ini."Jawab Ervan menantap ke arah Adrian.


"Baru pulang bro." Sapa Adrian seperti biasa karena memang emosi sudah sedikit mereda dan menerima kenyataan.


"Ya, ya udah kita duluan ya." jawab Ervan menahan kesal yang masih panas melihat istrinya bersama sahabatnya.


Ervan menarik tangan Riri tapi Riri menahan lengan suaminya. "Tunggu mas."

__ADS_1


"Pak Adrian makasih banyak ya Pak ke depannya mohon bimbingannya, kami pamit dulu." Kata Riri santun dan tersenyum pada Adrian.


Kenapa Riri sok manis gitu depan Adrian, awas aja ya, nanti aku bikin dia merintih semalaman. Ervan


"Ya sama-sama. hati-hati dijalan." Balas Adrian. Riri tersenyum sedangkan Ervan hanya mengangguk.


Setelah melaksanakan sholat magrib di masjid kampus, Ervan dan Riri menuju parkiran memasukki mobil bersiap untuk pulang, Ervan melajukan mobilnya meninggalkan kampus.


"Tadi ada perlu apa ketemu Adrian." tanya Ervan yang masih kesal membuka pembicaraan.


"Riri kasih surat bimbingan mas, dosen pembimbing Riri pak Adrian sama Bu dwi." Jawab Riri.


"Adrian dosen pembimbing kamu. "Tanya Ervan tegas.


"Ya mas, Alhamdulillah Riri dapat dosen pembimbing yang baik-baik." Jawab Riri dengan ceria.


"Bisa nggak diganti jangan Adrian." Ujar Ervan.


"Kenapa mas?nggak bisa lah kan yang menentukan fakultas." Jawab Riri kesal menganggap sikap suaminya terlalu cemburu berlebihan pada Adrian.


"Kalau gitu, setiap ketemu Adrian kamu jangan senyum-senyum manis kayak tadi." Ucap Ervan lagi dengan nada sedikit tinggi.


"Kenapa Riri dilarang senyum sama Pak Adrian mas, senyum itu ibadah mas, sedekah yang paling mudah." Jawab Riri polos.


"Ya mas ngerti tapi bukan buat Adrian, sakit mata mas liatnya, ingat kata mas tadi." Kata Ervan tambah kesal.


"Ih Mas kenapa jadi aneh gini sih, mas tuh terlalu curiga berlebihan sama pak Adrian." Balas Riri cemberut kesal dengan sikap suaminya yang dirasa berlebihan.


"Udah jangan bahas Adrian lagi, kita bahas yang lain." Ucap Ervan.


Mobil mereka pun terus bergerak melintasi jalanan malam yang tenang ini menuju rumah mereka tanpa perdebatan lagi.


******


Riri hendak naik ke atas tempat tidur usai keluar dari kamar mandi.


"Tunggu". Kata Ervan mencegah Riri naik ke atas ranjang.


" Kenapa mas." Tanya Riri binggung.


"Ganti baju tidur yang kemarin dibelikan Mama, baru naik." Balas Ervan.


Riri mengerti maksud suaminya. "Tapi....", "sudah nggak pake tapi-tapi." Balas Ervan lagi.


Riri pun mengambil dari lemari lingerie yang diinginkan suaminya, menganti bajunya dan naik ke tempat tidur dengan wajah malu-malu. Ervan menarik tangan istrinya mengobati rasa kekesalannya, malam panjang pun berlanjut untuk pasangan suami istri ini.


.


.


.


.


.


.


**NEXT.......


Terima kasih readers jangan lupa tinggalkan jejak LIKE 👍 KOMENT , terus VOTE AUTHOR ya🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


#dirumahaja**


__ADS_2