Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
BAB 90 Kabur


__ADS_3

Perasaan wanita hamil sangatlah peka, dia mudah merasa ketika ada sikap yang berubah dari suaminya. Dia lebih sensitif dalam segala hal merasa di bohongi dan dikhianati. Membutakan semua kebenaran yang dia rasakan hanya diabaikan oleh suaminya. Begitulah sekiranya yang ada dipikiran Riri.


Mengingat kejadian tadi, hatinya mulai kalut lagi, dia tidak menyangka hanya sesingkat itu perubahan suaminya semenjak kehadiran Miranda didalam rumahnya.


Menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari mall, Riri sudah tiba di salah satu rumah sederhana di perumahan padat penduduk di timur kota.


Kali ini air matanya tidak menetes lagi seperti tadi, dengan masih perasaan marah Riri berusaha tetap tegar.


"Udin sebaiknya kamu pulang saja, nanti aku akan minta antar teman..." Kata Riri.


"Nggak apa-apa mbak, kata Nyonya saya harus antar mbak kemanapun pergi..." Balas Udin.


"Udin nggak apa-apa nanti saya bisa pulang sama teman, kita sudah laman nggak ketemu..." Ujar Riri lagi. Udin mengangguk menerima keputusan Riri. Riri keluar dari mobil.


Riri mengetuk jendela pintu kursi penumpang depan. "Udin, tolong jangan cerita apapun sama mama..." kata Riri ketika sopirnya hampir pergi. Udin mengiyakan dan perlahan pergi meninggalkan Riri.


Sebelum Riri mengetuk pintu, tuan rumah sudah muncul dari balik pintu.


"Ri, kok nggak bilang kalau mau kesini..." Tanya Rika pada Riri.


Riri langsung memeluk Rika. "Aku nggak tahu harus kemana, aku pengen lari sejenak dari rumah...."


"Kamu kenapa Ri, lagi hamil tua begini main lari-larian, masuk dulu yuk...," Rika mengandeng Riri masuk ke dalam rumahnya.


Kini keduanya sudah berada didalam kamar Rika, Riri mulai berangsur tenang. Dia mulai menceritakan pada Rika awal mula Miranda bisa datang kerumahnya, suaminya yang mengobrol hingga tengah malam sampai akhir puncaknya kejadian yang baru dialaminya di mall. Setidaknya Riri merasa sedikit lega mengeluarkannya kegundahannya hatinya pada sahabatnya.


"Ri, Mas Ervan itu cinta mati sama kamu, Mas Ervan juga lebih alim sekarang, aku yakin dia nggak mungkin berbuat aneh-aneh..." Ujar Rika.


"Kenapa dia nggak ngejar aku, jelasin disitu juga, lagipula sekuat apa wanita hami bisa berjalan hingga nggak terkejar, memang Mas Ervan aja yang mau berdua-duaan sama wanita itu..." Kata Riri yang mulai menangis lagi merasa terabaikan oleh suaminya.


"Positif thinking Ri, mungkin ada alasan yang buat Mas Ervan nggak kejar kamu..."


"Entah Rik, Aku mau menjauh dulu dari rumah, setidaknya untuk waktu singkat aku tidak melihat mereka bersama..."


"Astagfirullahal'adzim Ri, masih curigaan lagi, sekarang pikirkan Abel yang sekarang jadi tanggung jawab mu, kalau kamu stress kasian bayimu nih yang sebentar lagi mau keluar...." Rika mengelus perut Riri.


Riri hanya terdiam berusaha berpikir lagi, apakah dirinya benar atau salah.


"Ri, maaf banget aku nggak bisa lama-lama, aku harus ke kampus mau bimbingan sama pak Firman, kamu tahu kan Pak Firman susah sekali ditemui ini kesempatan Aku..."


"Ya Rik, sorry ya aku jadi nggangu kamu..."


"Nggak apa-apa, kamu tenang udah lulus, aku masih berjuang nih apalagi dosen pembimbing kamu enak Pak Adrian sama Bu Dwi, sedangkan aku Pak firman si super sibuk, berdoa aja berharap bisa lulus tahun ini..." Cerita Rika.

__ADS_1


Riri sejenak melupakan masalahnya ketika membahas masalah kampus mereka saling tertawa membahas masa lalu dan kejadian lucu dikampus.


"Ngomong-ngomong Ri, gimana ceritanya Pak Adrian bisa nikah sama mantan suamimu yang kayak singa.."


"Rika, nggak boleh gitu, sekarang dia baik..." Balas Riri sambil menyambung menceritakan awal mula kisah mereka.


Sejenak luka Riri hilang, nampak tawa mulai memenuhi bibirnya berbagi cerita dengan Rika. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul empat sore, waktunya Abel pulang sekolah dan Rika pun harus ke kampus. Tapi dia masih enggan untuk kembali ke rumah, di sisi lain di tak ingin membuat Abel kuatir, di lain sisi dia ingin menghindari suaminya sementara waktu.


"Ayo aku antar pulang..." Kata Rika yang sudah bersiap di atas motor.


Riri ragu akan pulang kerumahnya, dia malas bertemu Miranda, entah bagaimana dia menyikapi keegoisannya sekarang.


"Antar aku tempat Ibu aja, aku belum mau pulang ke rumah..."


"Nanti dicari sama suamimu, udah pulang aja yuk..." Kata Rika kurang setuju dengan sikap Riri yang menjadi ambekan.


"Kalau memang dia peduli sama istrinya, harusnya dari tadi siang dia udah nyusul aku..." Balas Riri.


Rika pun tak berhasil membujuk Riri. Dengan terpaksa dia mengantarkan sabahatnya ke rumah orang tuanya yang berjarak tak jauh dari kediamannya.


Riri mengetuk pintu karena rumahnya nampak terkunci dari dalam.


"Assalamu'alaikum Bu..." Riri mencium punggung tangan ibunya yang membukan pintu.


"Riri sama Rika Bu..." Jawab Riri yang kini duduk di sofa rumahnya.


"Kamu kok sama Rika, kamu udah ijin suamimu pergi ke rumah Ibu..." Kata Bu Sinta dengan nada keras.


Riri hanya diam dan binggung harus menjawab apa, Riri tidak ingin orang tuanya tahu kebenarannya, bahkan Riri mematikan ponsel sejak tadi.


"Ri, kamu kenapa? kamu ada masalah sama suamimu...." Tanya Bu Sinta merasa ada yang berbeda dengan anaknya.


deg. Riri jadi binggung lagi. "Nggak Bu, Riri cuma mau ke tempat Ibu aja..."


"Kenapa sore begini, suamimu nggak cari kamu, waktu pulang kerja kamu nggak ada dirumah, anakmu gimana siapa yang ngurus.."


Mendengar kata ibunya Riri jadi semakin ragu dengan keputusannya yang tidak pulang ke rumah. "Bu, Riri boleh disini dulu, Riri pengen istrirahat dirumah Ibu..." Kata Riri tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


Riri langsung berjalan ke kamarnya sebelum Bu Niah menanyakan hal yang membuatnya terdesak lagi. Tapi Bu Sinta terus membuntuti Riri ke kamarnya merasa ada sesuatu yang disembunyikan pada anaknya.


"Ri, kalau ada masalah sama suamimu diselesaikan baik-baik, ibu nggak pernah ngajarin kamu main kabur-kaburan begini...." Tegas Bu Sinta yang curiga dengan sikap Riri.


"Nggak Bu, Riri nggak ada apa-apa..." Balas Riri panik.

__ADS_1


"Sekarang kamu pulang! ini sudah sore, nanti kalau suamimu pulang kerja pasti nyari..."


"Riri nunggu Mas Ervan jemput Bu..." Riri memberi jawaban yang membuat ibunya tidak panik meskipun dipikirannya Riri ragu suaminya akan menjemputnya atau tidak.


Mendengar jawaban Riri, Bu Sinta merasa lega dan meninggalkan Riri di dalam kamar.


*****


Di tempat yang berbeda menjelang waktu sholat Isya. Abel panik menunggu Mama dan Papanya yang tak kunjung di rumah. Abel terus menelpon papanya tapi tidak diangkat.


Mendengar suara mobil dari carport, Abel langsung berlari menuju pintu untuk keluar menemui Papanya dengan panik.


"Pa, Mama belum pulang dari tadi siang kata Bi Mina, Abel telepon Hp nya nggak aktif..." Seru Abel panik.


"Mama belum pulang dari siang!!" Ervan sangat panik, dia langsung mengambil ponselnya. Banyak pesan dan telepon yang masuk tanpa sepengetahuannya karena tadi Ia rapat sehingga Ponselnya menggunakan mode senyap. Ia mencari pesan dari Riri namun tak ada sama sekali pesan baru, menelponnya berkali-kali tapi tidak aktif.


Ervan mulai cemas. "Papa akan cari Mama, kamu tunggu dirumah.."


"Ya Pa, Papa hati-hati," balas Abel.


Ervan kembali lagi ke halaman masuk kedalam mobil bergegas menyalakan mesin. Dia melajukan kendaraannya panik, merasa bersalah dan cemas berkecamuk menjadi satu. Setelah menelpon Udin dan mengetahui keberadaan Riri. Dengan perasaan tidak tenang, Ervan bergegas melajukan kendaraannya menuju rumah Rika disuasana malam yang masih ramai ini.


Apa kamu marah karena kesalahpahaman tadi siang sayang, Ya Allah lindungi istri dan bayinya dimana pun mereka sekarang. kamu buat kuatir Ri


Ervan sangat panik mengingat istrinya yang sedang hamil tua.


.


.


.


.


.


.


. Next.....


**Maaf Zen sampai sini dulu, author mau nafas dulu InsyaAllah mau di lanjut lagi.....


Terima kasih sudah sabar nunggu Up dari Author..

__ADS_1


Jangan lupa Like Koment Vote biar semangat up nya🙏🙏🙏🙏🙏🙏**


__ADS_2