Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Calon istri saya?


__ADS_3

Raffa


Saya tidak bisa tenang ketika berada di dekat Aline. Setelah beberapa hari tidak bertemu karena pingitan, sekarang melihat tampilan dia yang berubah. Membuat jantung saya jadi tidak baik-baik saja.


Aline terlihat sangat cantik seperti calon istri sungguhan, maksudnya calon istri impian. Saya sampai tidak mengira kalau itu adalah si Alien. Saya mencoba bersikap wajar agar tidak terlalu kelihatan kalau saya mengagumi tampilan baru calon istri saya ini.


Sekarang Aline mulia jinak setelah saya beri ancaman. Semakin dia bicara semakin pula jantung saya juga berdebar-debar. Ada apa dengan saya? Nggak mungkin kan saya langsung secepat itu menaruh hati pada Aline hanya karena sekarang dia berhijab? Yang dinamakan cinta itu harus mencintai seutuhnya luar dan dalam. Benar kan?


Saya belum termasuk kategori, ehem ... cinta Ya! Tapi kalau menuju kesana, mungkin bisa iya, bisa juga tidak!


"Kenapa nggak kirim undangan yang digital! kenapa harus datang temui langsung!" Saya membuka pembicaraan.


"Nggak sopan Raf kasih undangan digital. Lebih baik di kasih langsung kita masih satu kecamatan."


"Kenapa kamu undang Farel? Bukankah kamu tahu undangan akad nikah kita hanya untuk keluarga besar dan kerabat?" Saya sedang kesal dengan Aline, dengan entengnya mau bertemu laki-laki lain menjelang pernikahan.


"Raf, Farel tuh udah kayak kakak aku sendiri, kebetulan dia juga nggak punya adik. Jadilah kita Kakak dede' an dari SMA," balas Aline santai.


"Maksud Kamu?" saya sedikit geli ya dengan kakak dedean yang di bilang Aline.


"Dia tuh udah aku anggap keluarga bukan teman lagi! Kita hanya terpisah aja karena kuliah beda negara," jelas Aline lagi.


"Kamu harus ingat perjanjian kita, kalau nggak mau terima sanksi!" ancam saya lagi.


Aline menggelengkan kepala dan wajahnya yang sangat memerah membayangkan sanksinya. Lucu dan gemesin juga manusia berisik ini. Kenapa belum jadi istri, dia nurut sekali ya.


"Nanti kamu tunggu di mobil! Saya yang akan antar sendiri undangan."


"Nggak bisa gitu Raf, aku harus ikut!" kekek juga Aline ingin bertemu Farel.


"Kamu lagi dalam masa pingit, kamu saja nggak boleh ketemu calon suami, apalagi ketemu laki-laki lain!"


"Kali ini aja Raf, masa iya kita ikut-ikutan percaya hal begituan, kita kan hidup di era modern."


"Nggak bisa! Atau aku lapor nih sama mami kamu biar kita nikahnya besok sekalian!"


"Kamu hobbi banget ngancam orang!"


Aline membuang muka ke arah jendela, saya tidak peduli dia marah atau tidak, yang jelas dia tak boleh bertemu Farel! Titik!


Tak lama mobil sudah di basement gedung parkir kantor Farel yang berada di sebelah kantor saya.


"Raf!" Panggil Aline dengan suara lembut.


"Kenapa lagi?" saya jadi batal membuka pintu.


"Please, aku mau ketemu orang yang aku anggap Kakak," pintanya dengan wajah imut khas anak kucing melas andalannya, yang selalu membuat saya kadang melunak.


Tapi tidak mempan Caroline!


"Nggak! kamu tunggu di mobil! Saya nggak akan lama." Saya langsung melangkah keluar, saya tahu bahwa Aline pasti kesal.


Saya menuju lift menuju lantai empat tempat kantor Farel. Kebetulan saya kenal baik pemilik perusahaan. Jadi tidak susah bagi saya menemui Farel yang punya posisi penting di perusahaan.

__ADS_1


"Tumben! Ada apa sih nemui aku dikantor?" tanya Farel yang menyambut saya.


Saya langsung duduk di sofa ruangan, saya harus bilang darimana ya? Masalahnya Farel tahu saya dekat dan mengincar Alesa. Sekarang saya akan bilang akan menikah dengan Aline. Bagaimana responnya? Kenapa juga Farel harus kenal dekat dengan Aline, kan repot begini jadinya.


"Raf, kamu kesini cuma mau numpang duduk di sofa sambil jagain aku kerja." Farel mendekati saya dengan tatapan aneh.


Saya mengumpulkan keberanian mengeluarkan undangan yang terbuat dari kulit kayu lunak pilihan Mama. Saya kasih di atas meja, Farel bisa baca kan, biar saya tak perlu menjelaskan itu undangan apa.


"Wew, akhirnya! Diam-diam langsung merried ya." Farel membaca sampul depan penuh semangat. "Raf! Kamu nggak lagi bercanda kan?" ekspresinya mendadak berubah.


Saya hanya mengangguk.


"Caroline Shania Bagaskoro, calon istri kamu! Aline!" Tegasnya lagi dengan respon yang berlebihan. Bukannya mereka hanya kakak adeaan atau entah atau apa itu kata si Alien.


"Ya Rel, sesuai di undangan!"


"Serakah kamu Raf! Kemarin kamu jalan sama Alesa, sekarang kamu nikahnya sama Aline! Baru beberapa Minggu lalu kamu pura-pura nggak kenal dia!"


"Santai Rel, saya sama Aline menikah karena perjodohan dan kesepakatan orang tua. Kita berdua sama-sama nggak bisa menghindar. Jadi ya udah kita terima kalau memang kita berjodoh."


"Masalahnya kamu nggak cinta kan sama Aline?"


Kenapa Farel jadi emosi, kenapa saya harus menjawab pertanyaan masalah perasaan?


"Rel, masalah cinta atau tidak, biar itu jadi urusan pribadi!"


"Raf, kamu jangan pernah sakiti Aline, dia gadis baik, polos, dan gampang terbawa perasaan meskipun dia agak berisik. Dia pernah bilang sama aku terima perjodohan karena cinta pada pandangan pertama, maklum dia nggak pernah pacaran atau dekat dengan laki-laki, makanya lihat kamu mungkin dia langsung suka."


"Rel, saya tahu apa yang harus dilakukan sebagai suami."


"Ya, pasti."


"Kalau kamu sakiti dia, disini siap nunggu jandanya." Farel menepuk-nepuk dadanya.


"Apa sih Rel!"


"Canda Raf." Farel terkekeh tidak jelas.


"Sorry Rel, saya mau balik dulu. Kamu jangan lupa datang." Saya berdiri karena merasa sudah terlalu lama di kantor Farel.


"Ya, sekali lagi selamat ya Raf." Farel menjabat tangan saya dan memeluk saya.


Sial, candaan Farel nunggu jandanya. Nggak lucu! Kenapa saya jadi kesal? Saya merasa Farel lebih tahu banyak tentang Aline.


...****************...


Saja Kembali ke mobil, saya harus segera memulangkan Aline karena Tono mengirim pesan menanyakan keberadaanya. Saya melihat Aline sangat tenang dengan ponselnya, Baguslah, padahal saya merasa sudah terlalu lama meninggalkan dia di dalam mobil.


"Udah Raf? Kok lama hampir aja aku mau bikin candi," tanyanya sambil memperlihatkan iPad dengan gambar yang dia buat.


"Udah beres, sekarang kita pulang, mami kamu udah nyariin." Saya menyalakan mesin mobil dan bergerak meninggalkan kantor Farel.


Saya melihat dari kaca spion atas Aline senyum-senyum sendiri tak jelas sambil melihat ke arah saya. Sumpah nih betina satu, bikin orang jadi salah tingkah kalau begini.

__ADS_1


"Raf,"


"Apa?"


"Setelah beberapa hari nggak ketemu karena di pingit kamu kangen nggak sama aku?" kata Aline kembali memasang wajah sok imut itu lagi.


"Nggak sama sekali!" jawab saya lantang, muka Aline langsung berubah masam melihat ke arah depan.


"Berarti nggak benar kan pingitan bisa memupuk rindu, buktinya yang kangen aku aja, kamu nggak," ucap Aline.


Saya menoleh ke arah Aline sekilas, kenapa sih dia selalu jujur dalam mengungkapkan segala, cobalah malu-malu sedikit. Saya juga kangen, Tapi dikit!


"Nggak usah kecewa gitu, kita kan baru beberapa hari masa udah kangen-kangenan. Kalau beberapa bulan mungkin bisa kangen." Saya berusaha menghibur si Alien karena tak tega juga melihat mukanya yang di seperti pakaian kusut.


"Iya, iya!" Katanya kemudian diam beberapa saat. Akhirnya saya kembali merasakan ketenangan berkendara.


"Raf!" panggilnya lagi, apa perlu saya bawa lakban di dalam mobil. Alien tidak bisa diam walau sebentar saja.


"Raf kamu nggak budek kan!" panggilnya lagi karena saya belum merespon tadi.


"Apalagi?"


"Muka kamu lesu gitu, kayak lelah, di pipi sama dahi kamu mulai beruntusan. Kamu facial lah Raf, minimal pakai sleeping mask kalau malam, biar muka kita pas di akad nikah sama-sama glowing, shining, shimmering, spleding, dan ing-ing yang lain."


"Nggak perlu, saya begini aja kamu cinta kan!" balas saya agar Aline malu dan berhenti mengoceh.


"Ya juga sih," balasnya sambil tersenyum-senyum aneh ke arah saya.


Omega! bisa kah dia malu sedikit dan tak terlalu jujur umbar perasaan. Ini betul calon istri saya? Kuatkan jantung saya ya Allah.


"Tapi Raf, apa salahnya membuat wajah kamu glowing, biar tamu undangan tuh tahu wajah kita berseri cerah karena bahagia menemukan pasangan yang tepat!" Aline lagi-lagi mengedip mata seperti kemasukan semut.


"Lin! duduk, diam dan tenang, kalau nggak saya akan Ci ...."


"Ya ... iya!" Aline memotong kalimat saya sambil menutup mulutnya.


"Good girl,"


Semoga dia bisa tenang beberapa menit ke depan.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung......


__ADS_2