
Matahari siang menyembunyikan sinar terangnya yang digantikan oleh rembulan yang indah. Malam yang tenang dan berselimut kebahagiaan dirumah Abel.
Abel membantu Rena bersiap - siap sebelum bertemu Angga. Abel memberikan riasan sederhana tapi cantik pada Rena meskipun awalnya dia menolak. Keduanya berharap pertemuan dengan Angga berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
"Abelong kenapa aku grogi gini ya," kata Rena sambil mengosok-gosok tangannya karena gugup.
"Cieh, bisa juga grogi, Insya Alloh pertanda baik itu." Kata Abel mengoda sahabatnya.
Handle pintu terdengar, masuklah Riri yang membuyarkan keseruan dua anak gadis ini.
"Rena, Abel, ayo turun tuh Angga udah datang." Kata Riri tersemyum pada Rena dan Abel.
Keduanya pun mengangguk Rena dan Abel bangkit berjalan beriringan keluar kamar.
"Mudahan kamu jodoh ya sama adik ibu," Seru Riri sambil memegang pundak Rena.
"Amin," Balas Abel semangat, sementara Rena hanya mengangguk tersipu malu.
Kini semuanya sudah di ruang tamu. Ada keluarga Ervan dan juga Bi Mina dan Pak Amin yang mendampingi Rena mewakili orang tuanya yang berkerja di luar kota.
"Alhamdulillah semua sudah berkumpul, jadi maksud dari adik saya Angga, ingin berkenalan lebih dekat dengan Rena untuk bisa mengitbah jika nanti ditunjukkan jalan dan dimantapkan hatinya oleh Allah." Kata Ervan membuka pembicaraan.
Sedangkan Angga tersenyum melihat Rena ternyata lebih manis dari pada fotonya.
"Sekarang Angga silahkan memperkenalkan diri." Balas Ervan menunjuk pada Angga.
"Assalamu'alaikum Rena dan juga kakek neneknya, nama saya Angga, umur saya dua puluh delapan tahun, seperti yang bapak ibu tahu saya hanya buruh di perkebunan kelapa sawit milik ponakan saya Abel." Jelas Angga yang mendadak grogi.
"Maaf nyela, Abel ralat, buruh direktur kontrol perkebunan yang memonitoring semua bawahan di area perkebunan," terang Abel menyangka ungkapan pamannya yang mencoba merendah.
"Ya tetap aja buruh, bos nya Ibu Abelia yang cerewet." Canda Angga diselingi sela tawa seisi ruangan.
"Ya Paman, silahkan lanjut...." Celetuk Abel.
"Jadi saya disini ingin menyambut baik niat ponakan saya untuk memperkenalkan saya dengan adek Rena atau bahasa kasarnya menjodohkan saya dengan Cucu bapak ibu." Kata Angga sopan.
"Tapi kita kembalikan semua urusan hidup kita kepada Allah, setelah Rena bertemu dengan saya. Bagaimana pendapat Rena? Apakah Rena bersedia untuk sama-sama minta petunjuk dari Allah dan memantapkan hati kita masing-masing dengan beristhikarah untuk kita bisa melanjutkan ke jenjang lebih baik agar bisa menyempurnakan agama kita." Jelas Angga.
Bu Mina dan Pak Amin terlihat bahagia melihat Angga, apalagi Rena yang seperti langsung meleleh melihat Angga yang tampan dan mendengar kata sejuk dari nya seolah sudah memancarkan calon imam.
"Abelong, aku mau." Bisik Rena pelan di telinga Abel.
"Ingat, malu sedikit, jangan langsung to the point." Bisik Abel mencubit Rena.
"Iya, iya." Ujar Rena.
Keduanya pun kembali menyimak ucapan orang tua yang berbicara.
"Jadi Rena gimana apa bersedia menerima ajakan Angga untuk sama-sama istikharah, nanti kalau memang di tunjukan jalan oleh Allah, keluarga Angga akan datang untuk melamar Rena." Terang Ervan.
__ADS_1
"Ya Om, Rena bersedia, mudahan Rena ditunjukkan jalan oleh Allah untuk menapaki hubungan yang lebih baik dengan Paman Angga." Balas Rena.
"Jangan panggil paman dong sama calon suaminya, masih muda loh dia." Goda Riri disusul gelak tawa bahagia seisi ruangan.
"Ya, Mas Angga maksudnya Bu.'" Balas Rena tersenyum malu.
"Cieh, cieh...." Balas Abel mengoda sahabatnya.
Acara pun dilanjutkan dengan makan malam bersama keluarga Ervan. Melihat sahabatnya yang begitu dekat dengan pernikahan, membuat Abel juga semakin tidak sabar untuk segera dihalalkan Davin kekasihnya.
Dia tersenyum-senyum sendiri membayangkan keluarga Davin menemui Papanya untuk meminang dirinya.
Malam bahagia dirumah Ervan pun berlanjut sambil menikmati hidangan yang sudah disiapkan Riri.
*******
Diwaktu yang sama dan tempat yang berbeda, Davin buru - buru masuk ke dalam rumah. Ia ingin melihat keadaan Nolan setelah keluar dari rumah sakit sebab ia tidak ikut menjemput karena urusan kantor. Keluarga Adiguna berkumpul di ruang keluarga rumah mereka yang megah.
"Anak kebanggaan Papa baru pulang," kata Pak Hendrawan melihat kedatangan Davin di ruang keluarga.
"Ya, banyak yang harus dikerjakan Pa, tiga hari nggak pergi ke kantor." Balas Davin merebahkan tubuh di sofa bersama keluarganya.
"No, sorry Abang nggak bisa ikut jemput." Kata Davin pada adiknya yang berada disampingnya.
"Ngerti aja Bang, Alhamdulillah aku udah baikan." Balas Nolan.
Keadaan Nolan memang terlihat jauh lebih baik ketika berada di rumah, meskipun tulang bahu kirinya masih dalam proses pemulihan. Kini ia harus memakai pelindung bahu yang merekat erat dari bahu atas hingga lengan atasnya untuk mempermudah geraknya.
"Ada apa dengan Bang Davin Pa." Tanya Nolan.
"Sebenarnya aku juga ingin bicarakan sesuatu dengan Papa dan Mama, tapi Papa dulu yang bicara." Ujar Davin.
"Jadi begini Davin, sebentar lagi kita akan berbesan dengan Pak Toni Wijaya." Ujar Pak Hendrawan tersenyum senang.
"Papa udah tahu kalau aku menjalin hubungan dengan Cucu Pak Toni, Davin senang banget Pa." Kata Davin antusias penuh kebahagiaan.
"Oh Ya, Papa nggak tahu, Papa memang sudah lama merencanakan perjodohan kamu dengan cucu mereka, penerus perusahaan Wijaya, ini sangat kebetulan." Balas pak Hendrawan.
Senyum kebahagiaan tak lepas dari wajah Davin dan berharap semuanya rencana berjalan baik.
"Kalau begitu kita akan mengatur pertemuan dengan keluarga Pak Toni dan Ervin, kita akan membahas lagi perjodohan Davin dengan Kayla." Seru Pak Hendrawan semangat.
Senyum di wajah Davin langsung memudar mendengar nama yang disebut Papanya bukan Abelia.
"Pa, tunggu, Davin dekat dan saling mencintai dengan Abelia anak Mas Ervan bukan Kayla." Davin langsung berdiri menatap kearah Papanya.
"Anak Ervan! Ervan saja menikahi wanita muda yang tidak jelas asal usulnya. Tidak Davin, Papa mau kamu menikah dengan Kayla anak Ervin, penerus perusahaan Wijaya." Tegas Pak Hendrawan yang membuat Davin semakin marah.
"Pa, tenang Pa," Seru Bu Mitha yang tidak berbuat banyak hanya bisa mendekati suaminya.
__ADS_1
"Pa, kenapa Papa tidak biarkan Bang Davin menikah dengan wanita pilihannya, sudah berapa kali Bang Davin menjatuhkan harga dirinya demi Papa!" seru keras Nolan yang ikut berdiri tanpa memperdulikan bahunya yang sakit.
"Nolan, kenapa kau juga bicara kurang ajar pada Papa." Bentak Pak Hendrawan.
Davin menepuk bahu Nolan menenangkan. adiknya agar duduk kembali mengingat Keadaan yang belum pulih.
"Pa, aku mungkin bisa menuruti Papa untuk berkencan dengan wanita manapun pilihan Papa, tapi tidak dengan teman hidup Davin Pa. Aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku pilih dan cintai!" kata Davin dengan penuh emosi.
"Davin! pikirkan baik-baik sebelum kamu menyesal tidak mendengarkan Papa!" gertak Pak Hendrawan.
"Nggak Pa, Davin hanya untuk Abelia." Kata Davin berpaling meninggalkan ruang keluarga yang hangat menjadi penuh amarah.
"Davin! apa hanya karena seorang wanita kamu berani menentang Papamu!" Teriak Pak Hendrawan yang melihat Davin terus berjalan menaiki menuju tangga tanpa mengubris Papanya.
"Kenapa Papa selalu saja egois dan mementingkan keuntungan Papa!" Kata Nolan yang ikut beranjak meninggalkan ruang keluarga.
Pak Hendrawan hanya bisa berdengus kesal menyaksikan kedua putranya meninggalkan ruang keluarga.
******
Sementara di dalam kamar perasaan Davin sangat tidak karuan, semuanya menjadi kacau tidak sesuai harapannya.
Ia menendang kursi kamarnya dengan keras untuk meredam kekesalannya.
Drrrrttttt. suara pesan masuk dari ponselnya, Ia meraih, membaca pesan yang muncul dilayar ponsel.
Abel : Assalamu'alaikum, bang Davin udah dirumah. Abel seneng banget malam ini sahabat Abel akhirnya menemukan jodohnya, Abel jadi nggak sabar nunggu bang Davin dan keluarga datang nemuin Papa 😍.
Abel meraup wajahnya setelah membaca pesan dari Abel.
Davin : Sabar ya sayang, pasti ada waktunya. Besok masak lagi buat Abang ya. love you.
Davin menghela nafas setelah membalas pesan, berusaha bersikap normal agar Abel tidak merasa risau dengan keadaan yang sebenarnya terjadi.
.
.
.
.
.
.
Next..........
Sorry telat up, Terima kasih udah sabar nunggu up dari author.🙏🙏🙏
__ADS_1
Beri semangat author ini Pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bagi VOTE seikhlas kalian. Loph U ❤️❤️