Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
IUP14-S2// Jatuh Cinta


__ADS_3

Menempuh perjalanan sepuluh menit dari rumah Abel penuh kebisuan di motor. Abel dan Nolan sudah tiba di panti asuhan disambut puluhan anak-anak usia 10 tahunan sambil membawa buku kegirangan. Anak-anak langsung menarik tangan Abel usai Abel melekatkan helm.


"Bang Nolan pinjem Kakak cantik," Kata salah satu anak pada Nolan mewakili puluhan anak-anak yang berkerumun.


"Jaga Kakak cantiknya, nanti kalau Kakak cantik ngajar, kalian dengerin yang bener biar pinter." Kata Nolan dengan memasang wajah manis.


Abel melonggo melihat cara bicara orang yang disampingnya berubah 180 derajat ketika berbicara dengan anak-anak. Abel cepat menutup mulutnya yang hampir meneteskan air liur sangking terkesimanya seperti melihat pemerhati anak tanah air kak sito versi cowok ganteng.


Kepala Abel penuh tanda tanya, apakah manusia di sampingnya ini punya kepribadian ganda seperti novel triller, atau cowok ganteng nan songong ini ketempelan tuyul penghuni pohon asem. Sehingga kalau bertemu anak-anak dia jadi manis semanis madu lembah yang tinggal di pohon asem.


"Ayo Kak," Kata salah satu anak yang membangunkan pikiran kacau dan ngelantur Abel.


Kini dia mengikuti langkah anak-anak menuju gazebo yang sudah disiapkan khusus untuk pemberian bimbingan belajar. Ada papan tulis dan beberapa meja lesehan sangat modern terasa nyaman kalau dipakai belajar.


Abel memulai pelajaran matematika untuk Anak-anak usia 4 sampai kelas 5 SD yang sudah duduk dengan rapi, anak-anak nampak senang mendengarkan cara mengajar Abel yang lucu dan menyenangkan meskipun dia bukan guru.


Sementara disisi berbeda Nolan terus memperhatikan Abel dari kejauhan. Ia segera mengambil kamera yang ada didalam tas punggungnya. Dia membidik beberapa kali gambar wanita berhijab yang ada di gazebo. Ia memandang senang wajah wanita cantik itu meskipun dari balik lensa tanpa terasa bibirnya tersungging tersenyum senang. Ia mengambil mode zoom agar dapat melihat wajah cantik Abel dari dekat meskipun hanya dari balik lensa. Tangannya tanpa terasa mengusap wajah Abel dari balik lensa itu.


"Bang Nolan, senyum-senyum sendiri lihat kakak cantik ya..." Goda anak laki-laki yang membangunkan lamunan Nolan. Dengan sigap Nolan mematikan kameranya.


"Kalian diam! sana pergi." Bantah Nolan pada anak-anak karena melihat Abel berjalan kearahnya.


Abel mendekat ke arah Nolan usai menjalankan tugas dan janjinya pada Nolan.


"Kamu suka fotografi, sama dong kayak aku." Kata Abel melihat Nolan memegang kamera.


"Ya hobi," balas Nolan singkat.


"Coba lihat gambar kamu." Abel langsung merampas kamera Nolan.


Dengan panik Nolan mengambil lagi kameranya dari tangan Abel. "Baterai habis lain kali aja." Kata Nolan gelagapan. Abel terpaksa mengalah.


"Kita makan dulu yuk, bakso itu enak rasanya." Kata Nolan mengalihkan pembicaraan menunjuk tukang bakso yang lewat.


"Boleh...." Balas Abel.


"Yakin nggak apa-apa makanan pinggir jalan," tanya Nolan.


"Kenapa nggak...." Balas Abel. Nolan bangkit dari kursi taman dan menghampiri Abang tukang bakso.


Tak lama berselang tukang bakso datang menuju taman panti membawa nampan berisi dua mangkok bakso lengkap dengan sambal. Aroma yang keluar dari mangkok sangat lezat, Abel dengan sigap mengambil mangkok dan menuangkan banyak sambal.


"Awas sakit perut," tegur Nolan. Abel hanya tersenyum sekilas.


Nolan yang melihat mangkok Abel langsung menelan ludah, tak menyangka wajah cantik ini suka dengan makanan pedas. Keduanya pun sibuk dengan mangkok masing-masing.


"Nolan anak-anak akrab banget sama kamu, kamu sering datang ke sini." Tanya Abel memecah keheningan sambil menyuap bakso.


"Ya, kalau ada waktu pasti aku kesini." jawab Nolan.


"Nolan selain kuliah, apa kegiatan kamu, kamu, aku denger kamu juga donatur tetap ya di panti ini." Kata Abel memecah keheningan.


"Aku usaha bengkel modifikasi mobil," jawab Nolan.

__ADS_1


"Oh ya, dimana?" tanya Abel.


"Di kawasan jalan haryono," jawab Nolan.


"Udah lama,"


"Lumayan, awalnya join sama orang, terus di kasih modal sendiri sama Abangku, Alhamdulilah bisa jalan sampai sekarang dan sebagian keuntungan bisa disalurkan tiap bulan disini." Cerita Nolan.


Abel hanya terdiam heran melihat Nolan yang berbicara banyak lebih dari satu sampai tiga kata.


"Kamu hebat, bisa konsen ngurus usaha sama kuliah."


"Kamu juga cantik," balas Nolan menjawab seperti keceplosan.


Hahh. Abel menoleh ke arah sumber suara yang memujinya memastikan pendengarannya pasti salah.


"Maksud Aku, gazebo itu cantik, anak-anak yang menghias." Jawab Nolan asal merasa mendadak gugup.


"Minum, tolong minum." Kata Abel mendadak tersedak sesuatu sambil memegangi tenggorokannya.


Nolan dengan cepat menyodorkan minuman, Abel langsung saja menyambar sedotan dari gelas yang di tangan Nolan. Sikap Abel membuat debaran jantung Nolan kembali bergemuruh.


Kenapa aku akhir-akhir ini seperti ini kalau dekat Abel, aku berdebar-debar terus sepertinya harus ke dokter. Kata Nolan dalam hati.


"Maaf buru-buru, Makasih." Abel menjauhkan sedotan dari mulutnya, Nolan menurun gelas es teh yang di sodorkan tadi pada Abel. Abel jadi heran mendadak si songong jadi pendiam dan lembek.


"Ayo, aku antar kamu pulang, sebentar lagi senja." Kata Nolan bangkit dari kursi taman.


"Ayo." Balas Abel menumpuk mangkok bakso.


Dari atas lantai dua, Ervan memperhatikan anaknya yang pulang berboncengan motor dengan laki-laki.


"Sayang, sayang!" teriak Ervan pada Riri.


Riri yang asik menonton acara TV diatas ranjang langsung bergegas menemui suaminya di balik jendela kamar.


"Ya Mas," jawab Riri.


"Itu anak kamu darimana, kenapa dia pulang sama laki-laki naik motor lagi...." Kata Ervan dengan keras pada Riri.


"Tenang Mas," Riri merangkul pinggang suaminya dan mengelus dada bidangnya menenangkan suaminya.


"Itu teman Abel, dia dari panti asuhan bantu temannya ngajar disana, dia naik motor soalnya tadi sore jalanan padat maka nya di bareng sama temannya." Terang Riri.


"Sayang, dari pada Mas emosi sama Abel, nanti kamu bilang sama Abel jangan pulang berboncengan naik Motor lagi dengan laki-laki, suruh dia bawa motor sendiri." Tegas Ervan.


"Ya Mas, Mereka tadi kebetulan aja Mas," Riri kembali menenangkan suaminya.


Kembali ke depan pagar halaman rumah Abel.


"Terima kasih ya." Kata Nolan.


"Sama-sama, kamu hati-hati jangan ngebut." Balas Abel.

__ADS_1


"Bilang Raydan salam kangen dari Bang Nolan." Seru Nolan. Abel mengacungkan jempol disusul melambaikan tangan.


Abel masuk ke dalam rumah setelah Nolan berserta motornya sudah tak terlihat lagi.


*******


Malam ini. Di rumah mewah dan megah dengan konsep classic modern di kawasan perumahan eksklusif di selatan kota B.


Nolan masuk kedalam ruang kerja kakaknya yang bersebelahan dengan kamarnya. Nampak Davin juga masih sibuk dengan layar komputer dan laptopnya bergantian.


"Bang...." Kata Nolan menyapa Kakaknya. Davin mengangguk dan berhenti dari aktivitasnya melihat kedatangan Nolan.


"Kenapa, tumben jam segini udah dirumah." Tanya Davin.


"Sepertinya Aku lagi nggak enak badan, aku mau minta tolong telponkan dokter keluarga kita." Ujar Nolan.


"Kamu sakit? sakit apa." Seru Davin panik.


"Nggak tahu bang, pagi menjelang siang nggak apa-apa tapi sore tadi setelah ketemu temen aku jantungku berdebar makin kenceng terus sampai sekarang." Terang Nolan.


"Teman kamu cewek apa cowok." Tanya Davin.


"Cewek..."


"Huahahaha!..." Davin tertawa keras dan berpikir apa sepolos itu adiknya di umurnya yang bisa di bilang bukan abege lagi. Davin jadi penasaran siapa wanita yang berhasil melunakkan adiknya yang seperti batu.


"Orang sakit di ketawain...." Balas Nolan Kesal.


"Itu namanya bukan sakit, tapi kamu jatuh cinta sama tuh cewek, kamu nggak butuh dokter, ini kamu pura-pura polos atau kamu beneran telmi." Ujar Davin.


Nolan mendengus kasar memikirkan ucapan Davin. Apa iya ia jatuh cinta dengan Abel?


"Coba Abang mau lihat foto temen kamu itu," seru Davin penasaran.


"Kamera aku mati Bang, besok aja lah, aku balik ke kamar dulu Bang." Jawab Nolan beranjak dari kursi melangkah keluar.


Davin menggelengkan kepala melihat adiknya yang jatuh cinta, sebelumnya yang ia tahu adiknya memang menutup diri dengan wanita. Karena itu, ia jadi merindukan juga dengan seseorang yang di cintainya. Ia meraih ponselnya melupakan pekerjaannya dan segera menghubungi Abel.


.


.


.


.


.


Next...


Zen : Gemes Thor, tolong Thor jangan di aduk-aduk perasaan anak orang nggak kuat aku...


Thor : Kaburrrrrrr🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️🏃🏿‍♀️

__ADS_1


Terima kasih udah sabar dan setia nunggu Up dari Author, Maaf telat Up.


Beri semangat Thor mu pencet LIKE, ketik KOMENT, yang punya poin bisa bagi VOTE, yang ada waktu balik sebentat ke beranda pencet rate 5. Loph U❤️🙏🙏🙏🙏


__ADS_2