Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Daftar


__ADS_3

Yanes sedang membersihkan rumah peninggalan orang tuanya.


Semalam kakaknya menelpon akan datang dan menginap kemari.


Kakaknya sudah lama tidak kemari, dia paham karena kakaknya masih merasa sangat kehilangan istrinya.


Dan kebetulan rumah orang tua almarhumah istri kakaknya itu adalah tepat di depan rumah mereka.


Kakaknya dulu jatuh cinta kepada gadis keturunan menado yang baru saja pindah ke depan rumah mereka saat Itu.


Namanya Yasinta Lembong anak dari keluarga Robert Lembong seorang pimpinan perusahaan swasta bergengsi yang baru membuka cabang di kota Tasikmalaya.


Yasintapun bersekolah di sekolah yang sama Yohan kakaknya dan mereka selalu sekelas sejak kelas 1 SMP sampai mereka lulus SMA.


Kemudian Yasinta melanjutkan kuliah sementara kakaknya tidak, dia membantu ayah berdagang di toko untuk membantu biaya sekolahnya dan juga adik perempuannya Mila.


Pada masa itu belum terlalu dikenal istilah delivery service atau layanan pengantaran, maka menjadi kesempatan bagi kakaknya melakukan terobosan kepada pelanggan kakaknya yaitu layanan pengantaran barang belanjaan.


Masa itu belum ada telepon genggam, yang ada telepon rumah dan kakaknya tidak tinggal diam setiap sore mendatangi satu persatu rumah tetangga sekitar bahkan sampai satu RT mencatat keperluan belanja yang dibutuhkan orang- orang untuk keesokan hari.


Dengan naik sepeda dia berkeliling setiap sore mencatat kebutuhan orang- orang dari rumah ke rumah, malam harinya menyiapkan pesanan.


Bila barang yang dipesan tidak tersedia maka sejak subuh sebelum matahari terbit dia ke pasar induk mencari kebutuhan pelanggannya.


Setelah siap kembali dia berkeliling mengantarkan pesanan.


Waktu itu Yanes juga sering membantu kakaknya menyiapkan pesanan orang tapi kakaknya melarang kalau Yanes ingin membantu mengantarkan pesanan.


Padahal pikir Yanes sambil berangkat sekolah sambil sekalian mengantar pesanan.


Namun kakaknya minta adiknya sekolah yang benar dan tidak memikirkan dirinya.


Seiring waktu berjalan toko ayah setelah dipegang kakaknya jadi tambah maju.


Bahkan waktu itu sudah bisa merekrut pegawai untuk membantu di toko.


Tapi kendala selalu saja terjadi ketika Yanes lulus SMA sedianya sang Kakak menginginkan adiknya kuliah karena sudah ada tabungan biaya kuliah untuk Yanes.


Namun disaat yang bersamaan ibu mereka sakit keras yang membutuhkan banyak biaya.


Sehingga harapan sang Kakak ingin Yanes kuliah kembali kandas.


Tabungan yang sedianya untuk kuliah Yanes dipergunakan untuk pengobatan ibunya.


Tapi karena sakitnya sudah terlalu parah maka tidak dapat tertolong lagi dan ibunya meninggal dunia.


Setelah beres pemakaman, dan lainnya, kemudian Yanes meminta kepada kakaknya untuk memberikan kesempatan membantu di toko.


Setelah dipikir kembali oleh kakaknya, maka diapun diperbolehkan.


Dan dimasa itu pula awal ada telepon genggam dengan bermodal nekat kakaknya membagi toko menjadi dua bagian, sebagian untuk sembako dan sebagian untuk penjualan telepon genggam, kartu perdana dan voucher isi ulang.


Yanes yang diminta untuk mengelolanya, dan akhirnya sedikit demi sedikit toko mereka maju lagi.


Bersamaan dengan itu kekasih kakaknya Yaitu Yasinta Lembong sudah lulus kuliah D3 perkantoran dan bekerja di salah satu kantor milik teman ayahnya.


Masalahnya adalah pemilik perusahaan sesama orang dari Menado.


Konflik terjadi, atasannya yang merasa sesama menado menyukai Yasinta.


Namun hatinya sudah terpatri kepada Yohan kakaknya Yanes.


Terjadi penolakan dari pihak keluarga Yasinta karena masalah perbedaan etnis, bahkan walaupun kami bertetangga seberang rumah tidak saling bertegur sapa.


Yanes sebagai adik waktu itu sering membantu kakaknya untuk mengalihkan perhatian keluarga seberang rumah apabila sang Kakak dan kekasihnya sedang janji bertemu.


Namun akhirnya ketahuan, keributan terjadi dan keluarga Yanes sempat dicaci maki oleh ayah kekasih kakaknya.


Tapi keluarganya bukan orang yang melawan amarah dengan amarah, mereka hanya bersabar dengan cacian dan hinaan.


Keluarga Robert Lembong ingin anaknya menikah dengan orang dari suku yang sama, tapi Yasinta tidak mau.


Akhirnya Yasinta nekad membawa seluruh barang miliknya dan pindah ke rumah kami.


Waktu itu kamipun panik dan keluarga depan juga sama paniknya bahkan lebih lagi.


Tapi Yasinta mengancam tidak akan pulang kalau tidak menikah dengan Yohan kakaknya Yanes, dan memilih akan bunuh diri.


Akhirnya luluh juga hati keluarga Lembong, setelah kejadian itu kakaknya tak lama menikah dengan Yasinta.


Setelah menikah mereka tinggal di rumah ini, dan tak lama Yasinta hamil.


Namun naas saat menginjak 5 bulan kehamilan terjadi pendarahan dan ketika diperiksa ternyata Yasinta mengidap kanker rahim.


Waktu itu dokter menyarankan untuk menggugurkan kandungannya, tapi Yasinta tidak mau.


Padahal bila terus dipertahankan akan berbahaya bagi dirinya dan juga bayi yang dikandungnya.


Namun Yasinta tetap bersikukuh mempertahankannya.


Akhirnya ketika melahirkan Yasinta sempat koma 2 minggu dan kemudian terjadi keajaiban bisa sadar kembali.


Penyakitnya tak kunjung sembuh walaupun sudah berobat ke beberapa dokter dan alternatif.


Penyakitnya lebih kuat bahkan menyebar hampir ke seluruh tubuhnya.


Dan ketika anak mereka berusia 5 tahun, Yasinta meninggal.


Disaat Yasinta hidup dan sakit sebenarnya keluarga Lembong menyalahkan keluarga kami.


Mereka menyatakan Yohan kakaknya Yanes membawa sial bagi Yasinta, bahkan keluarga Lembong.


Dalam pikiran mereka kalau saja dulu Yasinta menuruti kehendak orang tuanya pasti tidak akan meninggal.


Padahal hidup mati seseorang adalah rahasia Tuhan.


Saat Yasinta sudah meninggalpun tidak mau mengakui Nancy sebagai cucunya mereka.


Melihat hal itu, kemudian ayah menjual sebagian tanah warisan keluarga lalu membeli sebidang tanah di pinggiran kota Bbandung.


Dan memberikan sedikit modal usaha untuk Yohan berusaha disana karena merasa iba dan tak kuasa melihat cucunyapun selalu dihina oleh keluarga Lembong.


Akhirnya kakaknya pun membawa serta anak semata wayangnya ke kota Bandung dan berjuang sendiri bertahun-tahun demi mendapatkan hidup layak untuk dia dan anaknya.


Sampai akhirnya kakaknya sekarang bisa hidup layak sampai menyekolahkan anaknya ke sekolah tinggi.


Kakaknya pulang ke Tasikmalaya bisa dihitung jari, sewaktu Mila menikah dan terakhir dua tahun lalu saat ayah meninggal.


Itupun hanya sebentar saja, langsung kembali ke Bandung.


Sesaat Setelah Yanes selesai merapihkan rumah, datanglah Mila adiknya beserta suami dan kedua anak mereka yang masih kecil.


Mila membawa banyak makanan dan nasi untuk dimakan bersama rombongan tamu dari kota Bandung siang ini.


Terlihat sebuah mobil minibus berukuran cukup besar memasuki pekarangan rumah tua bercat abu-abu.


Di bagian depan samping rumah terlihat toko sembako namun sekarang sedang tutup.


Penumpang dan pengemudi mobil mulai turun satu persatu, dan yang sedang berada di dalam rumah pun menyambut mereka.


"Koko apa kabar? Ya ampun lama sekali engga ketemu," Mila menghambur memeluk kakak pertamanya.


Dan kakaknya pun memeluk erat adiknya, lalu Ridwan suami Mila pun mendekat dan memeluk kakak iparnya.


Nancy juga berlari memeluk tante dan Oomnya dan langsung mencari kedua sepupu kecilnya dan memeluk mereka dengan gemas.


Yohanpun memperkenalkan Retno kepada adiknya dan adik iparnya.


Menyusul mereka juga menyalami Stella, Randi dan Nico, lalu mempersilahkan semuanya masuk.


Sesampainya di dalam terlihat pemandangan seperti biasa oom Yanes sedang rebutan oleh-oleh yang dibawa Nancy dengan kedua keponakan kecilnya.

__ADS_1


Biasa ulah oom yang sangat super jahil itu ada saja keisengannya.


Lalu Yanespun bersalaman dengan Retno dan diperkenalkan kepada Stella, juga Randi dan Nico.


Saat Yanes melihat Stella, dia berbisik kepada Retno," No temanmu punya suami engga?".


Retno menjawab,sambil berbisik juga,


" Udah engga barusan jomblo".


Lalu Yanes berbisik lagi," Aku daftar yah".


Dan Retno mengacungkan jempolnya.


Retno dan Stella memasuki kamar yang ditunjukkan oleh Mila untuk mereka tempati.


Dulu itu kamarnya Mila saat masih gadis dan sekarang kosong.


Sementara Randi dan Nico menempati kamarnya Yanes, dan Nancy nanti tidur di bekas kamar papanya.


Sementara Yohan dan Yanes di bekas kamar orangtua mereka dulu.


Mila tampak mempersiapkan meja untuk makan siang, kemudian Yohan mendekati dan membantunya.


"Aduh Ko.. kenapa dapet jodoh tuh beda etnis lagi?" kata Mila pelan takut terdengar orang lain.


"Koko juga engga tahu Mil, orang ketemunya dan sreg nya sama Neno," jawab Yohan.


"Ya itu, Mila dengar dari ko Yanes kemarin saat kesana, kasusnya sama lagi seperti dulu sama rumah seberang," lanjut Mila.


"Mau gimana lagi dong, mungkin Tuhan kasih ujiannya seperti ini ke koko," jawab Yohan lagi.


"Orangnya kelihatannya baik yah ko, cuma aura mukanya tuh seperti aura ningrat jawa gitu yah," Mila mengomentari kekasih kakaknya.


"Bukan ningrat sih, orang biasa saja cuma memang dari kecil dia bukan orang yang mengalami hidup susah seperti kita dulu Mil, almarhum ayahnya dulu pengusaha kayu jati, sekarang usahanya dipegang kakaknya yang paling besar," Yohan menjelaskan yang diketahuinya tentang Retno.


"Pantesan sih rada beda, terus dosen yah katanya, kok mau yah sama koko dan anehnya koko tuh dapet jodoh tuh yang kelas atas terus tuh," Mila kembali mengungkapkan penilaiannya.


"Ya itu tadi, koko juga tidak tahu rencana Tuhan apa, sekarang jalani saja," ujar Yohan dengan bijak.


Kemudian setelah meja siap, semua dipanggil untuk makan siang bersama.


Dan selama makan ujung mata Mila terlihat memperhatikan Retno, jujur dalam hati kecilnya dia meragukan Retno.


Setidaknya dia punya trauma saat melihat Retno, dia ingat bagaimana dulu kakaknya pernah diperlakukan buruk saat menikah dengan wanita berbeda etnis dan juga berbeda kasta.


Dan hal itupun dirasakan oleh Retno, bahwa ada penolakan terselubung yang sedang berlangsung terhadap dirinya.


Sambil makan dia sambil berpikir akan mencoba dekat dengan Mila walau belum tahu bagaimana jalannya.


Setelah selesai makan Retno tampak membantu Mila membereskan meja dan piring kotor, sementara Stella diajak berbincang oleh Yanes mengenai kain bordir, kebetulan Yanes punya kenalan pemilik toko dan home industry kain bordir.


Jadi Stella bertanya apakah bisa Yanes menemani menemuinya nanti dan juga minta info tentang seputar kain bordir kepada Yanes.


Tentu saja Yanes bersedia menemani dengan senang hati.


Sementara Yohan juga tampak sedang ngobrol dengan Ridwan menanyakan bagaimana usaha furniturenya dan menceritakan bahwa menurut Retno keluarganya juga dibidang yang sama namun dari bahan jati asli.


Sementara Nancy, Randi dan Nico bermain mengasuh kedua adik sepupu kecil yang lucu dan menggemaskan.


Di dapur Retno membantu Mila mencuci piring dan mencoba membuka pembicaraan," Mila pandai memasak yah," basa basi Retno kepada Mila.


" Ah engga mbak, Mila sih biasa saja," jawabnya merendah tapi terasa nyelekit.


" Mbak juga di sana sesekali masak bareng mas Yo, koko nya Mila juga pandai memasak yah," kata Retno lagi berusaha mencairkan suasana.


"Iyalah mbak, kami kan dulu keluarga miskin, jadi harus bisa masak sendiri agar hemat. Kami dari dulu segini adanya mbak, bukan keluarga bergelimang harta," Mila berkata seakan menyindir Retno.


Dalam hati Retno mulai paham kemana arah penilaian Mila terhadap dirinya.


Mungkin kemarin ini Yanes cerita saat kejadian di Bandung dan juga mungkin Mila takut kakaknya terhina seperti dulu oleh keluarga istrinya.


tapi hidupnya tidak pernah bahagia, selalu saja ada orang yang menghina. Padahal tidak pernah menyusahkan orang lain dia tuh, walau serba kekurangan juga dia sih selalu membantu orang. Istilahnya dia sih rela tidak makan asal adik-adiknya dan orangtuanya makan".


"Sungguh mbak saya bisa sekolah, bisa kuliah dan dulu menikah juga semua bantuan koko," katanya penuh emosi dan mulai terisak.


Retno paham keadaan itu, dan dia mendekati Mila," Saya memang berasal dari keluarga yang cukup berada sejak dulu, tapi keluarga saya tidak pernah membedakan orang lain".


"Kejadian di Bandung kemarin itu karena ulah sepupu saya, dan jelas kami berbeda keluarga. Mila, saya menyayangi kokomu karena beliau banyak memberikan pelajaran tentang kehidupan kepada saya".


"Walau belum lama kenal tapi saya yakin dia yang terbaik buat saya. Jangan Mila memandang siapa saya dan apa pekerjaan saya, hal seperti itu bisa hilang. Harta dan jabatan bisa hilang, tapi rasa cinta dan kasih tidak akan pernah hilang".


"Saya dan koko mu berusaha satu sama lain saling memberikan rasa nyaman dan saling menghargai. Dan walaupun diantara kami berbeda pekerjaan tapi kami selama ini berusaha saling memahami dan menghargai," Retno mencoba menjelaskan kepada Mila.


Lalu Mila menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menatap Retno," Mbak Neno, Mila minta tolong yah, Mbak harus bisa membuat keluarga mbak juga percaya kalau koko saya tidak pernah memanfaatkan mbak. Janji yah mbak sama Mila".


Retno tersenyum sambil memejamkan matanya tanda setuju, dan merekapun berpelukan sambil air mata mengalir di keduanya.


"Yan, kemarin sudah beres apa yang koko pesankan?" tanya Yohan.


"Yang mana?" tanya Yanes.


"Itu yang koko pesan buat keluarga mamanya Nanan," kata Yohan lagi.


"Oh sudah dari seminggu yang lalu, dan mereka kepengen ketemu koko sama Nanan," Yanes memberitahukan kepada kakaknya.


"Ya, rencana sebentar mau bawa Nanan sama Retno ke depan," kata Yohan.


"Wah, nanti ribut lagi dong bawa Retno sih, repot bro," Yanes mengingatkan.


" Engga lah, biar gimana juga harus seperti itu minta ijin dan mengenalkan ke keluarga sana," Yohan bersikukuh.


Kemudian dia menuju dapur, dan di sana tampak Retno sedang berbincang akrab dengan Mila adiknya.


"Neno, ayo ikut aku sebentar kita ke rumah depan," ajaknya.


" Oh hayu, sekarang?" tanyanya.


Dan Yohan mengangguk, namun Mila berusaha mencegahnya takut nanti jadi ribut.


Tapi Yohan kembali meyakinkan adiknya kalau semua akan baik saja.


Yohan juga mengajak Nancy walaupun merasa malas tapi dia tetap menurut kepada papanya.


Pintu pagar putih dibuka oleh Yohan, dan kemudian setelah sampai teras dia mengetuk pintu yang juga berwarna putih.


Tak lama pintu terbuka, dan keluar seorang pria tua dan seketika pria tua itu mengenali Yohan dan segera memeluknya,


" Yohan...maafkan papa yah," katanya sampai terisak di pelukan Yohan.


Dan Yohanpun mengusap-usap punggung pria tua itu.


Lalu merekapun masuk, dan disana ada seorang ibu tua yang duduk di kursi roda.


Yohan segera menghampiri dan memeluk ibu tua itu," Ma ini Yohan Ma,"


Ibu itupun memeluknya dan menangis dalam pelukan Yohan.


Ternyata ibu tua itu lumpuh dan buta, rupanya mamanya Yasinta terkena diabetes dan sempat jatuh saat kadar gula tinggi bahkan sampai menjadi lumpuh dan buta.


Kemudian Yohan menunjukkan Nancy kepada pria tua dan ibu tua itu, merekapun terkejut ketika tahu Nancy sudah besar dan menjadi gadis cantik.


Bapak dan ibu Lembong itu memohon maaf atas tindakannya masa lalu kepada Yohan dan juga merasa menyesal ketika sudah pernah mengusir Yohan dan juga cucunya mereka.


Bertahun-tahun mereka juga dikejar rasa bersalah namun belum menemukan saat yang tepat untuk meminta maaf.


Dan mereka juga mengucapkan terima kasih atas kebaikan keluarga Yohan masih memberikan sedikit rejeki untuk menambah biaya pengobatan ibu Lembong.


Kemudian Yohan memperkenalkan Retno dan juga meminta ijin untuk segera menikah dengan Retno.


Kedua orang tua itupun bahagia dan memberikan restunya.

__ADS_1


Setelah dari rumah keluarga Lembong, lanjut menuju home industry kain bordir seluruh tim dari kota Bandung turut serta sambil berjalan-jalan di kota itu.


Peserta bertambah 1 orang yaitu Yanes, harus sekarang duduknya agak berdesakan tapi semua tetap gembira.


Sementara Mila dan keluarga pulang ke rumahnya karena anak mereka merengek minta pulang karena mengantuk.


Akhirnya mereka tiba di sentra kain bordir khas kota Tasikmalaya dan berhenti di salah satu toko yang juga merupakan pengrajin kain bordir.


Yanes memperkenalkan Stella kepada pemiliknya yang merupakan sahabat lama Yanes.


Di sana Stella dijelaskan mengenai mutu dan kualitas kain bordir, juga bagaimana kain bordir itu bisa di desain menjadi kebaya, mukena, gaun pesta bahkan gaun pengantin.


Stella sangat tertarik, mereka membahas bagaimana cara pembelian, syarat retur barang dan juga cara pengiriman.


Lalu mereka saling berbagi kontak dengan pemilik toko sekaligus home industry tersebut.


Mereka juga tertarik memilih-milih pakaian bordir yang sangat indah dan cantik.


Bahkan Retno sangat ingin kalau menikah nanti gaun pengantinnya berhias bordir.


Setelah selesai urusan kain, mereka semua diajak Yanes berkeliling kota dan mencoba beberapa kuliner khas kota Tasikmalaya.


Kemudian Yanes membawa mereka agak keluar kota menuju kaki gunung paling terkenal di kota itu.


Dan sesampainya di sana mereka melihat pemandangan kebun teh yang hijau di sepanjang jalan yang menyegarkan mata sampai tak terasa sudah sore hari menjelang matahari terbenam.


Sambil menikmati terbenamnya sang surya mereka semua duduk-duduk di saung-saung di dekat sana sambil menikmati teh dan kopi hangat juga jagung bakar yang lezat.


Malamnya mereka pulang ke rumah orang tua Yohan dan Yanes, sambil sebelumnya membeli beberapa panganan.


Setelah semua mandi, berkumpul mengobrol ngalor ngidul di meja makan sambil menikmati cemilan malam.


Retno dan Stella, akhirnya baru tahu kalau Yanes sudah 3 kali menikah dan gagal semuanya.


Pernikahan pertama saat usia 23 tahun, setelah sekitar 3 tahun menikah tanpa anak bercerai karena Yanes selingkuh.


Pernikahan kedua saat Yanes berusia 30 tahun, menikah 5 tahun dan sama tanpa anak bercerai namun sekarang istrinya yang selingkuh.


Pernikahan ketiga terjadi sekitar 5 tahun lalu, bertemu di media sosial dengan seorang wanita asal pulau Sulawesi dan akhirnya sang wanita sampai menyusul ke kota Tasikmalaya.


Walaupun tidak jelas asal-usul pastinya wanita itu, tapi dia meminta Yanes segera menikahinya.


Ketika pemberkatan nikah berlangsung dan hendak bersiap untuk penandatangan surat nikah tiba-tiba datang sekelompok orang dan ternyata wanita itu masih punya suami.


Yanes menceritakannya dengan gaya santai dan gokilnya sehingga membuat yang mendengar bukannya iba tetapi malah semua tertawa terpingkal-pingkal.


Itulah Yanes, orangnya lebih easy going dibandingkan kedua saudaranya, walau banyak masalah hidup tapi dia bisa membawanya dengan santai sehingga tidak menjadi beban untuk dirinya.


Bicara apapun selalu diwarnai canda dan tawa, hingga dia lupa pernah menjalani hidup yang hambar.


Tapi kini dia setelah berpisah dengan suaminya dia ingin menikmati hidup yang penuh warna ini.


Dan bertemu Yanes dan keluarganya sungguh bahagia dia bisa tertawa lepas bahkan sampai tergelak keluar air mata.


Belum pernah dia bisa tertawa segeli itu mendengar ocehan Yanes saat sedang bercerita sambil bercanda.


Anak- anak muda memisahkan diri, mereka sibuk dengan game dan browsing film dan musik, maklum beda angkatan.


Jadi kadang yang muda gagal paham mendengar obrolan orang tua...hihihi..


Sesaat hening melepas lelah sehabis bercerita panjang lebar dan tertawa tanpa henti, tiba- tiba dari luar terdengar suara motor.


Dan tak lama ada yang mengetuk pintu.


Yanes membukakan pintu dan menyelonong masuklah seorang wanita yang usianya tidak jauh dari Retno dan Stella.


Dia datang sambil menggendong anjing puddle.


Dan wanita itu dengan rambut di cat merah, tubuh kurus berpakaian seksi celana pendek sekali mendekati atas paha dan atasan tank top.


Wajahnya berdandan sangat menor, serta memakai anting bulat besar dan bersepatu boot heels.


Yanes yang membukakan pintu menutup mulutnya menahan tawa begitu juga yang di dalam rumah, semuanya menahan tawa melihat wanita itu yang terus mendekati Yohan.


"Koko Yohan sayang apa kabar? Sombong yah jalan-jalan engga ajak-ajak. Mentang- mentang bawa pacar yah, yang mana sih pacarnya?" katanya sambil menggelayut di pundak Yohan.


Retno dan Stella menunduk sambil saling mencubit tangan menahan tawa.


" Ini pacar saya," kata Yohan sambil menunjuk Retno.


Yang ditunjuk hanya diam menunduk tak berani memandang karena takut pecah tawanya.


"Ah pacarnya takut lihat saya tuh, malu kayaknya karena saya pasti lebih cantik," katanya lagi sambil tetap menggelayut di bahu Yohan dan tampak ingin memeluk Yohan.


Di belakang sana, Nancy dan kedua pria muda tampak takjub melihat tamu yang datang dan mereka terpingkal melihatnya.


Yohan merasa risih sekali dan kesal, tapi tetap tidak boleh kasar.


"Cici Aling, sekarang sudah malam sudah hampir jam sembilan malam tuh. Tadi kesini naik motor kan, kalau kemalaman di jalan nanti ada begal bahaya. Sudah sekarang pulang dulu yah. besok kita ketemu lagi," Kata Yohan mencoba mengusir secara halus.


"Iya Koko Yohan sayang, Aling pulang yah, tapi janji besok jalan-jalan yah".


Lalu Yohan mengiyakan sambil mengantarnya ke depan ke motornya.


Setelah dibujuk akhirnya Aling pulang juga.


Yang di dalam rumah semua pecah tawanya serentak terbahak-bahak.


Setelah Yohan masuk lagi, kembali Yanes mengerjai sang kakak.


Dia menceritakan kisah Yohan dikejar Aling tapi versi Yanes.


Sontak membuat yang mendengar tertawa sampai keluar air mata dan perut terasa sakit.


Bahkan Stella sampai minta ampun, dan dia sampai jongkok di lantai tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya berderai.


Malam itu hanya Yohan sendirian yang merasa sebal.


Keesokan paginya semua berangkat beribadah dan sepulang beribadah mereka mampir ke makam orang tua Yohan dan juga makam Yasinta.


Makam ketiganya tidak terlalu jauh jaraknya agak berdekatan.


Setelah menaburkan bunga ke makam orang tuanya, Yohan, Retno dan Nancy mendatangi makan Yasinta.


Sementara itu Yanes menemani Stella beserta Randi dan Nico duduk di bawah pohon dekat pemakaman itu.


" Mama ini Nanan, apa kabar ma, Nanan kangen mama, Nanan janji mah akan membahagiakan dan membanggakan papa," ucap Nancy sambil mengusap air mata.


Lalu Yohan juga berkata,


"Sayang ini aku, dulu kamu berpesan agar aku menikah lagi. Dan sekarang setelah 17 tahun lamanya kita berpisah, aku menemukan seseorang dan kami akan segera menikah"


"Aku juga sudah mendapat restu dari papa dan mama Lembong. Aku masih tetap setia mencintaimu dan aku juga mulai sekarang akan setia dan mencintai Retno".


"Dan Nanan anak kita juga sudah setuju untuk aku menikah dengan Retno".


Yohan mengusap-usap dinding makam sambil menitikan air mata.


"Mbak, ini saya Retno calon istri koko Yohan, saya janji akan menyayangi dan mencintai koko Yohan dan menerima semua kekurangannya dengan sepenuh hati," Retnopun mengucapkan janjinya.


Setelah menabur bunga, mereka pun kembali ke mobil.


Di dalam mobil Yanes mengajak untuk menginap di kota Garut yang jaraknya sekitar 1 jam dari kota Tasikmalaya.


Dia akan mentraktir semua, wisata ke kota Garut.


Disana banyak hotel dan kolam renang air panas yang mengandung belerang, enak untuk berendam.


Dan serempak berkata " Yuuukk cap cuuusss!!!".


*Yanes baru dapat bagian uang hasil jual tanah...yesss

__ADS_1


__ADS_2