
Lima hari lamanya menikmati hari-hari bersama tanpa ganguan saat berbulan madu, harus Abel dan Davin akhiri. Hari ini di sore hari, keduanya akan meninggalkan pulau L yang penuh kebahagian untuk keduanya.
Davin dan Abel akan kembali ke kota B untuk menjalani rutinitas normal. Satu jam dengan perjalan udara, Abel dan Davin tiba di kota B tempat tinggal mereka.
Amar dengan sigap membukakan pintu untuk dua bosnya sekarang.
“Anda terlihat lebih segar dari biasanya Pak,” Sapa Amar ketika sang Bos masuk ke dalam mobil.
“Seperti kau tidak tahu saja,” balas Davin dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Mobil pun melaju menuju kediman Adiguna yang berjarak beberapa menit dari bandara. Ini hari pertama bagi Abel akan menginjakan kaki di rumah suaminya, tepatnya di rumah mertuanya. Mengingat bagaimana Abel harus bersikap terhadap lingkungan barunya. Terlebih sebelum menikah terdapat banyak ketidakcocokan dengan mertuanya.
Bagaimana dirinya bisa menjadi menantu yang baik di depan mertuanya. Mendadak Abel jadi gugup mengingat semuanya, berdasarkan cerita teman-temannya yang tinggal satu rumah dengan mertua. Hampir dari mereka tidak memiliki kecocokan dengan mertua. Abel berusaha bersikap tenang mengingat nasehat Mama Riri, berbuat baik pada mertua, hormati mertua seperti kita menghormati orang tua kita sendiri. Satu lagi rebut hatinya dengan sikap manis kita itu cukup membuat mertua akan bangga memiliki kita sebagai menantunya.
“Bang Davin!” Abel bangun dari pundak Davin yang dijadikan sandaran sejak tadi.
“Apa Sayang?”
“Bang Davin, gimana cara merebut hati Papa sama Mama, Abel deg degan,” tanya Abel. Suaminya belum menjawah malah terlihat cekikan.
“Apa perlu Abel masak sendiri makanan kesukaan mereka.” Sambung Abel lagi.
Davin tertawa melihat istrinya. “Kamu nggak perlu secemas itu sayang, Bang Davin sangat yakin Papa sama Mama sudah menerima kamu dengan tangan terbuka.”
Bagaimana bisa Papa menolak menantunya yang memiliki saham kepemilikan perusahaan besar seperti WPH. Bukan hanya diterima sayang, kamu akan jadi menantu yang paling di sayang. Bagi Papa status social adalah tolak ukur kriteria menantu idaman.
Abel merasa senang mendengar penuturan dari Davin, Dia kembali merebahkan kepala di pundak suaminya.
Davin mencium kepala istrinya yang terlapis kerudung. “Sayang sampai rumah langsung minta itu lagi ya,” goda Davin yang membuat asistennya juga tertawa.
Abel mencubit perut suaminya merasa geli berbicara seperti itu di depan asistennya.
“Auwhh, sakit sayang…,” Davin mengelus perutnya. Kini Davin membalas mengelitikin perut Abel hingga mengeliat tertawa kegelian.
“Ya, cukup Bang Davin ampun,” Abel terus mengeliat mencoba melepaskan diri agar suaminya berhenti berbuat konyol.
Amar ikut – ikut tersenyum sendiri melihat kelakkuan kedua bosnya, sambil ia bernostalgia sendiri mengingat masa-masa pacaran dulu dengan istrinya.
*****
Mobil sudah berhenti di teras rumah yang megah keluarga Adiguna. Davin mengandeng tangan Abel menyatukan jari-jari mereka saling menatap. Davin menuntunnya masuk ke dalam rumahnya, yang sudah disambut langsung kedua orang tuanya dan beberapa pelayan yang membawa barang-barang.
Abel memutar pandangannya ke depan dan ke belakang melihat megahnya rumah suaminya. Kalau di lihat dari tampilan luar mungkin besarnya empat sampai lima kali dari rumahnya. Rumah keluarga Adiguna beda-beda tipis dengan rumah Opahnya.
__ADS_1
Abel mengeratkan gengaman jarinya pada suaminya, bertemu dengan mertua ternyata membuatnya merasa gugup seperti akan ujian skripsi. Apakah mertuanya galak? Apakah mertuanya menerima kehadirannya sebagai anggota baru? Begitulah yang ada di pikiran Abel dan sekarang mengambil nafas dalam.
“Selamat datang pasangan bahagia, bagaimana bulan madu kalian,” Pak Hedrawan dengan wajah bahagia langsung mendatangi Abel dan Davin yang mendekati pintu utama.
Abel membalas senyum merasa lega melihat wajah ramah kedua mertuanya. Dia langsung mencium tangan kedua mertuanya, begitu pula dengan Davin. Pertama kalinya Abel menginjakkan kaki di rumah mertuanya. Rumah sangat besar dan megah, terlalu longgar kalau hanya di isi keluarga mereka yang beranggotakan empat orang. Abel hanya berpikir berapa ART yang berkerja dirumah ini.
Abel duduk di sofa ruang keluarga bersama Davin, orangtuanya pun ikut bergabung. Abel merasa sedikit canggung berada bersama mertuanya. Meskipun sekarang bagi Abel mertuanya tak sesanggar dulu ketika waktu melamar.
“Abel jangan sungkan-sungkan disini, anggaplah rumah ini rumahmu juga Nak,” kata Pak Hendrawan.
“Iya Pa,” balas Abel masih belum bisa berbicara lepas.
“Davin memang tidak salah pilih, kalian berdua pasangan yang sangat cocok,” puji Pak Hendrawan. Davin mengangguk hanya tersenyum mendengar Papanya.
Abel mengedarkan pandangannya mencari anggota lain keluarga ini yang tertinggal. Dia sedikit kecewa tidak ada Nolan yang ikut menyambutnya.
“Dimana Nolan?” tanya Davin.
Abel yang tidak berani bertanya merasa lega pertanyaannya di tanyakan suaminya.
“Entahlah. Sepertinya masih di perjalanan, mungkin sebentar lagi dia sampai,” jawab Bu Mitha.
“Sebaiknya kalian istirahat dulu, kalian pasti lelah,” seru Pak Hendrawan.
“Ya, benar Ma Pa, Abel sama Davin mau ke kamar dulu,” ujar Davin bangkit dari sofa.
“Jangan lama-lama ya Ma,” goda Davin. Membuat Abel menjadi malu saja pada Mama mertunya.
“Kamu ini, belum juga malam…,” sindir Bu Mitha.
Bu Mitha mengandeng tangan Abel menuju kamarnya, sedangkan Davin sudah naik tangga menuju lantai dua menuju kamarnya.
Abel masuk ke dalam kamar mertuanya yang sangat mewah seperti kamar sultan. Bagiamana dengan kamar suaminya. Ibu mertuanya mengambil kotak merah bludru dari lemari. Kembali duduk bersama Abel.
“Abel, ini hadiah pernikahan kamu dari Mama. Sebagai seorang ibu, Mama senang Davin akhirnya bisa menikahi wanita pilihanya. Karena Mama pasti tidak bisa berbuat apa-apa jika Papa Davin sudah menentukan kehendaknya.” Kata Bu Mitha menyerahkan kotak merah itu.
“Makasih Ma. Restu dari Mama saja hadiah paling indah untuk Abel,” balas Abel.
“Tidak Nak, hadiah ini tidak seberapa untukmu, bukalah.”
Abel membuka kotak kecil pemberian ibu mertuanya. Gelang yang indah dengan bertahtakan berlian pastiya, harganya pasti selangit. Abel memang memiliki uang yang banyak dari hasil perusahanan kelapa sawit miliknya, tapi ia jarang membeli barang-barang mewah. Tapi seberapa mahal pun berlian yang diberikan mertuanya, ketulusan itu lah yang terpenting.
“Makasih Ma, ini sangat indah, harusnya Mama nggak perlu repot-repot,”
__ADS_1
Bu mitha mengambil gelang dari kotak dan membantu mengenakan di tangan Abel. Abel bersyukur mertuanya sangat baik. Abel sudah berpikir negative, semua mama mertua suka menyiksa menantu seperti di sinetron TV.
“Ya sudah, susul Davin ke kamar, dia tidak seperti Nolan. Davin orang yang tidak sabaran pada apapun,” ujar Bu Mitha. Abel tersenyum dan mengangguk, dia jadi malu pada Mama mertuanya.
“Abel, Kamar Davin pintu warna Putih ya, nanti tanya saja pelayan,” terang Bu Mitha pada Abel yang bersiap pergi.
"Ya ma,"
Hampir saja Abel kesasar dirumah besar ini. Abel berpamitan pada mama mertuanya dan menuju lantai dua. Abel membulatkan matanya lantai dua juga sangat besar. Dari sekian banyak kamar, tiga ruangan kamar dengan pintu bewarna putih. Abel jadi binggung mana kamar suaminya, sangat tidak lucu kalau dia harus tersesat di rumah suaminya sendiri. Abel menoleh ke kanan kiri depan belakang tidak ada satupun pelayan yang lewat. Ponselnya pun ada dalam tas yang di bawa oleh Davin.
Abel memilih secara random kamar suaminya, patokannya adalah kamar yang tidak di kunci pasti kamar suaminya. Kamar pertama terkunci. Abel membuka kamar kedua yang tidak terkunci, dia sangat yakin ini kamar suaminya. Abel masuk kamar yang cukup besar, dengan banyak pajangan hasil footografi dan desain laki-laki sekali.
Tapi hawanya seperti bukan design kamar tipe melankolis seperti Bang Davin?
Abel duduk di tepi ranjang, mungkin suaminya sedang di dalam kamar mandi, lebih baik dia tidak usah menyusul pasti suaminya akan meminta lebih, dia ingin meyiapkan saja tenaganya untuk nanti malam. Tangannya meraba seperti ada kertas yang di balik selimut ini, Penasaran Abel membuka selimut. Abel terperangah melihat puluhan foto cetak dirinya berbagai pose berada di bawah selimut.
Untuk apa Bang Davin mencetak foto sebanyak ini, dari mana Bang Davin bisa dapat gambarku berbagai sudut ini?
Seorang pelayan perempuan masuk dalam kamar yang pintunya terbuka. “Maaf Nona, ada sepertinya salah Kamar. Ini kamar Tuan Nolan, kamar Tuan Davin disebelahnya.”
Abel membulat matanya merasa kaku seluruh tubuhnya. Bagaimana bisa Nolan melakukan semua ini?
ini kamar Nolan, Ada apa ini No. Apa kau masih belum bisa melupakan Aku. Ini salah No, Ini tidak benar! Kita harus bicara.
.
.
.
.
.
.
Next......
______________________________________________
Thor : Gua herman, yang liat remehan Rengginang ini tiap hari lebih sepuluh Rebu tapi kenapa yang like cuma serebuan 😔.
Zen : Gua selalu like loh Thor, malahan pinjem jari tetangga biar jempolannya banyak.😁
__ADS_1
Thor : 😳😳😳
Beri semangat author pencet LIKE tombol jempol ketik KOMENT sesuka hati kalian yang punya POIN bisa VOTE seikhlas kalian. loph ❤️ selalu