
Aline POV
Siang ini princess lagi ada di dalam mobil sama calon suami. Ya Permisa, aku juga kaget Raffa jemput calon istri di rumah. Baru juga semalam ketemu, Raffa nggak sabar banget ya mau cepat - cepat ketemu princess lagi.
Sebagai calon istri yang baik, princess ikuti saja keinginan Raffa yang ingin ajak ketemuan siang ini.
Tapi masalahnya sekarang. Aku nggak tahu ya, apa karena kelamaan di Prancis. Aku enggak tahu peraturan baru di kota ini. Habisnya princess kesal sama Raffa yang dari tadi bolak balik ke lampu merah perempatan patung beruang madu. Princess jadi merasa di ajak Raffa pergi tanpa arah dan tujuan.
"Raff genapin muter dua kali lagi, sah tawaf kita." Princess udah terlanjur kesal.
Aku juga malu sama patung beruang madu, tuh patung pasti juga sama sepetnya kayak princess yang melihat mobil Raffa muter-muter di situ-situ saja sampai lima kali.
"Saya nggak tahu mau kemana?" balas Raffa.
Aku melongo elegan melihat Raffa, kenapa nggak sekalian kita jalan - jalan ke Pluto aja kalau begini.
"Kenapa kamu nggak bilang sih, kalau kita mau pergi tanpa tujuan!" balasku sedikit ngegas sama si Raffa.
"Mama yang nyuruh habiskan waktu makan siang sama kamu, jadi aku muter-muter aja sambil nunggu balik ke kantor."
Aku heran kenapa sih Raffa jujur banget sama Princess. Dia sama sekali nggak ada inisiatif sendiri untuk pergi berdua sama calon istri. Tapi nggak apa-apa sahabat! Ini baru permulaan nanti juga luluh sendiri sama kelembutan dan perhatian princess.
"Ya udah aku lapar! Kita makan aja! Kamu pikir perutku kenyanqa sendiri cuma liatin kamu aja sambil tawaf di patung beruang madu," seruku beneran kesal sama di Raffa dan kelaparan.
Aku memang sengaja nggak makan siang dengan harapan di ajak makan siang sama calon suami. Tapi Raffa malah nggak peka dan bikin princess naik darah siang-siang begini. Untung calon suami ganteng, kalau nggak princess udah gemes mau tarik jambang si Raffa.
"Mau makan dimana? Biar aku antar!" jawab Raffa yang selalu belagak sok cool kalau ngomong sama calon istri.
"Lah, kok kamu ngatar aja, ikut makan dong!" jawabku.
"Nggak apa-apa, saya lagi nggak lapar," balas Raffa.
"Kalau begitu aku juga nggak mau makan kalau nggak di temenin, biar aja aku aduin Mama Riri kalau kau udah terlantarkan calon istri sampai kelaparan!" Ancam princess karena Raffa udah keterlaluan mau ninggalin makan sendirian.
"Ya, iya! Kamu tuh nggak berubah dari dulu! Tukang ngadu!"
"Biarin! Kita makan sekarang nggak! sebelum aku berubah jadi kanibal makan calon suami sendiri karena kelaparan!" Emang enak hadapi calon istri yang lagi PMS.
"Ya udah kita cari makan!"
__ADS_1
Akhirnya Raffa nurut juga dan menjauh dari perempatan beruang madu.
Kita akhirnya berhenti di Resto bebek bakar legendaris di kota ini. Padahal tadinya princess mau makan masakan Italia. Tak apalah yang penting sekarang princess mau isi tenaga biar kuat hadapi kenyataan punya calon suami yang super nyebelin seperti Raffa.
Aku membuka buku menu di meja untuk memilih menu. Restoran ini masih memakai konsep tradisional di saat resto sudah memakai iPad untuk menunya. Mungkin resto ini mempertahankan konsep lelulur.
Bukan apa, kelamaan di Prancis, princess udah lama nggak makan makanan asli negeri ini. Jadi aku binggung mau makan bebek bakar dengan menu apa?
"Sini, saya saja yang pesan," Raffa mengambil catatan menu yang aku pegang.
Entah Raffa pesan menu apa? Mbak-mbak pelayan manggut-manggut mencatat menu yang di pesan Raffa.
Princess mainin ponsel aja sambil nunggu makanan datang, soalnya Raffa juga dari tadi sibuk sama ponselnya di bandingkan mandangin calon istri yang udah dandan maksimal ini.
Tak lama, mas-mas datang dengan bawa menu bebek bakar dan lima macam sambel berserta es jeruk. Ini Raffa pesan lima sambil mau buat mulut princess yang ranum dan sek-si ini jadi jontor.
Kita mulai makan menu yang kelihatan menggiurkan ini. Air kombokan di kasih irisan lemon juga kelihatan enak di mata princess yang kelaparan ini. Kiding!
Raffa udah lahap aja makan pakai tangan bebek bakar yang ada di piringnya. Padahal tadi, siapa yang bilang nggak lapar!
Princess nggak makan cantik pakai sendok sama garpu kali ini. Princess ikuti Raffa yang makan pakai tangan.
Saking laparnya princess sampai lupa ikat rambut yang menjuntai hampir kena nasi. Princess jadi susah singkirkan rambut karena kedua tangan udah belepotan sama bebek bakar.
"Bantuin dong Raf! Malah ketawa," ocehku melihat Raffa yang berbahagia di atas penderitaan calon istri.
"Kamu cuci tangan dulu, ikat rambut kamu! Lanjut makan lagi." Raffa masih saja nggak berhenti cekikikan.
Princess udah cuci tangan di wastafel, rambut juga sudah diikat ke atas. Raffa udah habiskan satu piring bebek bakar.
Aku lanjut saja makan, biar Raffa nungguin calon istrinya yang lagi menikmati makan siang berdua.
"Lin," Raffa memanggil princess dan menyodorkan tisu.
"Mulut kamu tuh berlepotan, kayak anak kecil saja makannya."
Aku langsung nyambar tisu pemberian Raffa, menggelap mulut yang katanya Raffa belepotan.
"Pelan-pelan aja makannya, saya tunggu sampai selesai makan," ucap Raffa menjadi lembut sama aku.
__ADS_1
Aku memang makanya sedikit di percepat karena takut Raffa telat balik ke kantor. Tapi karena Raffa yang minta akhirnya aku makan dengan tenang sampai selesai.
"Udah kan makannya, bayar baru kita pulang!" ucap Raffa langsung berdiri begitu saja.
"Raf, kenapa aku yang bayar! Kan kamu calon suaminya." Princess protes sama Raffa yang enak saja minta bayarin.
"Kamu yang ajak makan, kamu dong yang bayar, saya tunggu di mobil." Raffa berbalik akan berjalan menuju pintu keluar.
"Raffa ...." umpatku pelan, resto ini rame permirsa nggak mungkin aku teriak karena nggak mau bayar.
Dengan muka di tekuk aku berjalan menuju meja kasir. Sumpah nyebelin nih Raffa, maksa minta traktir calon istri, awas saja nanti. Aku tanya billnya sama mbak-mbak kasir. Princess udah siapkan ponsel buat scan untuk bayar, tapi mbaknya malah balik kasih struk.
"Udah dibayar sama Mas yang tadi Mbak, terimakasih atas kunjungannya dan ditunggu kedatangannya kembali," ucap mbak kasir ramah dengan senyuman yang dibuat-buat.
Ih ... Raffa, princess dikerjain sama calon suami, aku langsung bergegas nyusul Raffa ke mobil. Aku senang deh Raffa nggak galak lagi. Hubungan kita mulai ada peningkatan sepertinya.
"Makasih ya Raff, kamu mau usil ya sama aku!" kataku dengan mengukir senyum termanis.
"Nggak usah geer dulu, tadi kebetulan saya ada uang kecil," jawab Raffa kembali sok cool sama princess.
"Terserah kamu deh Raff, tapi makasih ya, gini aja aku udah senang kok," kata princess asli dari lubuk hati. Karena saat makan siang pertama kalinya lihat Raffa bisa ketawa
"Hmmm ... Sekarang saya antar kamu pulang, besok kita ketemu lagi bahas masalah perjanjian pranikah," ucap Raffa langsung tancap gas meninggalkan resto.
Raffa memang deh, paling bisa buat hati princess ambyar. Baru juga bahagia sebentar.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...