Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Kebakaran namanya


__ADS_3

Raffa


Saya pergi menjauh dulu dari Aline lebih untuk menerima telepon. Saya mendapat telepon dari Sandra sekretaris saya, Sandra memberitahu keadaan Alesa yang mulai membaik setelah operasi. Saya lega sekarang, Alesa sudah baik-baik saja. Dengan begini, sekarang saatnya membiasakan diri dan memberikan waktu sepenuhnya untuk istri asli.


Belum lama berbincang dengan Sandra, pemandangan tak sedap menganggu mata saya.


"San, hubungi lagi nanti!" saya langsung menutup telpon melihat Farel.


Entah datang darimana, Farel tiba-tiba muncul dan sekarang lagi tertawa cekikikan bersama istri saya. Yang tidak bisa saya tahan amarah dan rasa kesal saya, ada kontak fisik di antara mereka. Saya suaminya, wajar saya emosi! Alien juga mau-maunya di pegang pundaknya sama Farel. Itu istri saya woy!


Jangan ditanya wajah Aline seperti apa, dia juga nampak tak kalah bersemangat bertemu Farel.


Lagipula. Bagaimana Farel bisa ada di pasar di hari minggu pagi. Apa dia sekurang kerjaan itu harus pagi - pagi ke pasar, sudah seperti emak-emak menghabis uang belanja dari suami saja. Nggak laki betul bro!


"Sekarang tambah cantik,_" itulah ucapan Farel yang saya dengar ketika saya akan duduk di kursi sebelah Aline.


"Wah, istriku dapat pujian ya," kataku langsung merangkul pundak Aline. Aline menatap saya tersenyum memaksa.


"Memang beda Pak istrinya, aku aja sampai nggak ngenalin," goda Farel.


"Tambah cantik banget ya Rel, sampai speechless gitu." Aline mengkerlipkan mata sok cantik.


"Bagiku dari dulu kamu selalu cantik Lin, berubah atau nggak berubah."


Aline memukul lengan Farel, "Bisa aja kamu Rel."


Saya melirik sedikit melotot ke arah Aline. Tangannya bisa di kondisikan nggak mbak! sembarang pegang orang, bukan mahram tahu! Nanti wajib diberi hukuman tuh istri. Ya, sekarang saya sedang kebakaran melihat keakraban Aline dan Farel yang tidak seperti teman yang sedang berdiskusi pada umumnya.


"Maaf, ada Mas suami, tangan suka gatel," Aline sok manja menyentil tangannya, membalas tatapan mata saya yang menandakan saya tidak baik saja.


"Kamu ngapain disini rel, udah kayak emak-emak minggu pagi ke pasar," tanya saya pada Farel.


"Mau sarapan lah Raf! cari makan sendiri, belum punya istri. Eh beruntung banget ketemu pengantin baru, kali aja ketularan ya kan." Farel menyindir menaik turunkan alisnya.


"Mainnya jangan disini, main di CFD banyak cewek-cewek berjejeran," balas saya.


"Cari cewek yang keibuan aja kayak Aline, mainnya di pasar."


"Pinter ngeles nih. Nanti aku comblangin sama penjual ikan, mau?" canda Aline. Tawa mereka berdua pun pecah. Untungnya Aline tertawa malu-malu menutup mulut, masih bisa saya tolerir. Saya tak bernafsu tertawa sama sekali dengan candaan mereka. Terserah mereka menganggap saya berbeda spesies.


Kebisingan mereka berhenti ketika Mamang batagor menaruh di meja makanan berbumbu kacang itu. Aline langsung bergerak cepat meraih sendok untuk segera menyuap batagor pesannya.


"Suapin sayang, mau coba." Saya membuka mulut, yang disambut tatapan aneh dari Aline.


"Mana Sayang." Masih mode buka mulut, sebenarnya saya jijik suap-suapan di depan umum.

__ADS_1


"Iya, iya!" untungnya Aline langsung menyuapi saya dengan potongan batagor sebelum lalat yang masuk duluan, saking lamanya dia bengong saya minta disuapi.


Saya terpaksa bertingkah lebay seperti bocah di depan Aline supaya Farel peka sendiri tanpa perlu diusir. Sedikit kejam tidak apa-apa. Kenapa cemburu buat saya lupa persahabatan begini.


"Enak ya sekarang bisa suap-suapan, jadi pengen juga." Saya langsung melotot ke arah Farel.


"Santai Raf, maksudnya pengen batagornya." Farel memanggil Mamang batagor dan memesan satu batagor porsi lengkap beserta siomay pula.


Sepertinya rencana gagal, bukannya malu melihat kemesraan kita, Farel malah ikut-ikutan makan satu meja dengan kita. Ya ampun! Semakin lama pula Farel akan bertatap muka dengan Aline.


Benar - benar merusak mood pagi ini kehadiran Farel.


"Rel, jadi sibuk apa sekarang?" Aline membuka pembicaraan setelah adegan suap - suapan.


"Maunya sibuk mikirin kamu Lin! Tapi lupa udah punya suami!" Farel terkekeh.


Tentu saja mata saya langsung menatap tajam setajam samurai.


"Bercanda Raf, lagi sibuk di kantor saja belum ada rencana lain." Farel menepuk bahu saya.


"Rel, kamu tuh udah mapan, secara finansial dan apapun. Kenapa nggak cari jodoh aja?"


"Belum Lin, saya masih nunggu jandanya seseorang."


"Raf, kamu kenapa. Pelan-pelan makannya."


"Nggak apa-apa, tehnya pahit." Alasan terkonyol yang saya buat selama hidup.


"Masa sih," dengan polos, istri saya malah percaya dan mencoba minum.


"Manis kok Raf," ucap Aline setelah meneguk separuh es teh saya.


"Memang lidah saya yang pahit, sepertinya nggak enak badan. Kita pulang yuk Lin," saya menarik tangan Aline yang sibuk menyantap sisa batagornya


"Bentar Raf, ini masih sisa ...."


"Yaudah Lin, pulang aja kalau memang Raffa sakit." seru Farel santai.


"Sorry ya Rel," seru Aline dengan wajah sok imutnya.


Sama sekali tidak memperdulikan suaminya yang hampir kebakaran ini. Terlalu ....


"Ya Rel, kita pulang dulu ya," saya langsung menarik tangan Aline yang kelihatan tidak rela meninggalkan Farel.


Saya langsung bawa Aline ke basement area parkir mobil. Saya tidak rela Aline masih berdua Farel meskipun saya ada disitu, itu tidak baik untuk kesehatan mental saya. Saya giring Aline masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Raf, kamu sakitnya mendadak banget sih, tadi pagi sehat-sehat aja," Aline menyentuh kening saya.


Saya memegang tangan Aline. "Hari ini kamu melanggar pasal, itu artinya kamu harus di beri hukuman." Saya mendekatkan wajah didepan Aline.


"Hah! Yang man ...," belum selesai bicara saya sudah menutup mulut Aline dengan mulut saya. Menyudutkan di pinggir jok mobil.


Kali ini saya tidak menciumnya dengan lembut seperti saat ciuman pertama kita. Saya melu-mat sedikit kasar bibir Aline yang menurut begitu saja.


Tangannya mencengkram kaos saya kuat dibagian dada, sesekali Aline mendorong dada saya, ketika melancarkan gigitan kecil.


Aline mendorong dada saya kuat, saya melepaskan pangutan dua bibir ini. Aline terengah-engah menghirup banyak oksigen, begitu pula dengan saya.


Tak lama, saya raih kembali tengkuk leher istri saya, memberi kecupan basah yang lebih ganas dari sebelumnya. Tangan Aline yang mencengkram kaos kuat mulai melemah, saya merasakan pipi saya basah.


Oh tidak! Apa mungkin? Astaghfirullah apa yang saya lakukan.


Saya melepaskan bibir saya, melihat mata Aline yang mengeluarkan air mata. Bibirnya yang bengkak karena ulah saya bergetar menahan isak tangis. Ya ampun, apa saya terlalu kasar mencium istriku? Saya terbawa suasana emosi.


"Lin, Maaf ...," ucap saya Lirih, kenapa Aline jadi nangis.


"Kamu nggak perlu minta Maaf Raf, kalau memang menurut kamu aku salah," jawab Aline pasrah sekali. Jadi merasa bersalah kan kalau dia nurut aja nggak melawan saya seperti biasa.


"Kita pulang ya," saya menyalakan mesin mobil. Aline mengangguk sambil merapikan kerudungnya.


Melanjutkan berbicara di rumah sepertinnya lebih baik.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .....


Ei up malam untuk menemani yang Zomblo malam mingguan ........


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2