
Aline
Setelah aku pikirkan semalaman dan beberapa hari saat menjauh dari Raffa. Aku yakin ini keputusanku yang paling tepat. Ya, disinilah seharusnya princess sekarang, bukan lagi di istana keluarga Tante Nes. Tapi aku berada di tempat yang tepat, tempat aku memadu kasih sebelum tahu kekhilafan Mas Suami. Princess sekarang sudah berada di istana yang sesungguhnya, tempatku memang harusnya di sini. Berkumpul lagi bersama suamiku.
Setelah aku mengingat nasehat Mami, papi, Mama dan papa, tujuan menikah adalah sama-sama mencari surga. Bagaimana aku bisa mencari surga kalau aku terus menjauh dari suamiku.
Aku memutuskan untuk pulang dan memulai kembali membenahi rumah tanggaku bersama Raffa.
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Meskipun aku belum sepenuhnya pulih Tapi apa salahnya memperbaiki semuanya kembali. Aku mau membuktikan kesungguhan cinta Raffa dengan kembali padanya.
Tapi entah kenapa, rasanya kembali ke rumah ini, rasanya seperti selesai ijab qobul waktu itu. Sejak mengendarai mobil dan masuk ke rumah ini, jantung Princess rasanya tak berhenti berdetak kencang.
Apalagi nanti ketemu Mas suami lagi dengan keadaan yang berbeda.
Aku menaiki tangga ke kamar atas, teringat banyak hal yang aku lakukan di kamar ini. Kita dua orang yang tak pernah menyangka akan di satukan dalam ikatan sakral ini, lengkap dengan perjanjian pranikah menyebalkan itu. Aku memang nggak bisa jauh dan marah terlalu lama sama Mas suami. Inilah akibatnya kalau bucin duluan.
Kamar masih lumayan rapi untuk suami yang di tinggal istrinya. Meksipun suasana hati Raffa berantakan, Mas suami tak membiarkan kamarnya ikut berantakan juga.
Mudahan ujian pernikahan di awal ini akan menjadi pembelajaran untuk kita bisa melangkah lebih baik ke depannya.
Aku melihat jam dinding sekilas, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, itu artinya Raffa akan pulang dari kantor satu jam lagi.
Orubcay jadi kangen memasak ala-ala untuk Raffa, dua hari di rumah Aunty Nes aku selalu makan ayam goreng krispi yang di pesan lewat aplikasi online, Princess terpaksa mengikuti selera makan sepupu miniku.
Aku segera bergegas ke dapur, mencari bahan makanan tersisa yang bisa di masak. Tenyata tatanan kulkas masih sama seperti aku masak terakhir kali. Itu artinya Raffa tidak makan di rumah.
Aku jadi teringat Raffa yang tidak bisa makan makanan di luar sana. Ya ampun, Raffa makan apa selama dua hari ini?
Sudahlah itu tidak terlalu penting! Dia bisa hidup sampai saat ini, itu artinya asupan gizi Raffa selama aku tinggal tetap terpenuhi. Princess nggak dosa dong! Lebih baik sekarang masak yang enak untuk malam ini.
Setelah satu jam bertempur dengan ayam utuh, princess berhasil buat ayam panggang rempah yang kemiripan hampir 98% dengan milik chef narasumber princess. Ibu Ratu Mama Riri.
Terdengar dari luar suara mobil yang berhenti di carport. Itu pasti Mas suami, kenapa jantung aku jadi tambah deg-degan gini. Bagaimana nanti reaksi Raffa setelah melihat aku sudah kembali ke rumah ini.
Aku sengaja nggak sambut Raffa di depan rumah. Princess tunggu aja Mas suami di ruang makan sambil siapkan makan malam. Kebetulan ART yang berkerja di rumah kita minta izin pulang sebelum jam 5. Jadi princess sendirilah yang tata makanan di meja.
Derap langkah kaki makin mendekat, dada princess makin Jedag jedug, kalau seperti ini, jadi kayak waktu malam pertama kemarin.
Princess lihat lagi Raffa dengan wajah lelahnya setelah bekerja. Raffa nampaknya belum menyadari ada bidadari di dalam rumahnya yang mojok di meja makan.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanyaku mengangetkan Raffa. Raffa masih terkejut tanpa suara melihat istrinya yang cantik ini.
Raffa hanya mengelengkan kepala dan mengibaskan tangan.
__ADS_1
Bu-set, ini istrinya pulang malah dicuekin. Di tinggal pergi pula.
"Raf, aku udah pulang terus capek-capek masak! Aku cuma dicuekin!"
Raffa langsung berhenti spontan. Ia berbalik dengan mata berbinar, ia tampak masih nggak percaya kalau princess di hadapannya nyata bukan penampakan.
Ia langsung raih wajah princess, meraba wajah turun ke tangan, menjelajah badan dari ujung rambut hingga jempol kaki.
"Kamu beneran Aline, istriku!"
"Bukan! ini jelmaan siluman ular putih!" balas princess kesal. Masa dari tadi princess di kira demit.
"Kamu Aline asli!" Masih mode panik.
"Aku pergi lagi nih!" ancam princess.
Tangan Raffa meraih wajah princess dengan masih nggak percaya istrinya antara ada dan tiada.
"Aline! Sayang! Istriku! Kamu pulang!" teriak Raffa terus peluk princess erat banget.
"Dua hari ini saya selalu terbayang kamu, aku pikir kamu cuma bayangan aku."
Aku membalas memeluk Raffa, aku juga sangat Kangen sama kamu Raf. Aku merindukan semuanya saat-saat bersama kamu.
"Aku bahagia banget sayang! Kamu mau pulang!" katanya dengan suara serak, sepertinya mas suami terharu sampai nangis di pelukan princess.
"Aku merasa tempat aku disini Mas, aku di samping kamu."
"Maafkan Mas Lin, sudah sempat menyakiti kamu, istriku. Mas nggak akan sakiti kamu lagi, Mas nggak akan pernah biarkan kamu pergi lagi Sayang."
"Aku pegang kata-kata kamu Mas," balasku lirih di telinga Raffa.
"Jangan ragu lagi Lin, karena Mas hanya mencintai kamu. Istriku!" balas Raffa sambil menangkup kedua pipiku.
Kenapa aku selalu berbinar mendengar kata itu, sekarang seperti tidak ada lagi keraguan dari ucapan Raffa.
"Aku juga mencintai kamu Mas, meskipun cara kita menunjukkan rasa cinta ini berbeda, aku blak-blakan dan kamu lebih tertutup."
"Jangan pernah pergi lagi Lin, jangan pernah!" Raffa peluk lagi tubuh ini.
"Nggak akan Mas, selama kamu nggak sakiti aku lagi."
Raffa mengeleng, terus hapus bulir mata Princess yang tiba-tiba haru.
__ADS_1
"Ya udah kamu mandi sekarang, setelah itu kita makan. Aku udah buat makanan kesukaan kamu."
"Terima kasih Sayang, kamu memang istri terbaik." Raffa cubit hidungku gemas. "Tapi ..." Raffa peluk tubuh princess lagi dengan tatapan lain.
"Saya maunya mandi di temanin Sayang,"
"Mas aku sudah mandi. Sana mandi sendiri," Aku dorong-dorong tubuh Raffa yang mulai manja sama princess kalau udah dekat gini.
"Nggak Mau," Raffa langsung angkat tubuh princess ke pundaknya persis seperti angkat karung beras.
"Auw! Mas turunin!" aku pukul-pukul punggung Raffa yang masih berjalan menaiki tangga.
"Nanti kalau sudah di bathtub," balasnya sambil terkekeh.
"Gendong yang romantis kan bisa Mas, kalau begini apa bedanya sama karung beras!" Protes princess.
"Itu udah biasa! Kita pasangan yang nggak biasa!"
"Raffa."
Dap! Raffa tendang pintu kamar, princess pasrah kalau sudah begini. Maklum suami yang jadi jablay beberapa hari.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .......
Chapter menuju Ending .....😍😍
__ADS_1
Sori baru bisa up lagi, dua terakhir kesehatan Ei sedang terganggu. Ei usahaka Up lagi, melihat bagaimana kesungguhan Raffa membuktikan cintanya pada Aline......
Terimakasih udah setia sampai bab ini terLhopku 😘😘😘😘😘