
Abel kini sudah tiba di halaman kantor PPN, yang dia tempuh dengan perjalanan beberapa menit dari rumahnya. Dia mengambil perlengkapan kerja di kursi belakang mobil dan bergegas masuk ke dalam kantor. Tiga hari lamanya dia tidak berangkat ke tempat magang karena pikirannya yang kalut dan undangan rapat di WPH. Kini perasaan dan emosinya mulai stabil, dia juga lebih berpikir positif karena dukungan dari keluarganya.
Dengan menghembuskan nafas pelan, menenangkan pikiran dan mecoba untuk bangkit. Abel melangkah menuju ruangannya. Nampak Sony yang selalu datang lebih pagi dari yang lainnya sudah berjibaku dengan komputer didepannya.
“Pagi Kak Sony,” sapa Abel.
“Pagi Abel, udah sembuh nih?” balas Sony yang senang melihat Abel masuk ruangan lagi.
“Alhamdulillah Kak,”
“Kamu sakit apa sih? Bukan sakit hati ‘kan.” Canda Sony mengoda Abel yang ternyata ucapannya benar adanya. Senyum Abel kembali redup tapi tetap berusaha terlihat senang.
“Nggak Kak, Abel lebih baik sakit gigi.” Balasan canda Abel.
“Pagi semua.” Sapa Nolan menghentikan percakapan Abel dan Sony.
“Pagi….” jawab Abelm dan Sony bersamaan,
Nolan merasa senang melihat Abel yang sudah kembali magang yang sekarang duduk manis di mejanya. Abel melambaikan tangan ke arah Nolan menyapa menunjukan dia sekarang baik-baik saja meskipun sebenarnya hatinya masih sangatlah rapuh. Kini ruangan mulai sepi dengan obrolan karena penghuninya mulai mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Waktu begitu cepat berlalu tanpa terasa sebentar lagi menunjukkan waktu istirahat dan makan siang. Ketiga orang dalam ruangan segera memberikan laporan pada Sony untuk memeriksa hasil kerja mereka. Abel merasa lebih baik ketika dirinya disibukkan dengan masalah kantor. Ia seolah lebih tenang dan berkonsentrasi ketika bekerja, hal ini jauh lebih baik daripada tiga hari terakhir yang mengurung diri didalam kamar meratapi takdirnya.
“Abel, kamu makan siang sama pacar kamu?” tanya Sony pada Abel sambil memeriksa laporan dari Abel.
“Nggak Kak, Abel makan disini aja,” jawab Abel mendadak ingin sedih lagi meratapi nasibnya, tapi ia segera menepis cepat rasa sedihnya itu.
“Lah….kenapa?” tanya Sony lagi yang sudah terbiasa kepo.
“Nggak kenapa-napa Kak,” balas Abel binggung. Tidak mungkin diriya cerita masalah pribadi kalau Davin meninggalkanmnya. Pasti itu akan menjadi sasaran empuk kekepoan kakak pebinanya itu.
“Oh, bareng yuk, sama yang lain,” ajak Sony. Abel mengangguk mengiyakan.
Kini Ketiganya berjalan keluar ruangan menuju kantin kantor. Semua tim memilih jejeran makanan yang tersusun rapi di meja. Puas memilih makanan, abel mencari tempat duduk yang kosong bersama timnya. Tapi sayang meja dengan empat kursi yang digunakan sony sudah penuh dengan karyawan yang lain. Nolan melambaikan tangan pada abel dari pojokan kursi. Nolan yang melihat Abel kebingungan nampak mencari sosok yang dia kenal.
Abel dengan cepat menghampiri Nolan. Ya, meskipun hati sakit tapi urusan cacing yang bergendang diperutnya, Abel tidak bisa kompromi. Dia duduk satu meja dengan Nolan yang berisi kursi dua orang. Abel mulai terniang lagi beberapa waktu yang lalu, dia dan Davin selalu makan siang bersama. Pikiran kalut mulai membalut kepalanya, mendadak dia memikirkan Davin, apakah dia sudah makan siang? Apakah Davin merindukan saat makan siang bersamanya sekarang? Apakah dia merindukan masakannya yang dibuat dengan cinta dan dibumbui dengan kasih sayang. Pasti tidak! karena Bang Davin sekarang tidak peduli lagi padanya. Keluh Abel dalam hati yang menyimpulkan angannya sendiri.
"Heh! emang kenyang melamun." Suara Nolan membangunkan lamunan Abel.
Abel ngelagapan. "Ya nggak lah, orang nggak akan masak kalau ngelamun buat kenyang."
"Ya udah cepat makan, jangan lupa baca basmalah," balas Nolan ketus seperti biasa.
__ADS_1
"Iya Bambang," jawab Abel langsung meraih sendok dan garpu siap mengisi perutnya.
Nolan ingin tertawa mendengar perkataan Abel, tapi ia tahan dan memilih memperhatikan Abel yang keadaannya terlihat lebih baik daripada malam itu. Keduanya kini makan dengan lahap tanpa suara dan mengakhiri dengan tegukan air minum.
Sebenarnya Nolan ingin meminta maaf pada Abel perihal sikap Davin padanya. Tapi membuka lagi nama Davin dalam perbincangan apakah akan menyulut lagi kesedihan Abel. Nolan masih berperang dengan batinnya membahas apa setelah ini.
"No, mungkin aku sore setelah dari sini akan menemui anak-anak." Abel membuka pembicaraan usai makan siang.
"Oke, anak-anak pasti senang lihat kamu," balas Nolan yang akhirnya tidak jadi berargumen.
"Udahan yuk, kita sholat terus kembali kerja." Abel bangkit dari kursi, begitu pula dengan Nolan.
*****
Sementara di kantor Adiguna, Davin juga menikmati makan siang yang dihidangkan oleh asistennya.
"Pak itu ayam teriyaki dari restoran Jepang terbaik di kota ini sesuai pesanan anda, Pak!" seru Amar mempersilahkan dengan sopan.
Davin mulai memasuki beberapa sendok makanan ke mulutnya. "Amar. Kenapa rasanya aneh, ini sangat jauh dari masakan yang di buat Abel."
Sang asisten hanya menghela nafas kasar, udah beberapa hari, ayam teriyaki yang dia beli tidak cocok dengan lidah bosnya.
Tentu saja beda Pak, masakan yang dibuat dengan cinta oleh Abel pasti rasanya nikmat meskipun dikasih garam sekilo. Besok kemana lagi aku kan cari masakan seperti itu. Jeritan suara hati Amar.
Davin pun hanya memakan beberapa sendok dan tidak melanjutkan makannya.
"Bagaimana berkas kerja sama dengan Wilson Palm," tanya Davin.
"Masih proses Pak."
"Bagiamana dengan Abel, apa dia baik-baik saja."
"Semalam adik Anda pergi lagi kerumah Abel, dari halaman Abel terlihat baik." Kata Amar melaporkan hasil pengintainya.
Davin hanya mengangguk menerima laporan asistennya. Merasa sedikit senang diatas rasa sakitnya, mendengar kenyataan adiknya mulai dekat dengan Abel.
*****
Kembali ke kantor PPN, Abel masih menyelesaikan tugas untuk persiapan menuju lokasi pertambangan esok. Disela kerjanya, ponsel Abel berbunyi menandakan pesan yang masuk. Ia membuka pesan yang ternyata dari sepupunya itu.
Kayla
__ADS_1
Abel, nanti malam aku mau dinner sama cowok yang dijodohkan sama aku. Aku deg
deg kan penasaran sama tuh cowok. Menurut kamu, aku harus gimana?
Pesan dari Kayla seolah membuat luka Abel yang mulai kering kembali ditetesi air jeruk terasa perih Memang. Abel mencoba bersikap tenang dan kuat, tempatnya kini kurang tempat untuk menumpahkan kegalauannya. Dengan berat jari-jarinya membalas pesan Kayla
Abel
Jadilah dirimu sendiri Kay, dengan begitu dia akan bisa menerimamu yang apa adanya bukan ada apanya.
Kayla
Oke, Abel pilihin menurut kamu baju mana yang cocok buat aku.
Kayla mengirim beberapa foto koleksi baju-bajunya. Abel memilih baju untuk Kayla sesuai warna kesukaan Davin bersikap netral.
Abel berusaha tetap tenang, tapi pikirannya kembali kacau. Dia membayangkan kalau memang nanti Davin berjodoh dengan Kayla. Apakah dia akan sanggup melihat semua itu. Kenapa rasa galau kembali muncul di waktu tak tepat.
Air mata tolong jangan menetes sekarang, aku sedang kerja. Abel menepis ujung matanya.
"Ini buat kamu...." Seru Nolan menyodorkan ice Kopi kepada Abel.
Abel terbangun dari pikiran kacaunya. Melempar senyum pada Nolan melihat gelas kopinya bergambar emoji senyum.
"Makasih No," balas Abel. Bisa juga Nolan bersikap manis.
.
.
.
.
.
NEXT......
Terima kasih udah sabar dan setia nunggu Up dari author.🙏🙏🙏
Beri semangat author pencet LIKE ketik KOMENT yang punya poin bisa bagi VOTE seikhlas kalian. Loph U ❤️
__ADS_1