Istri Untuk Papa

Istri Untuk Papa
Season 3 - Pesan Papi mertua


__ADS_3

Raffa


Akhirnya ketegangan saya berakhir juga, ternyata begini rasanya mau nikah. Gugup, panik, cemas campur menjadi satu.


Saya bersyukur bisa membaca dengan lancar ijab qobul dengan satu tarikan nafas. Dan sekarang tangan saya sudah di gandeng pertama kali dengan seorang wanita yang tak lain adalah si Alien yang beberapa menit lalu sudah sah menjadi istri saya. Enggak nyangka akhirnya sekarang jadi suami.


Aline terlihat bahagia dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Hari ini dia terlihat lebih jinak dari biasanya, ternyata balutan hijab mungkin sedikit merubahnya. Ya Sob, Hmm ... istriku kelihatan sangat cantik hari ini, wajahnya cerah merona. Keningnya saja licin banget, hampir saja bibir saya khilaf ke slending cium ke bibir waktu cium kening. Untungnya saya masih sadar sedang di masjid dan dilihat banyak orang.


Sekarang, kita masih bersanding di atas pelaminan di ballroom hotel usai acara krusial di masjid tadi. Acara masih berlanjut di hotel untuk menjamu para tamu.


Meskipun acara dibuat tak terlalu megah, karena yang hadir hanya keluarga dan kerabat. Kita menyambut tamu undangan yang tadi sudah hadir di acara akad nikah kita. Tidak terlalu lama saya dan Aline berkelilingi mendatangi tamu.


Dengan begitu saya bisa segera ke kamar setelah ini. Mau istirahat maksudnya, saya lelah seharian ini menyiapkan diri untuk ijab qobul.


Setelah menyapa tamu, acara selanjutnya adalah makan malam bersama keluarga besar. Ya, pastinya mereka sedang menyindir dan membahas masalah malam pertama kita. Saya pura-pura tidak dengar saja itu bisa menodai pikiran saya, yang sebenarnya sudah ternoda setelah mendengar kata sah.


"Setelah ini kalian lebih baik Istirahat saja, tamu undangan sudah mulai pulang," ucap Mama mendekati saya dan Aline.


"Ya Ma," saya langsung semangat berdiri.


Akhirnya! Saya berpamitan dengan keluarga yang lain untuk meninggalkan tempat makan malam. Saya langsung mengandeng tangan Aline, melangkah menuju lift.


"Raf! Tunggu sebentar!" Om Adrian panggil kita yang sudah bersiap masuk ke lift.


Papa mertua bergegas jalan menuju ke arah saya dan Aline. Ada apalagi ini?


"Raf, bisa bicara sebentar. Berdua," ucap Papi mertua.


"Boleh dong Pi."


Saya melirik ke arah Aline, enak saja dia! Mengambil keputusan tanpa persetujuan saya.

__ADS_1


"Aline ke kamar dulu kalau begitu, kalian bisa ngobrol. Aline capek," balas Aline.


"Kamu jangan terlalu capek sayang, nanti malam pasti kamu lebih capek lagi."


Uhuk ... saya batuk tersedak nyamuk yang kebetulan lewat, dengar ucapan Papi.


"Ayo Pi, kalau mau ngobrol." Saya buru-buru ajak papi pergi, supaya perbincangan kita cepat selesai.


"Ya Raf, hampir lupa. Ayo jagoan." Papi mertua merangkul saya.


Beliau mengajak saya ke sofa paling pojok yang ada di lobby hotel.


"Raf, setelah kamu sunat, 16 tahuh selama kamu hidup, Kamu belum pernah sama sekali mendaki dua gunung kan!"


Saya mengeryitkan dahi, ini pertanyaan papi mertua maksudnya apa sih, "Satu gunung saja belum pernah Pi, apalagi dua gunung. Kalau Raydan sudah sering menjelajah beberapa gunung."


Papi menggelengkan kepala. "Wah, bahaya juga adikmu."


"Sebenarnya ada apa sih Pi," saya semakin binggung dengan mertua aneh ini.


Ada palu nggak! Sumpah nih bapak-bapak ngomong apa sih, gunung, lembah, jurang? Saya malam ini mau malam pertama, malah mau di ajak pergi menjelajah alam.


"Belum Pi, jangan sampai masuk jurang. Serem Pi," balas saya asal, siapa juga yang mau masuk jurang.


"Aduh! Yang harusnya serem itu Aline jurangnya akan di terobos, bukan kamu yang mau masuk jurang!" jawab Papi mertua heboh.


Saya tak bisa berkata apa-apa lagi selain melonggo. Ternyata bahasan papi menjurus ke urusan wajib pasangan suami istri yang digambarkan dengan pemandangan alam.


Ada sianida nggak! kenapa papi Adrian harus membahas masalah sensitif seperti ini.


"Papi bukanya mau kepo, papi hanya mau kasih kamu salep, nanti kamu oles untuk Aline."


Saya menerima salep botol kecil dari papi. "Ini untuk apa Pi?"

__ADS_1


"Biasanya, pendaki pemula seperti kamu suka main kasar dan tak terarah. Ini untuk ruam, lecet, bengkak, memar, bekas merah, ungu, biru pokoknya untuk bekas - bekas pendakian lah. Kulit Aline sensitif karena serangan apapun."


Memang saya serangga beracun yang nggak baik untuk kulit Aline. Saya cuma bisa mengangguk saja agar pembahasan ini cepat selesai dan saya cepat kembali ke kamar.


"Raf, tolong titip dan jaga Aline ya. Dia anak perawan kita satu-satunya dalam keluarga. Keponakan saya Natalie belum masuk list karena dia belum pakai be-ha. Intinya kamu jangan buat kecewa Aline, Papi sudah susah payah melarang dan menjaga dia dari laki-laki di luar sana yang suka menjelajahi gunung seenaknya. Papi sudah ikhlas melepas Aline, Papi juga sudah kasih pelajaran hukum Newton 3 tentang gaya yang di timbulkan ketika kedua benda yang berlawanan saling bersentuhan. Jika dua bulan Aline belum hamil, artinya kamu yang harus berguru dengan bapak kamu teknik pengeboran sumur yang benar."


Saya mengangga lebar dengan pernyataan Fisikawan aneh didepan saya. Pantesan saja Papi mertua selalu gagal jadi rektor. Saya bingung harus memberi tanggapan apa.


Saya Iyakan saja lah, daripada semakin lama di tahan mertua saya yang aneh ini.


"Pi Maaf, Aline sepertinya sudah menunggu saya. Apa boleh saya ke kamar," potong saya.


"Ya udah sana Raf. Pelan--pelan wahai pendaki pemula," pesan papa mertua menepuk-nepuk pundak saya.


Help! Saya langsung kabur sebelum di beri wejangan yang aneh dari Bapak Adrian Bagaskoro.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2