
Siang yang cerah berganti malam yang tenang dengan suasana yang dingin dihati Riri. Riri hampir membongkar isi lemarinya dia mencoba semua baju terbaik dilemarinya.
Entah berapa baju yang sudah Riri ganti modelnya hampir puluhan. Sampai akhirnya menemukan baju yang cocok, dia memakai gamis warna ungu dusty dengan kerudung pasmina warna ungu yang lebih sedikit terang dari warna baju, merias wajahnya dengan bantuan Rika yang memang dia datangkan untuk konsultasi fasion bertemu calon mertuanya.
"Cantik banget temen aku ini." kata Rika melihat Riri dengan hasil riasan naturalnya Riri Hanya tersenyum dan jantungnya berdegup kencang menunggu Ervan.
Rika yang melihat cincin dipakai Riri penasaran."wih wih Ri, keren banget cincin kamu, ini asli diamond kan Ri mahal nih pasti." kata Rika yang membalik balik tangan Riri yang memakai cincin.
"Ya asli lah aku yang pilih sendiri, masa mas Ervan kasih aku imitasi kayak hadiah ciki, maka nya jangan jomblo minta ta'aruf sama teman-teman kita di UKM cinta Islam."
"Ya ya, kalau bisa yang kayak mas Ervan ya."
kata Rika mengoda Riri, Riri langsung mencubit Rika.
Berkali-kali Riri melihat jam dan jendela belum nampak ada tanda-tanda mobil yang berhenti didepan rumahnya. Riri ingin menelpon cuma merasa takut akan mengganggu, Riri memilih tenang dan menunggu didalam kamar sambil mengobrol dengan Rika menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi kemarin. Beberapa saat mobil mewah warna putih berhenti didepan rumah Riri menyusul mobil warna hitam yang sangat dikenalnya. jantung Riri berdegup kencang dia keluar kamar dan bergabung bersama orangtuanya di ruang tamu.
Seorang laki-laki paruh baya menggunakan batik biru tua turun dari mobil menyusul wanita paruh baya menggunakan pakaian navy dengan rambut sanggulan sederhana memakai kerudung untuk penutup rambutnya saja yang pernah Riri temui di rumah sakit, tapi waktu itu wajahnya masih samar dimata Riri yang sedang sedih. Tak lama dibelakang turun juga laki-laki dewasa berkemeja navy yang wajahnya hampir mirip dengan Ervan mengandeng wanita cantik memakai dress navy dengan rambut keriting sedikit coklat.
Pak Saiful yang menyambut didepan pintu sangat terkejut dengan siapa yang datang kerumahnya malam ini.
"Ya Allah pak Toni," Kata pak Saiful yang langsung menyalami pak Toni terlihat sudah mengenal sosok calon besannya.
"Pak Saiful ternyata." kata pak Toni yang langsung memeluk pak Saiful.
semuanya terlihat heran dengan pemandangan kedua laki-laki paruh baya itu terutama Riri dan ayah Ervan juga tampak tak asing dimata Riri.
"Kalau saya tahu pak Toni orang tuanya nak Ervan saya nggak akan seberani ini menyuruh bapak datang ke gubuk saya pak," kata pak Saiful merendah.
"Pak Saiful jangan begitu kita manusia ini sama saja." Timpal pak Toni.
"Silahkan masuk pak." Pak Saiful mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumahnya yang sederhana tapi tertata rapi.
Disisi lain sebelum masuk rumah Ervin yang melihat Riri bertanya berbisik pada Ervan. "kayaknya calon istrimu masih Abege berapa umurnya Van, sejak kapan suka Abege."
"Jalan dua dua mas selisih sepuluh tahun, sejak dibawa ponakan mas kerumah." balas Ervan.
Semua tamu sudah duduk diruang tamu, Ervan merasa lega karena orang tuanya sudah saling mengenal sambil terus memperhatikan Riri yang terlihat cantik dimatanya begitu pula dengan Riri yang melihat orang yang dicintainya menggunakan baju kemeja nuansa navy senada dengan warna baju keluarganya.
__ADS_1
"Jadi pak Saiful ini dulu karyawan saya yang paling rajin sekaligus religius, sahabat saya juga temen saya untuk sharing masalah agama, sayang pak Saiful ini berhenti kerja karena neruskan usaha orangtua, Gimana usahanya lancar pak." kata pak Toni memberi tahu kepada orang diruang tamu.
"Alhamdulillah pak, Bapak bisa saja, justru bapak ini atasan yang paling baik pak, jadi Bu ri Pak Toni ini pemilik perusahaan sawit Wijaya tempat bapak kerja dulu." kata pak Saiful menjelaskan pada Riri dan Bu Sinta.
Riri baru menyadari, benar memang pak Toni Wijaya salah satu pengusaha yang cukup dikenal dikota ini. Tapi mas Ervan terlihat tidak sombong apalagi pamer orang tuanya bahkan dia bekerja untuk perusahaan lain meksipun orang tuanya termasuk kaya dikota ini. Begitu kiranya dipikiran Riri. Justru Riri takut apakah mereka akan menerimanya menjadi menantu yang hanya guru dari kalangan keluarga sederhana.
"Saya kira anak bapak cuma pak Ervin sama Bu Amanda pak." kata pak Saiful yang memang tahu kalau Amanda sudah meninggal karena kecelakaan.
"kalau Amanda itu menantu saya istrinya Ervan anak saya yang sekarang jatuh cinta sama anaknya bapak." kata pak Toni menyindir Ervan semuanya terlihat tertawa senang.
"Pak Saiful, kalau Ervan itu tidak seperti saya dan Ervin dia lebih suka jadi engginer daripada jadi pengusaha, cita citanya dari kecil maka nya dari lulus sekolah dia sudah sering bolak-balik keluar kota jarang dirumah, katanya mau mandiri tanpa embel-embel orang tua." Kata pak Toni menceritakan pada seisi ruang tamu.
"kalau nak Ervan anak pak Toni, saya nggak perlu ragu lagi pak pasti berhati baik seperti bapaknya." kata pak Saiful
Setelah puas bernostalgia kedua orang yang tidak bertemu selama 3 tahun ini. Pak Toni memperkenalkan orang yang dibawanya, Bu Niah, Ervin dan Vina kepada Riri dan ibunya yang belum mengetahui keluarga Ervan. Pak Toni juga memberitahu ada adik perempuan Ervan, Ervira yang masih kuliah di Singapura. Pak Saiful juga memperkenalkan keluarga nya termasuk Angga Adik laki-laki Riri yang kuliah di kota M.
Pak Toni juga menyampaikan maksud kedatangannya untuk melamar Riri dan ingin menyelenggarakan acara lamaran resmi di ballroom sebuah hotel.
"Ma, Pa kenapa acara lamaran diganti akad nikah aja soalnya nanti kalau menunggu lamaran lagi terlalu banyak acara ma." Kata Ervan menyela di tengah penjelasan mamanya dan padatnya acara yang disusun mamanya.
"Nak Ervan benar pak Toni kalau sesuatu yang mengarah pada kebaikan harus disegerakan." Balas pak Saiful. Pak Toni mengangguk setuju.
"Jadi gimana Ri kamu siap kalo acara lamaran diganti acara akad nikah yang di adakan tiga minggu lagi nanti soal surat-surat dan segala keperluan akan ditanggung keluarga kami ." Kata pak Toni pada Riri.
"Terima kasih sebelumnya pak, InsyaAllah karena keinginan Riri dan mas Ervan menikah untuk menyempurnakan ibadah kami. kapanpun Riri siap." Kata Riri disusul ucapan syukur yang ada diruang tamu.
"Jadi nanti resepsi kita adakan dua bulan setelahnya ya sesuai rencana, kan nggak gampang mempersiapkan resepsi pernikahan." Kata Bu Niah yang sedikit kecewa rencana lamaran mewahnya dengan berbagai acara gagal.
Semuanya setuju acara resepsi pernikahannya diadakan 2 bulan setelah akad untuk menunggu Anggota keluarga berkumpul serta Abel dan Riri yang selesai melaksanakan ujian akhir semester.
"Jadi mau dihotel mana untuk acara akad nikahnya." Kata Vina menyambung omongan Bu Niah.
"Kalau yang lain setuju, Riri mau acara akad nikahnya di masjid Bu." Kata Riri masih nggak menyangka diterima di keluarga Ervan dengan senang hati tanpa memandang status sosial dan memberanikan dirinya mengungkapkan keinginannya.
Yang lain setuju dengan keinginan Riri, sedangkan Bu Niah terlihat kurang setuju karena kurang terlihat mewah. Tapi karena semua setuju Bu Niah mengalah dan ingin tetap mengadakan acara gala dinner dihotel setelah akad nikah dengan tamu undangan hanya keluarga dan kerabat dekat.
Setelah bermusyawarah tentang akad nikah dan rencana pernikahannya mencapai kesepakatan bersama dengan menyerahkan segala keperluan pada Bu Niah. Tadinya Riri ingin buat acara akad nikah yang sewajarnya dan sederhana tapi mengingat keluarga Ervan terutama ibunya yang menggebu ingin acara tetap terlihat mewah mereka mengikuti saja. keluarga Ervan ingin pamit pulang setelah semua selesai berdiskusi. Pak Saiful dan keluarga mengantar sampai kedepan rumah.
__ADS_1
"Cantik dan kalem banget calon menantuku, Ervan memang nggak salah pilih, jaga kesehatan sampai hari H nanti ya." kata Bu Niah pada Riri.
"Ya Bu, makasih Bu." kata Riri merasa sangat senang dengan keluarga Ervan yang tulus padanya tanpa memandang status sosial. Karena senang Bu Niah meraih kepala Riri dan mencium kening Riri. Riri sangat kaget merasa sangat bahagia begitu pula dengan Ervan melihat pemandangan ini.
aku juga mau ma. batin Ervan
Seluruh keluarga Ervan masuk dalam satu mobil, Ervan yang masih tinggal menunggu keluarga jalan meninggalkan rumah Riri. Pak Saiful dan Bu Niah masuk kedalam rumah membiarkan pasangan calon pengantin yang jatuh cinta seperti anak ABG, berdua diteras seperti ada yang mau disampaikan.
"Jaga kesehatan ya sayang, nanti di hari H biar fit, kamu siap kan sayang tiga minggu lagi kamu akan jadi milik mas seutuhnya." tanya Ervan pada Riri yang terlihat malu-malu.
"InsyaAllah siap mas, mas juga ya jaga kesehatan, makasih ya mas keluarga mas baik banget." kata Riri tersenyumlah pada calon suaminya.
Sial. rasanya nggak sabar Ri pengen ciumin sama peluk kamu, kamu bikin orang gemes Ri. Ervan
"Ya sayang. Mas pulang dulu, jangan kangen lagi ya, nanti mas bakalan terus disisi kamu." kata Ervan pada Riri.
" Apaan sih mas gombal terus, Mas hati-hati." kata Riri pada Ervan yang memasuki mobil.
Ervan membuka kaca mobil. "Love you sayang".
"love you to mas." Jawaban Riri melambaikan tangan pada Ervan. Ervan terlihat begitu senang dan berlalu meninggalkan rumah Riri.
Riri masuk kedalam rumah melihat betapa banyak parcel buah dan makanan yang dibawa keluarga Ervan. Bu Sinta menghampiri Riri.
"Berkat kesabaran kamu nak menjaga diri dengan baik, kamu dapat calon suami baik, mencintaimu kamu apa adanya, ganteng dapat bonus anak lagi. kamu juga beruntung Ri, calon mertuamu juga baik kaya lagi, mudahan semuanya lancar ya ri." kata Bu Sinta memeluk Riri.
"Ya bu Alhamdulillah. Amin." balas Riri.
Riri masih tidak percaya 3 Minggu lagi dia akan jadi istri sekaligus ibu dari seseorang. Dia merebahkan tubuhnya dikamar mencoba membawa mimpi kebahagiaannya ini.
Next.......
**TERIMA KASIH PEMBACA MASIH BUTUH SARAN DAN KRITIK YA..
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE KOMENT..
APALAGI VOTE BIKIN SEMNAGAT AUTHORππππ**
__ADS_1