
Huft
Tuan Shane menghembuskan nafas kasar setelah Camelia dan Dion keluar dari perpustakaan.
"Suamiku, tidakkah menurutmu tadi berlebihan?"tanya Nyonya Shane, dengan suara serak. Hatinya terguncang melihat tatapan Camelia tadi.
"Putri kita tampak begitu terguncang. Sebagai seorang ibu dan juga perempuan, aku merasakan perasaannya, suamiku. Sangat berat."
Nyonya Shane menghambur dalam pelukan Tuan Shane. Tuan Shane mengusap wajahnya kasar kemudian menepuk pelan punggung sang istri untuk menenangkannya.
"Aku tahu … tapi, keputusan itulah yang harus aku lakukan, Honey."
"Bagiku, juga bukan hal mudah. Melihat wajah muram putri kita, hatiku begitu sakit. Namun, aku juga harus mempertahankan keluarga ini."
Mata Tuan Shane memerah. Ya … tampaknya keputusan yang mereka ambil hari ini bukan sulit untuk Camelia seorang akan tetapi juga bagi mereka berdua.
"Kita tidak punya keturunan lagi, Honey. Maaf jika aku egois, membuatmu dan putri kita sedih." Tuan Shane mengecup pucuk kepala Nyonya Shane dengan lembut.
"Nyonya Shane tidak menjawab. Ia tenggelam dalam isak.
*
*
*
Bugh!
Camelia langsung terduduk lemas setelah tiba di kamarnya. Air matanya meleleh. Padahal sudah ia tahan untuk tidak menangis.
Aku hanya sedih … aku tidak ingin menangis. Tapi, mengapa air mataku tidak mau berhenti?!
Tangan Camelia bertumpu pada ranjang dan kepalanya bersembunyi di antara kedua tangan itu. Tangisnya terdengar lirih, seperti ditahan. Namun, semakin membuat dadanya sesak.
Camelia kemudian mendongak. Air mata masih menetes. Camelia meremas dadanya.
Tok
Tok
"Kakak … aku masuk ya?" Itu Dion. Camelia mengarahkan kepalanya menuju pintu.
Camelia kemudian bangkit, berjalan lemas untuk membuka pintu. Sebelum membuka pintu, Camelia menyeka air matanya. Mengatur nafasnya agar dadanya tidak terasa sesak lagi.
Namun, tetap saja ia masih gemetar.
"Kakak." Dion langsung memeluk sang kakak begitu pintu dibuka.
"D-Dion."
"Menangislah, Kak. Jangan ditahan," tutur Dion, lirih.
"D-Dion … huhuhu, aku sangat sedih. Ini sangat berat," tangis Camelia. Ya, yang Camelia butuhkan sekarang adalah pundak untuk bersandar.
"Menangislah, Kak. Keluarkan semuanya." Dion menepuk-nepuk ringan punggung Camelia.
Pemuda itu, bukannya tidak sedih. Matanya merah tanda ia habis menangis.
Situasi ini memang rumit. Mereka terjebak dalam sandiwara tiada akhir, juga terjebak hutang budi pada keluarga Shane. Hari ini adalah dampak dari keputusan yang telah diambil.
__ADS_1
Cukup lama, Camelia menumpahkan kesedihannya.
Setelah puas, Camelia dan Dion beranjak menuju sofa. Dion lebih dulu mengambilkan air minum untuk Camelia. Menyodorkannya agar kakaknya itu jauh lebih tenang.
"Takdir memang tidak bisa ditebak, Kak. Apa yang kita rencanakan terkadang tidak sama seperti rencana Tuhan," ucap Dion, dengan menghembuskan nafas kasar.
Baginya mungkin tidak terlalu masalah. Apalagi ia belum berat. Wanita itu pasti sedang dilema.
"Aku harus bagaimana, Dion? Aku berniat menikah agar anak-anakku tidak kehilangan sosok seorang ayah. Namun, jika kelak aku menikah dan mereka tidak ikut denganku, bukankah pernikahanku tidak ada artinya? Bukankah lebih baik aku tidak menjalin hubungan baru apalagi menikah?"ucap Camelia setelah cukup tenang.
Dion diam. Tidak langsung menjawab. Itu pertanyaan yang sangat sulit untuk ia jawab karena menyangkut masa depan kakaknya.
"Harus bagaimana, Dion?" Camelia mengguncang lengan Dion.
"Kakak…."
"Aku tidak dapat mengatakan apapun, Kak," jawab Dion, dengan menunduk.
"Karena … semua keputusan ada di tanganmu. Kakak ingin menikah atau tidak, itu adalah keputusan kakak sendiri. Aku tidak berhak turut campur di dalamnya," lanjut Dion. Kini menatap dalam sang kakak yang menatapnya rumit.
Ya, kakaknya itu pasti semakin dilema. Namun, keputusan sulit dan berat seperti ini juga bukan pertama kali mereka ambil.
"Aku yakin kakak bisa menghadapinya. Dan kakak, aku akan selalu mendukung keputusanmu, apapun itu," tutur Dion. Matanya memancarkan sejuta sayang untuk sang kakak. Tersenyum agar sang kakak juga tersenyum.
"Dion…." Camelia sangat tersentuh. Adiknya ini, memang selalu ada untuknya. Selalu mendukung dan menjadi tempatnya bersandar.
"Terima kasih, Dion." Kembali, adik dan kakak itu berpelukan.
"Jangan terlalu terbebani, Kak. Takdir memang tidak ada yang tahu. Tapi, kita bisa melukis takdir kita sendiri. Tiga tahun lagi, itu waktu yang cukup lama. Di tahun itu, Lucas dan Liam akan semakin dewasa. Mereka akan semakin terbiasa tanpa kehadiran seorang ayah. Mereka bisa menjadi pertimbangan kakak namun jangan sampai menjadikan mereka beban. Kakak … kau berhak bahagia."
Alasan menikah dengan Chris dulu adalah Lucas dan Liam. Dion berharap, kelak andaikata kakaknya menikah lagi, kakaknya tidak hanya memikirkan kebahagiaan Lucas dan Liam namun juga kebahagiaan dirinya sendiri.
"Kakak … jangan sedih. Kita akan melalui bersama."
Camelia mengangguk pelan. Perasaannya jauh lebih lega setelah menangis dan bertukar pikiran dengan Dion.
"Kalau begitu, kakak segeralah bebersih. Sebentar lagi makan malam. Kau tampak sangat kacau. Eyelinermu berantakan," ujar Dion dengan wajah serius.
"Benarkah?" Camelia tampak terkejut. Gegas, ia menuju meja rias.
"Dion kau membohongiku! Eyelinerku waterproof!"ucap Camelia dengan kesal, menoleh ke belakang dan menemukan Dion sudah kabur.
"Dion!!!"gemas Camelia dengan tersenyum kesal.
Di luar kamar, Dion tersenyum dan menggeleng pelan. "Dasar wanita, dibilang make up berantakan langsung panik." Kemudian melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri karena sebentar lagi jam makan malam.
*
*
*
"Aku merasa suasananya aneh." Lucas berbisik pada Liam yang duduk di sampingnya. Saat ini, mereka tengah berkumpul untuk makan malam.
Meskipun Camelia menampilkan raut wajah seperti biasa, begitu juga dengan Tuan dan Nyonya Shane, tetap saja mereka merasakan ada yang berbeda.
"Ehem." Tuan Shane berdehem pelan.
"Ayo, makan. Mengapa malah diam-diaman seperti ini?"tanya Tuan Shane.
__ADS_1
"Mom, Grandpa, Grandma, Uncle, apa kalian ada masalah? Suasana ini, agak berbeda …," tutur Lucas.
"Apa yang berbeda, Lucas?" Dion menjawab.
"Bukankah kita semua duduk bersama di sini?"tambahnya dengan tersenyum.
"Entahlah, Uncle." Lucas juga tidak tahu apa yang berbeda.
"Mungkin perasaanku saja, Uncle," jawab Lucas dengan tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
Camelia tersenyum, "tidak ada yang berbeda, Lucas. Tidak ada sedikitpun." Camelia menatap lembut Lucas dan Liam, bergantian.
"Ayo makan. Perut kalian sudah berbunyi semua," ajak Nyonya Shane dengan melayangkan candaan. Tuan Shane tertawa, begitu juga dengan Dion. Camelia hanya tersenyum.
*
*
*
"Hei, Liam," panggil Lucas saat keduanya telah berada di dalam kamar. Bersiap untuk tidur.
"Hm." Liam menyahut malam. Matanya telah terpejam.
"Kau tadi juga merasakan hal yang sama, kan?"tanya Lucas, mengubah posisi menjadi duduk menghadap Liam.
"Hm." Berupa gumaman lagi.
"Aku merasa ada yang terjadi selama kita tidur tadi," ucap Lucas.
"Kau merasakannya, bukan? Selain itu, apa kau menyadari bahwa Mom seperti habis menangis," tanya Lucas lagi.
"Aku bukan anak kecil lagi, Lucas," jawab Liam, dengan mendengus.
Kedua anak itu, anak yang sensitif.
"Kira-kira apa yang terjadi?"
Liam menggeleng. "Kau tahu, Mom pandai menyembunyikan luka dan perasaannya," jawab Liam. Paham benar karakter sang ibu.
"Haruskah kita cari tahu?"
"Biarlah saja. Toh nanti kita akan tahu dengan sendirinya," jawab Liam lagi.
"Tapi, aku sangat penasaran. Sampai Mom sampai menangis begitu."
"Tidurlah, Lucas. Besok kita akan sibuk," ketus Liam.
"Kau tidak asyik!"kesal Lucas.
Liam tidak menggubrisnya. Kembali memejamkan matanya.
Meskipun kesal, tak terelakkan, Lucas mengantuk. Pada akhirnya bocah itu tertidur.
Setelah Lucas tidur, Liam membuka matanya. "Jika Mom ingin dan sudah siap pasti ia akan bercerita dengan sendirinya," gumam Liam, kembali memejamkan matanya dan kini benar-benar tidur.
*
*
__ADS_1
*