
Sesuai janji Camelia, ingin membawa Lucas dan Liam pergi jalan-jalan. Dengan menggunakan mantel tebal karena udara yang lebih dingin, mereka meninggalkan kediaman Shane. Camelia menggunakan supir.
Tempat yang pertama mereka datangi adalah Parliament Hill. Bangunan itu merupakan sebuah gedung parlemen yang terletak di bukit dengan ketinggian rendah, sekitar 50 meter dan dan yang lebih menarik lagi bangunin ini langsung menghadap pada sungai Ottawa. Tentu itu sangat menarik. Apalagi, tumpukan salju putih yang tersebar hampir di semua titik. Serta air sungai yang membeku. Itu sangatlah menarik.
Bangunan ini masih khas neoklasik. Batu penyusunnya terbuat dari batu pasir Gothic Victoria.
Tujuan Camelia mengajak Lucas dan Liam ke Parliament Hill adalah mengunjungi perpustakaan. Yang mana, bagian perpustakaan ini adalah bangunan yang tidak tersentuh api pada kebakaran di tahun 1916. Tentu saja, bangunan ini masih asli, tanpa renovasi yang mengubah keaslian bangunan.
Liam suka membaca. Dan perpustakaan ini sangat banyak menyimpan koleksi buku dengan berbagai macam genre. Entah itu politik, ekonomi, sosial budaya, psikologis, pendidikan, cerita romantis, dan lain sebagainya.
Bagian dalam perpustakaan, kubah besar keemasan. Dengan rak-rak buku berwarna keemasan. Jendela besar dengan lengkung lancip. Di tengah-tengahnya, berdiri sebuah patung, menjulang tinggi berwarna putih.
Mata benar-benar dimanjakan dengan pesonanya.
Cukup lama mereka di sana. Tak lupa mengambil beberapa foto.
Setelah puas, mereka beralih mengunjungi tempat selanjutnya. Yakni sebuah sungai atau kanal yang sering dimanfaatkan untuk tempat bermain skating ice oleh penduduk Ottawa jika musim dingin tiba.
Nama kanal itu adalah kanal Rideau. "Mom," panggil Liam, saat mereka tiba di kanal itu. Sudah banyak orang di sana, ada yang bermain ice skating dan juga membuat boneka salju.
"Ya?"
"Aku tidak bisa bermain itu," ucap Liam dengan wajah datarnya.
"Hah? Belum mencoba kok sudah bilang nggak bisa?"tanya Camelia, penasaran dengan Liam yang menyerah di awal.
Lain dengan Lucas yang sangat bersemangat. "Kalau jatuh bagaimana?"tanya Liam lagi.
"Jatuh ya jatuh, kok bagaimana sih?"celetuk Lucas.
"Tenang. Ada Mom yang menangkapmu," ujar Camelia.
"Mom juga tidak terlalu pandai. Jadi, Mom juga butuh bantuan," ujar Camelia lagi.
"Bantuan?" Liam menatap Lucas yang mengedikkan bahunya tidak tahu. Camelia mengecek ponselnya kemudian mengedarkan pandang.
Mom mereka janjian dengan orang lain juga? Who?
Lalu Camelia melambaikan tangannya. Seorang pria mendekati mereka. Menggunakan jaket tebal, topi, dan juga masker.
"Meetingnya selesai lebih lama dari perkiraan. Maaf aku sedikit terlambat, Kak."
"Uncle?" Kedua anak itu menerka.
Dion tertawa. "Kita akan nge prank para paparazzi," ucap Dion. Ia tidak melepas maskernya.
"Ini, gunakan," ucap Dion. Camelia menerima sepatu ice skating itu. Berwarna putih.
Sementara Dion membantu Lucas dan Liam untuk memakainya. Dion sendiri sudah memakainya lebih dulu.
"Ayo, coba dulu, Kak." Dion mengulurkan tangannya. Camelia menerimanya. Berpegang pada bahu Dion untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Pelan-pelan saja," ucap Dion.
Mungkin ada yang merasa aneh, tinggal di negara yang punya musim dingin, mengapa tidak pandai bermain ice skating?
Jawabannya karena sebelumnya Camelia tidak ada waktu bermain seperti ini. Hanya mencobanya beberapa kali dan itu tidak berhasil. Lain halnya dengan Lucas dan Liam, ini first bagi keduanya.
Dion mulai membawa Camelia untuk mencoba bergerak setelah kondisi seimbang dalam keadaan diam tercapai. Ia benar-benar bertindak sebagai seorang pelatih.
Lucas dan Liam masih menunggu. Mereka duduk di bangku yang terletak di pinggir.
Dan Lucas tidak sabar. Ia mencobanya sendiri. "Aduh!"ucapnya pelan saat terjadi.
Camelia dan Dion langsung menghampirinya. "Tidak papa, Mom," Uncle. Aku ingin mencobanya sampai bisa!"
Camelia tersenyum dengan semangat Lucas.
"Aku akan belajar sendiri. Kau ajari anak-anak, okay?"ucap Camelia. Dion mengangguk.
Dion memulai dengan Lucas. Menggenggam kedua tangan Lucas dan mulai membawanya bergerak. Memberikan beberapa arahan untuk anak itu.
Sementara Liam masih menunggu. Menunggu dengan mengamati ketiga orang itu bermain dan belajar.
"Hm?" Liam menoleh saat merasakan ada yang mengambil foto mereka. Liam berdecak. Ia segera mengambil ponselnya lalu memotret Lucas yang tengah belajar bersama dengan Dion. Membuat Instagram story, menambahkan keterangan, the first, belajar bareng Uncle.
Liam kemudian menyimpan ponselnya.
"Gantian, ayo Liam," ajak Dion. Lucas beristirahat. Sementara Camelia mulai lancar.
"Fotokan aku nanti, okay?"ucap Liam, menerima uluran tangan Dion. Lucas mengangguk.
Keseimbangan cukup sulit Liam dapatkan. "Ayo, Liam! Jangan menyerah," semangat Dion. Ini sudah kesekian kalinya Liam jatuh.
"Ayo, pegang tangan Uncle." Liam menggandeng tangan Dion. Berdiri berdampingan. Dion mulai bergerak maju. Otomatis Liam ikut. Jika seperti itu, Liam lancar. Namun, saat pegangan itu dilepaskan, rasa panik menyerangnya dengan cepat.
"Hati-hati, Liam!" Tidak jadi jatuh, Camelia menangkapnya.
"Mom!" Camelia sudah lancar.
"Ayo." Camelia membawa Liam menjelajah lebih jauh.
Liam tersenyum. Tangan Camelia begitu hangat, menggenggam tangan kecilnya dengan lembut.
"Bagaimana? Ini seru, bukan?" Dion dan Lucas menyusul. Lucas dan Liam kemudian bergandengan tangan. Mereka melaju bersama.
"Kita sudah terlalu lama di luar. Ayo cari tempat untuk makan sekaligus menghangatkan tubuh," ajak Camelia. Anak-anak juga sudah lelah.
"Pangsit atau ramen sepertinya enak, Kak," ucap Dion.
__ADS_1
"Ramen, ramen saja," usul Lucas. Sementara Liam kembali membuat instagram story.
"Baiklah. Mari makan ramen," putus Camelia.
Mereka meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang berseri. Lelah namun sangat menyenangkan. Lain kali, mereka harus mencobanya lagi. Tidak, ini akan menjadi agenda wajib setiap musim dingin.
*
*
*
Pernikahan Hans dan Silvia termasuk pernikahan yang sat set sat set dan tahu-tahu sudah melakukan bulan madu di Hawaii.
Bulan madu ke Hawaii pada musim dingin, bukanlah pilihan yang buruk. Karena cuaca yang dingin akan semakin mempererat hubungan mereka. Musim dingin, asalkan cuaca bagus bukanlah penghalang untuk bersenang-senang.
Hari pertama di Hawaii, sejak tiba, mereka menghabiskan waktu di dalam kamar. Belum keluar kecuali untuk makan.
Bermesraan? Tidak. Meskipun mereka sudah menikah dan sudah ada pernyataan cinta secara tidak langsung, masih canggung untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar ciuman. Jadi, keduanya belum melakukan apa-apa.
Memasuki hari kedua. Silvia mulai bosan. Sementara Hans menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan. Kapan lagi ia ada waktu sebebas ini? Tidur dan tidur, itulah yang Hans lakukan.
"Han Jiayu, mari keluar, bermain ice skating dan membuat boneka salju. Juga makan di luar. Aku bosan dengan makanan hotel," ajak Silvia, menarik selimut Hans.
"Sebentar lagi, Lu Jia Li. Aku masih mengantuk." Hans hanya menggeliat, membalikkan tubuhnya ke arah lain.
"Hei, ini sudah tengah hari. Kau ini mau bulan madu atau mau tidur sih?"gerutu Silvia. "Kalau mau tidur untuk apa jauh-jauh ke Hawaii? Hei?!"kesal Silvia.
"AHHH!"pekik Silvia, saat tiba-tiba Hans menariknya. Silvia jatuh ke ranjang dan Hans berada di atasnya. Menatap dirinya dalam. "Bukankah menang untuk tidur?"tanya dengan suara seraknya.
"K-Kau?"
"Aku masih menahannya," ucap Hans.
"Hah?"
"Lihatlah, kau tidak paham, bukan? Mengapa begitu polos?"tanya Hans, lagi dengan suara serak yang membuat jantung Silvia tidak karuan.
Hans kemudian berdiri. "Tunggulah sebentar. Aku mandi dulu," ucap Hans.
Silvia duduk. Menyentuh dadanya. "Aku paham. Kau … harusnya tidak menahannya. Ahhhh! Mengapa saling menahan sih?!" Silvia bergumam kesal.
*
*
*
Awalnya canggung. Namun, itu teratasi seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka.
Nyatanya, Hans tidak bisa bermain ice skating. Lain lainnya dengan Silvia yang sudah handal. Wanita itu mengenyam pendidikan desainer di luar negeri, tepatnya di benua Eropa, Paris.
Pantang menyerah. Ia gigih agar bisa.
"Besok kita coba lagi. Atau nanti sepulangnya dari sini kita coba lagi," hibur Silvia.
Hans merasa payah. Ternyata ada hal yang tidak bisa ia lakukan dalam waktu singkat.
Untungnya, hanya Silvia yang tahu. Jika Andrean atau Lie tahu, ini akan jadi bahan ejekan untuknya.
"Ayo buat boneka salju saja. Kemudian kita cari makan, okay?"usul Silvia, mengulurkan tangannya pada Hans. Hans menerima uluran tangan itu, menyetujui usul Silvia.
Mereka membuat boneka salju. Saling bekerja sama.
Tiba-tiba terlintas ideal jahil di pikiran Silvia. Ia membuat bola salju seukuran kepalan tangan kemudian melemparnya pada Hans. "Kena!" Silvia melompat senang.
"Apa yang …."
"Kena lagi!" Silvia kembali berseru senang. Hans sudah kena dua kali.
"Hei?!"
Hans mengerjap, Silvia mengajaknya perang bola salju?
"Okay!" Hans menyanggupinya. "Hati-hati, Lu Jia Li!"
"Tidak kena, wekkk!" Silvia menjulurkan lidahnya. Dan pada akhirnya mereka benar-benar berperang bola salju.
Hah
Hah
Hah
"Cukup. Aku lelah." Silvia memberikan bendera putih. Ia duduk di salju, mengatur nafasnya yang terengah. Hans menghampirinya.
"Di sini dingin, ayo cari restoran," ajak Hans.
"Aku lelah sekali," keluh Silvia.
Silvia terperanjat saat Hans berjongkok dan menepuk bahunya. "Naiklah."
"Serius?"
"Hm."
Silvia naik dalam gendongan Hans. "Jika staminamu selemah ini, bagaimana caranya kita tidur?"goda Hans yang disambut pukulan keras pada bahunya.
Hans tertawa sembari mengadu. "Itu lain cerita!"balas Silvia, wajahnya memerah.
__ADS_1
"Hahaha…."
*
*
*
Hans meminta Silvia kembali lebih dulu ke kamar hotel. Silvia menurut saja, meskipun penasaran.
Dan kembali setelah sampai di depan pintu kamarnya. Ia membawa sebuah buket bunga dan juga coklat.
Membuka pintu kamar. Entah mengapa, Hans merasakan suasana kamar berbeda.
Mengendus, ada aroma yang ringan namun memikat. Pencahayaan kamar juga tidak terlalu terang. "Lu Jia Li?"panggil Hans.
"Aku di sini," sahut Silvia.
Ternyata Silvia berbaring di ranjang, masih mengenakan kimono mandinya.
Hans merasa panas. Entah karena suhu kamar atau ada yang bergejolak di dirinya.
"Kau sudah kembali? Apa yang kau bawa?"tanya Silvia. Ia duduk.
"Ini." Hans memberikan buket bunga dan coklat itu dengan memalingkan wajahnya.
"Wah … aku menyukainya. Terima kasih!"
"Hm, aku mandi dulu." Hans tampak salah tingkah.
Ia segera menuju kamar mandi. Sementara Silvia kembali mencium aroma bunga dan mencoba coklat hadiah Hans.
"Rasanya lebih enak."
Sekitar dua puluh menit kemudian, Hans keluar dari kamar mandi. Pria itu mengenakan kimono mandi juga.
"Han Jiayu," panggil Silvia.
"Jangan menahannya lagi," ucap Silvia, serius.
"Maksudmu?"
"Aku juga menahannya. Jadi, mari jangan menahannya lagi. Lepaskan saja, okay?"
Hans membulatkan matanya. "Apa katamu?"
"Ayo, tidur bersama!"ucap Silvia lantang. Dan wajahnya langsung memanas. Ia merasa dirinya memang bar-bar.
"Kau?"
Silvia mengangguk. Hans tidak berkata lagi. Perlahan mendekati ranjangnya. "Suhunya terlalu panas," ucap Hans.
"Kita akan jadi daging panggang jika begini."
Silvia mengernyit sesaat. "Ah!" Segera mengubah suhu kamar.
Perlahan keduanya semakin dan semakin dekat hingga tidak berjarak lagi. Suhu kamar yang dingin. Namun, tubuh mereka terasa panas.
*
*
*
Dan seperti yang pernah diminta oleh Lucas dan Liam dulu, keduanya akan ikut ke Swiss.
"Maaf, Lia, Lucas, Liam, Ayah juga tidak bisa menemui kalian bulan ini," sesal Andrean. Andrean mencoba untuk menyiasati jadwalnya. Namun, Hans benar-benar memadatkan jadwalnya. Tidak ada ruang untuk bergerak sama sekali.
"Hm, Ayah kan selalu begitu," ketus Lucas.
"Bulan depan juga tidak bisa, bulan depannya juga. Mungkin di akhir musim panas baru bisa," imbuh Liam.
"Sejujurnya jika kau datang pun, aku dan anak-anak juga tidak di rumah. Besok kami akan berangkat ke Swiss," ujar Camelia.
"Benarkah?" Andrean tampak sedikit lega di sana.
"Akhir musim panas, aku akan menjemput kalian di Swiss. Sekaligus kita akan mengumumkan pernikahan kita, bagaimana?"saran Andrean.
Camelia memikirkannya. Lucas dan Liam terhenyak.
Mengumumkan pernikahan?
"Itu ide yang bagus!" Camelia setuju.
"Baiklah." Andrean tersenyum di sana. Mereka itu tengah video call dengan perangkat laptop agar lebih mudah.
"Kalau begitu segeralah istirahat. Aku menyayangi kalian," ucap Andrean.
"Okay, Ayah!"
"Jaga kesehatanmu, Sayang," pesan Camelia. Andrean mengangguk. Panggilan itu berakhir. Camelia menyimpan laptopnya.
"Ayo tidur."
*
*
*
__ADS_1