
Beberapa hari setelahnya Camelia merasakan keanehan pada tubuhnya. Belakangan ini ia menginginkan makanan pedas. Padahal ia bukan pecinta makanan pedas. Dion saja keheranan dengan tingkah kakaknya itu.
Lebih heran dan bingung lagi saat tengah malam kakaknya ingin makan hotpot. Alhasil Camelia dan Dion begadang semalaman suntuk untuk membuat hotpot.
Camelia sendiri juga heran. Tubuhnya terasa lebih berisi. Dan yang penting adalah siklus bulanannya. Camelia menentang keras opininya bahwa ia sedang hamil.
Iya kali hanya satu malam dengan orang asing langsung goal?
"Kakak kau tampak sakit, lebih baik izin saja," cemas Dion yang melihat wajah Camelia pucat.
"Tidak. Kakak baik-baik saja. Ayo segeralah bersiap. Kakak mau masak dulu," tolak Camelia.
Dion menghela nafas melihat Camelia yang susah payah berdiri dan hampir limbung. Untung saja Dion sigap menahan tubuh Camelia.
"Lihatlah! Berdiri saja Kakak tidak bisa! Bagaimana bisa bekerja? Hari ini Kakak libur. Biar aku izinkan sama rekan Kakak!"cecar Dion, kembali mendudukkan Camelia di ranjang.
"Dion Kakak harus bekerja," rengek Camelia.
"Kakak sekarang harusnya Kakak itu istirahat. Lebih baik lagi kalau ke dokter!" tegas Dion.
"Tapi, biaya ke dokter mahal, Dion. Sudahlah. Kakak hanya demam ringan. Sampai cafe nanti juga sembuh," kekeh Camelia.
"No no no. Panas begini demam ringan? Sudahlah Kak, jangan keras kepala! Istirahatlah lagi. Aku akan mengambil kompres," tegas Dion. Melihat raut wajah Dion, Camelia menurut.
Tak lama kemudian, Dion kembali dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Dengan telaten Dion mengompres dahi Camelia.
"Nanti kalau buburnya sudah jadi, aku banguni Kakak," ujar Dion.
"Dion apa kamu tidak sekolah?"tanya lirih Camelia.
"Setelah Kakak sarapan dan minum obat, Dion akan berangkat," jawab Dion. Camelia mengangguk lemah.
"Maaf Kakak menyusahkanmu, Dion." Dion menggeleng. Kemudian kembali ke dapur.
Saat Dion menyuapinya makan, Camelia merasa mual dan dengan segera berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Huek!
Huek!
Hanya air liur yang keluar. Camelia merasakan mulutnya pahit. Dion yang cemas memijat tengkuk Camelia.
"Kakak kita ke rumah sakit saja, ya," pinta Dion.
"Masalah uang bisa dicari!"tegas Dion melihat Camelia yang hendak membantah.
Mau tak mau Camelia setuju. Mereka segera bersiap dan kini menunggu taksi lewat. Hanya saja, belum lagi dapat taksi, Camelia tumbang tak sadarkan diri. Dion panik, tak ada taksi yang terlihat. Entah kemana semua taksi yang biasa lewat.
Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah menepi. Seorang pria turun dan tanpa banyak bicara menggendong Camelia masuk ke dalam mobilnya. Dion sempat marah dan mencegah. Namun, ucapan pria itu yang mengatakan dia kenal dengan Camelia, membuat Dion menerima bantuan itu.
***
Dion memekik senang saat tahu bahwa Camelia tengah mengandung. Ia akan jadi seorang Paman. Dengan menggenggam jemari Camelia yang masih tak sadarkan diri, tak hentinya senyum lebar Dion kembangkan. Sedangkan pria yang membantu tadi duduk menunggu di sofa.
"Hei di mana suami Kakakmu?"tanya pria itu datar. Jelas ia penasaran, sejak tadi tiada seorang pun yang datang ke ruangan ini.
Mendadak Dion tertegun sendiri dengan ucapannya. Astaga! Apa Kakaknya akan menerima hal ini?
Tapi, Dion juga tidak akan membiarkan Camelia menjadi pembunuh. Dion akan meyakinkan Camelia untuk membesarkan keponakannya.
"Hamil di luar nikah maksudmu? Kalau begitu di mana kekasihnya?" Dion menatap ragu pria itu.
Hatinya yakin bahwa pria itu orang baik. Ia dengan pelan-pelan menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya hingga berada di kota ini.
"Ya dunia hiburan memang dunia yang keras," komentar pria itu setelah mendengarkan cerita Dion. Ia tampak tidak terkejut, seolah sudah hal biasa baginya.
Dion sendiri merasa sedikit lega. Lebih lega lagi saat Camelia sudah sadar.
"Dion? Di mana kita? Apa yang terjadi padaku?" Dengan memegang kepalanya, Camelia duduk bersandar pada kepala ranjang dibantu oleh Dion.
"Kita di rumah sakit, Kak. Kakak baik-baik saja kok. Malah ada kabar baik," jawab Dion antusias.
__ADS_1
"Kabar baik?"
"Kakak hamil. Aku akan jadi seorang paman," ucap Dion, memeluk Camelia. Camelia membeku, hamil?
"D-Dion kau bercanda kan? Mana mungkin Kakak hamil karena kecelakaan itu!"
"Tidak, Kak! Aku dengar sendiri penjelasan dokter."
Air mata Camelia langsung tumpah. Antara senang juga bingung. Untuk menghidupi dirinya dan Dion saja pas-pasan bagaimana bisa ia menghidupi satu lagi?
Dan lebih beratnya ia bahwa tak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya ini.
Haruskah ia membesarkan atau menggugurkan bayinya?
"Nona, jangan khawatir. Aku akan membiayai hidup kalian. Lahirkan dan besarkan anak itu dengan baik." Camelia mengangkat pandangannya. Ia baru sadar ada orang lain di ruangan ini.
"Dia yang membantu kita, Kak," ujar Dion.
Camelia mengenali pria itu. Pria itu adalah pria yang sama tempo hari yang belakangan ini sering mampir ke cafe tempatnya bekerja. Menghabiskan waktu membaca buku hingga melewati jam tutup cafe. Pria yang setia mengenakan topi dan masker dan selalu memesan latte. Camelia mengenalinya dari suaranya yang khas.
"Siapa Anda, Tuan? Kita tidak saling mengenal juga tidak pernah ada hubungan." Walau begitu, hubungan di antara mereka hanya sekadar pelayan dan pembeli, tidak ada interaksi lebih kecuali pada saat memesan
"Ah maaf … maaf. Sebelumnya perkenalkan namaku Chris. Kita saling mengenal karena aku sering mampir ke cafe tempatmu bekerja," ucap Chris memperkenalkan dirinya diikuti senyum manis yang menunjukkan dua lesung pipinya.
"Iya tetap saja. Kita tidak saling mengenal!"
"Ah begitu ya? Kalau begitu mulai sekarang kita akan saling mengenal dan berhubungan. Nona menikahlah denganku. Aku akan menanggung semua kebutuhan kalian!"ucap Chris mantap yang membuat Camelia dan Dion terbelalak. Nada yang mantap, tenang, dan sangat-sangat yakin.
Siapa Chris ini? Dia sangat tampan dan perangainya sepertinya juga baik. Orangnya santai dan bersahaja juga sangat percaya diri.
Camelia menyipitkan matanya. Menurut instingnya sebagai seorang artis, jika ada seseorang datang bagai malaikat menawarkan bantuan ada beberapa alasan.
Pertama memang ia orang yang benar - benar tulus atau bisa jadi ada alasan penting di dalamnya, menjadi tameng misalnya.
"Jika kau ada niat balas dendam kau harus punya persiapan yang matang. Menikahlah denganku, aku akan membantumu!"ucap Chris sungguh-sungguh.
__ADS_1
Camelia menoleh ke arah Dion. Dion menunjukkan wajah bersalah. Pandangan Camelia kembali pada Chris. Instingnya kembali berucap bahwa Chris orang yang berpengaruh. Haruskah ia terima atau tolak?