Kesayangan Presdir

Kesayangan Presdir
Kesayangan Presdir Chap. 198


__ADS_3

Andrean membawa Crystal jalan-jalan di kebun binatang. Andrean pikir tempat itu yang paling pas. Taman bermain sudah pernah, kolam renang, bioskop, itu ada di istana. Maka kebun binatang adalah tempat yang paling cocok. Lagipula, di tempat ini bisa sekalian belajar mengenai satwa.


Andrean memakai topi, masker, dan kacamata. Niatnya sih agar tidak dikenali. Namun, dengan postur tubuhnya, tetap saja menarik perhatian. Terlebih ia menggandeng tangan kecil Crystal.


Bagi kebanyakan orang, jelas berpikir bahwa Andrean seorang duda, duda keren.


Kebun binatang ini sangat ramai di akhir pekan.


Andrean merasa risih dengan tatapan yang ditujukan padanya.


"Ayah, pandanya besar sekali!"ucap Crystal takjub. Ia menunjukkan beberapa ekor panda. Ada yang tengah bermain, makan, dan berdiam diri. Meskipun diam, panda itu terlihat sangat menggemaskan. Apalagi saat bermain.


"Kau suka?"tanya Andrean. Crystal langsung mengangguk. Meminta Andrean untuk mengambil beberapa foto.


"Ayah, apa boleh Crystal memiliki boneka sebesar panda itu?"tanya Crystal dengan mata mengharap.


Andrean kembali melihat panda di dalam kandang. Ukurannya sangat besar. Jika dalam bentuk boneka, "kau kau tenggelam di dalamnya?"tanya Andrean.


Crsytal mengangguk. "Pasti menyenangkan tidur sambil memeluknya."


"Okay," jawab Andrean.


"Really?" Andrean mengangguk. Kedua putranya meminta Ferrari saja ia sanggupi, apalagi hanya boneka. Itu hal kecil.


Keduanya beranjak dari kandang panda itu, melanjutkan langkah. Dalam perjalanan itu, Crystal meminta gula kapas.


"Dua," pinta Crystal.


"No!"tolak Andrean.


"Ayah…." Mata Crystal memelas.


"Satu atau tidak?!" Andrean tidak tergerak, tetap pada keputusannya.


"Tuan, gula kapas kami terbuat dari gula murni dan madu. Jadi, tidak akan merusak gigi," ujar penjual gula kapas itu, seakan mengerti mengapa Andrean menolak untuk membeli dua.


"Ayah … dua ya?"


Andrean mengeluarkan dompetnya. "Hanya cukup satu," jawab Andrean, menyodorkan uang seharga 1 gula kapas.


Andrean kemudian menarik Crystal menjauh dengan menbawa 1 gula kapas.


"Ku kira takut gigi putrinya rusak. Rupanya uang pas-pasan. Ckckx, gayanya saja keren," gerutu penjual gula kapas itu.


"A-Ayah? Apa Ayah tidak bawa uang?"tanya Crystal, mendongak menatap Andrean.


Mereka duduk di kursi yang terletak di bawah pohon. Andrean menyodorkan gula kapas yang dibeli pada Crystal, kemudian mengeluarkan dompetnya. "Bawa, di dalam sini," jawab Andrean, menunjukkan beberapa buah kartu debitnya.


"Uang tunai?"tanya Crystal.


"Sudah habis, beli tiket, air minum, dan beli gula kapas itu," jawab Andrean, ia kembali menyimpan dompetnya.


Crystal menepuk dahinya pelan. Gemas dengan sang Ayah. Memangnya mereka jalan-jalan di mall? Yang pembayaran bisa dengan kartu debit atau kredit?


"Ayah akan suruh Lie mengantarkan uang tunai," ucap Andrean, bersiap menghubungi Lie.


"Tidak, Ayah!"cegah Crystal. Andrean menatap Crystal dengan kernyitan di dahi. Tidak mengerti. Jika ada uang tunai, Crystal kan bisa jajan sepuasnya?


"Gula kapas sudah cukup kok. Jajanan di sini, di luar juga ada. Yang penting kan bisa melihat hewannya," ujar Crystal, tersenyum menunjukkan deretan giginya.


"Hm…." Andrean kembali menyimpan ponselnya.


Crystal mulai menikmati gula kapasnya. Dilihat dari ekspresi, ia menyukainya.


Sementara Andrean melihat orang yang lalu lalang.


"Ayah, mau?"tawar Crystal, menyodorkan potongan besar gula kapas pada Andrean.


Andrean menerimanya. Sejenak ia ragu untuk memakannya. Namun, teringat ucapan penjual gula kapas tadi, Andrean memasukkannya ke dalam mulut.


Setelah Crystal menghabiskan gula kapasnya, keduanya melanjutkan perjalanan menjelajahi kebun binatang ini.


Mereka menghabiskan waktu sampai sore di kebun binatang itu. Rasa lelah mulai terasa saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Ayah, lapar," aduh Crystal.


Andrean hanya melirik sekilas, segera melajukan mobilnya menuju mall terdekat.


Setibanya di mall, mereka langsung menuju area food court, mencari restoran untuk makan.


"Ayah, kapan kita liburan lagi bersama dengan Aunty Lia?"tanya Crystal, sembari menikmati makanannya.


"Mungkin awal musim panas," jawab Andrean.


"Lama sekali."


Andrean menganggukinya. Itu pun masih mungkin, belum pasti.


"Lekas habiskan makananmu, setelah ini beli boneka," ujar Andrean. Ia sendiri sudah selesai makan.


Crystal mengangguk dengan semangat. "Ayah, ice cream?"


Andrean menggeleng. Crystal mencembikkan bibirnya. Pasti karena ia sudah makan gula kapas tadi.


Ya, begitulah. Asupan gula Crystal memang dibatasi. Apalagi ia bercita-cita menjadi seorang model.

__ADS_1


Kau membebaskan mereka makan apa saja?


Mereka masih dalam masa pertumbuhan. Jika aku batasi, mereka tidak akan bisa menikmati masa kecil akibat pekerjaan. Yang penting rajin olahraga dan kesehatan aman.


Jadi, Rean, jangan batasi Crystal juga. Namun, sebagai orang tua juga harus pandai memilih tempat makan yang sehat, jangan yang terlalu banyak bahan sintetis. Ya, meskipun buatkan rumah lebih bagus. Makanya aku lumayan sering masak dan buat cemilan. Atau aku buat daftarnya untuk disiapkan oleh dapur.


Andrean teringat pembicaraannya dengan Camelia.


Andrean kemudian melihat sekeliling, mencari kedai es cream. Ada satu kedai yang sangat ramai. Jika ramai, biasanya enak dan Andrean juga melihat banyak anak kecil di sana.


"Tunggu di sini, jangan ke mana-mana!"ucap Andrean pada Crystal.


"Ayah mau ke mana?"


"Sebentar." Andrean langsung meninggalkan Crystal. Bocah perempuan itu menunggu dengan melihat punggung Andrean yang menjauh.


Cukup lama Crystal ditinggal sendirian. Ada sekitar lima belas menit.


Rasa takut mulai menghampiri Crystal. Tempat ini semakin ramai. Crystal menelan ludah kasar. Mengapa ayahnya lama sekali?


"Kau menangis, Crystal?"


"Ayah!" Crystal langsung memeluk Andrean.


"Ayah lama sekali." Serak, seperti hendak menangis.


"Ini," ucap Andrean. Crystal mendongak.


"Ice cream?"


"Makanlah."


Crystal menerimanya dengan bingung. Tadi katanya tidak boleh? Dan sekarang malah dibelikan?


"Xie-xie, Ayah," ucap Crystal. Matanya memerah, terharu.


Crystal menikmati ice creamnya dengan hati yang bahagia. Begitulah ayahnya, tipe dingin namun perhatian.


Kini, mereka sudah berada di toko boneka. Namun, tidak ada boneka panda seukuran yang di kebun binatang tadi.


Mereka pindah mencari toko lain. Menyusuri mall.


"Tidak ada yang sebesar itu," ucap Andrean, ia sedikit kesal. Mall sebesar ini masa' boneka panda besar saja tidak ada?!


"Ayah, yang ini saja tidak apa," ucap Crystal. Mereka sudah lelah mencari. Daripada tidak ada, tidak sebesar yang ia inginkan pun tidak masalah.


"Ayah akan hubungi pabriknya, kau tenang saja. Ukuran itu, pasti akan Ayah dapatkan!"


"Ayah?" Andrean secara tidak langsung memamerkan kekayaannya.


"Saya ambil ini," ucap Andrean pada pegawai toko, menyodorkan black cardnya.


Dan begitu jalan-jalan mereka di akhir pekan. Ditutup dengan membeli boneka panda dan Andrean yang menghubungi pabrik untuk memesan boneka seukuran panda di kebun binatang. Mereka pergi siang dan kembali ke istana malam hari.


*


*


*


Seperti yang Camelia katakan pada Andrean, ia menghabiskan akhir pekannya di rumah saja. Pagi hari diawali dengan yoga kemudian bertempur dengan alat dapur membuat sarapan.


Setelah sarapan, Dion, Lucas, dan Liam pergi untuk berakhir pekan di luar.


Tuan dan Nyonya Shane menghabiskan waktu mereka bersantai di rooftop. Dan Camelia sendiri marathon menonton drama China. Sebelummya drama itu sudah pernah ia tonton sampai akhir. Namun, tiba-tiba ingin menonton ulang.


Drttt


Drrtt


Camelia meraih ponselnya. Ada pesan masuk. Beberapa foto dari Andrean.


"Astaga, dia selalu melapor padaku." Camelia menggelengkan kepalanya. Geli sekaligus senang dengan tindakan Andrean itu.


Foto-foto itu adalah foto akhir pekan Andrean dan Crystal. Di mana salah satunya adalah foto Crystal dengan boneka panda barunya.


"Very cute!"


Akhir pekan yang menyenangkan. Kau pasti lelah. Pergilah istirahat, balas Camelia.


Kurang sesuatu.


Camelia terkekeh.


"Wo ai ni."


Voice chat Camelia kirimkan.


" I love you too, more, more, and more."


Camelia tersenyum. Pipinya terasa panas. Padahal ini sudah berulang kali.


Camelia kembali meletakkan ponselnya. Meregangkan leher dan tangannya. Sudah 6 episode yang ia tonton. Sebentar lagi jam makan siang.


Camelia menutup laptopnya, kemudian bangkit dan keluar dari kamarnya. Saatnya kembali bertempur untuk membuat makan siang.

__ADS_1


Camelia hanya membuat menu yang sederhana. Setelah menu makan siang selesai, Camelia memanggil Tuan dan Nyonya Shane untuk makan siang. Dion, Lucas, dan Liam belum pulang. Kemungkinan sore baru mereka pulang. Lucas dan Liam tampaknya benar-benar ingin menghabiskan uang Dion.


"Nanti sore, paket Daddy akan datang," ucap Tuan Shane.


"Paket? Kau memesan apa?"tanya Nyonya Shane, menatap tajam suaminya.


Tuan Shane tersenyum lebar. "Lihat saja nanti," jawab Tuan Shane.


"Kau membeli hal aneh?"selidik Nyonya Shane.


Tuan Shane menggeleng. "Berapa harganya?"tanya Nyonya Shane lagi.


"Tidak mahal," jawab Tuan Shane.


Nyonya Shane menatap suaminya tidak percaya. "Awas jika kau membeli hal aneh!!"


Camelia menatap datar hal itu. Namun, dalam hatinya penasaran dengan apa yang dibeli oleh Tuan Shane.


*


*


*


"Mom! Grandpa, Grandma," sapa Lucas dan Liam. Mereka baru saja pulang bersama dengan Dion.


"Sudah pulang? Sudah lelah jalan-jalannya?"tanya Camelia. Kedua anaknya tertawa riang.


"Kakak!" Dion masuk dengan mengeluh pada Camelia. Ia membawa banyak paper bag dan plastik kemasan. Dan wajahnya sangat lelah. Pasti kewalahan menghadapi Lucas dan Liam.


"Ya, Dion? Apa uangmu sudah habis?"tanya Camelia. Lucas dan Liam menatap Dion yang wajahnya kusut. Tanpa dijawab pun, pasti jawabannya iya.


Demi kalian, andai isi kartu ini habis Uncle tidak apa-apa.


Lucas memutar rekaman itu. Sembari memainkan kedua alisnya. Dion membulatkan matanya. Ia terjebak ucapannya sendiri. Dan tiada arti mengeluhkan hal tersebut.


"Hahaha…." Tuan Shane tertawa. Melihat ekspresi Dion dan senyum kepuasan Lucas dan Liam.


"Ekspresimu begitu, minta ganti?"tanya Camelia.


"Eh? Tidak!" Dion menjawab tegas.


"Ini pertama kalinya. Jadi, tidak terbiasa. Hehehe. Aku tidak meminta ganti ataupun marah, Kak," jawab Dion, ia mengangkat kedua tangannya. Barang yang ia bawa sudah diletakkan di atas meja, di mana Nyonya Shane yang penasaran, membuka salah satu paperbag.


"Jam tangan?" Nyonya Shane mengeluarkan isi paper bag itu.


"Lagi?" Camelia menatap Lucas dan Liam. Yang ditatap malah tersenyum lebar.


"Kalian ini?! Bukankah jam tangan kalian sudah banyak?" Camelia berkacak pinggang.


"Nah, itu dia!" Dion menimpali.


"Lagi promo, Mom," jawab Lucas.


"Jamnya keren," timpal Liam.


"Apalagi yang kalian beli?"tanya Camelia, ia menyentuh dahinya pusing.


Lucas menjawab.


"Padahal kalian sudah punya banyak." Camelia menggeleng pelan. Gemas dengan kedua anaknya.


"Ah, lupa! Di mobil ada lagi," ucap Lucas, ia kemudian menyuruh pelayan untuk mengambilnya.


"Ada lagi?" Camelia terkesiap. Yang di atas meja ini saja sudah banyak, dan pastinya menguras kantong.


Camelia menatap sang adik yang tersenyum simpul. Dari tatapannya, ada makna bahwa Dion jera. Harus pandai menanggapi Lucas dan Liam jika tidak ingin seperti ini lagi.


"Ini barang, yang sana makanan," jawab Lucas.


"Astaga!" Camelia menepuk dahinya sendiri.


Lucas dan Liam tertawa. Mumpung ada bandar yang terjebak oleh ucapannya sendiri, harus dimanfaatkan sebaik mungkin, bukan?


"Tuan Besar, ada kiriman paket untuk Anda." Penjaga gerbang datang dan menyampaikan hal tersebut.


"Sudah datang?" Tuan Shane berdiri. Ia bergegas keluar. Terlihat sangat bersemangat.


Nyonya Shane yang sedari tadi juga sangat penasaran segera menyusul. Begitu juga dengan Camelia.


Lucas, Liam, dan Dion juga menyusul. Mereka berada di depan rumah. Tuan Shane sudah menerima paketnya.


Mobil box besar mahal dan mengeluarkan sebuah paket besar yang ada lubang ventilasinya.


Lucas dan Liam saling tatap. Paketnya ada lubang, apakah paket itu makhluk hidup? Jika benar, maka ….


Setelah menurunkan paket, pengantar paket itu pergi. Tuan Shane segera mengambil pisau untuk membuka paket tersebut.


"What the hell?!"


Nyonya Shane memekik kaget.


"Panther hitam?!" Lucas dan Liam ikut berseru.


Camelia dan Dion saling melempar pandang.

__ADS_1


Daddy mereka membeli hewan itu?


"Ucapkan selamat datang pada peliharaan baru kita, panther hitam!"ucap Tuan Shane dengan tersenyum lebar.


__ADS_2